Tampilkan postingan dengan label Medan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Medan. Tampilkan semua postingan

 


SUMATERA UTARA – Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia, Minggu (3/5/2026), menjadi alarm keras bagi insan media di tanah air. Di tengah pusaran polarisasi politik dan tsunami informasi digital, independensi pers kini berada di titik uji yang menentukan.


Pemimpin Redaksi Garisdata.com, Hendri Syahputra, CPS., CPSE.,CPR.,CPW.,CLP.,CIJ menegaskan bahwa kebebasan pers adalah kedaulatan mutlak milik rakyat, bukan hadiah dari penguasa.


Ia menekankan bahwa media memiliki beban moral besar untuk tetap berdiri tegak sebagai pilar keempat demokrasi.


"Kebebasan pers itu amanah publik. Media bertanggung jawab menyuarakan kebenaran demi masyarakat luas, bukan untuk melayani syahwat politik kelompok tertentu," tegas Hendri dalam keterangan resminya.


Melawan Arus Polarisasi Memasuki tahun politik yang kian memanas, Hendri menyoroti pentingnya Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Menurutnya, menjaga jarak yang sama dengan seluruh kekuatan politik adalah harga mati bagi integritas redaksi.


Tantangan yang dihadapi pun tidak main-main. Mulai dari bayang-bayang regulasi yang represif hingga tekanan ekonomi yang kerap menggoyang idealisme media. Namun, bagi Hendri, integritas adalah satu-satunya modal yang tidak boleh dikompromikan.


Akurasi di Atas KecepatanDi sisi lain, disrupsi teknologi membawa tantangan baru berupa maraknya hoaks yang mengaburkan fakta. Menanggapi hal ini, Garisdata.com memilih jalan untuk terus memperkuat fungsi verifikasi di setiap lini pemberitaan.


"Kecepatan memang tuntutan digital, tapi dalam koridor kode etik, akurasi tetaplah panglima. Pers harus menjadi penjernih di tengah keruhnya informasi yang menyesatkan publik," tambahnya.


Janji untuk PublikMengusung slogan "Fakta dan Kebenaran", Garisdata.com berkomitmen menjadikan momentum 3 Mei ini sebagai titik balik untuk menjamin hak warga negara atas informasi yang jujur, transparan, dan objektif.


"Di tengah tantangan zaman yang rumit, kami ingin memastikan publik tetap mendapatkan informasi berkualitas yang bisa dipertanggungjawabkan," pungkas Hendri. (**)

 


SUMBARNET - Di tengah riuh aktivitas pelabuhan yang tak pernah benar-benar berhenti, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 1 menyampaikan ucapan Selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026—sebuah momen yang bukan sekadar peringatan, tetapi juga pengingat tentang mimpi-mimpi besar anak bangsa yang harus terus dijaga.


Bagi Pelindo Regional 1, pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas dan buku pelajaran. Ia adalah harapan. Ia adalah jalan panjang yang ditempuh dengan doa, kerja keras, dan keyakinan bahwa masa depan bisa menjadi lebih baik.


Momentum Hardiknas ini mengajak semua pihak untuk kembali menyadari bahwa di setiap sudut negeri, masih ada anak-anak yang berjuang meraih pendidikan. Ada cita-cita yang tumbuh di tengah keterbatasan, dan ada harapan yang terus menyala meski diterpa berbagai tantangan.


Executive Director 1 Pelindo Regional 1, Jonedi Ramli, menegaskan bahwa pendidikan adalah kunci untuk membuka masa depan yang lebih cerah bagi generasi bangsa.


“Melalui pendidikan yang berkualitas, kita tidak hanya menciptakan SDM yang unggul, tetapi juga menyalakan harapan. Harapan bagi anak-anak Indonesia untuk bermimpi lebih tinggi dan melangkah lebih jauh. Pelindo Regional 1 akan terus berkomitmen mendukung peningkatan kualitas SDM sebagai bagian dari kontribusi nyata bagi bangsa,” ujarnya.


Sementara itu, Manager Hukum dan Humas Pelindo Regional 1, Fadillah Haryono, menyampaikan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tangguh dan siap menghadapi masa depan.


“Pendidikan bukan sekadar ilmu, tetapi juga tentang membangun karakter dan membuka jalan kehidupan. Karena itu, diperlukan sinergi semua pihak agar tidak ada lagi mimpi yang terhenti hanya karena keterbatasan,” ungkapnya.


Di Hari Pendidikan Nasional ini, Pelindo Regional 1 mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga api harapan itu tetap hidup. Sebab dari pelabuhan, bukan hanya barang yang bergerak—tetapi juga doa, harapan, dan mimpi anak bangsa yang terus dikirim menuju masa depan.


Karena pada akhirnya, pendidikan adalah tentang memastikan bahwa setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan mewujudkannya. (Humas/Indra)

 


SUMBARNET - Di balik riuhnya aktivitas pelabuhan, di antara deru mesin dan bongkar muat yang tak pernah berhenti, ada tangan-tangan pekerja yang setia menjaga denyut nadi logistik negeri. Pada momentum Hari Buruh Internasional 2026, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 1 menghadirkan penghormatan mendalam bagi para pekerja yang menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi nasional.


Executive Director 1 Pelindo Regional 1, Jonedi Ramli, menegaskan bahwa buruh bukan sekadar bagian dari sistem, melainkan jiwa yang menghidupkan seluruh aktivitas kepelabuhanan.


“Buruh adalah denyut kehidupan pelabuhan. Dari kerja keras mereka, roda ekonomi terus berputar. Hari Buruh menjadi pengingat bagi kita semua untuk menghargai setiap keringat yang jatuh demi kemajuan bangsa,” ujarnya dengan penuh makna.


Ia juga menyampaikan apresiasi tulus kepada seluruh pekerja, khususnya insan pelabuhan yang selama ini bekerja tanpa lelah, bahkan di tengah tantangan dan risiko yang tidak ringan.


