Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

 


SUMBARNET.COM - Karya instalasi seni rupa menggunakan bahan limbah laut, bakal dipamerkan di Galery Taman Budaya, Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, 10 hingga 13 Desember 2020. Pameran nantinya berkolaborasi dengan pertunjukan teather bertajuk “Mencabik Pekik Sunyi” yang disutradarai oleh Mahatma Muhammad.


Ada 10 hingga 15 instalasi seni rupa karya Perupa Instalasi dan Penata Panggung, Khairul Mahmud yang dipamerkan. Pameran karya instalasi berbahan sampah laut nanti, mengusung tema isu ekologi lingkungan.  “Melalui pameran ini, sampah laut bisa jadi karya seni instalasi dan setting latar teather,” ungkap Khairul, Sabtu (5/12). 


Pria Tamatan S1 Seni Rupa Universitas Negeri Padang (UNP) itu mengatakan, untuk menghasilkan tema satu karya instalasi seni rupa, melibatkan satu tim untuk sharing konsep cerita. Karena setiap tema karya seni rupa yang diangkat memiliki sebuah cerita. 


Misalnya, satu karya instalasi seni rupa berbentuk ikan paus. Bahan untuk membuat bentuk ikan paus diambil dari kayu-kayu limbah laut khusus yang diambil di pantai Teluk Buo, Kota Padang. Karena di Teluk Buo tersebut ada cerita ikan paus banyak di laut teluk tersebut. Setiap nelayan  di sana pergi melaut, dekat kapalnya ada ikan paus yang menemani. 


“Jika ada ikan paus dekat kapal, maka menandakan banyak ikan di lokasi tersebut. Nah cerita inilah yang kita angkat menjadi sebuah karya seni instalasi berbentuk ikan paus,” terang Khairul.


Selain karya instalasi ikan paus, juga ada karya instalasi berbahan limbah laut lainnya yang dipamerkan, seperti figur manusia, kerbau dan lainnya. Untuk mengerjakan satu karya instalasi, mulai dari mengumpulkan limbah kayu di pantai, hingga membentuk karya, membutuhkan waktu satu bulan. 


Pembuatan instalasi dilakukan dengan memaku setiap kayu-kayu sampah laut hingga membentuk suatu bentuk. Baik itu bentuk menyerupai manusia maupun bentuk menyerupai binatang dan lainnya. “Kayu-kayu sampah laut kita kumpulkan di tiga lokasi pantai di Kota Padang, yakni teluk Buo, Pantai di Air Tawar dan Pantai Pasir Jambak,


Khairul mengungkapkan, instalasi seni rupa merupakan sebuah karya. Namun sifatnya sementara. “Instalasi ini bisa dipindah pindah. Tidak permanen. Apa pun bahan kalau dikumpulkan bisa jadi karya instalasi. Bahkan pasir kalau ditumpukan jadi instalasi,” ujarnya. 


Sementara, Mahatma Muhammad yang jadi sutradara pertunjukan teather bertajuk “Mencabik Pekik Sunyi” mengatakan, pertunjukan teather nanti ,merupakan kegiatan produksi rutin tunggal Nan Tumpah, yakni sebuah komunitas independent. Pada pertunjukan kali ini, Mahatma mengajak seniman lintas komunal untuk berkreasi.


“Melalui kreasi lintas komunal ini, kita hadirkan pertunjukan teather melibatkan kawan-kawan seni rupa instalasi. Mereka kita ajak terlibat, karena lebih cenderung dekat dengan pertunjukan panggung untuk setting property,” terangnya. 


Mahatma mengatakan, karya dari bahan limbah dan sampah laut tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk pertunjukan teather. Tetapi juga bisa dikolaborasikan dengan pameran. Sehingga, pertunjukan teather “Mencabik Pekik Sunyi” akhirntya melebur menjadi tema besar. 


