Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

 


SUMBARNET - Kota Padang kembali bersiap menjadi tuan rumah ajang olahraga dan wisata berskala besar melalui BOM RUN 2026. Event lari yang digadang-gadang sebagai salah satu yang terbesar di Sumatera Barat itu akan menghadirkan pengalaman berbeda dengan memadukan olahraga, budaya, kuliner, serta keindahan alam khas Ranah Minang.


BOM RUN 2026 yang akan digelar pada 7-9 Agustus 2026 itu, menghadirkan berbagai kategori lomba yang dapat diikuti seluruh kalangan, mulai dari 1 kilometer untuk lansia, 2 kilometer untuk anak-anak, 5 kilometer, 10 kilometer, hingga Half Marathon 21 kilometer. Kehadiran beragam kategori tersebut diharapkan mampu menjangkau peserta dari berbagai usia dan tingkat kemampuan, baik pelari pemula maupun atlet berpengalaman.


Peserta akan diajak menikmati rute lari yang melintasi kawasan pesisir Kota Padang dengan panorama laut yang memukau. Deburan ombak Pantai Padang, semilir angin laut, serta suasana khas Minangkabau menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan BOM RUN dari ajang lari lainnya.


Selain menghadirkan kompetisi olahraga, BOM RUN 2026 juga mengusung konsep sport tourism. Melalui konsep tersebut, peserta tidak hanya berlari mengejar garis finis, tetapi juga dapat menikmati kekayaan budaya, ragam kuliner khas Sumatera Barat, serta berbagai destinasi wisata yang menjadi ikon Kota Padang.


Panitia berharap BOM RUN 2026 mampu menjadi wadah untuk mempromosikan pariwisata daerah sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan ke Sumatera Barat. Kehadiran ribuan peserta dari berbagai daerah diproyeksikan akan memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi, perhotelan, kuliner, dan usaha mikro lokal.


Masyarakat, komunitas lari, keluarga, hingga pelajar diajak untuk turut meramaikan perhelatan tersebut. Setiap langkah yang ditempuh diharapkan menjadi pengalaman berharga sekaligus momen untuk menikmati pesona Kota Padang dari sudut yang berbeda.


Dengan semangat "Padang Menyambut, Minangkabau Menginspirasi, Indonesia Berlari", BOM RUN 2026 siap menjadi ajang olahraga yang tidak hanya menantang fisik, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang berkesan bagi seluruh peserta.


Pendaftaran BOM RUN 2026 telah dibuka. Masyarakat yang ingin menjadi bagian dari sejarah ajang lari ini diimbau segera mendaftarkan diri dan bersiap merasakan sensasi berlari di tepian Samudra Hindia dengan latar budaya Minangkabau yang kaya dan inspiratif. (***)

 


Padang, – Founder Sumatera and Beyond sekaligus Inisiator Green Tourism Institute, Ridwan Tulus, mengungkap peluang besar bagi advokat dan paralegal di sektor pariwisata. Menurutnya, industri ini tidak hanya berkaitan dengan destinasi wisata, tetapi juga menyentuh berbagai aspek hukum yang terus berkembang.


Pernyataan itu disampaikan Ridwan kepada wartawan di Padang, Kamis (4/6/2026), menjelang Pendidikan dan Pelatihan Paralegal bagi mahasiswa Fakultas Hukum se-Sumatera Barat. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 19-21 Juni 2026 di Aula Prof. Dr. Suryono Huyono Universitas Taman Siswa.


Ridwan mengatakan dirinya mendapat kehormatan menjadi pembicara atas undangan Ketua Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Fakultas Hukum Universitas Taman Siswa, Boiziardi AS, SH, MH.


"Saya akan berbagi tentang Green Tourism dan peluang profesi hukum dalam industri pariwisata," kata Ridwan.


Pariwisata Membutuhkan Dukungan Hukum


Ridwan menilai banyak kalangan hukum masih memandang pariwisata sebagai sektor hiburan semata. Padahal, industri tersebut memiliki keterkaitan erat dengan investasi, perizinan, pertanahan, lingkungan hidup, hingga hukum internasional.


Menurutnya, setiap destinasi wisata yang sukses membutuhkan kepastian hukum yang kuat. Karena itu, advokat dan paralegal perlu memahami ekosistem pariwisata secara menyeluruh.


Selain itu, sektor ini juga berperan besar dalam menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, menjaga budaya, dan melestarikan lingkungan.


"Pariwisata merupakan instrumen pembangunan yang sangat strategis," ujarnya.


Peran Strategis Advokat di Destinasi Wisata


Ridwan menjelaskan advokat memiliki peran penting dalam pembangunan sektor pariwisata. Mereka dapat membantu penyusunan kontrak investasi, penyelesaian sengketa usaha, hingga mediasi konflik lahan.


Selain itu, advokat juga dapat mendampingi masyarakat lokal serta melindungi hak masyarakat adat yang terdampak pembangunan destinasi wisata.


Beberapa persoalan yang sering muncul antara lain, Sengketa lahan antara investor dan masyarakat, Konflik tanah ulayat di kawasan wisata, Kerusakan hutan dan pencemaran lingkungan, Komersialisasi budaya lokal, Penipuan perjalanan digital, Pelanggaran data wisatawan.


Menurut Ridwan, persoalan tersebut membutuhkan pendampingan hukum yang profesional dan berkelanjutan.


Green Tourism Jadi Tantangan Masa Depan


Ridwan menegaskan isu Green Tourism akan menjadi perhatian utama dalam satu dekade mendatang. Perubahan iklim, investasi hijau, karbon pariwisata, dan penerapan ESG akan semakin memengaruhi arah pembangunan destinasi.


Karena itu, ia mendorong mahasiswa hukum mulai mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri tersebut.


Ridwan menyebut sedikitnya tujuh bidang hukum memiliki prospek besar di sektor pariwisata, yakni Tourism Law, Hospitality Law, Aviation Law, Environmental Law, Heritage Law, International Business Law, dan hukum investasi.


"Di banyak negara maju, Tourism Lawyer berkembang sangat pesat. Ini peluang besar bagi generasi muda hukum Indonesia," katanya.


Ia menegaskan destinasi wisata berkelanjutan hanya dapat terwujud melalui kolaborasi hukum, budaya, masyarakat, dan dunia usaha.


"Saya berharap pelatihan ini memberi manfaat bagi mahasiswa dan calon paralegal di Sumatera Barat," tutup Ridwan. (***)



SUMBARNET - Persepsi negatif pascabencana masih menjadi tantangan terbesar bagi pariwisata Sumatera Barat. Kondisi ini terungkap dalam Talkshow Potensi Pariwisata Sumbar Pascabencana yang berlangsung pada Batigo Fest di Kupi Batigo, Padang, Minggu (31/5/2026).


Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, dr. Lila Yanwar, menegaskan kerusakan fisik bukan satu-satunya dampak bencana. Menurutnya, persepsi publik sering bertahan lebih lama dibanding kondisi sebenarnya di lapangan.


"Bencananya sudah selesai, tetapi persepsi masyarakat masih tertinggal. Banyak orang menganggap daerah terdampak masih belum aman dikunjungi," kata Lila.


Ia menjelaskan banyak destinasi wisata Sumbar tetap beroperasi normal. Selain itu, sejumlah jalur wisata masih menyajikan panorama alam yang menarik.


Wisatawan masih dapat menikmati keindahan Lembah Anai. Mereka juga bisa menikmati panorama Sitinjau Lauik hingga kawasan Solok yang terkenal dengan bentang alamnya.


Narasi Positif Jadi Kunci


Lila menilai narasi positif harus menjadi strategi utama pemulihan pariwisata. Menurutnya, promosi destinasi tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur.


"Kita harus membangun storytelling yang positif. Sumatera Barat memiliki alam luar biasa, tetapi belum selalu didukung narasi yang tepat," ujarnya.


Ia juga mendorong penerapan konsep build back better. Konsep tersebut memungkinkan kawasan terdampak dibangun kembali dengan kualitas yang lebih baik.


Selain itu, pemerintah terus menjalankan program rehabilitasi dan rekonstruksi di sejumlah wilayah terdampak.


Zuhrizul Ingatkan Bahaya Bencana Peradaban


Ketua TP2DEWI Sumbar, M. Zuhrizul, mengingatkan ancaman lain yang dinilainya lebih berbahaya dibanding bencana alam.


Ia menyebut ancaman tersebut sebagai "bencana peradaban".


"Bencana peradaban terjadi ketika adab masyarakat mulai memudar. Itu bencana sesungguhnya bagi Sumatera Barat," katanya.


Zuhrizul menyoroti masih adanya perilaku membuang sampah sembarangan di kawasan wisata. Menurutnya, tindakan tersebut merusak citra pariwisata dan bertentangan dengan nilai budaya Minangkabau.


Ia mengajak seluruh pelaku wisata menjaga lingkungan, pelayanan, dan etika dalam mengelola destinasi.


