SUMBARNET - Kepala Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat, Armizoprades, ST., MT., bersama Plt. Kepala Bidang Cipta Karya, Febie Yandra, ST., M.Si., melakukan kunjungan dan monitoring ke Stadion Utama Sumatera Barat.


Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah memastikan kondisi dan kesiapan fasilitas Stadion Utama Sumatera Barat, khususnya dalam mendukung penyelenggaraan berbagai kegiatan dan event olahraga, terutama pertandingan sepak bola yang akan digelar di Sumatera Barat.


Dalam kunjungan tersebut, jajaran Dinas BMCKTR Sumatera Barat meninjau secara langsung sejumlah bagian stadion untuk melihat kondisi fasilitas yang masih membutuhkan penyelesaian maupun peningkatan. 


Monitoring dilakukan sekaligus untuk mengidentifikasi kebutuhan penanganan dan pendanaan yang diperlukan agar fasilitas stadion dapat memenuhi aspek keamanan, kenyamanan, fungsi, dan kelayakan bagi seluruh pengguna.


Armizoprades mengatakan, monitoring lapangan menjadi langkah penting untuk mendapatkan gambaran secara faktual mengenai kondisi fasilitas stadion sekaligus menentukan bagian-bagian yang perlu menjadi prioritas penanganan.


“Kunjungan ini kita lakukan untuk melihat secara langsung kondisi terkini Stadion Utama Sumatera Barat. Kita ingin memastikan fasilitas yang ada benar-benar dapat menunjang kegiatan olahraga, khususnya event sepak bola, sehingga stadion ini nantinya dapat dimanfaatkan secara optimal, aman dan nyaman,” ujar Armizoprades.


Menurutnya, keberadaan Stadion Utama Sumatera Barat memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan olahraga di daerah.

 

Karena itu, kesiapan sarana dan prasarana menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian agar stadion mampu memberikan pelayanan yang baik kepada atlet, penonton, maupun masyarakat.


Dari hasil monitoring dan identifikasi di lapangan, terdapat sejumlah kebutuhan fasilitas yang perlu menjadi perhatian untuk mendukung peningkatan kesiapan stadion. Salah satunya adalah penyelesaian fasilitas sanitair pada zona Tribun Barat.


Selain itu, kebutuhan penanganan juga terdapat pada sejumlah fasilitas di Tribun Utara, Tribun Timur, dan Tribun Selatan, meliputi railing, toilet, serta akses tangga.


Fasilitas-fasilitas tersebut dinilai penting karena berkaitan langsung dengan aspek keselamatan, aksesibilitas, kebersihan, serta kenyamanan pengguna stadion.

 

Penanganan secara bertahap diharapkan dapat meningkatkan kualitas fasilitas sekaligus mendukung kelancaran penyelenggaraan kegiatan olahraga dengan jumlah penonton yang cukup besar.


Armizoprades menegaskan, hasil monitoring tersebut selanjutnya menjadi bahan dalam penyusunan kebutuhan pendanaan dan penentuan skala prioritas pekerjaan yang diperlukan.


“Kita mengidentifikasi kebutuhan yang memang harus diselesaikan, terutama fasilitas yang berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan pengguna. Hasil identifikasi ini akan menjadi bahan bagi kita untuk melihat kebutuhan pendanaannya serta menentukan prioritas penanganan sesuai kondisi dan kemampuan anggaran,” katanya.


Ia menjelaskan, penyiapan fasilitas stadion tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik semata, tetapi juga bagaimana setiap fasilitas dapat berfungsi dengan baik ketika stadion digunakan untuk kegiatan olahraga maupun event lainnya.


Menurut Armizoprades, fasilitas seperti toilet, sanitair, railing dan akses tangga merupakan bagian yang tidak dapat dipandang sederhana. 


Keberadaan fasilitas tersebut sangat menentukan kenyamanan sekaligus keselamatan penonton dan pengguna stadion, terutama ketika stadion digunakan dalam kegiatan yang melibatkan banyak orang.


“Kita ingin stadion ini tidak hanya terlihat representatif secara fisik, tetapi juga benar-benar fungsional. Ketika masyarakat datang menonton pertandingan atau mengikuti event di sini, mereka harus mendapatkan rasa aman dan nyaman. Itu yang menjadi salah satu perhatian kita dalam penyiapan fasilitas,” ungkapnya.


Lebih lanjut, Armizoprades berharap upaya monitoring dan identifikasi kebutuhan tersebut dapat menjadi bagian dari langkah bersama untuk mempercepat kesiapan Stadion Utama Sumatera Barat.


Ia menilai, apabila fasilitas stadion dapat diselesaikan dan ditingkatkan secara bertahap, keberadaan stadion tersebut akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi Sumatera Barat, khususnya dalam mendukung kegiatan olahraga dan penyelenggaraan berbagai event sepak bola.


“Harapan kita tentu Stadion Utama Sumatera Barat ini semakin siap dimanfaatkan. Dengan fasilitas yang aman, nyaman dan representatif, kita berharap stadion ini dapat menjadi salah satu sarana olahraga yang mampu mendukung berbagai event di Sumatera Barat sekaligus memberikan pelayanan yang baik bagi atlet, penonton dan masyarakat,” tutur Armizoprades.


Ia juga menekankan pentingnya pemeliharaan dan pengelolaan fasilitas setelah pekerjaan penyempurnaan dilakukan.

 

Menurutnya, keberlanjutan pemanfaatan stadion harus diiringi dengan perhatian terhadap kondisi sarana dan prasarana agar tetap berfungsi secara optimal dalam jangka panjang.