Mencabik Pekik Sunyi terdiri dari dua naskah, yakni Mencabik dan Pekik Sunyi. Naskah ini dikonstruksi ulang untuk jadi struktur pertunjukan naskah baru.  Pertunjukan teather ini mengandung pesan kepada masyarakat, agar memiliki kepekaan kepada siklus berulang. Mulai dari kehidupan privasi dalam keluarga, hingga siklus peristiwa dan kejadian global yang terjadi hingga saat ini. Seperti isu tentang ekologi lingkungan saat ini. 


“Perlintasan peristiwa yang fenomenal yang berulang direlevankan dengan kondisi hari ini. Ruang ruang informasi peristiwa global, membuat kita tidak sensitif dengan ruang paling dekat dengan kita, yakni keluarga,” ungkapnya. 


Dalam pertunjukan dan pameran nanti, akan melibatka 36 seniman dan budayawan. “Untuk pembukaannya dimulai tanggal 10 Desember, kemudian dilanjutkan pameran dan pertunjukan teather tanggal 11 hingga 13 Desember,” terangnya.


Kegiatan pertunjukan teather dan pameran nantinya, dilaksanakan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Di mana penonton dibatasi jumlahnya 100 orang per hari. Ada 100 area penempatan yang diatur dengan menerapkan protokol kesehatan. 


“Untuk pengunjung juga dibatasi tiketnya. Di mana untuk umum hanya disediakan 50 tiket dan sisanya untuk panitia dan pekerja seni. Untuk pameran juga dibatasi jumlah pengunjungnya hanya 30 hingga 35 orang per hari,” terangnya. 


Pemerhati Ekonomi Kreatif Sumbar, Yulviadi mendukung kegiatan pertunjukan teather yang dikolaborasikan dengan pameran isntalasi seni rupa berbahan limbah laut. Menurutnya,  kreatifitas seni rupa dan pertunjukan teather ini, seharusnya sudah ada nilai ekonomi yang muncul. 


“Mestinya, dengan Bbiaya produksi yang luar biasa terhadap kreatifitas ini, tidak seharusnya hanya bisa dinikmati oleh komunitas sendiri. Harusnya karya seni ini dikonsumsi secara umum. Sehingga menghasilkan nilai ekonomi. Ini yang seharusnya menjadi perhatian ke depan,” ujarnya. (**)


Sawahlunto(Sumbar).SNet- Di saat banyak orang asing tertarik dan mempelajari silek, maka jangan sampai kita yang di Minang ini malah tidak peduli dan acuh dengan silek. Sebab jika silek tidak lagi kita pedulikan, bisa-bisa nanti malah kita yang belajar silek kepada orang-orang asing tersebut.

Hal itu disebutkan Wakil Walikota Zohirin Sayuti ketika menutup “Sawahlunto Balega”, Sabtu (10/11) di pelataran Museum Kereta Api Kampung Teleng – Sawahlunto.

Ajang “Sawahlunto Balega” yang juga masuk dalam rangkaian “Silek Arts Festival” dihelat menjadi salah satu momen agar ketertarikan dan kepedulian generasi muda kepada silek dapat terpancing. Sehingga dengan itu, silek dapat terus dilestarikan dan dikembangkan.

Selain memancing antusiasme masyarakat – terkhusus generasi muda – gelaran “Sawahlunto Balega” juga bermakna sebagai ajang silahturrahmi dan meningkatkan persatuan antar tuo-tuo silek. Bahkan, berbagai “up date” perkembangan silek juga bisa terpantau di sana.

“Kita tentu bangga bahwa sekarang silek ini dipelajari oleh banyak orang asing, ada dari Eropa, ada dari Amerika. Mereka sangat tertarik dan mau mempelajari silek kita ini. Namun perlu kita sadari juga, jangan sampai mereka tertarik dengan silat. Sementara di kita, malah acuh tak acuh dan tidak menghargai silek,” tutur Wawako Zohirin.