“Selamat Hari Buruh Internasional. Semoga setiap jerih payah yang diberikan menjadi berkah, membawa kesejahteraan, dan menjadikan pekerja Indonesia semakin kuat, produktif, serta dihargai,” tambahnya.


Sementara itu, Manager Hukum dan Humas Pelindo Regional 1, Fadillah Haryono, menyebut Hari Buruh sebagai momentum refleksi yang tidak boleh sekadar berlalu tanpa makna.


“Ini bukan hanya tentang peringatan tahunan. Ini tentang menghormati perjuangan. Tentang memastikan bahwa setiap pekerja merasa aman, didengar, dan memiliki ruang untuk tumbuh. Kami berkomitmen membangun lingkungan kerja yang manusiawi, inklusif, dan penuh kepedulian,” ungkapnya.


Lebih dari sekadar seremoni, Pelindo Regional 1 menegaskan bahwa pekerja adalah bagian tak terpisahkan dari transformasi perusahaan. Sinergi antara manajemen dan pekerja bukan hanya menjadi kunci produktivitas, tetapi juga fondasi dalam membangun masa depan industri kepelabuhanan yang berkelanjutan.


Di Hari Buruh ini, satu pesan mengalir kuat dari pelabuhan-pelabuhan: bahwa di setiap kapal yang berlayar, di setiap barang yang tiba, ada cerita tentang pengabdian. Tentang mereka yang bekerja dalam diam, namun jasanya menggema bagi kemajuan Indonesia. (Indra)

 


SUMBARNET - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Regional 1 melaksanakan kegiatan pelepasan calon jemaah haji tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Serbaguna Selat Malaka, Lantai 7A, pada Selasa (21/4).


Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan perusahaan kepada para pegawai Pelindo Group yang akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Mengusung tema “Langkah Suci Menuju Baitullah, Mengharap Ridha Ilahi”, acara ini turut dihadiri oleh Managemen Pelindo regional 1, Subholding serta anak Perusahaan di wilayah Medan dan Sekitarnya.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama antara Pelindo Regional 1 dengan SPMT sebagai bentuk sinergi dalam mendukung program pembinaan spiritual bagi insan perusahaan.


Manager Hukum dan Humas Pelindo Regional 1, Fadillah Haryono, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada kinerja, tetapi juga pada nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan. “Kami berharap melalui kegiatan ini, para calon jemaah haji dapat berangkat dengan penuh kesiapan, baik secara fisik maupun mental, serta kembali membawa semangat baru yang positif bagi lingkungan kerja,” ujarnya.


Dalam tausiyahnya, H. Abdul Latif Khan mengingatkan pentingnya meluruskan niat, menjaga kesehatan, serta memperbanyak ibadah selama menjalankan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci.

Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh haru, dihadiri oleh para pegawai Pelindo Group yang turut memberikan doa dan dukungan. Kegiatan ini juga difasilitasi secara daring melalui Zoom Meeting untuk menjangkau partisipasi yang lebih luas.


Melalui kegiatan ini, Pelindo Regional 1 berharap dapat terus memperkuat nilai kebersamaan dan spiritualitas di lingkungan kerja, sejalan dengan komitmen perusahaan dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berintegritas. (**)



SUMBARNET - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 1 turut ambil bagian dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kota Medan Tahun 2027 yang digelar di Four Points by Sheraton Medan pada 30–31 Maret 2026.


Ditengah semangat membangun kota yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan, forum ini menjadi ruang pertemuan gagasan, harapan, dan komitmen dari berbagai pihak.


Tema “Akselerasi Peningkatan Investasi untuk Perekonomian Kota yang Modern, Maju, Inklusif dan Berkelanjutan” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan bersama untuk bergerak lebih cepat dan lebih solid demi masa depan Medan.


Kegiatan ini dibuka langsung oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, yang menekankan pentingnya kolaborasi sebagai kunci utama dalam mendorong pembangunan dan membuka peluang investasi. Dalam suasana yang penuh optimisme, sinergi antara pemerintah dan dunia usaha terasa semakin nyata.


Bagi Pelindo Regional 1, kehadiran dalam forum ini bukan sekadar partisipasi, tetapi wujud nyata tanggung jawab dan kepedulian terhadap kemajuan daerah.


Sebagai penggerak sektor kepelabuhanan dan logistik, Pelindo menyadari bahwa konektivitas yang kuat adalah denyut nadi pertumbuhan ekonomi.


Manager Hukum dan Humas Pelindo Regional 1, Fadillah Haryono, menyampaikan bahwa Musrenbang menjadi momentum penting untuk mempererat sinergi.


“Kami ingin menjadi bagian dari langkah besar pembangunan ini, menghadirkan sistem logistik yang terintegrasi, efisien, dan mampu membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat,” ujarnya.


Lebih dari itu, Pelindo Regional 1 juga menegaskan kesiapannya untuk terus berkolaborasi dalam berbagai program strategis yang sejalan dengan arah pembangunan Kota Medan.


Harapannya, setiap upaya yang dilakukan hari ini akan menjadi fondasi kuat bagi masa depan yang lebih baik.


Musrenbang ini bukan hanya tentang perencanaan, tetapi tentang merajut harapan bersama—bahwa dengan kebersamaan, Kota Medan akan tumbuh menjadi kota yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga mampu memberikan kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakatnya. (Indra)



SUMBARNET - Jelang HUT Jelajahperkara.com ke-5 Tahun Pimpinan Umum Media harian Online Jelajahperkara.com, yang mewakili staf admin Indra Kuswanto, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan selama 5 Tahun jelajahperkara.com yang terus bertahan dan berkembang di tengah dinamika industri media digital.