Literasi Kebencanaan Harus Diperkuat


Direktur Eksekutif BPPD Sumbar, Yulviadi Adek, menilai masyarakat perlu memahami realitas hidup berdampingan dengan bencana.


Menurutnya, kondisi geografis Sumbar tidak boleh menghambat aktivitas ekonomi maupun pariwisata.


"Kita harus beradaptasi dan hidup berdampingan dengan bencana. Yang perlu diperkuat adalah literasi kebencanaan," ujarnya.


Ia menilai edukasi kebencanaan berbasis adat dan kearifan lokal perlu diperluas kepada generasi muda.


Pariwisata Tangguh dan Berkelanjutan


Pemerhati pariwisata sekaligus ahli geologi, Ade Edward, menilai persepsi negatif menjadi hambatan utama kebangkitan wisata Sumbar.


"Bencana alam bisa selesai dalam hitungan bulan. Namun persepsi negatif bisa bertahan jauh lebih lama," katanya.


Ade menegaskan pembangunan pariwisata harus memperhatikan mitigasi bencana, tata ruang, dan kelestarian lingkungan.


Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun konsep resilient tourism atau pariwisata tangguh. Dengan langkah tersebut, Sumbar dapat menjadi destinasi wisata aman, berkelanjutan, dan siap menghadapi berbagai tantangan.


Talkshow ini menghasilkan satu kesimpulan penting. Kebangkitan pariwisata Sumbar tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada narasi positif, literasi kebencanaan, dan penguatan karakter masyarakat. (***)

 


Jakarta, – Kementerian Pariwisata Republik Indonesia resmi meluncurkan Geopark Run Series 2026–2027 sebagai upaya memperkuat sport tourism sekaligus mempromosikan geopark Indonesia ke tingkat dunia. Peluncuran berlangsung di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata RI, Jakarta, Jumat (22/5/2026).


Menteri Pariwisata RI, Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, terdapat empat geopark yang menjadi tuan rumah ajang lari tersebut. Keempatnya yakni Geopark Minang, Geopark Ciletuh, Geopark Belitong, dan Geopark Ijen.


“Ini tahun pertama series dilakukan. Sementara Geopark Minang sudah beberapa tahun berturut-turut diselenggarakan,” ujar Widiyanti saat konferensi pers peluncuran Geopark Run Series 2026–2027.


Widiyanti menjelaskan, Kementerian Pariwisata mendukung penuh kegiatan tersebut karena sport tourism dan wellness tourism menjadi tren wisata global yang terus berkembang.


“Sports tourism itu sangat penting. Saat ini tren wisatawan adalah berwisata untuk kesehatan. Diperkirakan dari 2023 hingga 2030 peningkatan sport tourism dan wellness tourism mencapai sekitar 17,5 persen,” katanya.


Geopark Indonesia Dipromosikan ke Mancanegara


Menurut Widiyanti, Geopark Run Series diharapkan mampu memperkenalkan geopark Indonesia kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Selain itu, kegiatan tersebut juga diyakini dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan geopark.


“Kemenpar akan mendukung promosi dalam negeri dan luar negeri. Ada beberapa negara target seperti Singapura, India, Malaysia, Australia, Korea, dan Jepang,” ujarnya.


Ia menambahkan, promosi internasional akan dilakukan melalui berbagai agenda pariwisata global guna menarik pelari mancanegara mengikuti event tersebut.


“Penyelenggaraan event di Geopark Ijen, Minang, Ciletuh, dan Belitong menjadi bagian dari upaya memperkuat promosi dan daya saing geopark Indonesia di tingkat dunia,” katanya.


Widiyanti juga menyebut Indonesia saat ini memiliki 12 UNESCO Global Geopark dan 11 National Geopark. Beberapa di antaranya yakni Geopark Ijen, Ciletuh, Belitong, dan Geopark Minang.


“Melalui Geopark Run Series ini, kami berharap geopark semakin dikenal luas serta memberikan manfaat ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.


Founder Geopark Run Apresiasi Dukungan Kemenpar


Founder Geopark Run, Yv Tri Saputra mengapresiasi dukungan penuh Kementerian Pariwisata terhadap pelaksanaan Geopark Run Series.


“Kami yakin dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata akan membuat agenda ini semakin baik,” ujar Yv Tri Saputra.


Ia menilai event olahraga menjadi cara efektif membantu promosi daerah yang memiliki potensi wisata besar.


“Tujuan kami membantu daerah-daerah yang punya potensi melalui event yang digemari banyak orang. Sehingga bukan hanya daerahnya dikenal, tetapi ekonomi masyarakat juga ikut terangkat,” katanya.


Di akhir acara, Widiyanti mengajak masyarakat segera mendaftar untuk seri pertama Geopark Run di Ijen yang akan digelar pada 23 Agustus 2026.


“Untuk Geopark Ijen harus mulai daftar cepat, karena hari ini sudah dibuka. Jangan lupa daftar, it’s gonna be fun,” tutupnya. (***)

 


Jakarta - Setelah sukses diselenggarakan secara konsisten sejak 2018, Geopark Run Series 2026–2027 resmi melakukan langkah strategis baru melalui penyelenggaraan series nasional di empat kawasan geopark unggulan Indonesia, yaitu Ijen UNESCO Global Geopark, Geopark Ranah Minang, Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global
Geopark, dan Belitong UNESCO Global Geopark.


Geopark Run pertama kali diluncurkan oleh Foundernya, Yv Tri Saputra, pada tahun 2018 sebagai inisiatif sport tourism yang menggabungkan olahraga lari dengan promosi destinasi geopark Indonesia.

Sejak awal, event ini dirancang bukan hanya sebagai ajang olahraga, tetapi juga sebagai medium untuk memperkenalkan kekayaan geologi, budaya, serta potensi ekonomi masyarakat lokal kepada publik yang lebih luas.


Rencana pengembangan Geopark Run menjadi format national series sebenarnya telah mulai disiapkan sejak tahun 2020 dan bahkan telah diperkenalkan melalui launching awal di
tempat yang sama.

Namun, pandemi COVID-19 yang melanda dunia menyebabkan rencana tersebut harus tertunda. Setelah melalui berbagai proses persiapan dan pengembangan,
Geopark Run Series akhirnya resmi diwujudkan dan akan mulai dilaksanakan pada periode
2026–2027.


Transformasi menjadi format series nasional ini menjadi tonggak baru dalam pengembangan event lari berbasis sport tourism di Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Geopark Run sebagai platform yang mengintegrasikan olahraga, promosi destinasi, pelestarian kawasan geopark, serta pemberdayaan masyarakat lokal dalam satu ekosistem berkelanjutan.


Pada periode 2026–2027, Geopark Run Series menargetkan lebih dari 10.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Setiap series akan menghadirkan kategori lomba 5K, 10K, dan Half Marathon (21K) yang dikemas dengan konsep sport tourism dan local festival.


Selain menghadirkan pengalaman berlari di daerah geopark yang ikonik, peserta juga akan disuguhkan berbagai aktivitas budaya, kuliner lokal, hingga kolaborasi bersama komunitas dan pelaku UMKM daerah. (**)

 


Sabarata Bangun the man behinds the biggest ecobricks in the world!


PADANG - Semenjak tahun 2009 saya mendapat ujian hidup yang sangat luar biasa. Kalau secara medik dokter syaraf terkemuka diPadang bilang ada penyumbatan diotak kanan setelah melihat hasil scan dan MRI. Dan harus dioperasi tapi saya tidak melakukannya. Karena menurut dokter tersebut walaupun dioperasi hasilnya masih fifty fifty. Tapi lucunya sebelum saya mengalami penyakit ini sudah ada 2 orang besar yang sudah memprediksi saya bakalan mendapat ujian seperti ini. Dan saya tak perlu menyebut orang yang luar biasa tersebut disini.


Semenjak 2009 saya mengalami perjalanan hidup yang aneh. Dunia saya terbalik. Apa yang saya suka sebelumnya menjadi tidak suka. Seperti berbisnis..walaupun sudah mempunyai kantor cabang di Inggris dan Amerika tapi pada saat itu saya tidak ada keinginan berbisnis lagi. Bahkan sudah tidak mempedulikannya. Kantor saya disalah satu hotel ternama dikota Padang saya biarkan kosong begitu saja.

Mendengar musik adalah pantangan buat saya pada saat itu padahal semenjak Sma saya sudah hidup dari musik dan nyanyi. Saya jadi penyanyi di pub dan hotel semenjak Sma.


Semenjak saat itu saya bisa tiba - tiba "hang" atau hilang ingatan. Dan menimpa saya 10 sampai 15 kali setiap hari. Makanya semenjak itu istri saya tidak membolehkan lagi menyetir mobil karena pernah beberapa kali saya tiba - tiba pingsan sedang mengendarai mobil. Dan itu berlangsung cukup bahkan sampai saat menulis buku ini walaupun lebih ringan dan tidak berpengaruh besar lagi. Yang parah itu sekitar 5 tahunan walaupun saya merasa tidak sampai sebulan.