“Kalau kita acuh saja. Nanti apa tidak malu, kalau kita orang Minang malah belajar silek kepada orang Eropa, orang Amerika? Jangan sampai terjadi seperti itu. Maka, mari kini kita bersama peduli terhadap silek,” ajak mantan Sekda Sawahlunto itu.

Dikatakan Zohirin, semua pihak memiliki peran dalam melestarikan silek ini. “Kita semua punya dan harus memberikan kontribusi melestarikan budaya silek ini,” ujar Wawako.

Terkhusus pada para tuo silek, berperan agar silek ini abadi, tentu harus terus diwariskan pada generasi penerus. Wawako Zohirin Sayuti meminta agar tuo-tuo silek ini tak bosan mengajarkan silek kepada generasi muda.

Sementara, untuk penyelenggaraan kegiatan-kegiatan budaya termasuk silek tersebut, Wawako Zohirin menyebut Pemko terus mendukung. Malahan, jika ada iven-iven silek, bertaraf provinsi maupun nasional, Sawahlunto siap menjadi tuan rumah.

“Ajang-ajang silek ini, baik provinsi maupun nasional. Kita nyatakan bahwa Sawahlunto bersedia dan siap menjadi tuan rumah. Menyelenggarakan kegiatan silek ini bukan hal baru bagi kita. Sebab 2009 lalu, kita juga pernah menggelar silek tradisi di Desa Rantih, kala itu kita masih bersama mendiang bapak Amran Nur,” cerita Zohirin.

Sebab, dalam gelaran kegiatan silek itu, antusiasme para tuo-tuo silek, juga Kerapatan Adat Nagari (KAN) setempat terbilang sangat tinggi. Ajang “Sawahlunto Balega” sendiri, KAN Kenagarian Kubang bersama jajaran pemuda kenagarian yang terkenal dengan penganan “Karupuak Kubang” itu sangat bersemangat membantu Pemko Sawahlunto melaksanakan iven yang berlangsung selama dua hari tersebut.

“Sawahlunto Balega”, meski bertajuk “balega”, namun dalam acaranya tak hanya menampilkan “balega” alias basilek. “Sawahlunto Balega” juga menyajikan Festival Karawitan yang diikuti 11 tim dari Sekolah Menegah Pertama (SMP).

Kepala Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Sawahlunto Hendri Thalib, melaporkan bahwa di Festival Karawitan, selain dari SMP di Sawahlunto, juga ikut SMP dari kabupaten tetangga.

“Untuk Festival Karawitan ini, ada 5 SMP dari Sawahlunto yang ikut. Sementara dari luar, itu 3 dari Solok dan 3 juga dari Sijunjung”, kata Thalib.

Mewarnai ‘Sawahlunto Balega” itu, dikatakan Hendri Thalib tak hanya penampilan silek dari 9 kabupaten/kota peserta yang memukau penonton. “Kita juga menampilkan silek dari undangan yang berasal dari Jawa Barat. Bahkan juga ditampilkan silek oleh negara tetangga kita, Malaysia,” cerita dia.

Di gelaran “Sawahlunto Balega”, tampil para tuo silek dari Maninjau, Solok, Solok Selatan, Sijunjung, Batu Sangkar, Lintau dan Sawahlunto sendiri.

Sementara, prosesi “mambantang lapiak” dan “mangguluang lapiak” dilakukan oleh jajaran KAN Kenagarian Kubang.

Pada penutupan “Sawahlunto Balega”, selain  dihibur dengan saluang dangdut, juga diumumkan pemenang lomba baca puisi antar guru di Sawahlunto Poetry Reading Fest II, Lomba Karawitan serta Festival Silek Tradisi.

Dari Festival Silek Tradisi, para penyaji terbaik yang menjadi juara yakni ; Talago Biru – Agam (Doni, Faris, Dinda dan Niken) kemudian Ibadurrahman (Berli Satria & Adrian Permana), selanjutnya Ganggang Sapadi (Vohallen Akbar dan Dede Saputra), juga Alang Ponggongan (Ichwan Nofri W, dan Muhammad Fajri).