Kunjungan lapangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Dinas BMCKTR Provinsi Sumatera Barat dalam memastikan pembangunan dan penyediaan infrastruktur daerah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Dengan adanya identifikasi kebutuhan secara langsung, pemerintah daerah diharapkan dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai fasilitas yang perlu diprioritaskan, termasuk kebutuhan pendanaan untuk penyelesaian maupun peningkatan fasilitas Stadion Utama Sumatera Barat.


Stadion yang memiliki fasilitas memadai dan dikelola dengan baik nantinya diharapkan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertandingan sepak bola, tetapi juga dapat menjadi salah satu pusat kegiatan olahraga dan event masyarakat di Sumatera Barat.


Melalui penanganan fasilitas secara bertahap dan terencana, Stadion Utama Sumatera Barat diharapkan semakin siap digunakan, memberikan rasa aman dan nyaman bagi seluruh pengguna, serta mampu mendukung peningkatan aktivitas olahraga dan penyelenggaraan event berskala daerah maupun lebih luas di masa mendatang. (**)



SUMBARNET - Hubungan persahabatan antara Kota Padang dan Kota Hildesheim, Jerman, kembali menorehkan sejarah baru. Wali Kota Padang Fadly Amran bersama Wali Kota Hildesheim Ingo Meyer meresmikan Jembatan Hildesheim di kawasan Batang Arau, Kota Padang, Jumat (7/8/2026).


Peresmian jembatan tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam rangkaian Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 sekaligus menandai semakin eratnya hubungan sister city atau kota kembar antara Padang dan Hildesheim yang telah terjalin sejak 1988.


Prosesi peresmian ditandai dengan pengguntingan pita, penandatanganan prasasti, serta pembukaan selubung papan nama Jembatan Hildesheim oleh kedua kepala daerah.


Turut hadir Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Denny Abdi, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, Ketua TP-PKK Kota Padang Ny. Dian Fadly Amran, Ketua GOW Kota Padang Ny. Sri Hayati Maigus Nasir, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion, unsur Forkopimda, serta sejumlah tamu undangan.


Peresmian tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Kehadiran Wali Kota Hildesheim di Kota Padang menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kembali hubungan kedua kota yang telah berlangsung selama hampir empat dekade.


Bukan Sekadar Nama Jembatan


Wali Kota Padang Fadly Amran mengatakan, pemberian nama Jembatan Hildesheim bukan sekadar penamaan sebuah infrastruktur.


Menurutnya, jembatan tersebut merupakan simbol penghormatan sekaligus bentuk nyata hubungan persahabatan antara masyarakat Padang dan Hildesheim.


“Pada 23 Juni 2022, Kota Hildesheim secara resmi memberikan nama salah satu jembatan di kotanya sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan persahabatan dengan Kota Padang. Hari ini, Kota Padang dengan bangga membalas penghormatan tersebut dengan memberikan nama Jembatan Hildesheim kepada jembatan ini,” ujar Fadly.


Dengan demikian, kini terdapat dua jembatan yang menggunakan nama masing-masing kota sebagai simbol hubungan persahabatan tersebut.


Di Hildesheim terdapat Jembatan Padang, sementara di Kota Padang kini berdiri Jembatan Hildesheim.

Fadly menilai keberadaan dua jembatan tersebut memiliki makna diplomasi yang kuat karena menjadi simbol yang dapat dilihat dan dikenang oleh masyarakat dari kedua kota.


“Jembatan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan simbol persahabatan yang telah terjalin selama empat dekade,” tegasnya.


Hubungan 38 Tahun Terus Diperkuat


Hubungan sister city Padang dan Hildesheim telah dimulai sejak 1988.


Selama kurun waktu tersebut, hubungan kedua kota berkembang melalui berbagai bentuk kerja sama dan interaksi antarmasyarakat.


Bagi Fadly, hubungan yang telah bertahan selama 38 tahun tersebut merupakan modal penting untuk membuka lebih banyak peluang kolaborasi pada masa mendatang.


Ia berharap simbol persahabatan yang diwujudkan melalui Jembatan Hildesheim dapat diikuti dengan semakin banyak kerja sama konkret yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.


“Kami berharap jembatan ini menjadi simbol persahabatan dua negara yang menghadirkan lebih banyak kolaborasi dalam mendukung pembangunan, serta bermanfaat bagi masyarakat Kota Padang,” katanya.


Menurutnya, kerja sama antarkota tidak semestinya hanya berhenti pada hubungan seremonial.

Hubungan tersebut harus dapat diterjemahkan menjadi kolaborasi nyata dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, lingkungan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan pembangunan perkotaan.


Hildesheim Juga Memiliki Jembatan Padang


Wali Kota Hildesheim, Ingo Meyer, menyambut penuh kebanggaan peresmian Jembatan Hildesheim di Kota Padang.


Menurutnya, pemberian nama tersebut menunjukkan bahwa hubungan kedua kota bukan sekadar kerja sama formal, tetapi telah berkembang menjadi persahabatan yang memiliki simbol nyata di masing-masing kota.


“Di Hildesheim telah berdiri Jembatan Padang, dan hari ini di Padang berdiri Jembatan Hildesheim,” ujar Ingo Meyer.


Ia menyebut keberadaan dua jembatan tersebut sebagai simbol luar biasa dari persahabatan yang telah dibangun dan dipelihara sejak 1988.


“Inilah simbol yang luar biasa dari persahabatan yang telah kita bangun dan pelihara sejak tahun 1988. Saya merasa sangat bangga dan bahagia dapat menyaksikan momen bersejarah ini bersama masyarakat Kota Padang,” katanya.


Menurut Ingo, hubungan kedua kota memiliki sejarah panjang yang perlu terus dijaga oleh generasi berikutnya.


Karena itu, ia berharap hubungan Padang dan Hildesheim tidak hanya menjadi bagian dari sejarah masa lalu, tetapi terus berkembang dengan berbagai bentuk kerja sama baru.