Hal tersebut disampaikannya dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-5 jelajahperkara.com yang digelar Tahun Ini secara sederhana namun penuh makna di sepanjang jalan marelan raya staf admin menelusuri sepajang jalan dan memberi puluhan paket sembako kepada para pemulung dan Abang becak yang sedang melintas, jumat (6/02/2026) siang.


Dalam sambutannya, Indra menegaskan bahwa Ayo jelajahperkara.com lahir dari semangat untuk menghadirkan informasi yang cepat, akurat, berimbang, dan bertanggung jawab. Ia menyebut, di usia kelima ini, Ayo jelajahperkara.com semakin memantapkan diri sebagai media yang independen dan konsisten mengawal kepentingan publik, khususnya di Kota Medan, Sumatera Utara dan luar daerah dari Sabang sampai Merauke.


“Lima tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah media online. Kami bersyukur jelajahperkara.com masih dipercaya masyarakat. Ini adalah hasil kerja keras seluruh tim redaksi, wartawan, dan dukungan para mitra,” ucap Indra.


Ia juga menekankan bahwa jelajahperkara.com akan terus meningkatkan kualitas pemberitaan serta menjaga etika jurnalistik di tengah derasnya arus informasi dan maraknya hoaks. Menurutnya, tantangan media saat ini bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga keakuratan dan kepercayaan publik.


“Ke depan, kami berkomitmen untuk terus menjadi media yang kritis namun konstruktif, serta menjadi jembatan informasi antara masyarakat dan para pemangku kebijakan,” tambahnya.


"Saya mewakili pimpinan redaksi jelajahperkara.com juga berterima kasih kepada para dermawan baik yang telah turut andil dalam mensukseskan kegiatan ini semoga bapak dan ibu selalu diberikan Allah kesehatan dilapangkan rezeki karir semangkin sukses aamiin," ujarnya.


Harapan  Sementara itu, seorang bapak Said, mengapresiasi perayaan HUT ke-5 jelajahpermara.com yang telah peduli dengan rakyat sukur Alhamdulillah Sekali saya dapat sembako ini bisa meringankan beban hidup saya karena saya perhari saja dapat menjual botot hanya dapat uang 40 ribu dari pagi hari sampai malam hari tuturnya dengan mata berkaca kaca .


"Saya banyak berterima kasih kepada Tim awak media jelajahperkara.com


Ia juga berharap jelajahperkara.com dapat terus berkembang dan menjadi salah satu referensi utama masyarakat dalam mendapatkan informasi yang terpercaya, khususnya terkait kegiatan TNI-Polri baik pemerintahan dan pelayanan publik di seluruh daerah dari Sabang sampai Merauke. (**)

 


Sumut - Sambil cengengesan, Tengku Rahmatsyah, Kepala Bidang Preservasi I Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah Sumatera Utara mengaku menerima uang korupsi dari kontraktor Akhirun Piliang atau Kirun karena butuh untuk menyambut tamu. 


Rahmatsyah mengaku menerima uang sebesar Rp 400 juta dari Kirun hasil memenangkan proyek pemilihan jalan preservasi di wilayah kerjanya. 


"Untuk proses ini, PPK saya melapor yang menang siapa. Saya tahu kredibilitas pak Kirun. Perusahannya memenuhi syarat semua, lokasi beliau juga paling dekat. Itulah alasan kami bahwa pemenangnya PT DNG, makanya saya setuju," kata Rahmat saat dihadirkan sebagai saksi dalam kasus korupsi jalan di Pengadilan Negeri Medan, Kamis (15/1/2026). 


Pantauan TribunMedan, Rahmat juga terlihat beberapa kali tertawa saat menyebut membutuhkan uang korupsi itu. 


Kata dia, uang itu gunakan untuk menyambut tamu dari Kementerian PUPR yang datang ke Sumut. 


Misal untuk keperluan biaya perjalanan atasannya di Kementerian PUPR, biaya makan minum, hingga untuk memberi tunjangan hari raya untuk lembaga masyarakat. 


"Saya tak minta uang itu. Saya tak minta dari kontraktor, saya dikasih, saya terima Rp 400 juta," kata Rahmat. 


"Tamu saya itu banyak pak, saya menyediakan mobil, makan, oleh oleh, makan durian Ucok, sekali makan durian itu 2 sampai 3 juta. Salah satunya untuk THR. Kami Satker nerima proposal itu banyak sekali, belum lagi ada yang nelfon, halo abangda," kata Rahmat. 


Mendengar jawaban Rahmat, hakim As'ad Rahim Lubis terlihat berang. 


"Apa harus dipenuhi semua itu, bagaimana kalau tidak dipenuhi," kata As'ad. 


Rahmat lalu menjawab bila menyambut tamu merupakan budaya timur. Dia beralasan menggunakan uang korupsi itu untuk menyambut tamu dan sudah menjadi tradisi. 


"Kita adat timur, tak mungkin ada tamu tak kita layani. kita orang indonesia begitu. Kalau ada yang ngajak ayok makan durian, kan tak mungkin saya bilang saya tak ada uang. Itu menghormati tamu, itu prinsip saya," ujarnya. 

 

Rahmat pun mengaku telah mengembalikan uang Rp 400 juta yang dia terima dari Kirun usai diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi. 


"Uang nya sudah saya kembalikan ke KPK," kata Rahmat.


Sc : TribunMedan

 


Takengon,---Rian, pria itu kembali menatap layar HP-nya. Tak ada kabar apapun dari Takengonan sana. 


Kekasihnya, perempuan bermata teduh itu, yang dokter muda, yang mengungsi karena banjir, justru dilamun banjir sekali lagi.


“Sedih Bang,” katanya di Medan, Selasa, 31/12-2025. 


Ini kisah jatuh ditimpa tangga yang dialami dokter muda Icha yang koas di RS Unand, Padang


Begini kisahnya:

Icha sedang koas di RS Unand, tinggal di Perumahan Lumin Park, Lubuk Minturun. Lalu di bawah langit yang berat dan hitam ketika hujan tak berhenti, datanglah banjir.


