SUMBARNET – Persidangan perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pekerjaan Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Labuhan Bajau, Kecamatan Siberut Barat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Tahun Anggaran 2019 dan 2020, kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, Rabu (4/11/2026).
Dalam persidangan yang berlangsung di Ruang Sidang Cakra sekitar pukul 12.38 WIB tersebut, agenda persidangan adalah pembacaan perlawanan atau eksepsi terhadap surat dakwaan Penuntut Umum oleh masing-masing Penasihat Hukum Terdakwa Ahmad Zuridin dan Terdakwa Budi Utomo.
Kedua terdakwa masing-masing menjalani proses persidangan dalam perkara Nomor 14/Pid.Sus-TPK/2026/PN.Pdg atas nama Ahmad Zuridin dan perkara Nomor 15/Pid.Sus-TPK/2026/PN.Pdg atas nama Budi Utomo.
Persidangan dibuka oleh Hakim Ketua dan dilaksanakan secara terbuka untuk umum. Sebelum memasuki agenda utama, Majelis Hakim terlebih dahulu memeriksa kesiapan para pihak yang hadir, mulai dari kedua terdakwa, Penasihat Hukum masing-masing terdakwa, hingga Penuntut Umum.
Persidangan tersebut dipimpin oleh Majelis Hakim yang terdiri atas Nasri, S.H., M.H., selaku Hakim Ketua, dengan anggota Hendri Joni, S.H., M.H., dan Yenni, S.H., M.H.
Adapun Penuntut Umum yang hadir dalam persidangan terdiri atas Irisa Nadeja, S.H., M.H., Pitria Erwina, S.H., M.H., dan Arif Fansuri, S.H., M.H.
Sementara itu, Terdakwa Ahmad Zuridin didampingi tim Penasihat Hukum yang terdiri atas Dr. Suharizal, S.H., S.E., M.H., M.Kn., M.M., M.IP., CLA., Remon Riyan, S.H., Winda Adelia, S.H., serta Gerry Kurnia Dichi, S.H.
Sedangkan Terdakwa Budi Utomo didampingi tim Penasihat Hukum yang terdiri atas H. Yul Akhyari Sastra, S.H., H. Mhd. Faisal, S.H., M.H., Dini Puspita Sari, S.H., M.H., Budi Amirlius, S.H., Dichi Khalik, S.H., Mardian, S.H., dan Puji Hendrianisa, S.H.
Penasihat Hukum Ahmad Zuridin Minta Dakwaan Dinyatakan Batal Demi Hukum
Dalam agenda persidangan tersebut, tim Penasihat Hukum Terdakwa Ahmad Zuridin membacakan nota perlawanan atau eksepsi terhadap surat dakwaan yang telah disusun oleh Penuntut Umum.
Melalui eksepsi tersebut, Penasihat Hukum memohon kepada Majelis Hakim agar menerima dan mengabulkan seluruh perlawanan yang diajukan oleh pihak terdakwa terhadap surat dakwaan Penuntut Umum.
Selain itu, tim Penasihat Hukum meminta Majelis Hakim menetapkan bahwa Terdakwa Ahmad Zuridin tidak dapat diperiksa dan diadili berdasarkan surat dakwaan Penuntut Umum yang menurut penilaian mereka mengandung cacat hukum.
Penasihat Hukum juga memohon agar surat dakwaan tersebut dinyatakan batal demi hukum atau setidak-tidaknya dinyatakan tidak dapat diterima.
Tidak hanya itu, dalam petitumnya, Penasihat Hukum turut meminta agar Terdakwa Ahmad Zuridin dikeluarkan dari tahanan, pemeriksaan perkara tidak dilanjutkan, serta terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan.
Selanjutnya, Penasihat Hukum memohon agar hak-hak terdakwa dipulihkan, khususnya dalam hal kemampuan, kedudukan, harkat, serta martabatnya. Adapun biaya perkara dimohonkan untuk dibebankan kepada negara.
Sebagai alternatif, apabila Majelis Hakim memiliki pertimbangan hukum yang berbeda, Penasihat Hukum memohon agar diberikan putusan yang seadil-adilnya atau ex aequo et bono.
Penasihat Hukum Budi Utomo Persoalkan Pemenuhan Syarat Materiil Dakwaan
Pada kesempatan yang sama, tim Penasihat Hukum Terdakwa Budi Utomo juga menyampaikan perlawanan atau eksepsi terhadap surat dakwaan Penuntut Umum.
Dalam permohonannya, Penasihat Hukum meminta Majelis Hakim menerima dan mengabulkan perlawanan yang diajukan oleh pihak terdakwa.
Secara khusus, tim Penasihat Hukum meminta agar surat dakwaan Penuntut Umum dinyatakan batal demi hukum apabila terbukti tidak memenuhi persyaratan materiil sebagaimana ditentukan dalam Pasal 75 ayat (2) huruf b juncto Pasal 75 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Permohonan tersebut diajukan dengan harapan agar Majelis Hakim dapat mempertimbangkan pemenuhan ketentuan hukum acara pidana dalam penyusunan surat dakwaan, beserta segala akibat hukum yang menyertainya.
Dengan dibacakannya eksepsi dari kedua tim Penasihat Hukum tersebut, masing-masing terdakwa telah menyampaikan keberatan terhadap surat dakwaan Penuntut Umum melalui mekanisme hukum acara yang tersedia.
Sidang Dilanjutkan dengan Tanggapan Penuntut Umum
Setelah seluruh rangkaian pembacaan perlawanan atau eksepsi dari masing-masing Penasihat Hukum selesai dilaksanakan, Majelis Hakim menyampaikan agenda persidangan berikutnya.
Sidang selanjutnya dijadwalkan pada Rabu, 2 Desember 2026, dengan agenda penyampaian pendapat atau tanggapan Penuntut Umum atas perlawanan yang diajukan oleh Advokat atau Penasihat Hukum kedua terdakwa.
Agenda tersebut menjadi tahapan penting dalam proses pemeriksaan perkara, karena Penuntut Umum akan diberikan kesempatan untuk menyampaikan tanggapan terhadap berbagai keberatan yang telah disampaikan oleh masing-masing tim Penasihat Hukum terdakwa.
Selanjutnya, Majelis Hakim akan mempertimbangkan seluruh aspek hukum yang menjadi pokok perlawanan sesuai dengan ketentuan hukum acara pidana yang berlaku.
Persidangan Berlangsung Aman dan Lancar
Berdasarkan pemantauan selama pelaksanaan persidangan, kegiatan tersebut dihadiri oleh kurang lebih 15 orang pengunjung sidang.
Seluruh rangkaian persidangan berlangsung tertib, aman, dan lancar tanpa adanya gangguan yang berarti. Persidangan berakhir sekitar pukul 13.17 WIB.
Perkara dugaan korupsi pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Labuhan Bajau Tahun Anggaran 2019 dan 2020 ini menjadi salah satu perkara tindak pidana korupsi yang tengah diproses di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Kelas IA Padang.
Dengan telah dibacakannya eksepsi oleh masing-masing Penasihat Hukum, proses persidangan kini memasuki tahapan penyampaian tanggapan Penuntut Umum sebelum Majelis Hakim melanjutkan pemeriksaan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Perkembangan perkara ini selanjutnya akan ditentukan melalui proses persidangan dan pertimbangan Majelis Hakim berdasarkan fakta-fakta serta ketentuan hukum yang berlaku.
Sumber: Jajaran Intelijen Kejaksaan Negeri Kepulauan