Momentum HJK Padang ke-357

Peresmian Jembatan Hildesheim juga memiliki makna khusus karena dilaksanakan bertepatan dengan rangkaian peringatan HJK Padang ke-357.


Fadly mengatakan, usia panjang Kota Padang menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan sejarah kota sekaligus memperkuat hubungan dengan berbagai mitra di tingkat nasional maupun internasional.


Selama lebih dari tiga abad, Padang telah mengalami berbagai perubahan dan perkembangan.


Namun, identitas sejarah, budaya dan nilai kebersamaan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.


Dalam konteks tersebut, hubungan Padang dengan Hildesheim menjadi salah satu contoh bagaimana hubungan antarkota dapat terus bertahan dan berkembang melewati perubahan zaman.


Jembatan Hildesheim yang berada di kawasan Batang Arau pun diharapkan menjadi salah satu penanda sejarah baru bagi Kota Padang.


Batang Arau dan Masa Depan Kota Tua


Lokasi Jembatan Hildesheim di kawasan Batang Arau juga memiliki arti strategis.


Batang Arau merupakan salah satu kawasan penting dalam sejarah perkembangan Kota Padang.


Kawasan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan sejarah pelabuhan, perdagangan, permukiman, hingga perkembangan kawasan Kota Tua.


Karena itu, penataan kawasan Batang Arau tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga dengan upaya menghidupkan kembali kawasan bersejarah dan meningkatkan daya tarik wisata Kota Padang.


Keberadaan jembatan yang menggunakan nama Hildesheim dapat menjadi bagian dari narasi tersebut.


Selain berfungsi sebagai penghubung aktivitas masyarakat, jembatan juga dapat menjadi penanda hubungan internasional yang dimiliki Kota Padang.


Kehadiran simbol persahabatan tersebut diharapkan mampu memperkaya identitas kawasan sekaligus menjadi bagian dari daya tarik bagi wisatawan.


Dari Simbol Menuju Kolaborasi Nyata


Fadly menegaskan, hubungan Padang dan Hildesheim ke depan harus terus diarahkan pada kerja sama yang memberikan manfaat nyata.


Menurutnya, dunia yang semakin terhubung membuka banyak peluang bagi pemerintah daerah untuk membangun jejaring internasional.


Kerja sama antarkota dapat menjadi pintu masuk untuk bertukar pengalaman, pengetahuan dan inovasi dalam menjawab berbagai persoalan perkotaan.


Bagi Kota Padang, pengalaman Hildesheim dapat menjadi referensi dalam pengembangan kota, sementara potensi yang dimiliki Padang juga dapat menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan dan kebudayaan dengan masyarakat Hildesheim.


Dengan hubungan yang telah berlangsung selama 38 tahun, kedua kota memiliki modal sosial yang kuat untuk memperluas kerja sama tersebut.


Warisan untuk Generasi Mendatang

Peresmian Jembatan Hildesheim pada akhirnya bukan hanya tentang sebuah infrastruktur baru di kawasan Batang Arau.


Lebih jauh, jembatan tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan antarmasyarakat dapat bertahan melintasi jarak, budaya dan batas negara.


Ketika warga Padang melewati Jembatan Hildesheim, nama tersebut diharapkan tidak hanya dipahami sebagai nama sebuah jembatan, tetapi juga sebagai simbol persahabatan dengan masyarakat Hildesheim.


Begitu pula ketika masyarakat Hildesheim melewati Jembatan Padang di kota mereka, nama Padang menjadi pengingat akan hubungan persahabatan yang telah dibangun sejak 1988.


Kini, kedua kota memiliki dua simbol yang saling berhadapan dalam semangat persahabatan.

Di tengah momentum HJK Padang ke-357, Jembatan Hildesheim menjadi pesan bahwa perjalanan panjang sebuah kota tidak hanya dibangun oleh jalan, gedung dan infrastruktur, tetapi juga oleh hubungan antarmanusia, kerja sama, kebudayaan dan persahabatan.


Dari Batang Arau, persahabatan Padang dan Hildesheim kembali diteguhkan. Bukan sekadar sebagai kenangan 38 tahun hubungan sister city, tetapi sebagai fondasi untuk membangun kolaborasi baru yang lebih luas dan bermanfaat bagi masyarakat kedua kota. (**)

 


SUMBARNET - Kota Padang memasuki usia ke-357 pada 7 Agustus 2026. Momentum tersebut diperingati Pemerintah Kota Padang bersama DPRD melalui Rapat Paripurna Istimewa Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 yang digelar di Gedung DPRD Kota Padang, Jumat (7/8/2026).


Rapat paripurna istimewa tersebut menjadi momentum refleksi perjalanan panjang Kota Padang sekaligus menyusun langkah menghadapi tantangan pembangunan ke depan.


Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Padang Fadly Amran, Wakil Wali Kota Maigus Nasir, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Denny Abdi, Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Asisten II Setdaprov Adib Alfikri, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion bersama seluruh anggota DPRD, unsur Forkopimda, mantan wali kota dan wakil wali kota Padang, pimpinan instansi vertikal, BUMN, BUMD, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan.


Hadir pula Ketua TP-PKK Provinsi Sumatera Barat, Ketua TP-PKK Kota Padang, Ketua GOW Kota Padang, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Padang, alim ulama, niniak mamak, bundo kanduang, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta perwakilan bupati dan wali kota se-Sumatera Barat.


Bagi Pemerintah Kota Padang, peringatan HJK ke-357 bukan sekadar perayaan pertambahan usia. Momentum tersebut dijadikan ruang untuk melihat kembali perjalanan sejarah, mengevaluasi kondisi hari ini, sekaligus menyiapkan arah pembangunan kota di masa mendatang.