Terkait ajakan melestarikan budaya silek ini, juga digaungkan oleh Walikota Deri Asta saat membuka "Sawahlunto Balega" ini pada Jum'at (09/11) lalu. Deri menyebut, pelestarian budaya sangat sesuai dengan irama "Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya".

Penyelenggaraan “Sawahlunto Balega” ini terangkum juga dalam “Silek Arts Festival” yang berkolaborasi dengan platform nasional Indonesiana. PIC Silek Arts Festival Viveri Yudhi, yang juga merupakan pejabat di Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar menyebut “Silek Arts Festival” mengusung tema “Panjapuik Piutang Lamo”.

“Banyak utang kita pada silek ini. Manfaat silek tak hanya diambil secara ilmu bela diri-nya. Namun lebih, banyak sisi-sisi lain, seperti sisi filosofisnya yang sangat berguna dan dipakai oleh orang-orang Minang. Jadi jika selama ini, silek tak kita perhatikan. Momen Silek Arts Festival ini menjadi wahana kita menjemput utang pada silek ini,” papar Yudi.

Viveri Yudi lantas menekankan, pada silek sebenarnya berfokus bukan cuma pada soal bela diri semata, namun pada latihan mental dan spiritualnya. “Kita ketahui, bela diri silek tak hanya mengajarkan teknik-teknik bela diri. Namun yang menjadi dasar adalah melatih mental – spiritual pesileknya. Inilah yang menjadi jiwa dari silek itu,” ujar dia.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan juga mendukung dan memfasilitasi gelaran “Silek Arts Festival” tersebut, kata Viveri Yudhi.

# SNet - Red/Humas

KamangMudiak.SNet- Ada tiga kata yang sangat BERTUAH, jika DISINERGIKAN akan MENGUBAH hidup kita secara LUAR BIASA. Sehingga kita bisa meningkatkan Martabat Diri dan Kualitas Hidup. Namun sayangnya ketiga kata ini jarang disandingkan orang sebagai satu pola meraih SUKSES yang HAKIKI. Ketiga kata ini, yakni BUDAYA, BISNIS dan SPIRITUALITAS, hampir tak pernah dihubungkan. Ketiganya seakan dianggap menempati dunia yang berbeda. Budaya dan bisnis memang cukup sering disandingkan. Namun, kata SPIRITUALITAS amatlah asing bagi kedua dunia tersebut.

Kebudayaan Nusantara mengisi serta menentukan jalannya kehidupan  manusia Indonesia. Sekalipun, terkadang tidak disadari oleh manusia itu sendiri. Jelas, Indonesia kaya raya dengan beragam budaya. Namun, kita tak acuh bahkan tidak hendak mengenal apalagi mengakuinya. Inilah Masalah kita hari ini. Ketakmengertian budaya dan jati diri. Persoalan kesadaran bangsa. Kekayaan budaya, termasuk kearifan lokal yang seakan menjadi slogan belaka.

Tak heran, jika BUDAYA dipahami dengan cara seperti ini, KRISIS BUDAYA pun terus terjadi. Kebencian dan prasangka menjadi udara yang dihirup bersama. Hujatan dan Hoax pun bertebaran di mana-mana. Fitnah dan kedangkalan berpikir menjadi warna kehidupan sehari-hari. Buahnya adalah GAYA HIDUP yang dipenuhi dengan HEDONISME, korupsi, kolusi, manipulasi dan nepotisme, seperti kita lihat sekarang ini.

BISNIS pun juga dianggap sebagai sesuatu yang JAUH dari SPIRITUALITAS. Bisnis dipahami secara sempit sebagai upaya untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Berbagai cara ditempuh untuk mencapai hal ini, bahkan dengan merugikan orang lain dan melanggar hukum yang berlaku. Bahkan. dalam upaya memperkaya diri secara tidak sehat, para pelaku bisnis seringkali menjadikan budaya hanya sebagai komoditas yang
diperdagangkan. Termasuk rekayasa dan manipulasi seni budaya untuk kepentingan komersial mereka yang culas.