Sekitar 3 tahun lebih saya betul - betul sibuk dengan dunia saya sendiri. Sudah tidak mempedulikan lagi bisnis bahkan keluarga. Saya hanya sibuk dengan dunia sendiri dan tidak lagi bergaul dan nongkrong seperti kebiasaan saya sebelumnya. Jangankan media social, hppun kadang saya tidak mau menggunakannya. Untunglah saya punya istri dan keluarga yang luar biasa yang mau berkorban untuk saya. Akhirnya sang istri mulai mengambil alih perusahan dan berusaha menjalannnya semampunya karena masih ada juga permintaan bisnis yang harus dikerjakan. Dia melakukannya dengan team - team saya yang masih tetap setia.


Sekitar tahun 2012 saya mulai merasa sadar setelah melihat perjuangan yang dilakukan oleh istri saya dalam menghidupi keluarga. Dia bahkan rela menjual seluruh aset yang kami punya demi bertahan hidup. Dan lucunya saya merasakan kejadian yang menimpa saya tidak sampai sebulan ternyata sudah bertahun!


Ketika mulai agak sadar saya mulai akrab kembali dengan hp dan media sosial seperti facebook dan lainnya. Tapi dampak yang cukup hebat dari penyakit yang saya alami saya banyak lupa masa lalu!


Akhirnya setelah membaca dan bergaul lagi khususnya dimedia sosial saya mulai banyak mengaggumi tokoh - tokoh muda didunia kepariwisataan Indonesia yang bermain di niche tourism market atau wisata minat khusus dan lebih khusus lagi di pariwisata hijau atau Green Tourism. Dan yang lebih luar biasa lagi mereka dengan aksinya bisa menyelamatkan lingkungan didaerahnya!


Sabarata Bangun..dari Porter  menjadi Tour Leader


Dan ketika mulai aktif dimedia sosial dan mulai meng update status tiba - tiba Sabarata menelpon saya dengan semangatnya " Bang apa kabar bang? Sudah sehat bang? ". " Alhamdulillah Bar sudah sehat." jawab  saya senang. Tapi saat mendengar bahwa saya sudah sehat tiba - tiba dia berkata " Gini bang...aku perlu uang...tak banyaknya bang..cuma 20 juta !" dengan logat Bataknya. Saya kaget juga ketika mendapat permintaan tersebut karena dari status yang saya ikuti tentang dia sudah sangat sukses dibanding pertemuan awal dengan saya. Tapi Alhamdulillah semenjak saya sakit saya menjadi lebih tenang dan tidak cepat emosi. Saya komfirmasikan kepada dia untuk apa uang cuma sebanyak karena yang saya lihat sepertinya sudah sukses dibanding awal pertemuan dengan saya pertama kali. Saya lihat program - program wisata yang digarapnya khususnya untuk Leuser National Park dan beberapa destinasi di Sumatera Utara sudah mendatangkan banyak tamu khususnya overseas market. Dan bahkan dia sudah dipercaya top - top operator dari Amerika dan Eropah. Dan dia menjelaskan " begini bang...kita kan sudah punya punya green camp disini dan beberapa penginapan tapi belum layak jual bang. 


Pas mendengar "Kita" saya langsung komfirmasikan lagi ke dia. "Kita maksud kau apa Bar?". Mendengar itu Sabar dengan sedikit emosi langsung menjelaskan. " bang..abang punya akomodasi ditanah yang abang beli dulu disini tapi belum layak jual karena MCKnya belum ada !". Lalu dia menjelaskan bahwa saya dulu pernah membeli tanah dilokasi yang sangat bagus dipinggiran sungai dikawasan Bukit Lawang atas permintaan Sabar karena dia ingin memiliki green resort sendiri bersama. Dan dia mengatakan bahwa saya sudah membeli tanah yang cukup luas dan dia mengatakan bahwa itu milik saya sepenuhnya walaupun atas nama dia karena kami membeli ala kampung dan semua surat pembeliaannya masih dipegang sama dia. Saya karena tidak ingat sama sekali dan tak merasa memiliki sama sekali saya serahkan saja semuanya ke dia untuk menjadi miliknya sendiri. Dan dia sangat marah dan mengatakan bahwa tenpat tersebut sepenuhnya punya saya dan dia tidak berhak untuk memilikinya walaupun surat - suratnya ada pada dia. Dan bahkan dia menyarankan untuk menjualnya saja karena sudah ada yang menawar lokasi tersebut dengan harga yang cukup tinggi dan dia sangat tahu tentang kondisi keuangan saya karena dia selalu berkomunikasi dengan istri saya. Bahkan ternyata dia sering menelpon dan memantau saya cuma saya saja yang tidak ingat


Mendengar hal itu dan kejujurannya yang luar biasa akhirnya saya buat suatu kesepakatan dengan dia. Pokoknya apapun aset disana dia memiliki 60% dan saya 40% dan saya ingatkan kepada dia untuk tidak menolaknya. Walaupun sampai sekarang saya masih menganggap itu bukan punya saya!


Perkenalan Pertama dengan Sabar yang membuat saya respek.


Pertama kali saya ke Bukit Lawang sekitar awal 2000an karena ada permintaan trip dari kantor cabang saya di Inggris. Dan saya datang 3 hari lebih awal untuk sekaligus survey dan menyiapkan segala sesuatunya untuk trip ekspedisi Orangutan sekitar 5 hari di Bukit Lawang dan kawasan hutan Leuser National Park. Dan waktu itu kita sudah mempunyai team yang lengkap mulai dari tour guide, pemandu lokal, porter serta cheft karena sekitar 3 hari kita akan camping dihutan.


Waktu saya ngopi santai sendiri setelah survey seharian direstoran Ecolodge seorang pemuda lokal menghampiri saya sambil memperkenalkan dirinya Sabarata Bangun. Dan saya langsung mengajak dia untuk menemani saya minum kopi. Setelah akrab dia menjelaskan bahwa dia seorang pemandu lokal dan tertarik untuk ikut serta dengan trip saya walaupun bahasa Inggrisnya baru sekedar bahasa greeting. Tapi waktu itu saya menolaknya dan mengatakan bahwa team saya sudah lengkap. Tapi dia terus memohon sambil mengatakan dia dipakai sebagai porterpun tidak apa dan bahkan rela tidak dibayar karena dia ingin belajar. Mendengar ingin belajar dan kegigihannya saya justru sangat suka dengan dia dan mempersilahkan dia ikut dengan trip saya. Saya menjelaskan trip itu berikut hak dan kewajibannya secara detail dan dia begitu senang sekali walaupun dilibatkan sebagai porter.


Dan ketika trip berjalan Sabar betul - betul melaksanakan segala tugasnya dengan sangat baik. Walaupun bahasa Inggrisnya masih sangat minim tapi ketika tamu meminta tolong atau menyuruh dia dia seperti tahu apa yang diinginkan tamu. Dan tamu sangat terhibur sekali dengan dia karena gaya dan aksinya ditengah hutan membawa suasana riang. Ada saja candaanya yang menbuat suasana satu sama lain menjadi akrab. Dan dia betul - betul sangat membantu sekali. Dia juga membantu memasak dan keperluan lainnya. Saya betul - betul suka melihat dia karena dia betul - betul bekerja dengan hati!


Bahkan ketika trip berakhir dia mendapat tip yang sangat besar dari tamu. Dan sayapun disamping honor memberikan tambahan bonus juga karena trip pertama kami disana sangat sukses dan tamu sangat senang sekali dengan trip ini.


Dan sayapun mengundang dia khusus untuk menemani saya makan malam karena ingin tahu lebih banyak tentang dia.


Dan sayapun memulai pembicaraan serius setelah makan. Dan sayapun langsung menawarkan kepada dia untuk bekerjasama lebih baik lagi dengan dia karena saya melihat banyak keahlian yang masih tersimpan didirinya. Dan diapun sangat senang menerima apalagi saya tidak peduli ketika dia mengatakan bahwa ijazah sd pun dia tidak punya. Saya betul - betul tidak peduli dengan ijazahnya karena saya melihat potensi lain dari dirinya. Terutama kejujuran dan keterus - terangannya!


Tantangan Pertama ; Bahasa Inggris!


Dan sayapun memberi tantangan pertama kepada dia untuk menguasai bahasa Inggris dalam waktu 6 bulan. Dan saya membayar guide disana yang sudah fasih berbahasa Inggris untuk melatih dia berbahasa Inggris conversation tentang pariwisata disana setiap hari. Dan saya ingatkan kepada dia bahwa kalau dia tidak menguasainya dalam waktu 6 bulan program kerjasama saya dengan saya akan berakhir! Dan diapun menerima tantangan tersebut dengan senang.


Semenjak kedatangan saya pertama ke Bukit Lawang selanjutnya hampir saya tiap bulan kesana karena trip series bulanan kami jual dengan cabang saya di Inggris selalu fullybooked. Dan Sabar yang saya lihat selalu menampakan improvement yang luar biasa saya tidak melibatkan beliau menjadi porter bahkan saya mulai latih dia khusus untuk mengatur segala keperluan perjalanan kami disana. Dia sudah mulai agak lancar berkomunikasi dalam bahasa Inggris.