357 Tahun Padang, Menatap Masa Depan Tanpa Kehilangan Identitas

Wali Kota Padang Fadly Amran mengatakan, Hari Jadi Kota harus dimaknai sebagai momentum untuk melakukan refleksi sekaligus memperkuat tekad membangun masa depan.


Menurutnya, perjalanan panjang Kota Padang telah membentuk identitas masyarakat yang kuat. Karena itu, kemajuan kota harus tetap berpijak pada nilai budaya dan filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau.


“Hari Jadi Kota menjadi saat untuk melihat masa lalu dengan hormat, membaca keadaan hari ini dengan jujur dan menyiapkan masa depan dengan berani,” ujar Fadly.


Ia menegaskan, pembangunan Kota Padang ke depan akan terus berpijak pada falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).


Falsafah tersebut menjadi landasan agar proses modernisasi dan transformasi kota tidak membuat Padang kehilangan karakter serta jati dirinya.


“Kita ingin maju tanpa kehilangan identitas, tumbuh tanpa meninggalkan masyarakat yang lemah, dan membangun tanpa merusak lingkungan,” tegasnya.


Transformasi Ekonomi Jadi Agenda Utama


Fadly menyampaikan bahwa semangat untuk bangkit dan membangun Padang ke depan akan dilanjutkan melalui Transformasi Ekonomi Kota Padang.


Menurutnya, transformasi ekonomi tidak boleh dipahami hanya sebagai upaya mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.


Transformasi harus menyentuh cara kota bekerja, meningkatkan produktivitas, memperkuat kualitas sumber daya manusia, memperluas lapangan kerja, menaikkan kelas usaha lokal, serta memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata.


Untuk meletakkan fondasi pencapaian tersebut, arah pembangunan telah dijabarkan dalam RPJMD Kota Padang Tahun 2025–2029.


Fokusnya mencakup penguatan tata kelola pemerintahan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, investasi, perdagangan dan jasa, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap bencana.


Fadly menilai transformasi ekonomi harus dilakukan dengan memperkuat potensi yang telah dimiliki Kota Padang.


Ia menyebut Padang merupakan kota jasa dengan sejumlah kekuatan utama yang dapat menjadi penggerak perekonomian daerah. 


Padang sebagai Kota Pendidikan

Salah satu kekuatan tersebut adalah posisi Padang sebagai kota pendidikan.


Saat ini terdapat puluhan perguruan tinggi di Kota Padang, termasuk 46 perguruan tinggi swasta, yang menjadi tujuan pendidikan bagi lebih dari 180 ribu mahasiswa.


Keberadaan mahasiswa, dosen, peneliti dan tenaga profesional tidak hanya memberikan kontribusi terhadap sektor pendidikan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang luas.


Aktivitas pendidikan ikut mendorong pertumbuhan sektor hunian, transportasi, kuliner, kesehatan, teknologi, hingga ekonomi kreatif.


Karena itu, menurut Fadly, ekosistem pendidikan harus terus dikembangkan agar dapat menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kota.


Kota pendidikan bukan hanya berarti banyaknya perguruan tinggi, tetapi juga bagaimana keberadaan institusi pendidikan mampu melahirkan inovasi, menciptakan talenta, mendorong riset, membangun industri berbasis pengetahuan dan membuka peluang ekonomi baru.


Pariwisata Tumbuh, Lama Tinggal Wisatawan Harus Diperpanjang


Selain pendidikan, Padang juga memiliki kekuatan sebagai kota pariwisata.


Fadly menyebut jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Padang pada 2025 mencapai 5,3 juta orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka sekitar 4,3 juta orang.


Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa Padang memiliki daya tarik yang semakin kuat bagi wisatawan.

Dari sisi retribusi objek wisata, capaian pada 2025 mencapai sekitar Rp922 juta, atau sekitar 153 persen dari target.


Namun, Fadly menegaskan bahwa keberhasilan sektor pariwisata tidak cukup hanya diukur dari jumlah kunjungan.


Tantangan berikutnya adalah bagaimana memperpanjang lama tinggal wisatawan, meningkatkan belanja wisatawan, memperbaiki kualitas destinasi, sekaligus memastikan manfaat pariwisata semakin luas dirasakan masyarakat.


Pengembangan pariwisata juga perlu terintegrasi dengan sektor ekonomi kreatif, kuliner, perdagangan, budaya dan UMKM agar dampak ekonomi yang dihasilkan semakin besar.


Perdagangan dan Konektivitas Perkuat Ekonomi Kota


Fadly juga menyoroti posisi Padang sebagai pusat perdagangan dan konektivitas di Sumatera Barat.


“Padang juga merupakan kota perdagangan dan konektivitas. Perdagangan besar dan eceran menyumbang 17,52 persen terhadap PDRB Kota Padang, sedangkan transportasi dan pergudangan menyumbang 15,68 persen,” jelasnya.


Menurut Fadly, angka tersebut menegaskan peran strategis Kota Padang sebagai pusat distribusi barang, orang dan jasa bagi Sumatera Barat serta kawasan pantai barat Sumatera.


Posisi tersebut harus terus diperkuat melalui peningkatan konektivitas, kualitas infrastruktur, kemudahan investasi dan penguatan sektor usaha lokal.


Dengan demikian, transformasi ekonomi yang dicanangkan Pemko Padang dapat menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas dan memberikan dampak lebih luas kepada masyarakat.


Pemulihan Pascabencana Jadi Titik Awal Transformasi


Dalam pidatonya, Fadly juga menyinggung bencana banjir yang terjadi pada 3 Agustus 2026.

Atas kejadian tersebut, Pemerintah Kota Padang menyampaikan keprihatinan mendalam kepada seluruh masyarakat yang terdampak.


Fadly mengatakan Pemko Padang bersama seluruh unsur terkait terus melakukan penanganan, mulai dari memastikan keselamatan warga, memenuhi kebutuhan dasar hingga memulihkan fasilitas dan pelayanan publik yang terganggu.