Icha ketakutan. Takut yang tak bisa ia uraikan lagi. Menangis bukan jalan keluar. Dokter muda ini, berusaha menyelamatkan diri. 

Ketika pagi tiba, ia sudah tak melihat mobilnya. 


Perumahan itu sehabis banjir sudah tak berbentuk. Lumpur di mana-mana.


Diungsikan 

———————


Hanya yang melekat di badan, mobilnya ternyata terkubur lumpur. Namun, bukan itu, ia lumpuh dalam pikiran ketika kedua orangtuanya di Lut Tawar, Takengon sama sekali tak bisa dikontak. 


Ketika itulah ia runtuh. Derai air matanya, adalah aliran dari jendela hati dan jiwa yang gundah.


“Orangtua Icha tidak ada kabar,” katanya berkabar kepada kawannya. 


Kawannya juga gulana. Tak banyak bisa membantu. 


Tiap sebentar ia mencoba menelepon, tapi kawan Takengon, Aceh Tengah, lebih remuk dihantam banjir lumpur. 


Enam hari setelah banjir di Padang, Icha risau, tak bisa kemana-mana, padahal ingatannya hinggap di rumah masa kecilnya. Ia rindu ibunya, yang kasih sayangnya sedalan samudera, sesejuk rimba raya.


Hari ketujuh ia berhasil ikut terbang ke Medan dengan Hercules. Badannya nyaris tak terurus. Begitu sampai, rumah masih sangat jauh.


Ia dibantu untuk sampai ke Takengon. Perjalanan belum sampai. Ia mesti berjuang lagi pulang ke rumah. Sejauh apapun sebelumnya seseorang pergi, rumah adalah pautan rindu.


Dan rumah itu, tempat ia tumbuh, bukan lagi rumah. Hanya lumpur di mana-mana. Se isi rumah tertimbun. Juga kamar dan foto-foto masa kecilnya.

Di mana kedua orangtua Icha? Pengungsian!


Mereka bertemu, peluk paling erat, tangis paling dalam, sekarang terjadi. Anak gadisnya di Ranah Minang pulang dalam peradaan compang camping. 


“Sudah makan Nak?” Nah kan orangtua, selalu begitu. Ia periksa sekujur tubuh anaknya. Sang bapak, jamaknya pria di Aceh, menahan sedihnya, tapi satu dua air matanya jatuh. Ia menyembunyikan. Pria dimanapun, tak mau berduka di hadapan anaknya. 


Pergi dari Padang yang diterjang banjir, pulang ke Aceh, jadi pengungsi. Di bawah tenda, rumah masih penuh lumpur. Icha sekarang justru masih belum bisa dikontak.


Kekasihnya, Rian, hanyut dalam rindu dan sedih. “Icha,” gumamnya. Pria itu di Medan, terpaut jauh dari lokasi pengungsian Icha. 


Ingin ia menjujung alat berat ke sana, tapi tidak. Mustahil.

Yang tak mustahil, setelah ini, HP salah satu dari mereka akan berdering, entah Icha atau Rian yang menelepon.

Banjir kadang menguji cinta sekuat apa. 


Starlink menjadi penghubung Rian dan Icha, itu pun tidak sepanjang waktu. Ceoat pulih Takengon, lekas bangkit Tamiang.(***)

 


SUMBARNET - “Habis Pak, ini masih banyak yang memesan,” kata seorang pengusaha rental mobil di Medan, sebagaimana ditirukan Adrian Tuswandi, di Tamiang, Aceh, Selasa (30/12).


Kawan Adrian di Medan, pusing cari mobil untuk relasinya di Jakarta yang hendak ke Tamiang. 

Dari Medan ke lokasi banjir di Kuala Simpang memakan waktu maksimal 3 jam saja. Kalau ke Banda Aceh justru 12 jam. 


Selain rental, tentu saja penginapan dan rumah makan dan kuliner seperti durian, nyaris kewalahan melayani tamu yang memadati Medan, beberapa hari setelah banjir melanda Sumatera.


Tamu- tamu itu misalnya, pengusaha dari berbagai kota, perorangan, BUMN dan pejabat pemerintah. Dampak lain, berdempet dengan liburan nataru, pesawat ke Medan penuh. Bahkan dicukupi dengan ekstra flight.


“Iya ramai Pak, tamu pada mau ke Tamiang,” Rian seorang aktivis peduli banjir di Medan, Senin (29/12).


Jarak Medan ke Tamiang 130 Km, bisa lewat tol dari Medan dan berakhir di Pangkalan Brandan. Selanjutnya jalan biasa sampai Tamiang.


Medan yang “kecipratan,” itu merupakan berkah tak terduga. Natura saja, Medan sudah ramai, apalagi sekarang, berjubel tamu hendak ke Tamiang. 


Dikabarkan Presiden Prabowo juga akan Tamiang pada 1 Januari lusa . ***



SUMBARNET - Sekelompok massa melakukan aksi pembakaran mobil dinas hingga bangunan Polsek Muara Batang Gadis, Polres Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Sabtu siang 20 Desember 2025. 


Pembakaran tersebut, tidak lepas buntut informasi yang diterima warga, Polsek Muara Batang Gadis diduga melepas seorang pengedar narkoba berinsial R. Yang sebelumnya, ditangkap warga Desa Singkuang, Kecamatan Muara Batang Gadis, Kabupaten Madina. 


"Warga sempat mengamankan pengedar narkoba di Desa Singkuang. Kemudian menyerahkan ke Polsek Muara Batang Gadis, namun dilepas sehingga membuat amarah masyarakat murka dan terjadi pembakaran," ucap Kepala Desa Singkuang Sapiuddin Tampubolon, saat dikonfirmasi wartawan melalui telpon seluler. 