Dan kagetnya belum 4 bulan masa perkenalan saya dengan dia dan waktu direstoran Echolodge saya melihat dia asik berbicara dengan seseorang dengan bahasa Spanyol. Wow. Impresonante!


Dia mengatakan pada saya bahwa dia juga mulai mempelajari bahasa Spanyol karena disana banyak sekali tamu dari Spanyol tapi tak ada satupun guide disana yang bisa. Saya betul - betul merasa senang melihat perkembangannya dan kejeliannya dalam melihat peluang.


Tantangan ke 2 : Kuasai Leuser National Park!


Setelah saya melihat dia bisa menguasai bahasa Inggris dalam waktu cepat dari waktu yang ditentukan malah sudah bisa juga menguasai bahasa Spanyol yang saya sendiri tidak bisa saya akhirnya memberi tantangan ke 2 kepada dia.


" Tantangan ke 2 kau Bar...kuasai ini hutan!". Dan dia langsung menyanggah. " Kuasai hutan maksud abang macam mananya" logatnya dalam bahasa Batak.


Lalu saya menjelaskan kepada dia bahwa dia harus menguasai semua yang ada disini mulai dari budaya dan adat istiadat Batak, kearifan lokal, kesenian dan terutama sekali lingkungan. Apa flora dan fauna yang ada disana, apa bahasa Inggris dan latinnya, apa kegunaan dan manfaatnya.


Begitu juga ketika trekking dan camping dihutan, dimana tempat yang nyaman untuk makan siang dan penyajiannya yang menarik. Dan begitu juga ketika menyiapkan tenda dimana lokasinya yang aman dari gangguan binatang buas, bagaimana memadukan sebuah perjalanan dengan aksi lingkungan seperti aksi bersih sungai, aksi penanaman pohon, aksi pengurangan sampah plastik dan hal - hal lainnya dalam merencanakan suatu perjalanan sehingga betul - betul menyenangkan dan menjadi suatu pengalaman menarik yang tidak mudah dilupakan.


Alhamdulillah Sabar yang dulunya seorang porter dan tidak tamat SD sekarang sedang merencanakan membuat sekolah gratis yang terbuat dari tanah liat sesuai keahliannya. Dan juga memadukan bangunan dengan bahan ecobrick (botol dan sampah plastik) untuk mengurangi sampah plastik didaerah tersebut.


Dan yang membuat saya menangis malam lebaran kemarin ketika dia menelpon saya " bang aku minta tolong bang!" Tolong apa Bar? Jawab saya heran. " bantulah aku bang...kirim no rekening abang..karena aku ingin juga abang dan keluarga menikmatinya" jawabnya dengan memohon. Terima kasih Sabar...kau betul - betul membuat saya merasa kaya! And thanks for being a Green Friend of Indonesia! (**)

 


By Prof. Dr. Ir. Musliar Kasim MA


Saya mengenal Ridwan Tulus sudah lebih lima belas tahun. Perkenalan saya dengan beliau ketika saya menjadi rektor  Universitas Andalas. Salah satu program unggulan yang dilakukan ketika itu adalah mengembangkan karakter mahasiswa termasuk dalam bidang kewirausahaan. Universitas Andalas termasuk perguruan tinggi yang paling awal mengembangkan kewirausaaan bagi mahasiswa. Sehingga saya berani memasang baliho ukuran besar didepan rektorat Universitas Andalas tahun 2007  dengan tema “ Andalas University Leading in Character Building and Entrepreunership”. 


Setiap minggu Unand melaksanakan kuliah umum kewirausahaan yang diberikan oleh pengusaha lokal dan nasional.  Biasanya kuliah umum dilaksanakan setiap hari Jumat siang sampai sore sehingga pengusaha yang berasal dari luar  Sumbar sekalian menyempatkan diri ber akhir pekan di Sumatera Barat. Pengusaha yang sudah pernah memberikan kuliah umum antara lain  Bapak Jusuf Kalla (PT. Kalla Group), Bapak Fahmi Idris (PT. Kodel) , Bapak Erick Thohir (PT Mahaka, Ketua HIPMI), Om Bob Sadino (Kemchik) , Bapak Sudhamek A. Soenyoto (PT.Garuda Food), Bapak Harsha E Yoesoef (PT RPX, FedEx, kemudian menjadi Dubes di Slovakia), Sandiaga Uno (Saratoga), Dahlan Iskan (Jawa Post)  dan lain-lain. Selain pengusaha nasional yang sudah terkenal, kami juga mengundang pengusaha lokal sukses yang wawasannya nasional malah internasional seperti  Ridwan Tulus ( Sumatra and Beyond).


Ketika saya berhenti jadi rektor Unand  Juli 2011, kami telah mengundang sebanyak 150 orang pengusaha berbagi pengalaman jadi pengusaha dari awal sampai sukses kepada mahasiswa, tidak saja mahasiswa Unand tapi juga mahasiswa perguruan tinggi lain di Sumbar. Jumlah yang hadir setiap kali kuliah 300-500 orang.


Sampai sekarang saya masih menjalin hubungan silaturrahim dengan para pengusaha yang sudah pernah ke Unand. 


Diantara yang sering berkomunikasi dengan saya adalah Bapak Ridwan Tulus. Sekarang ketika saya menjadi rektor di Universitas Baiturrahmah beliau saya undang juga memberikan kuliah kewirausahaan bagi mahasiswa di Universitas Baiturrahmah. Tidak itu saja, pada tahun 2018 lalu Pak Ridwan Tulus kami percaya untuk melakukan training motivasi bagi dosen dan tenaga kependidikan Universitas Baiturrahmah dalam bentuk outbond training yang kami lakukan di SECATA B Padang Panjang. Sebagian besar dari peserta traning menyatakan bahwa mereka sangat puas dengan metode training yang dilakukan oleh perusahaan pak Ridwan. 


Apa yang membuat saya tertarik  dengan seorang Ridwan Tulus? Saya kagum pada beliau, karena cara berpikir beliau tersebut out of the box. Sebagai seorang yang bergerak dibidang parawisata, cara atau model wisata yang ditawarkannya sangat berbeda dengan operator wisata main stream. Jika tour and travel yang lain biasanya mendatangkan touris dan mengirim orang Sumbar yang ingin berwisata keluar Sumbar seperti ke Jawa, Bali bahkan sampai keluar negeri. Biasanya sudah tersedia paket perjalanan yang ditawarkan dengan alternatif destinasi yang dituju, lama perjalanan, hotel dan penerbangan  yang dipilih. Destinasi dapat juga dirancang oleh travel berdasarkan keinginan yang akan berwisata.  Kebanyakan travel lebih mengutamakan jumlah yang akan ikut, semakin banyak jumlah yang ikut semakin senang travelnya dan harga bisa didiskon. 


Ridwan Tulus melakukan hal yang berbeda, dia menjual ide, baik untuk wisata maupun untuk outbond. Mitra yang menggunakan perusahaan Ridwan tidak saja local, tapi nasional bahkan international. Beliau promosi hanya menggunakan website nama www.sumatraandbeyond.co. Program yang dijualnya unik. Suatu kali, beliau bercerita bagaimana beliau menawarkan paket liburan bagi anak seorang milyarder asal Inggris. Anak sikaya ini ditawarkan paket tinggal   beberapa disebuah panti asuhan, hidup, belajar, main, makan ala panti. Ketika program akan berakhir si anak kaya tidak mau ikut acara perpisahan dengan teman-teman dipanti yang telah dia kenal selama beberapa hari, karena dia ingin masa tinggalnya di panti bisa diperpanjang. Ridwan Tulus hanya mendatangkan beberapa orang turis, tapi dampaknya baik bagi sianak kaya begitu juga bagi destinasi yang dikunjunginya sangat berarti. Bagi pak Ridwan selain nama usahanya semakin berkibar juga dampak finansialnya. Karena bagi orang kaya hal-hal unik seperti ini yang diperlukan, kalau dia suka berapapun harga dia bayar malah biasanya mereka tidak menawar harga yang diberikan. Kalau liburan melihat alam, persembahan tari-tarian budaya kemudian tidur di hotel berbintang itu sudah biasa.


Begitu juga ketika acara outbond yang diberikan untuk keluarga besar Universitas Baiturrahmah. Semua peserta tidur di barak prajurit termasuk saya, tidur pakai veldingbad, mandi dan makan ditempat umum. Kepada kami diberikan berbagai macam kegiatan, sesuai dengan pembagian kelompok. Ada yang membersihkan kolam ikan, ada yang membersihkan musium kereta api, ada yang jualan susu, ada yang membuat lukisan mural dsb. Semua peserta juga gotong royong membersihkan kota Padang Panjang sekalian jalan pagi. Pada acara out bond tersebut juga ada  motivasi yang diberikan oleh motivator nasional dan juga ada acara permainan berkelompok dengan melibatkan prajurit TNI di SCATA.Tidak sampai disitu pada acara malam penutupan beliau membuat kolaborasi orchestra dengan melibatkan seniman mahasiswa ISI Padang Panjang. Semua acara sepertinya dirancang sesuai kondisi tapi disiapkan dengan baik tapi tidak kaku, semua peserta merasa senang dan mengasikkan sehingga betul-betul bekesan. 