Namun, menurutnya, proses pemulihan tidak boleh sekadar mengembalikan kondisi kota seperti sebelum bencana.


“Titik awal transformasi ekonomi kita adalah pemulihan pascabencana hidrometeorologi. Rehabilitasi dan rekonstruksi harus menggunakan prinsip Build Back Better,” kata Fadly.


Menurutnya, jalan, jembatan, drainase, sungai, permukiman, pasar, kawasan pendidikan, pusat pelayanan hingga destinasi wisata tidak cukup hanya dikembalikan seperti semula.


Seluruhnya harus ditata kembali agar lebih aman, terhubung, produktif, inklusif dan tangguh menghadapi kemungkinan bencana berikutnya.


Keselamatan Warga Harus Jadi Prioritas


Fadly menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang bergerak cepat membantu masyarakat saat bencana terjadi.


“Kami menyampaikan terima kasih kepada BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, aparatur kecamatan dan kelurahan, para relawan, dunia usaha, serta seluruh masyarakat yang telah bergerak cepat dan bergotong royong membantu saudara-saudara kita,” ujarnya.


Ia menegaskan, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa ketangguhan kota tidak boleh berhenti sebagai dokumen perencanaan.


Keselamatan masyarakat, pembenahan drainase dan sungai, perlindungan kawasan resapan, serta penataan ruang berbasis risiko bencana harus menjadi pekerjaan nyata dan prioritas bersama.


Dengan demikian, pembangunan ekonomi dan pembangunan infrastruktur dapat berjalan seiring dengan peningkatan ketahanan kota terhadap ancaman bencana.


DPRD: Tantangan Harus Jadi Agenda Bersama


Ketua DPRD Kota Padang Muharlion mengatakan, di tengah berbagai capaian positif yang telah diraih Pemko Padang, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi Kota Padang.


Menurutnya, tantangan tersebut tidak boleh menjadi beban pemerintah daerah semata, tetapi harus menjadi agenda bersama seluruh elemen masyarakat.


“Tantangan itu harus menjadi agenda bersama agar dapat terselesaikan dengan baik, untuk mencapai itu perlu kolaborasi, mari kita berkolaborasi untuk pembangunan Kota Padang,” ujar Muharlion.


Ia menilai kolaborasi antara eksekutif, legislatif, dunia usaha, masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.


Pemprov: Kemajuan Padang adalah Kemajuan Sumbar


Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Asisten II Setdaprov Adib Alfikri menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Barat memandang kemajuan Kota Padang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kemajuan Sumatera Barat.


Menurutnya, Kota Padang memiliki posisi strategis sebagai ibu kota provinsi sekaligus pusat berbagai aktivitas pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan sosial.


“Karena itu pula pembangunan Kota Padang tidak boleh dipandang sebagai tanggungjawab Pemko Padang semata, tetapi pembangunan Kota Padang adalah kerja bersama, yang memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, Pemko Padang, DPRD, Forkopimda, dunia usaha, perguruang tinggi, komunitas dan banyak lainnya,” ujar Adib.


Ia menilai kolaborasi tersebut menjadi kekuatan utama untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di masa mendatang.


“Kolaborasi inilah yang menjadi kekuatan utama kita untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan di masa depan,” tambahnya.


Menurut Adib, ketika Padang tumbuh menjadi kota yang modern, nyaman, religius dan berdaya saing, yang mendapatkan manfaat bukan hanya masyarakat Kota Padang, tetapi seluruh masyarakat Sumatera Barat.


Denny Abdi Soroti Kerja Sama Internasional dan Batang Arau


Tokoh masyarakat yang juga Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Denny Abdi turut memberikan apresiasi terhadap berbagai langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Padang.


Menurutnya, sejumlah kebijakan yang dilakukan Wali Kota Padang menunjukkan adanya upaya untuk membawa Padang berkembang melalui kerja sama dan jejaring yang lebih luas.


Ia juga menyoroti kerja sama internasional yang terus dibangun Pemko Padang.


“Hubungan baik ini akan bisa merakit sebuah kerja sama yang dapat membawa kesejahteraan bagi Kota Padang,” kata Denny.


Selain kerja sama internasional, Denny juga menyoroti langkah Pemko Padang dalam membersihkan kawasan Sungai Batang Arau.


Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya sebatas mengangkat sampah dan bangkai kapal yang berada di sungai, tetapi juga menyentuh penataan masyarakat di sekitar Batang Arau agar tidak lagi membuang air kotor ke sungai.


Denny menilai kebersihan Batang Arau memiliki kaitan erat dengan masa depan sektor pariwisata Kota Padang.


“Apabila Batang Arau bersih, promosi pariwisata Kota Padang bisa kita dorong, yang perlu dihadirkan di tengah kita yakni bersih, rapi, dan hospitality,” ujarnya.


Menyatukan Sejarah, Identitas dan Masa Depan


Rapat Paripurna Istimewa HJK Padang ke-357 pada akhirnya menjadi momentum untuk menyatukan refleksi sejarah dengan agenda masa depan.


Usia 357 tahun menjadi pengingat bahwa Kota Padang telah melewati perjalanan panjang dengan berbagai dinamika.


Namun, perjalanan tersebut juga menjadi modal untuk menghadapi tantangan baru.


Pembangunan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan pariwisata, penguatan perdagangan dan konektivitas, penataan lingkungan, hingga peningkatan ketahanan terhadap bencana menjadi agenda yang harus dikerjakan secara berkelanjutan.


Di sisi lain, nilai-nilai budaya dan identitas masyarakat tetap menjadi pijakan dalam setiap proses pembangunan.