Dalam video viral di media sosial, terlihat kekecewaan dan kekesalan masyarakat memuncak saat R, sudah berada diluar Polsek Muara Batang Gadis, Sabtu dini hari, 20 Desember 2025. Warga berbondong-bondong mendatangi mako Polsek tersebut.


Situasi tidak terkendali, saat warga masuk dalam Polsek Muara Batang Gadis, dengan membakar sepeda motor, mobil dinas lalu digulingkan. Lalu, massa yang kecewa ikut membakar bangunan dari Polsek Muara Batang Gadis itu.


Lanjut, Sapiuddin mengatakan bahwa aksi pembakaran tersebut, bentuk kekecewaan masyarakat dan murni masyarakat tanpa ada yang menunggangi.


"Yang jelas warga kesal karena pengedar narkoba dilepaskan. Ditambah lagi, peredaaran barang haram di daerah ini sudah sangat meresahkan," kata Kepala Desa.


** Polda Sumut : Terduga Bandar Narkoba Melarikan Diri, Bukan Dilepas


Polda Sumut memberikan penjelasan terkait aksi massa membakar Mapolsek Muara Batang Gadis (MBG) di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sabtu (20/12/2025).


Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan menyebutkan, peristiwa itu bermula dari kesalahpahaman di tengah masyarakat Desa Singkuang I dan Desa Singkuang II, terkait informasi penanganan seorang warga bernama Romadon yang sebelumnya diamankan, dalam dugaan tindak pidana narkotika.


“Berdasarkan fakta, yang bersangkutan diamankan pada Jumat (19/12/2025) sekira pukul 16.30 WIB. Namun, dia (R) itu tidak berada di tempat penahanan, berhasil kabur melarikan sehingga dilakukan upaya pencarian oleh jajaran kepolisian,” katanya ketika dihubungi awak media.


Ferry Walintukan juga membantah terduga pelaku narkoba yang sebelumnya diamankan warga itu telah dilepas oleh personel Polsek Muara Batang Gadis, sebagaimana informasi yang beredar di masyarakat.


“Namun demikian, situasi di lapangan berkembang dan terjadi tindakan perusakan serta pembakaran terhadap sejumlah fasilitas kepolisian, di antaranya kendaraan dinas Polsek Muara Batang Gadis,” sebutnya.


Juru bicara Polda Sumut itu mengakui aparat kepolisian dalam kasus yang terjadi di Mapolsek Muara Batang Gadis itu mengedepankan langkah pengamanan dan keselamatan guna mencegah terjadinya benturan yang lebih luas.


“Tentunya Polda Sumut sedang melakukan pemeriksaan terhadap personel Polsek Muara Batang Gadis mengenai kaburnya seorang terduga pelaku narkoba yang sempat diamankan warga tersebut,” katanya.


Dia menambahkan, dalam insiden itu tidak menimbulkan korban jiwa.


Sementara, Kapolres Mandailing Natal (Madina), AKBP Arie Paloh, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, serta bersama-sama menjaga situasi kamtibmas agar tetap kondusif.


“Sebagai tindak lanjut, rangkaian peristiwa tersebut menjadi perhatian dan bahan evaluasi internal Polres Mandailing Natal, serta akan menjadi bagian dari evaluasi di tingkat Polda Sumatera Utara, guna memperkuat upaya pencegahan dan peningkatan kualitas pelayanan kepolisian ke depan,” pungkasnya. 


Sc : Posmetro Medan



SUMBARNET - Fakultas Kehutanan USU berduka. Seorang dosennya, Dr Ir OK Hasnanda alias OK (58 tahun) meninggal dunia dengan sejumlah luka tusukan di kediamannya di Jalan Alumunium, Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli pada Jumat (19/12/2025) sekitar pukul 09.00 WIB pagi. 


Setelah diusut oleh polisi, ternyata yang membunuh sang dosen adalah anaknya sendiri. Belakangan diketahui bahwa sang anak juga berkuliah di kampus tempat korban mengajar.


"Kami mengamankan satu orang pelaku berinisial HFZ, berusia 18 tahun, alamat di Jalan Aluminium, Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli. tersangka merupakan anak kandung dari korban," kata Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, Iptu Agus Purnomo, Sabtu (20/12/2025).


Agus membeberkan bahwa motif sang anak berani membunuh ayahnya karena ia sakit hati. Sebab tersangka dan ibunya sering dianiaya korban..


"Menurut informasi, korban sering melakukan penganiayaan terhadap keluarganya di dalam rumah," beber Agus.


Saat itu juga tersangka melakukan penusukan kepada ayahnya sendiri hingga korban meregang nyawa.


"Luka tusukan ada lebih dari 7, di bagian dada, di bagian punggung, di bagian perut, ditusuk, menggunakan pisau dapur," sebut Kasat Reskrim.


"Tersangka kami terapkan pasal 44 ayat 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 sub pasal 338 dari KUHPidana, yang ancamannya paling lama 15 tahun penjara," pungkasnya.


Sc : Posmetro Medan

 


Medan - DPR RI menyoroti kayu gelondongan berbagai jenis dan ukuran yang tersapu banjir bandang Sumatera.


Kayu gelondongan yang diduga berasal dari perambahan hutan itu dimanfaatkan warga untuk dijadikan papan. Seperti yang terjadi di Garoga, Batangtoru, Tapanuli Selatan.


Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman menegaskan pemanfaatan kayu-kayu tersebut tidak boleh dilakukan sembarangan, meski dianggap bernilai ekonomis bagi masyarakat.


Argumen tersebut kata Alex, berpedoman pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.


"Hari ini kita melihat warga menjadikan kayu berbagai ukuran sebagai barang bernilai ekonomis. Ini tak bisa dibiarkan terus berlanjut, karena penanganannya mesti merujuk UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah," kata Politikus PDI Perjuangan itu, Senin (15/12).