Bisnis semacam ini juga akan terus terjatuh ke dalam KRISIS. Kesenjangan sosial antara si pemilik modal dan si pekerja juga akan semakin besar. Beragam masalah pun muncul, sebagai akibat dari kesenjangan sosial tersebut, mulai dari kriminalitas sampai dengan konflik berdarah. Tidak hanya itu, banyak juga lingkungan alami, seperti hutan tropis, yang rusak, akibat sepak terjang para PEBISNIS RAKUS.

Semua ini bisa dihindari, jika budaya, bisnis dan kehidupan dihubungkan kembali dengan spiritualitas. SPIRITUALITAS adalah sebuah sudut pandang yang melahirkan cara hidup tertentu, dimana kebutuhan tubuh dilihat hanya sebagai satu bagian dari keseluruhan hidup itu sendiri. Pendek kata, hidup itu lebih luas dari sekedar makan, pergi jalan-jalan, tampil sok religius di depan umum, membeli pakaian bagus, rumah bagus dan kendaraan mewah. Jika ini tak dipahami, orang akan terjebak pada hidup yang sia-sia dan penuh derita.

Spiritualitas juga menyibak fakta dengan JATI DIRI asali manusia. Tubuh akan tumbuh, sakit, menua dan kemudian mati. Namun, ada sesuatu yang abadi di dalam diri manusia. Ia tidak diciptakan, dia “DITIUPKAN” ke dalam tubuh. Sesuatu itu adalah RUH, ENERGI ILAHIYAH atau NURIL HAYAT yang MEMBERI HIDUP dan KEHIDUPAN.

Hidup dengan spiritualitas berarti menyadari betul hal ini. Hidup pun lalu dilihat dari sudut pandang “NGEJAWANTAHI” Gusti Allah, sebagai Khalifah-Nya di bumi. Maka TENGGELAM apa yang disebut sebagai “DIRI” dengan segala ambisi, ketakutan dan kerumitan emosionalnya ke dalam IRADAT dan QUDRAT-NYA. Dari sudut pandang ini, hidup adalah keutuhan, kedamaian dan kejernihan dari saat ke saat.

Hidup tanpa spiritualitas adalah hidup yang penuh dengan ketakutan. Orang melihat dirinya sendiri sebagai sesuatu yang kecil dan rapuh. Sehingga dia pun sering mengeluh dan was-was. Namun, ini semua kesalahpahaman yang lahir dari pola didik dan pola pikir yang salah. Ketika SPIRITUALITAS sungguh DIDALAMI dan menjadi bagian dari kehidupan,  Maka ketakutan akan sirna dalam sekejap mata. Karena kita selalu Mengingat-Nya, Mengikuti Iradat dan Qudrat-Nya, bersama-Nya dalam Genggaman-Nya, Lebur dalam Cinta-Nya Yang Tiada Tara.

# SNet - AZ / Jenius

KamangMudiak.(Sumbar).SNet- Silek (silat), bagi orang Minang adalah PAKAIAN DIRI. Sehingga mereka menganggap tak obahnya pakaian yang dikenakan, maka SILEK adalah simbol identitas, jati diri, kehormatan, kepribadian dan martabat bagi seseorang, yang dapat menunjukkan status sosial, sekaligus melindungi dari berbagai bahaya yang mungkin mengancam dirinya.

Karena itu, Silek bagi orang Minang  memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan berbangga diri dan unjuk kemampuan apalagi tujuan yang mengarah mencari lawan untuk menguji atau mencoba Ilmu Silek yang sudah diajarkan. Silek Tuo Minangkabau tidak akan pernah dikeluarkan seorang pandeka kecuali sudah benar-benar terdesak.