Fadly menegaskan, Padang harus mampu bergerak maju tanpa kehilangan jati diri, membangun perekonomian tanpa meninggalkan kelompok masyarakat yang lemah, serta mengejar pertumbuhan tanpa mengorbankan lingkungan.


Momentum HJK ke-357 pun diharapkan menjadi titik penguatan komitmen seluruh elemen kota untuk bergerak dalam satu arah.


Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemprov Sumbar, Pemko Padang, DPRD, Forkopimda, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas dan masyarakat, berbagai tantangan pembangunan diharapkan dapat diubah menjadi peluang.


Pada usia ke-357, Padang tidak hanya merayakan perjalanan masa lalunya, tetapi juga meneguhkan tekad untuk membangun masa depan yang lebih maju, inklusif, tangguh, berdaya saing dan tetap berakar kuat pada identitas budaya Minangkabau. (**)



SUMBARNET - Ribuan masyarakat memadati kawasan Pantai Cimpago, Kota Padang, Kamis malam (6/8/2026), untuk menyaksikan kemeriahan Festival Pawai Telong-Telong dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357.


Pawai yang diikuti perwakilan dari 11 kecamatan se-Kota Padang tersebut berlangsung semarak dengan menampilkan beragam kreasi arak-arakan yang mengangkat simbol perjuangan, seni budaya, serta potensi unggulan dari masing-masing kecamatan.


Cahaya telong-telong yang menghiasi arak-arakan peserta berpadu dengan antusiasme masyarakat yang memadati sepanjang kawasan Pantai Cimpago.

 

Festival tersebut sekaligus menjadi salah satu agenda pembuka rangkaian HJK Padang ke-357 yang mengusung tema “Taste of Padang Experience: Road to Gastronomy City.”


Pawai dibuka langsung Wali Kota Padang Fadly Amran, didampingi Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir. Kehadiran kepala daerah bersama ribuan warga menjadikan kegiatan tersebut bukan hanya sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga momentum memperkuat kebersamaan masyarakat.


Sejumlah tamu penting turut hadir, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) II Laksamana Muda TNI Sarimpunan Tanjung, Wali Kota Hildesheim, Jerman Ingo Meyer, Direktur Pembangunan, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri RI Tri Purnajaya, Resident Representative United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia Sara Ferrer Olivella, Konsul Jenderal Jepang di Medan Furugori Toru, serta delegasi dari Malaysia, Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), dan sejumlah negara sahabat lainnya.


Turut hadir Ketua TP-PKK Kota Padang Ny. Dian Fadly Amran, Ketua GOW Kota Padang Ny. Sri Hayati Maigus Nasir, unsur Forkopimda, pimpinan OPD di lingkungan Pemko Padang, serta pimpinan BUMD dan BUMN.


Telong-Telong Bukan Sekadar Atraksi Budaya


Wali Kota Padang Fadly Amran menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme masyarakat dan semangat seluruh peserta yang ikut memeriahkan Pawai Telong-Telong.


Menurut Fadly, tumpah ruah masyarakat menunjukkan bahwa perayaan HJK bukan hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi telah menjadi momentum bersama seluruh masyarakat Kota Padang untuk merayakan identitas dan kebanggaan terhadap daerah.


“Tumpah ruah warga, semangat para peserta, dan antusiasme para tamu undangan semuanya bersatu memeriahkan kegiatan kota kita tercinta. Ini adalah bentuk nyata dukungan kita terhadap visi dan misi kejayaan Kota Padang,” ujar Fadly Amran.


Ia menilai Pawai Telong-Telong memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan seni dan budaya.


Menurutnya, berbagai kreasi yang ditampilkan peserta merupakan simbol kebersamaan dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam membangun Kota Padang.


Di sisi lain, semangat perjuangan yang diangkat melalui berbagai penampilan juga menjadi pengingat terhadap sejarah perjuangan para pendahulu bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.


Jadi Momentum Bangkit Pascabencana


Fadly mengatakan, nilai perjuangan yang dibawa dalam Pawai Telong-Telong juga relevan dengan kondisi Kota Padang saat ini.


Semangat perjuangan para pahlawan diharapkan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk menghadapi berbagai tantangan dan bangkit bersama setelah bencana yang melanda Kota Padang.


Menurutnya, pembangunan daerah harus terus berjalan dengan dukungan seluruh pihak. Pemerintah daerah bersama pemerintah provinsi dan pemerintah pusat terus berupaya menjalankan berbagai program pembangunan yang diharapkan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.


“Kita berharap seluruh program pembangunan yang saat ini sedang berproses, baik oleh Pemerintah Kota Padang, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat maupun pemerintah pusat, dapat berjalan sesuai rencana sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” kata Fadly.


Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan optimisme. Tantangan yang dihadapi kota tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi masyarakat serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.


Pawai Telong-Telong, kata Fadly, menjadi gambaran bagaimana kebersamaan tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.


11 Kecamatan Tampilkan Kreativitas

Salah satu daya tarik utama Festival Pawai Telong-Telong adalah keterlibatan seluruh kecamatan di Kota Padang.


Sebanyak 11 kecamatan mengirimkan perwakilan untuk mengikuti pawai dan menampilkan kreasi masing-masing.


Setiap kontingen membawa konsep arak-arakan yang mengangkat karakter, potensi dan kreativitas wilayah masing-masing. Unsur seni budaya dipadukan dengan simbol perjuangan dan berbagai potensi unggulan sehingga menghasilkan penampilan yang beragam.


Keterlibatan seluruh kecamatan tersebut sekaligus memperlihatkan keberagaman yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Padang.


Masyarakat yang memadati kawasan Pantai Cimpago dapat menikmati berbagai penampilan dalam satu rangkaian pawai.


Kehadiran ribuan warga sejak malam hari menunjukkan bahwa kegiatan berbasis budaya masih memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat.