Itulah Ridwan Tulus, saya sulit menemukan orang yang kreatif seperti beliau, semuanya bisa jadi objek. Beliau tidak kaku, kreativitasnya muncul ketika melihat suasana, sehingga programnya bisa berobah tergantung situasi dan kondisi. Berbeda dengan yang lain yang sudah punya Pakem. Ridwan Tulus mengembangkan kretivitasnya ditengah alam semesta ciptaan Allah yang luar biasa.  Sehingga Ridwan Tulus bisa menjadi tour designer yang luar biasa !



SUMBARNET - Lokasi wisata alam di jorong Situak Barat Nagari Situak Kecamatan Lembah Melintang terlihat kurang perhatian serius oleh Dinas terkait.


Hal ini disampaikan oleh masyarakat dan pengunjung kepada awak media ini, pada Senen (27/4/2026).


"Objek wisata Sipagogo dan Paroman Menek merupakan tempat yang indah dan pantas ditawarkan untuk jadi salah satu aset wisata yang asri dan indah alami," kata Alvin.


"Kejernihan air yang terjun dengan tiga tingkat setinggi 15 meter ini menawarkan keindahan tersembunyi yang unik dan menyita perhatian para pengunjung lokal," katanya.


Wisata ini dikelilingi hutan kayu dan bebatuan cadas yang curam, membuat betah para pengunjung,


Juga banyaknya habitat flora fauna liar yang becanda silih berganti, sehingga pemandangan serasa asri dan damai.


Alvin salah satu pengunjung yang berasal dari Kinali menyampaikan kesan tersendiri, melihat air terjun Paroman Menek, ia mengaku betah dan ingin kembali setelah berkunjung ini.


"Saya sangat senang dan puas dengan suguhan alam yang begitu indah, ini sport wisata yang perlu digarap dan dilestarikan," ujarnya.


Alvin berharap akses jalan segera di perhatikan oleh pihak Dinas Pariwisata setempat, agar bisa menambah aset untuk pemerintah khusus dibidang pariwisata.


Lokasi yang hanya satu kilo meter dari akses jalan aspal di sekitar jorong Roba Julu menuju lokasi ini, memudahkan untuk berkunjung ke lokasi air terjun tersebut. (Samino Sam)



SUMBARNET - Stagnanya kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumbar di angka 30.000 - 50.000 membuat Sumbar harus berfikir keras untuk mencari solusi dan melakukan terobosan pembangunan untuk di usulkan ke pemerintahan pusat agar potensi wisata alam dan budaya Sumatera barat  yang beragam dapat di akses langsung oleh wisatawan tampa kesulitan dengan transit dulu ke kota Padang dan melanjutkan dengan pesawat perintis atau kapal Ferry ke Mentawai yang membuat cost wisatawan menjadi mahal dan waktu yang menyesuaikan dengan jadwal penerbangan pesawat perintis dan kapal Ferry ke Mentawai 


Wisatawan manca negara ke Mentawai rata rata membawa papan selancar yang jelas akan sangat merepotkan wisatawan untuk transit 


Membayangkan pesawat dari berbagai negara langsung terbang ke Mentawai dan Mentawai memiliki kantor imigrasi sendiri adalah mimpi wisatawan dan pelaku wisata di sumatera  Barat, sebagaimana pulau Mentawai layaknya pulau Dewata Bali yang bisa di akses penerbangan dari berbagai negara di dunia ujar zuhrizul saat seminar kebangkitan ekonomi Sumbar pasca bencana 


Ke depan Mentawai akan menjadi episentrum pariwisata di wilayah Indonesia Barat yang tentu lebih dekat dari negara negara di Asia dan limpahan wisatawan Eropa yang banyak di Singapore sebagai hub tourism dimana cost nya lebih murah di banding mereka harus ke Bali atau lombok apalagi raja Ampat 


Untuk amenity hotel, restourant dan fasilitas lainnya dari pihak swasta sudah pasti akan akan di siapkan  beriringan dengan proses  pembangunan bandara internasional yang lebih representatif di Mentawai 


Secara budaya masyarakat asli kabupaten Mentawai memang berbeda dengan daerah-daerah kab/kota lainnya di  sumatera barat , keberagaman budaya inilah yang membuat Mentawai sangat memiliki potensi besar untuk wisatawan asing yang lebih menyukai wisata pantai dan atraksi wisata budaya lokal yang kental dan  potensi ini sangat memungkinkan untuk pemerintahan provinsi sumatera barat fokus menyiapkan aksesibility wisatawan ke Mentawai lebih mudah dengan meyakinkan pemerintahan pusat bahwa Mentawai akan menjadi episentrum wisatawan manca negara di Indonesia Barat di tambah lagi dengan potensi ombak surfing Mentawai yang mendunia 


Sumatera Utara  memiliki 2 bandara internasional Kuala namu dan Sibolangit , kenapa tidak sumatera barat yang memiliki potensi lebih dari Sumatera Utara  juga memiliki 2 bandara bertaraf internasional agar wisatawan bisa lebih mudah meng akses kepulauan Mentawai 


Sumbar harus miliki ide ide lebih dan tidak lagi berkutat dengan hal hal normatif yang menjadi perdebatan publik tentang bagaimana ekonomi Sumbar untuk bangkit di angka 3 persenan dan terbawah di sumatera. (**)

 


SUMBARNET - Gagasan pembangunan “World Naval Marine Park” atau taman bawah laut dunia akan segera direalisasikan sebagai tindak lanjut dari simbolisasi yang pernah dilakukan pada ajang Komodo Exercise 2016.


Taman bawah laut ini direncanakan berada di kawasan Pulau Tangah dan disebut akan menjadi satu-satunya di dunia, karena melibatkan partisipasi 35 angkatan laut dari berbagai negara.


Panitia telah menyiapkan kawasan taman bawah laut seluas sekitar 35 hektare. Masing-masing negara nantinya akan memperoleh area khusus untuk melakukan penanaman serta transplantasi terumbu karang pada lahan yang telah disiapkan.


Program ini diharapkan menjadi simbol kolaborasi internasional dalam menjaga kelestarian ekosistem laut sekaligus memperkuat kerja sama maritim antarnegara.


Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Danantara, Jasindo, dan LKBN Antara sebagai sponsor utama.


Rencananya, acara ini akan diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Peresmian tersebut juga dijadwalkan dihadiri oleh 35 duta besar serta 35 kepala staf angkatan laut dari 35 negara yang terlibat.


Pada hari peresmian, seluruh perwakilan negara akan bersama-sama melakukan transplantasi terumbu karang sebagai simbol komitmen global terhadap pelestarian lingkungan laut.


World Naval Marine Park diharapkan menjadi ikon baru diplomasi maritim Indonesia dan menjadi taman bawah laut kolaboratif pertama di dunia. (*)

 


Oleh : Elfindri, Unand


Adalah Om Ridwan Tulus, penggiat wisata spesifik yang bekas gagasan dan gerakan beliau tercium ke banyak tokoh wisata dunia, sehingga beliau dicap sebagai penerobos gagasan dan mewujudkan wisata tematik.


Dulu 10 tahun lalu saya memperoleh kesan bahwa beliau juga memulai menawarkan jenis wisata sepesifik, yang sedikit terkait heuling bercampur hobby, misalnya melihat burung langka di hutan, melihat beragam kupu kupu. Pokoknya jenis turis yang meminati biology-forest ini cukup banyak jumlahnya.


Kemudian beralih pada "learning experience" yang tematik adalah anak anak bule pada level SMA mau belajar memasak tradisional, silat dan menari, apalagi di Minang ini jenis slow food, seperti membuat Rendang dan jenis Penganan, sangat langka. Sementara rasanya juga sejalan dengan yang dicari cari oleh bule, anak anak mereka memerlukan pengalaman selama libur di kampung kampung.


Yang terbaru adalah gagasan beliau bagaimana menarik wisatawan asing, dimana mereka memang senang tinggal di desa desa, seperti Second (slow) Tourism.


Jumlah mereka yang menyukai untuk tinggal pada durasi yang cukup lama cukup banyak, dan biasa selama musim dingin.


Pengalaman saya dengan kawan kawan dari Belanda pernah mengajak wisatawan asal Belanda dan Malaysia, bahkan mereka berebut untuk ikut datang, dengan suasana kampung apa adanya.mereka bahkan jalan pagi, dan diajarkan minum kopi segelas Rp4000 di kampung, sambil menunjukkan jenis makanan yang bisa ditawarkan kepada mereka minum pagi. Kopi, ketan, pisang goreng jenis ini tak pernah mereka peroleh di luar negeri, apa lagi harganya bisa seperdua puluh dari harga di luar negeri.