Prinsip Kaji Silek yang dipelajari oleh seseorang adalah sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah. Oleh karena demi kian dalam BASILEK (bersilat) seseorang harus mengikuti aturan yang ditetapkan Allah dalam Al Qur’an dan As-Sunnah. Hal itu tercermin dalam falsafah Silek Tuo yang terbagi atas dua kalimat yaitu "Lahia Mancari Kawan" dan “Batin Mancari Tuhan" (Lahir Mencari Teman Batin Mencari Tuhan).

Dalam Falsafah  "Lahia Mancari Kawan" ini digambarkan bahwa sebagai seorang pandeka Silek Tuo Minangkabau di bumi ini bukanlah ditugaskan untuk mencari musuh tetapi kita disuruh untuk mencari teman yang banyak. Sedangkan “Batin Mancari Tuhan", maksudnya adalah kita hidup di dunia ini hanya sementara dan akan mati dan kembali lagi pada yang Maha Kuasa. Kita harus siap mati kapanpun karena kita tidak tau kapan ajal menjemput kita karena itulah kita diwajibkan sholat dan berdzikir oleh Silek Tuo.

Karena itulah, Falsafah Silek Minang dinamakan juga falsafah budi pekerti luhur. Disamping mengandung unsur-unsur nilai ketrampilan, para Guru Silek juga mengajarkan budi pekerti, pembentukan kepribadian yang kuat dan semangat kebangsaan dan patriotisme yang tinggi terhadap negara Republik Indonesia. Semangat itu berguna untuk membentuk dan membina manusia pembangunan yang diperlukan oleh masyarakat.

# SNet - AZ / Jenius

Padang(Sumbar).SNet- Ratu Keisya Firlianzi anak pertama dari pasangan Firma Ragnius dan Liza Marlina tampil memukau sebagai Mayoret Drum Band pada pagelaran Pentas Seni SDN 20 Indarung Sabtu 12 Mei 2018.

Terlihat dengan sangat lincah dan penuh percaya diri Ratu panggilan akrab peserta didik kelas 5 B SDN 20 Indarung ini memimpin Drum Band besutan Irwan memainkan irama lagu dengan gerakan yang bervariasi.


Gadis cilik kelahiran 30 April 2007 yang hobi membaca dan memasak ini juga memiliki bakat seni tari. Dalam pentas seni tersebut ia bersama Najwa, Latifah, Chayara dan Nadin juga tampil membawakan Tari Galuak Kreasi.


"Kami sanggat bangga sekali dengan jiwa kepemimpinan dan bakat seni yang dimiliki oleh Ratu, sedari kecil Ratu sudah sering mengikuti event tari di berbagai pagelaran", kata Liza bunda Ratu.

Liza selaku orang tua selalu mensupport Ratu dengan penuh kasih sayang, "bakat dan potensi yang ada di diri Ratu terus kami kembangkan, dengan tetap mengutamakan pelajaran di sekolah", ujar Liza.


Selain itu Kakak dari Ratu Keiryn Firlianzi ini juga mendapatkan piagam penghargaan juara favorit dalam Lomba Nasyid dan juara 2 Lomba Mewarnai Kelas Tinggi.


# SNet - Red

Padang(Sumbar).SNet- Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumatera Barat, Syahrial Aziz meminta pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Padang nomor urut 1 di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 27 Juni 2018 untuk melestarikan tarian Buai Ba Buai.


"Seumur hidup, baru kali ini saya menyaksikan tarian Buai Ba Buai ini. Selama ini saya hanya mendengarkan cerita dari Syaf Gojo, salah seorang Pandeka Silek Pauh tentang tarian ini," ungkap pria yang akrab disapa Yal Aziz ini ketika menyaksikan pergelaran seni tradisi pada hari jadi ke-13 Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX Kecamatan Kuranji Kota Padang, Sumatera Barat, Rabu, 9 Mei 2018 malam.

Menurut cerita Syaf Gojo yang diterima Yal Aziz, tarian Buai Ba Buai ini termasuk seni tari tradisional khas Pauh yang sudah mulai langka dan hampir hilang dimakan zaman.