Selain menjadi hiburan, pawai juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berinteraksi, berkumpul dan memperkuat rasa kebersamaan.


Padang Menuju Kota Gastronomi Dunia


Festival Pawai Telong-Telong juga menjadi bagian dari agenda besar Pemerintah Kota Padang dalam memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara.


Rangkaian HJK Padang ke-357 mengusung tema “Taste of Padang Experience: Road to Gastronomy City.”


Tema tersebut tidak hanya mengangkat kekayaan kuliner Padang, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperkuat posisi Kota Padang sebagai destinasi wisata berbasis gastronomi.


Fadly Amran mengatakan, Kota Padang memiliki modal kuat untuk mengembangkan sektor gastronomi, salah satunya melalui keberadaan Nasi Padang yang telah dikenal luas hingga mancanegara.


Menurutnya, kekuatan kuliner tersebut perlu dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata yang lebih luas dengan melibatkan budaya, sejarah, ekonomi kreatif, masyarakat serta pelaku usaha.


“Kita berharap potensi gastronomi yang dimiliki Kota Padang, dengan Nasi Padang yang telah mendunia sebagai salah satu kekuatannya, mampu mengantarkan Kota Padang menjadi Kota Gastronomi Dunia dari UNESCO,” ujar Fadly.


Dengan status tersebut, ia berharap Kota Padang semakin dikenal sebagai destinasi wisata unggulan, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.


“Dengan demikian, Kota Padang semakin dikenal sebagai destinasi wisata unggulan, baik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” lanjutnya.


Perayaan HJK Jadi Ruang Promosi Kota


Kehadiran sejumlah tamu dan delegasi internasional dalam Pawai Telong-Telong turut memberikan warna tersendiri dalam perayaan HJK Padang ke-357.


Kehadiran delegasi dari Malaysia, Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, DMDI dan negara sahabat lainnya menunjukkan bahwa rangkaian HJK juga menjadi ruang diplomasi budaya dan promosi daerah.


Bagi Kota Padang, kegiatan semacam ini dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat internasional.


Tidak hanya kuliner, Padang memiliki berbagai potensi lain, mulai dari budaya Minangkabau, kawasan pesisir, sejarah kota, ekonomi kreatif, hingga kekayaan alam yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.


Konsep tersebut sejalan dengan semangat Taste of Padang Experience, yakni menghadirkan pengalaman yang lebih luas bagi siapa pun yang datang ke Kota Padang.


Kolaborasi untuk Kemajuan Kota

Fadly menegaskan, kemajuan Kota Padang membutuhkan kolaborasi semua pihak.


Pemerintah kota tidak dapat bekerja sendiri dalam menjalankan pembangunan. Dukungan pemerintah provinsi, pemerintah pusat, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat, komunitas, hingga mitra internasional diperlukan untuk memastikan setiap program dapat berjalan secara optimal.


Karena itu, semangat kebersamaan yang terlihat dalam Festival Pawai Telong-Telong diharapkan dapat terus dipertahankan dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan kota.


Kemeriahan pawai juga menjadi gambaran bahwa masyarakat memiliki energi positif dan optimisme untuk terus bergerak maju.


Dengan semangat tersebut, peringatan HJK Padang ke-357 tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan sejarah kota, tetapi juga menjadi titik untuk menatap masa depan.


Dari Budaya Menuju Kota Berkelas Dunia


Pawai Telong-Telong memperlihatkan bahwa kekuatan Kota Padang tidak hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kekayaan budaya dan semangat masyarakatnya.


Tradisi, kreativitas, kuliner, sejarah, serta kehidupan masyarakat menjadi modal sosial yang dapat dikembangkan untuk memperkuat daya tarik kota.


Melalui tema “Taste of Padang Experience: Road to Gastronomy City”, Pemko Padang ingin membawa potensi tersebut ke tingkat yang lebih luas.


Upaya menuju pengakuan sebagai Kota Gastronomi Dunia UNESCO tentu membutuhkan proses panjang, kolaborasi dan konsistensi. Namun, berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat dan memperkenalkan kekayaan budaya Padang menjadi bagian dari proses tersebut.


Festival Pawai Telong-Telong menjadi salah satu contoh bagaimana budaya lokal dapat dikemas menjadi atraksi yang menarik sekaligus memiliki pesan pembangunan.


Ribuan warga yang memadati Pantai Cimpago pada malam itu bukan hanya menjadi saksi kemeriahan HJK Padang ke-357, tetapi juga bagian dari semangat bersama untuk membawa Kota Padang terus bergerak maju.


Dengan menjaga budaya, memperkuat kolaborasi, mengembangkan potensi gastronomi dan terus membangun optimisme masyarakat, Pemerintah Kota Padang berharap cita-cita menjadikan Padang sebagai kota yang semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional dapat terwujud.


Pawai Telong-Telong pun menjadi simbol bahwa di tengah berbagai tantangan, semangat masyarakat Kota Padang untuk bangkit, berkarya dan merayakan identitas kotanya tetap menyala. (**)

 


PADANG — Suasana meriah mewarnai rangkaian Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 melalui penyelenggaraan Festival Telong-Telong di kawasan Danau Cimpago, Kamis (7/8/2026).


Festival yang menampilkan beragam atraksi, kreativitas, serta seni dan budaya dari berbagai kecamatan di Kota Padang tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

 

Sejak pagi sekitar pukul 07.00 WIB, warga mulai memadati kawasan Danau Cimpago untuk menyaksikan langsung kemeriahan kegiatan tahunan tersebut.


Tidak hanya masyarakat umum, festival juga diramaikan para peserta dan kontingen dari masing-masing kecamatan yang tampil membawa kekhasan serta kreativitas daerah masing-masing.