Bagi wisatawan asal barat, mereka mungkin terkesan lonely di sana, sehingga perlu penyiapan lokasi yang bersih, kamar dan toilet terjaga di desa yang akan dijadikan tempat mereka berkunjung, bangunan apa adanya tak masalah, bahkan kalau dikembalikan pada nuansa rumah setempat makin menarik.


Bagi wisata asal Malaysia, mereka justru lebih memilih datang sekeluarga, bisa saja karena terkenang akan eloknya Minang, kuliner yang cukup cocok, harga tentu mereka anggap relative murah.


Menggarap jenis wisata seperti ini memerlukan jaringan yang juga luas, mana yang menjadi target ke depan. Tinggal ditekuni secara konsisten, lambat laun ada kehidupan di belakangnya.

 


SUMBARNET - Aroma kopi Indonesia menguar kuat di Aula KBRI Roma, 20 Maret 2026. Bukan sekadar wangi biji kopi, tetapi simbol langkah baru yang membawa komoditas unggulan Nusantara naik kelas di pasar global.


CEO PT ALKO Sumatra Kopi Surya Ramadhan menandatangani kontrak ekspor dengan perusahaan Italia, Best Coffee SRL, dengan nilai sekitar USD 15 juta. Kesepakatan ini menargetkan pengiriman hingga 100 kontainer sepanjang 2026, sebuah angka yang mencerminkan lonjakan skala dalam perdagangan kopi Indonesia.


Di balik seremoni tersebut, tersimpan narasi lebih besar tentang bagaimana kopi Indonesia perlahan menembus pasar premium Eropa. Italia, yang dikenal sebagai jantung budaya kopi dunia, menjadi panggung penting bagi pembuktian kualitas dan konsistensi produk Indonesia.


Dari Komoditas ke Identitas


Kesepakatan ini menandai pergeseran cara pandang terhadap kopi. Produk tidak lagi sekadar dijual sebagai komoditas mentah, melainkan sebagai identitas dengan cerita.


Kopi yang masuk dalam kontrak ini berasal dari berbagai wilayah seperti Sumatra, Jawa, dan Flores. Setiap daerah menghadirkan karakter rasa yang berbeda, mulai dari profil kuat dan kompleks hingga cita rasa seimbang dan unik.


Pendekatan berbasis origin tersebut kini menjadi daya tarik utama di pasar specialty. Konsumen tidak hanya membeli rasa, tetapi juga asal-usul, proses, dan nilai yang melekat pada setiap cangkir kopi.


Menembus Standar Tinggi Eropa


Masuk ke pasar Italia bukan perkara mudah. Negara ini memiliki standar kualitas yang tinggi serta tradisi panjang dalam industri kopi. Namun, keberhasilan ALKO menunjukkan bahwa kopi Indonesia mampu bersaing di level tersebut.


Lebih dari itu, Italia juga menjadi gerbang menuju pasar Eropa yang lebih luas. Dari sini, peluang ekspansi ke negara lain terbuka lebar, memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan kopi dunia.


Perubahan Skala Perdagangan


Kontrak ekspor dalam jumlah besar ini mencerminkan perubahan signifikan dalam sistem perdagangan kopi nasional. Pola lama yang sporadis mulai bergeser menuju sistem yang lebih terencana dan berkelanjutan.


Bagi petani, perubahan ini menghadirkan kepastian pasar dan stabilitas harga. Sementara bagi pelaku usaha, kontrak jangka panjang memungkinkan perencanaan produksi dan distribusi yang lebih efisien.


Transformasi ini memperlihatkan bahwa sektor kopi tidak lagi bergerak secara tradisional, tetapi mulai mengadopsi pendekatan modern yang terstruktur.


Teknologi sebagai Penguat Kepercayaan

Di tengah tuntutan transparansi global, teknologi memainkan peran penting. ALKO mengembangkan sistem traceability berbasis platform digital yang mencatat seluruh rantai pasok.


Mulai dari identitas petani, lokasi kebun, metode budidaya, hingga proses distribusi, semua terdokumentasi secara digital. Sistem ini memastikan setiap produk dapat ditelusuri asal-usulnya.


Langkah tersebut juga sejalan dengan penerapan standar lingkungan Uni Eropa, termasuk regulasi bebas deforestasi. Transparansi ini menjadi nilai tambah yang semakin penting di mata pasar internasional.


Diplomasi Ekonomi di Balik Layar


Keberhasilan ini tidak lepas dari peran diplomasi ekonomi. KBRI Roma hadir sebagai fasilitator yang membuka ruang pertemuan antara pelaku usaha Indonesia dan mitra internasional.


Dukungan ini mencakup akses jaringan pasar, promosi produk, hingga peningkatan kepercayaan buyer. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa ekspor tidak hanya ditopang oleh kualitas produk, tetapi juga oleh sinergi berbagai pihak.


Dampak Nyata hingga ke Hulu


Di balik angka jutaan dolar, dampak nyata dirasakan hingga ke tingkat petani. Sistem perdagangan yang lebih terintegrasi memberi akses langsung ke pasar global.


Petani memperoleh harga yang lebih kompetitif serta dorongan untuk meningkatkan kualitas produksi. Posisi mereka dalam rantai nilai pun berubah, dari pelaku marginal menjadi bagian penting dalam ekosistem global.


Menatap Masa Depan


Tantangan tetap membayangi, mulai dari standar kualitas yang ketat hingga persaingan dengan negara produsen lain. Namun, langkah yang diambil ALKO menunjukkan arah baru.


Pendekatan berbasis teknologi, penguatan kelembagaan, dan kolaborasi lintas negara membuka peluang besar bagi kopi Indonesia untuk terus berkembang.


Dari Roma, perjalanan kopi Nusantara memasuki babak baru. Bukan hanya tentang ekspor, tetapi tentang bagaimana identitas, kualitas, dan keberlanjutan menjadi kekuatan utama dalam menembus pasar dunia. (***)

 


SUMBARNET - Bosan staycation itu ke itu aja, tak menantang lagi healingnya, yuk gaes rasakan eksotik dan sensasi Lembah Indah Malang (LIM), berkonsep edu resort villa dan glampingnya pun kelas bintang 5, waooo...


Really bro, LIM tak sekedar glamping dan villa mewah, hamparan di leremg Gunung Kawi dusun Gedogo Desa Balesari Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang, ada aktivitas memvetot adrenalin ditawarkan oleh manajemen LIM, mulai out door, offroad dan wisata religius, LIM juga mengusung full hospitality dan on stop service, buruan check in. 


Hamparan lereng Gunung Kawi Lembah Indah Malang ini, asri dan suhunya menusuk tulang, banyak pengunjung mengakui kalau LIM lebih dingin dari Batu.


LIM mudah diakses sejam kurang dari Kota Malang, dua jaman dari Kota Surabaya, check in di sana waktu tak terasa berjalan, full wifi dan kulinernya siap melayani selera anda.


"Uihh asyik ada japanese food di lereng Gunung Kawi ini,"ujar Dinda pengunjung Sabtu 19/12-2025 malam.


Gak kan bosan, di LIM ada bisa merasakan amzingnya Offroad merambah hutan alami milik Perhutani.


"Track offroad kita rancang ramah lingkungan dan kenarsisannya kita sesuaikan, ada track pemula dan juga ada track untuk offroader sejati,"ujar penggas offroad Lembang Indah Malang Rosis, Sabtu pagi.


'Asyikkk bisa disiram lumpur tubuh kita menjajal track offroad di sini,"teriak Fransiskus dari Flores.


Selain itu, Gunung Kawi terkenal dengan tempat bertapa mencari pasugihan, tapi sebenarnya di lereng Gunung Kawi ada dua tempat meditasi dan sangat pluralisme, ada kelenteng ada kuil ada masjid dan ada gereja di sana, warga di situ hidup rukun dan damai.


Pasarehan (makam

leluhur) Keraton Gunung Kawi, 

Tempat dimakamkannya  Mbah Djugo (Zakaria), Mbah Iman Soejono, lalu Keraton Mbah Joyo Tunggul dan Tunggul Wati semua itu petilasan Mpu Sindok.


Kembali ke LIM, resort memadukan hospitality dan One Stop Service, di hamparan Gunung Kawi itu ada 37 Glamping dan 6 villa dan satu villa ukuran besar atau  special edition.


'Luas 30 an hektare, berada lereng Gunung Kawi dinginnya menyejukan dan anti polusi karenan hutan lindung dan produksi di Gunung Kawi sangat lestari dan terjaga dari pembalakan liar, di LIM juga aktifias offreoad dan out bond. Pokok ayo kesini, nginap dan silahkan beraktifitas memacu adrenalinnya bro, keyword klik Lembah Indah Malang di mesin pencari goggle,"ujar pemilik LIM Resor Wika, Minggu 20/12-2025. (*)

 


SUMBARNET - Ketua Panitia WIES 2025 sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumatera Barat (Sumbar), Sari Lenggogeni, BeCON, M.Man, Pg.Dipl., Ph.D, menyampaikan bahwa World Islamic Entrepreneur Summit (WIES) 2025 berhasil digelar dengan sukses pada 27–28 November 2025 lalu.