"Syaf Gojo menceritakan kepada saya, tarian ini memadukan silek dan seni, sehingga menarik untuk disaksikan dan memiliki makna yang dalam," pungkas pria asal Pauh V ini. 

Karena tari Baui Ba Buai sudah mulai langka, Yal Aziz meminta Pemerintah Daerah memiliki kepedulian untuk melestarikan tradisi Anak Nagari Pauh yang merupakan warisan nilai-nilai luhur yang sangat baik untuk dipelajari generasi muda.


"Saya menaroh harapan kepada pasangan calon Emzalmi dan Desri Ayunda untuk melestarikan seni tari tradisional ini. Tadi saya sudah meminta langsung ke Pak Em dan Pak Des, agar tari Buai Ba Buai ini dilestraikan jika mereka terpilih," ungkap Yal Aziz.

Perayaan hari jadi ke-13 Forum Komunikasi Anak Nagari (FKAN) Pauh IX memang dihadiri oleh pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Padang nomor urut 1 di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 27 Juni 2018, Emzalmi dan Desri Ayunda.

Pada acara itu pula, Ninik Mamak dan Anak Nagari sepekat mendeklarasikan dukungan kepada paslon duet ideal ini. Pembacaan deklarasi langsung dilakukan perwakilan Ninik Mamak dan Anak Nagari yang hadir.

# SNet - Red / Rel

Padang(Sumbar).SNet- Emzalmi-Desri Ayunda pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Padang hadir dalam acara Pengurus Besar Pencak Silat Silaturahmi (PB IPSS), Kamis, 15 Maret 2018 malam di Perguruan Silat Silaturahmi yang terletak di Kampung Marapak RT.02/RW.04 Kelurahan Kalumbuk Kecamatan Kuranji Kota Padang, Sumatera Barat. Tampak hadir juga para pendekar, budayawan, ninik mamak, urang sumando, dan anak sasian (murid) Perguruan Silat Silaturahmi.


Emzalmi mengapresiasi kegiatan yang diadakan Perguruan Silat Silaturahmi. Selain bisa memperkenalkan budaya daerah, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi antar warga, pesilat, dan budayawan.

"Saya lihat, bukan hanya warga di sini saja yang datang, tetapi juga pendekar dan budayawan dari berbagai kampung juga hadir di sini. Semoga pencak silat ini tetap ditingkatkan ke depannya, sehingga lebih baik lagi menuju berbagai iven untuk masa yang akan datang," ungkap Emzalmi.

Ketua PB IPSS Zalmi Nasir mengungkapkan, acara ini merupakan usaha untuk melestarikan pencak silat yang merupakan ilmu beladiri asli Nusantara. Apatah lagi, saat ini pencak silat tengah diupayakan untuk menjadi warisan dunia oleh Unesco.

"Selain sebagai silaturahmi, pastinya pertemuan ini juga untuk membuktikan dan memperkuat bahwa pencak silat mesti dilestarikan di tengah masuknya budaya asing,” ujarnya.

Dikatakannya, Perguruan Pencak Silat Silahturrahmi telah berdiri dari tahun 1982 dan sampai sekarang masih bertahan. Pihaknya akan terus mengembangkan perguruan ini.

Ia mengatakan, kegiatan latihan rutin diadalam setiap minggunya sebanyak 2 kali, yaitu Kamis pukul 20.00 WIB dan Minggu pukul 07.30 WIB di lapangan Pencat Silat Silahturrahmi.

"Peserta latihan terdiri dari putra dan putri sebanyak 150 orang. Dalam waktu dekat, kami akan mengikuti kejuraan pencak silat yang akan digelar Universitas Andalas," terangnya.

#SNet - AdF / Dedi

Padang(Sumbur).SNet- Penampilan Jessie Chung dalam Simpony Theater Music Box memberi inspirasi dalam memajukan pengemasan pementasan tari,  theater dan musik di Sumatera Barat.  Banyak legenda kisah dalam budaya minang yang dapat dikreasikan seperti yang ditampilan Simpony Theater Music Box walaupun dengan budaya kita sendiri. 