"Sama halnya dengan puing-puing bangunan, kayu-kayu ini tentu akan sangat banyak peminatnya. Terlebih, kualitas kayunya terlihat sangat bagus. Tentunya, memiliki nilai ekonomis tinggi," sambung Alex.


Ia menjelaskan material kayu yang terbawa banjir tersebut masuk dalam kategori sampah spesifik, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Ayat (4) UU Pengelolaan Sampah, yakni sampah yang timbul akibat bencana alam.


Adapun kategori sampah spesifik juga mencakup sampah yang mengandung B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), sampah yang mengandung limbah B3, puing bongkaran bangunan, sampah yang secara teknologi belum dapat diolah, serta sampah yang timbul secara tidak periodik.


Sehingga ia mendorong pelibatan pihak ketiga agar pembersihan berjalan cepat, dan tetap memberi manfaat ekonomi tanpa melanggar hukum maupun merusak lingkungan.


Alex menyebut mestinya tumpukan sampah itu ditangani secara spesifik, baik lantaran karakteristik, volume, frekuensi timbulnya, maupun karena faktor lainnya, yang memerlukan cara penanganan yang tidak normatif berurutan.


Menurutnya, Peraturan Pemerintah (PP) No 27 Tahun 2020 yang merupakan petunjuk teknis UU Pengelolaan Sampah, memberi ruang pada pemerintah, baik pusat maupun daerah, memanfaatkan sampah akibat bencana ini untuk kegiatan bernilai ekonomis.


"Di tengah keterbatasan kemampuan fiskal daerah, keberadaan kayu-kayu tersebut setidaknya akan membantu berbagai kebutuhan mendesak dalam penanganan dampak bencana,” tegasnya. 


Sc : Posmetro Medan

 


Medan - Pemerintah Kota (Pemko) Medan, mengembalikan bantuan dari Pemerintahan Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya diserahkan Wakil Duta Besar UEA, Shaima Al Hebsi di Posko Bantuan Bencana Kota Medan, Gedung PKK, Kota Medan, Sabtu 12 Desember 2025.


"Kita kembalikan ke Uni Emirat Arab," ucap Walikota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas kepada wartawan, usai peninjauan ke salah satu supermarket di kawasan Jalan Karya, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, Kamis 18 Desember 2025.


Rico Waas mengungkapkan bahwa pengembalian bantuan dari UEA tersebut, berdasarkan perintah dari Pemerintah Pusat, yang saat ini belum ada menerima bantuan dari pihak asing terkait dengan bencana alam ini.


Rico mengungkapkan bahwa pihak Pemko Medan setelah menerima bantuan tersebut, langsung berkordinasi dengan Pemerintah Pusat. Sehingga pemerintah pusat belum ada menerima bantuan dari negara lain untuk membantu korban bencana di Sumatera.


"Intinya adalah memang kita sudah cek tentang regulasi dan penyampaian. Kita cek BNPB juga, dan Kementerian Pertahanan bahwasanya memang melalui koordinasi semua, ini tidak diterima dulu," jelas Rico. 


Untuk diketahui, Pemerintah Uni Emirat Arab diantaranya beras 30 Ton, dan 300 paket masing-masing berupa, sembako, perlengkapan Bayi dan perlengkapan shalat. 


Sc : Posmetro Medan

 


Tapanuli - Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengungkap perkembangan penanganan kasus dugaan pembalakan liar di kawasan Tapanuli, Sumatera Utara (Sumut). Penyidik Polri telah menaikkan status perkara ke tahap penyidikan dan menetapkan satu orang sebagai tersangka.


“Kemarin kami membentuk satuan tugas di Tapanuli. Perkara sudah naik ke penyidikan dan tersangka sudah ditemukan,” kata Sigit, dikutip dari website Polri, Sabtu (13/12/2025).


Meski demikian, Listyo belum membeberkan identitas tersangka. Ia menegaskan tim satgas masih melakukan pendalaman di lapangan untuk mengungkap peran dan jaringan pelaku. “Biarkan tim bekerja terlebih dahulu. Nanti akan dijelaskan lebih lanjut setelah prosesnya selesai,” katanya.


Sebelumnya, Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri mengungkap adanya unsur pidana dalam kasus dugaan illegal logging di Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga dan Anggoli, Sumatera Utara.


Temuan tersebut menjadi dasar peningkatan status penanganan perkara ke tahap penyidikan.


Direktur Tipidter Bareskrim Polri, Brigjen Pol Mohammad Irhamni, menyampaikan proses hukum di lokasi tersebut telah resmi berjalan. “Untuk lokasi Garoga dan Anggoli, kasusnya sudah kami naikkan ke tahap penyidikan,” kata Irhamni, Rabu (10/12/2025).


Selain di Sumatera Utara, dugaan pembalakan liar juga ditemukan di wilayah Aceh. Tim penyidik mendapati aktivitas penebangan dan pembukaan lahan di kawasan hulu Sungai Tamiang, yang merupakan area lindung.


“Informasi awal menunjukkan adanya kegiatan illegal logging dan pembukaan lahan oleh masyarakat di wilayah hulu Sungai Tamiang,” kata Irhamni, Selasa (9/12/2025).


Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan pola kerja yang terorganisasi. Para pelaku diduga memanfaatkan peningkatan debit air sungai untuk mengalirkan kayu hasil tebangan.


Batang pohon besar dipotong menjadi bagian kecil agar mudah dihanyutkan. “Kayu ditumpuk di bantaran sungai, lalu dihanyutkan saat air naik dengan pola seperti rakit,” ucapnya. 


Sc : Posmetro Medan

 


SUMBARNET - Aksi kejar-kejaran terjadii di kawasan Gaperta Medan, Kamis,(23/10/2025) pagi. Antara dua pria dan seorang perempuan.


Menurut saksi mata, saat kejar-kejaran terjadi, perempuan tersebut berteriak "maling".