Sari memaparkan bahwa ajang internasional tersebut dirancang sebagai platform yang menghubungkan potensi lokal dengan peluang pasar global.


“WIES telah selesai digelar dan sukses dilaksanakan pada 27-28 November 2025 kemarin,” kata Sari kepada awak media di Padang, Jumat (19/12/2025).


Menurutnya, pelaksanaan WIES tahun ini menunjukkan antusiasme besar dari peserta, terutama dari sektor UMKM dan tamu internasional. Ia menyebutkan, para pelaku usaha merasa puas dapat terhubung langsung dengan jejaring bisnis global.


“Antusiasme peserta internasional luar biasa. Mereka sangat happy sampai titik akhir. Menariknya, ada sesi kolaborasi untuk membangun UMKM global lokal, dan itu membuat bahagia teman-teman UMKM yang bertemu langsung dengan UMKM global. Memang belum ada deal, namun inilah yang diharapkan,” ujarnya.


Sari juga menyampaikan bahwa batik Indonesia menjadi produk UMKM yang paling diminati selama kegiatan berlangsung. Sejumlah mitra dari luar negeri, termasuk Yayasan Hasanah Malaysia, tertarik untuk menjajaki kerja sama lebih lanjut.


“Mereka mencari peluang kolaborasi batik dan bagaimana melakukan kerja sama. Ini menunjukkan batik kita diminati,” katanya.


Dalam evaluasinya, Sari menyebut UMKM Malaysia memiliki kemiripan produk dengan Indonesia, namun unggul dalam pengemasan. Hal ini dinilai dapat menjadi dorongan peningkatan kualitas kemasan UMKM lokal untuk meningkatkan daya tarik pasar.


“Kita lihat UMKM Malaysia produknya hampir sama, tapi bungkusnya luar biasa atau packing-nya. Hampir semua profesional, terlihat mahal. Ini penting untuk kita tingkatkan, terutama dari sisi kreativitas,” katanya.


Lebih jauh Sari menyampaikan, bahwa niat utama WIES adalah menjembatani pelaku UMKM nasional dengan jejaring internasional. Pelaksanaan WIES 2025 disebut melibatkan pelaku usaha dari sekitar 20 negara, termasuk Malaysia dan Singapura, dengan UMKM Sumbar sebagai bagian dari peserta utama.


Terkait transaksi, Sari menyampaikan bahwa nilai ekonomi yang tercipta selama kegiatan diperkirakan mencapai sekitar Rp10 miliar, terutama melalui interaksi pelaku usaha Malaysia. Namun, ia menjelaskan bahwa data tersebut masih bersifat awal dan belum dipublikasikan secara keseluruhan termasuk data di negara lainnya.


Sari menambahkan, banyak tawaran kerja sama lanjutan yang masuk setelah pelaksanaan WIES, termasuk permintaan agar kegiatan serupa dapat digelar di luar Padang pada tahun mendatang.


“Kita berharap momentum ini terus terjaga, karena WIES hadir untuk membuka jalan bagi UMKM menembus pasar global,” ucapnya. (*)


Teks Foto : Ketua WIES Sari Lenggogeni saat jumpa pers, di salah satu kafe di Padang, Jumat (19/12/2025). IST



SUMBARNET - Event Minang Geopark Run (MGR) seyogyanya digelar Minggu 30 November 2025.


Tapi, bencana banjir bandang menerjang sebagian besar wilayah Sumbar pada 27 November 2025, tak di Sumbar saja bencana itu pun menerpa Aceh dan Sumatera Utara.


Founder MGR Yv Tri Saputra tidak ngotot menggelar event yang memadukan lari, wisata, pelestarian lingkungan dan budaya itu, setelah berdiskusi dengan pihak otoritas dia pun menunda MGR 2025 menjadi tanggal 21 Desember 2025. Kita tidak boleh larut dalam bencana, Sumbar harus segera bangkit kembali menata perekonomian dan kehidupan masyarakatnya.


"Kita pending MGR, lihat bencana dampaknya luar biasa puluhan kampung tertimbun, korban jiwa pun sudah 200-an Sumbar berduka, MGR kita tunda ke tanggal 21 Desember seperti disampaikan Panitia Pelaksana MGR 2025 di akun Instagram resmi MGR,"ujar Yv Tri Saputra Senin 8/12-2025.


Tak sekedar menunda, Yv Tri Saputra dan Panitia Pelaksana MGR pun terjun langsung dalam operasi kemanusiaan, selamatkan saudara di Minang dan bantu korban terdampak.


"Kita mengaktifkan di berbagai daerah bencana Dapur Umum seperti  di Batu Taba dan Malalo,"ujar Yv Tri Saputra.


Dua daerah itu saat bencana sampai Minggu kemarin jalur daratnya terisolir.


"Ke Malalo hanya bisa dicapai dengan perahu atau boat lewat perairan Danau Singkarak,"ujar Yv.

 

Aksi humanity di tanah bencana banjir bandang itu direspon banyak kalangan.


"Operasi kemanusian MGR bersama Yayasan Koarsa ini disupport banyak pihak seperti Group R17,  PT Proxsis, PT Jasa Raharja Putra, RM Simpang Raya dan Minang Bandung Foundation, semua beraksi peduli untuk korban bencana,"ujar Yv Tri.(***)



SUMBARNET - Sandiaga Uno, pihaknya mengharapkan WIES menjadi platform untuk perluasan usaha bagi pengusaha muslim di seluruh dunia.


"Kita harapkan pengusaha muslim dunia dapat memperluas jejaringnya sembari menciptakan lapangan kerja," ujar Sandiaga Uno usai jadi pembicara WIES 2025 di Padang, Jumat, 28 November 2025.


Menurut Sandiaga Uno, pihaknya apresiasi dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan WIES tahun 2025


"Kita menilai sinergi pemerintah dan pelaku usaha sangat menentukan penguatan iklim investasi nasional. Kami membawa aspirasi pengusaha dari berbagai sektor, termasuk para pelaku usaha besar yang terus berupaya meningkatkan kontribusi ekonomi,” ujar Sandiaga Uno pernah jadi menteri pariwisata dan ekonomi kreatif ini


Lanjut Sandiaga, semangat penyelenggaraan WIES tetap terjaga meski Sumbar menghadapi bencana. 


"Kehadiran mereka membawa nilai tambah bagi inovasi, pemikiran baru, dan penguatan jejaring ekonomi,” ujarnya . (AdF/CR)

 


SUMBARNET - Pengusaha dan investor nasional Sandiaga Uno menegaskan bahwa World Islamic Entrepreneurs Summit (WIES) 2025 memiliki peran besar dalam memperkuat ekosistem usaha Indonesia dan dunia Islam. Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu menyebut WIES lahir dari rangkaian pengalaman para inisiator dalam membaca peluang dan tantangan ekonomi di lapangan.


Sandiaga menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara di WIES 2025, pada Jumat, (28/11/2025) di Pangeran Beach Hotel, Padang. Ia juga memantau perkembangan bencana banjir bandang yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Barat, Aceh, dan kawasan utara lainnya. “Kami mendoakan seluruh keluarga yang terkena musibah agar diberi perlindungan Allah SWT dan dapat segera pulih,” ujarnya.


Pada sesi berikutnya, Sandiaga menyampaikan apresiasi terhadap dukungan pemerintah dalam penyelenggaraan WIES tahun ini. Ia menilai sinergi pemerintah dan pelaku usaha sangat menentukan penguatan iklim investasi nasional. “Kami membawa aspirasi pengusaha dari berbagai sektor, termasuk para pelaku usaha besar yang terus berupaya meningkatkan kontribusi ekonomi,” jelasnya.


Sandiaga menegaskan semangat penyelenggaraan WIES tetap terjaga meski Sumbar menghadapi bencana. Ia berharap forum ini menghadirkan empati sekaligus membuka peluang usaha yang konkret. Tahun ini, partisipasi negara peserta juga meningkat signifikan. “Kehadiran mereka membawa nilai tambah bagi inovasi, pemikiran baru, dan penguatan jejaring ekonomi,” tambahnya.


Ia menjelaskan bahwa WIES 2025 tidak hanya fokus pada perputaran uang, tetapi juga pada kapital. Bentuk kapital itu dapat berupa saham, kolaborasi, joint venture, atau kerja sama perluasan pasar. Sandiaga menekankan pentingnya memperkuat agenda ekonomi hijau dalam WIES tahun ini. “Krisis iklim dan anomali cuaca adalah kenyataan yang kita hadapi. Ekonomi hijau menjadi agenda yang tidak bisa kita abaikan,” ucapnya.


Dalam pandangannya, jaringan WIES sangat berpotensi memperluas usaha dan membuka peluang sektor baru. Kolaborasi WIES dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga dinilai mampu mengangkat isu-isu strategis global. Ia menyebut WIES harus berkembang menjadi forum kelas dunia seperti World Economic Forum versi dunia usaha Islam.