Hal itu disampaikan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno disela-sela pertunjukan panggung pentas Jessie Chung yang telah mendunia,  di Auditoroun Univesitas Negeri Padang (UNP) ,  Rabu malam (7/3/2018).

Hadir dalam kesempatan itu,  Wakil Ketua DPRD Arkadius, Forkopimda Sumbar, Wakil Gubernur Nasrul Abit,  Rektor UNP,  kepala OPD dilingkup Pemprov Sumbar, para pencinta pertunjukan theater Music Box lebih kurang 3.000 an. 

Lebih lanjut Gubernur Irwan Prayitno menyampaikan,  ragam tari,  musik dan pola pertunjukan kesenian budaya Minang seperti Randai,  jika dikemas dengan pola yang ditampil Jessie Chung dan kawan-kawan malam ini tentu akan mampu membanguan imege baru dalam pengembangan pertunjukan seni budaya minang yanh kita banggakan. 

Butuh kreatif dan inovasi yang tinggi bagi para seniman muda Sumatera Barat dalam memanfaatkan teknologi informasi sehingga pentas yang mono bisa menjadi berbagai lokasi yang mampu mendukung cerita yang dipentaskan. 

Kita menyadari begitu banyak kisah dan cerita unik dimasing-masing daerah 19 kabupaten dan kota yang memberikan pesan budaya dan karakter masyarakat Sumatera Barat,  dengan berbagai spesifik daerah,  jika diolah para seniman kita kemudian dipertunjukan seperti Simponi Theater Music Box malam ini, tentu akan mampu menonjolkan potensi pariwisata daerah masing-masing kabupaten kota. 

Pengembangan pariwisata tidak bisa lepas dari peran kreatifitas para seniman, budayawan dalam bentuk karya-karya nyata yang mampu menggerakan pemberdayaan peran serta masyarakat kita cinta akan daerahnya sendiri, dan bersama-sama memajukan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat,  himbau Gubernur Irwan Prayitno. 

Gubernur Irwan Prayitno juga memberikan apresiasi kepada para pihak yang telah membantu dalam pertunjukan Jessie Chung dan kawan-kawan dalam pertunjukan malam ini,  sehingga sukses dan menyenangkan, mengharukan para penonton. 

Kita berharap seiring kemajuan potensi pariwisata Sumatera Barat,  pentas pertunjukan kreatifitas juga dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan daya tarik daerah,  membuat orang datang beramai-ramai ke Sumatera Barat. Karena alamnya yang indah,  budayanya yang elok,  kulinernya yang enak sekali serta pentas-pentas seni budayanya yang memukau karena seniman yang berinovasi dan berkemajuan dalam karya seni yang mendunia. 

Kita punya sekolah seni mulai dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), senirupa, theater,  musik,  kerajinan dan pengembangan teknologi informasi, kemudian kita punya Institut Seni Indonesja Padang Panjang,  UNP fakultas Seni dan Budaya dan sangar-sangar seni. 

Dan kita juga sudah memulai pembangunan gedung kebudayaan Sumatera Barat, jika tidak ada aral melintang tahun 2020 tuntas, untuk memfasilitasi dan mendorong kemajuan kreatifitas para seniman,  budayawan agar mendunia,  ungkap Irwan Prayitno senang. 

Dalam acara malam ini ikut memeriahkan pertunjukan simponi theater music box ada Ipeband dan Mantagi Band tampil bersamaan dalam lima buah lagu serta penampilan tari indang. 

Selain itu juga dilakukan penandatangan kerjasama Pemprov.  Sumatera Barat dengan Malindo Malaysia Global Chamber of Commerce (MBCC) tentang promosi seni dan kebudayaan dengan , kerjasama ekonomi UKM,  pendidikan dan promosi wisata.

# SNet - AdF / Biro Humas Setdaprov Sumbar