Teriakan tersebut memancing warga ikut mengejar dua pria yang ternyata debt collector itu.


Aksi itu berakhir di kawasan Sei Kambing. Satu orang debt collector berhasil diamankan warga dan sesekali diberikan bogem mentah. Sementara rekannya berhasil kabur.


Saat diperiksa, pria itu tak bisa menunjukkan identitas resmi sebaqai penagih utang.


Sementara pengendara motor yang dikejar juga tak bawa surat kendaraan. Dengan alasan tertinggal di rumah.


Keduanya langsung diserahkan ke polisi.


Sumber : Posmetro Medan



SUMBARNET - Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Kota Medan melalui Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Filemon Sembiring meminta Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara memberikan atensi terhadap kasus dugaan korupsi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Labuh di KSOP Utama Belawan.


Berdasarkan informasi belakangan ini beberapa pejabat KSOP Utama Belawan diperiksa oleh Kejaksaan Negeri Belawan terkait dugaan korupsi PNBP Labuh Kapal.


Menurut Filemon, Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara perlu melakukan atensi dan supervisi terkait proses pemeriksaan kasus tersebut, hal itu agar pemeriksaan kasus dugaan korupsi PNBP Labuh Kapal tersebut berjalan dengan maksimal dan sebenar-benarnya.


“Bila perlu, Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara mengambil alih penanganan kasus tersebut, dengan demikian pemeriksaan kasus itu akan berjalan secara transparan dan publik dapat memantau perkembangannya”, ucap Filemon kepada tim awak media.


Lebih lanjut, Filemon mengatakan bahwa sebagaimana diketahui Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara saat ini dipimpin oleh Kepala Kejaksaan Tinggi yang baru saja dilantik yakni Bapak Harli Siregar.


“Ini menjadi kesempatan bagi Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara Bapak Harli Siregar untuk menunjukkan kepada publik bahwa institusi Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara yang dipimpinnya menjadi garda terdepan dalam melaksanakan pemberantasan korupsi di Sumatera Utara” pungkas Filemon.


Pada saat tim awak media mengkonfirmasi terkait prihal kasus dugaan korupsi PNBP Labuh Kapal tersebut humas KSOP Belawan tidak menjawab, ditelfon tidak di angkat seakan menutup nutupi hal tersebut.


Filemon berharap kepada pihak kejaksaan Tinggi Sumatra Utara harus mengambil alih penanganan kasus tersebut karena ini sudah merugikan negara. (Indra/tim)



SUMBARNET - Seorang pria tanpa identitas nyaris tewas diamuk massa setelah tertangkap basah mencuri sepeda motor di Desa Sukamaju, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (27/6/2025) malam.


Menurut sejumlah warga di lokasi, pelaku diketahui mencoba mencuri sepeda motor milik warga. Aksi ini dipergoki langsung warga yang kemudian beramai-ramai mengejar pelaku hingga ke area semak-semak.


Setelah berhasil ditangkap, pria tersebut menjadi sasaran amukan massa yang kesal dengan maraknya aksi pencurian di wilayah tersebut.


Namun, beruntung nyawa pelaku berhasil diselamatkan setelah petugas dari Unit Reaksi Cepat (URC) Unit Reskrim Polsek Sunggal tiba di lokasi dan segera mengamankan pria tersebut dari amukan warga.


Kapolsek Sunggal, Kompol Bambang G. Hutabarat, saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengatakan bahwa terduga pelaku kini telah diamankan dan dalam proses penyelidikan lebih lanjut.


“Ya ada, Untuk lebih lengkapnya silahkan tanyakan ke Kanit ya,” ujar Kompol Bambang singkat.


Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai identitas pelaku serta kronologi lengkap kejadian.


Sumber : Posmetro Medan



SUMBARNET - Polres Asahan berhasil mengungkap kasus pembunuhan terhadap Darman 58 tahun, warga Dusun VIII, Desa Rawang Lama, Kecamatan Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan.


Darman ditemukan tewas mengenaskan, Jumat (30/5/2025) pagi di dalam rumahnya. Saat itu, tubuh korban dalam posisi telungkup dengan kaki dan tangan terikat, sementara mulutnya dibekap menggunakan sehelai pakaian.


 Temuan itu mengejutkan dua rekan kerja korban yang semula hendak berangkat ke ladang bersamanya.


Kejadian tersebut langsung dilaporkan pada pihak desa dan diteruskan ke Polsek Kota Kisaran. Tim dari Satreskrim Polres Asahan pun turun tangan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), mengumpulkan bukti, dan memeriksa saksi. Hasil autopsi menunjukkan bahwa korban meninggal akibat kekerasan fisik.


"Mulanya kami melakukan penyelidikan terhadap pelaku yang belum diketahui identitasnya. Kami kemudian melakukan olah TKP dan mengumpulkan bukti, hingga didapat informasi kepada dua tersangka ini yang masih tetangga korban,” kata Ipda Asido Nababan selaku Kanit Jatanras Polres Asahan Minggu, (29/6/2025).


Dua pelaku yang dimaksud adalah Andika alias Gundi (31) dan Supriadi alias Rizal alias Kunting, yang ternyata masih satu kampung dengan korban. Andika ditangkap terlebih dahulu pada 7 Juni 2025, saat hendak kabur dari loket bus di Kecamatan Simpang Empat.


“Andika dan Rizal datang ke rumah korban dan membekap mulut, tangan serta kaki korban dengan potongan karet ban. Mereka menindih tubuh korban hingga tewas. Kemudian mengambil uang milik korban sebesar Rp6 juta, lalu melarikan diri,” kata Apsido.


Setelah berhasil menangkap Andika, polisi langsung memburu pelaku kedua. Rizal diketahui kabur ke wilayah Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Tim Jatanras melacak keberadaannya dan pada 23 Juni 2025 sekitar pukul 21.00 WIB, Rizal berhasil ditangkap di rumah temannya.