Dengan intellectual property yang kini dikelola Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Sandiaga optimistis WIES dapat menjadi pusat diskusi global mengenai teknologi masa depan. Forum ini diharapkan membahas isu artificial intelligence, robotika, machine learning, perdagangan internasional, dan tren ekonomi modern.


Menutup pernyataannya, Sandiaga mengajak pelaku usaha untuk hadir langsung di Padang. “Selain berwisata, kita bisa membangun silaturahmi dan kerja sama produktif. Di balik silaturahmi selalu ada kebijaksanaan yang melahirkan peluang baru. Kita ingin membangun kolaborasi yang saling menguntungkan—win-win,” tutupnya. (AdF/G)

 


Oleh: Dr. H. Febby Dt. Bangso SSt.Par., M.Par., QRGP, CFA


Siklon yang mengguncang pesisir Sumatera Barat beberapa waktu terakhir bukan sekadar fenomena cuaca ekstrem. Ia adalah alarm keras yang mengetuk telinga semua pemangku kebijakan pariwisata. Badai mengingatkan: pariwisata Sumbar rapuh, rentan, dan belum memiliki sistem ketahanan yang memadai. Selama ini kita terlalu sibuk mengejar angka kunjungan, tetapi lupa membangun pondasi yang kokoh.


Kerentanan itu tampak jelas—ketika gelombang tinggi memutus akses, menutup destinasi, merusak fasilitas, dan mengguncang ekonomi masyarakat yang bergantung pada pariwisata. Jika satu badai saja mampu meluluhlantakkan stabilitas, bagaimana jika ancaman iklim ekstrem semakin rutin?

Pertanyaannya sederhana dan menohok: Apakah kita masih mau membangun pariwisata di atas pasir yang mudah runtuh?


Saatnya Mengubah Arah Kebijakan Pariwisata Sumbar


Pariwisata tidak lagi cukup hanya dilihat sebagai bisnis promosi dan acara seremonial. Kita memasuki era baru: era ketahanan pariwisata (tourism resilience) yang menuntut perencanaan berbasis risiko, ilmu pengetahuan, dan penguatan akar sosial budaya nagari.


Transformasi kebijakan pariwisata Sumbar harus segera diarahkan pada enam agenda besar berikut:


1. Green Tourism


Pariwisata harus mulai berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Konservasi, pengelolaan risiko bencana, edukasi mitigasi, dan destinasi hijau harus menjadi prioritas.

Ini bukan pilihan—ini hukum alam.


2. Blue Economy


Pesisir tidak hanya destinasi foto, tetapi sumber penghidupan.

Pendekatan ekonomi biru berbasis nelayan, ekowisata bahari, dan konservasi laut harus menjadi strategi utama penyelamatan ekonomi masyarakat pantai.


3. Pemberdayaan Masyarakat Lokal


Masyarakat bukan penonton, tetapi pemilik dan pemain utama.

Ketahanan pariwisata berawal dari kemandirian ekonomi, pelatihan keterampilan, dan model bisnis berbasis komunitas nagari.


4. Penguatan Adat dan Budaya


Nagari adalah benteng identitas dan modal sosial kita.

Tambo, limbago, gala adat, rumah gadang, randai, saluang, silek—semua ini bukan sekadar tontonan, tetapi tiang utama ketahanan ekonomi dan karakter.


5. Experience-Based Tourism


Wisatawan kini datang bukan untuk melihat, tetapi untuk mengalami.

Interaksi budaya akan menjadi masa depan pariwisata Sumbar.


6. Gastronomy Class


Rendang, samba lado mudo, lamang tapai, kalio itiak lado hijau, teh talua—

warisan kuliner adalah kekuatan ekonomi yang luar biasa.

Saatnya menghadirkan kelas memasak, riset kuliner, sertifikasi chef nagari, dan diplomasi gastronomi dunia.



Kesimpulan: Nagari Adalah Kunci Ketahanan Pariwisata


Siklon telah mengajari kita satu pelajaran mahal: ketahanan pariwisata bukan dibangun dari hotel megah atau event besar, tetapi dari: kesadaran ekologis, kekuatan komunitas, kearifan adat dan ekonomi lokal yang tangguh.



Tanpa perubahan paradigma, pariwisata Sumbar tinggal menunggu waktu untuk tumbang.

Sebaliknya, bila keberlanjutan dan ketahanan menjadi poros, Sumbar akan menjadi contoh terbaik Indonesia.


Badai memang mengguncang, tetapi ia juga membuka jalan untuk bangkit lebih kuat.


> Mari ubah arah kebijakan pariwisata Sumbar — dari rapuh menjadi tangguh, dari seremonial menjadi substansial, dari jangka pendek menjadi berkelanjutan. (**)



SUMBARNET - World Islamic Entrepreneur Summit (WIES) 2025 resmi dibuka di Kota Padang, Kamis (27/11/2025). Ketua Panitia WIES 2025 sekaligus Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumbar, Sari Lenggogeni, BeCON, M.Man, Pg.Dipl, Ph.D, menyampaikan bahwa pelaksanaan konferensi internasional tahun ini tetap digelar meski persiapan berlangsung lebih singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


Menurut Sari, efektifitas persiapan hanya sekitar satu bulan akibat dinamika regulasi dan penyesuaian kebijakan efisiensi di tingkat nasional. Namun, komitmen untuk menjadikan WIES sebagai agenda tahunan mendorong panitia untuk tetap melaksanakan rangkaian kegiatan berskala global tersebut.


"Persiapan tahun ini kurang dari dua bulan, efektifnya satu bulan. Ada ketidakstabilan regulasi dan kebijakan efisiensi. Meski begitu, kita optimis karena sudah berkomitmen sejak awal dan berharap kegiatan ini dapat berlangsung setiap tahun,” ujarnya.


Sari menyampaikan bahwa dukungan mitra internasional turut memperkuat penyelenggaraan WIES 2025. Salah satunya datang dari Yayasan Hasanah Malaysia melalui Direktur merangkap Wali Amanat, Siti Kamariah Ahmad Subki, yang berperan sebagai sponsor dan membawa pelaku UMKM Malaysia untuk berpartisipasi langsung pada acara di Sumbar.


"Dengan niat baik, kita disambut secara positif oleh Yayasan Hasanah Malaysia. Mereka tidak hanya membantu sebagai sponsor, tetapi juga membawa UMKM dari Malaysia untuk hadir di WIES,” kata Sari.


Antusiasme peserta juga terlihat dari proses pendaftaran konferensi yang telah ditutup lebih cepat. Panitia menutup registrasi resmi tiga hari lalu karena seluruh kuota telah terpenuhi.


Meski demikian, Sari mengakui bahwa suasana penyelenggaraan WIES tahun ini berbeda karena Sumbar tengah dilanda bencana banjir dan curah hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir.


"Permasalahan kita saat ini adalah Sumbar sedang berduka. Banyak kejadian bencana banjir dan hujan lebat. Akibatnya, kegiatan tahun ini tidak semaksimal tahun sebelumnya,” ujarnya.


WIES 2025 secara resmi dilaunching hari ini bersama perwakilan Wakil BP BUMN, dengan peserta dari lebih dari 13 negara yang dikonfirmasi hadir di Padang.


Sari menyebut, dengan waktu persiapan yang lebih panjang ke depan, skala kegiatan WIES diperkirakan akan tumbuh lebih besar dan memberikan dampak signifikan bagi sektor ekonomi serta pariwisata.


Ia menjelaskan bahwa WIES bertujuan menjadi ruang bertemunya kebutuhan pelaku usaha terutama UMKM dengan peluang kolaborasi regional dan internasional.


"WIES ini seperti pasar yang mempertemukan supply dan demand. Demand ini adalah 90 persen UMKM kita yang masih sangat membutuhkan kolaborasi, pengetahuan baru, serta akses jaringan dengan negara lain,” ucapnya.


WIES 2025 menghadirkan rangkaian diskusi, pameran, serta pertemuan bisnis yang berfokus pada ekonomi Islam, peluang investasi, dan pengembangan sektor pariwisata Nusantara sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi regional. (*)



SUMBARNET - Sehubungan dengan terjadinya musibah banjir di Sumatera Barat, dengan berat hati, kami panitia Minang Geopark Run, Pihak Otorita dan beserta seluruh pihak terkait mengambil keputusan untuk menunda gelaran Minang Geopark Run 2025.


Hal ini kami lakukan tentu demi menjaga keselamatan dan kenyamanan para pelari. Dan tentunya sebagai bentuk simpati kepada seluruh warga masyarakat di nagari kita. Bersama-sama kita mendoakan agar kondisi ini bisa cepat kondusif dan pulih. 


Bagi para pelari yang telah terdaftar di Minang Geopark Run 2025, tetap akan bisa digunakan pada jadwal yang nantinya kita tetapkan.


Informasi update dan terbaru terkait penyelenggaraan event Minang Geopark Run. 2025 akan kami sampaikan melalui sosial media @geoparkrunseries. (**)