“Saat diinterogasi, Rizal mengaku bahwa uang hasil rampokan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, membeli vape dan narkoba, serta ongkos pelarian,” kata Apsido.


Polisi menjerat keduanya dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, serta Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian.


Sumber : Posmetro Medan



SUMBARNET - Dua anggota geng motor yang terlibat dalam aksi pembegalan pengendara sepeda motor di Jalan PDAM Tirtanadi, Kota Medan, masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). 


Kedua pelaku, yang diketahui bernama ABS (17) dan Rivaldo Sihombing (20). ABS dan Rivaldo melakukan aksi pembegalan terhadap pengendara sepeda motor di Jalan PDAM Tirtanadi pada Senin (16/6/2025) sekitar pukul 03.30 WIB.


 Kapolrestabes Medan, Kombes Gidion Arif Setyawan menjelaskan, korban bernama Bambang. 


Saat kejadian, ia membonceng anaknya menuju rumah ketika pelaku datang dengan sejumlah sepeda motor. 


"Korban dipepet, didorong sehingga terjatuh. Lalu, korban mengancam dengan senjata tajam berupa kelewang," kata Gidion saat menggelar konferensi pers di Polsek Sunggal pada Senin (30/6/2025).


 Meskipun korban sempat membuang kunci sepeda motornya, para pelaku memaksa Bambang untuk mencarinya. Setelah kunci ditemukan, pelaku membawa motor korban. 


AKP Budiman Simanjuntak menambahkan bahwa korban tidak mengalami luka. Setelah kejadian, korban melaporkan insiden tersebut ke polisi dan proses penyelidikan pun dimulai. 


Pada Selasa (24/6/2025), kedua pelaku ditangkap di Jalan Orde Baru, Desa Mulyorejo.


 "Keduanya merupakan anggota geng motor RNR. Urine mereka sudah dicek, dan hasilnya positif narkoba," ujar Budiman. 


Pernah Bacok Orang Hingga Tewas saat Tawuran


Masih ingat tawuran di Jalan Orde Baru, Desa Mulyorejo, Kabupaten Deli Serdang pada Sabtu (19/10/2024) lalu.


Kejadian ini menewaskan seorang remaja bernama Sion Ferdinand Manurung, 18 tahun. ABS dan Rivaldo membacok Sion hingga tewas.


"Selain terlibat kasus begal, keduanya juga terlibat kericuhan tahun lalu. Pelaku Rivaldo membacok tangan dan ABS membacok kepala korban bernama Sion," kata Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Gidion Arif Setiawan, Senin (30/6/2025).


Keduanya bisa dikenakan pasal berlapis. “Pasal 170 Ayat (2) ke 3e Subs Pasal 358 ke 2e KUHPidana juga kita terapkan," ujarnya.


Saat dijumpai di Polrestabes Medan, Rivaldo mengatakan tawuran antar geng motor bermula dari DM di Instagram, kemudian lanjut mengejek hingga mengancam.


"Perang terjadi karena perkara DM-an. Mereka mengejek dan mengancam. Makanya jadi perang itu," kata Rivaldo.


Setelah membacok korban, ABS dan Rivaldo melarikan diri ke Aceh. Keduanya kemudian kembali ke Medan karena sudah merasa aman. Kemudian, tersangka melakukan aksi begal.


"Kami lari ke Aceh. Setelah kembali, kami membegal. Itu pun aku cuma menghadang kereta korban. Yang mengacungkan senjata tajam dan bawa kereta korban kawan ku. Belum tertangkap dia," kata Rivaldo.


Sumber : Posmetro Medan



SUMBARNET - Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara saling berebut empat pulau di wilayah mereka. Polemik empat pulau Aceh-Sumatera Utara itu kini diambil alih Presiden Prabowo Subianto.


Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan keputusan itu berdasarkan hasil komunikasi antara DPR dan Prabowo. Dasco mengatakan Prabowo segera memutuskan langkah terbaik untuk menyelesaikan hal tersebut.


"Hasil komunikasi DPR RI dengan Presiden RI bahwa Presiden mengambil alih persoalan batas pulau yang menjadi dinamika antara Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara," kata Dasco kepada wartawan, Sabtu (14/6/2025).


Tak hanya itu, Ketua Harian Partai Gerindra itu menyatakan Prabowo menargetkan keputusan terkait pemindahan kepemilikan empat pulau tersebut rampung pekan depan. Setelah itu, kata Dasco, Prabowo menyampaikan keputusannya.


"Dalam pekan depan akan diambil keputusan oleh Presiden tentang hal itu," katanya.


Seperti diketahui, empat pulau tersebut kini menjadi kisruh karena disebut berada di wilayah Sumut. Padahal keempat pulau tersebut awalnya merupakan bagian dari wilayah Aceh.


Empat pulau yang kini masuk wilayah Sumut itu adalah Pulau Panjang, Pulau Lipan, Pulau Mangkir Gadang, dan Pulau Mangkir Ketek. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ternyata mendukung klaim Bobby Nasution lewat Keputusan Mendagri, yang terbit pada 25 April 2025.


"Proses perubahan status keempat pulau tersebut telah berlangsung sebelum 2022, jauh sebelum Gubernur Muzakir Manaf dan Wakil Gubernur Fadhlullah menjabat. Pada 2022, beberapa kali telah difasilitasi rapat koordinasi dan survei lapangan oleh Kementerian Dalam Negeri," kata Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Sekretariat Daerah Aceh, Syakir, dalam keterangannya, Senin (26/5).


Pihak Pemprov Aceh pun tidak menerima keputusan tersebut. Peninjauan ulang keputusan tersebut sampai saat ini masih diperjuangkan. Pihak Pemprov Aceh masih berjuang agar keempat pulau kembali masuk wilayah administratif Aceh.


Sumber: Detik