Beragam penampilan yang disuguhkan membuat suasana di sekitar lokasi kegiatan semakin semarak. Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya pengunjung yang bertahan mengikuti rangkaian acara dan memberikan apresiasi terhadap berbagai atraksi yang ditampilkan.


Jadi Hiburan Sekaligus Edukasi Budaya


Bagi masyarakat, Festival Telong-Telong bukan hanya menjadi agenda hiburan dalam rangka memperingati hari jadi Kota Padang. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dinilai menjadi ruang untuk mengenalkan kembali kekayaan seni dan budaya kepada masyarakat, terutama generasi muda.


Kehadiran kontingen dari berbagai kecamatan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat beragam kreativitas yang tumbuh di lingkungan masing-masing wilayah di Kota Padang.


Penampilan tersebut juga memperlihatkan bagaimana seni dan budaya lokal dapat dikemas secara kreatif sehingga menarik perhatian masyarakat dari berbagai kelompok usia.


Salah seorang pengunjung, Siti Nuraini, mengaku senang dan terhibur menyaksikan berbagai penampilan yang disuguhkan dalam festival tersebut.


“Kesannya kami sangat senang, bahagia, dan terhibur dengan bermacam-macam penampilan yang disajikan oleh setiap kecamatan. Sungguh kami sangat terhibur dan senang. Luar biasa, bagus, dan keren. Selamat Hari Jadi Kota Padang ke-357,” ujar Siti.


Menurutnya, keberagaman penampilan menjadi salah satu daya tarik utama Festival Telong-Telong. Setiap kontingen menghadirkan kreativitas masing-masing sehingga suasana festival tidak monoton.


Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dipertahankan sebagai bagian dari agenda budaya Kota Padang.


Pengunjung Beri Nilai 10/10

Antusiasme serupa disampaikan pengunjung lainnya, Dinda, yang mengaku sengaja datang untuk meramaikan Festival Telong-Telong.


Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki daya tarik tersendiri karena hanya digelar satu kali dalam setahun sebagai bagian dari rangkaian peringatan HJK Kota Padang.


“Karena kan acaranya cuma satu kali satu tahun dilaksanakan di Kota Padang, jadi kami sangat antusias buat meramaikan acaranya,” kata Dinda.


Bagi Dinda yang baru pertama kali menyaksikan festival tersebut secara langsung, kegiatan ini juga memberikan pengalaman dan pengetahuan baru mengenai seni serta budaya yang ada di Kota Padang.


“Menurut aku, karena ini pertama kali datang, jadinya makin banyak belajar,” ujarnya.


Ia bahkan memberikan penilaian tinggi terhadap keseluruhan pelaksanaan festival.


“Untuk rating-nya 10/10. Keren menampilkan dari beberapa kecamatan di Kota Padang, terus ada hiburannya. Keren pokoknya, semoga acaranya ada setiap tahun,” tutur Dinda.


Masyarakat Apresiasi Kreativitas Setiap Kecamatan


Kemeriahan Festival Telong-Telong tidak terlepas dari keterlibatan kontingen dari berbagai kecamatan di Kota Padang.


Masing-masing kontingen membawa kreativitas dan konsep penampilan yang berbeda. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri karena masyarakat dapat menyaksikan beragam bentuk seni dan atraksi dalam satu rangkaian kegiatan.


Bagi warga, keberadaan festival seperti ini juga memberikan ruang bagi para pelaku seni, generasi muda dan masyarakat untuk berpartisipasi secara langsung dalam kegiatan kebudayaan.


Tidak hanya tampil sebagai tontonan, kreativitas yang ditampilkan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan seni dan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.


Festival Telong-Telong sekaligus menjadi ruang pertemuan masyarakat dari berbagai wilayah di Kota Padang. Warga dapat berkumpul, menikmati pertunjukan, sekaligus merasakan semarak perayaan HJK bersama-sama.


Datang Sejak Pagi

Antusiasme masyarakat bahkan sudah terlihat sejak pagi. Kawasan Danau Cimpago mulai ramai didatangi pengunjung sekitar pukul 07.00 WIB.


Kehadiran masyarakat sejak pagi menunjukkan tingginya minat warga untuk mengikuti kegiatan budaya yang hanya digelar pada momentum tertentu tersebut.


Bagi sebagian pengunjung, Festival Telong-Telong menjadi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga maupun teman sambil menikmati pertunjukan yang disajikan oleh peserta dari berbagai kecamatan.


Suasana semakin semarak dengan dukungan warga yang memberikan apresiasi terhadap setiap penampilan.


Kemeriahan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan budaya yang dikemas dengan pendekatan kreatif masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat.


Harapan Festival Terus Dilestarikan


Selain memberikan hiburan, masyarakat berharap Festival Telong-Telong dapat terus dipertahankan dan diselenggarakan secara konsisten setiap tahun.


Kegiatan tersebut dinilai memiliki manfaat yang lebih luas karena menjadi sarana untuk memperkenalkan seni dan budaya lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.


Konsistensi penyelenggaraan juga dianggap penting agar tradisi dan kreativitas budaya yang berkembang di tengah masyarakat tidak terputus.


Masyarakat berharap setiap pelaksanaan festival ke depan dapat terus menghadirkan inovasi baru tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas Kota Padang.


Dengan melibatkan berbagai kecamatan, Festival Telong-Telong juga dapat menjadi ruang bagi setiap wilayah untuk menunjukkan potensi dan kreativitasnya.


Telong-Telong Jadi Bagian dari Identitas HJK Padang


Festival Telong-Telong menjadi salah satu warna penting dalam rangkaian HJK Padang ke-357.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa perayaan hari jadi kota tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk menikmati seni, budaya dan kreativitas lokal.


Antusiasme pengunjung seperti yang disampaikan Siti Nuraini dan Dinda menjadi gambaran bahwa kegiatan budaya masih dinantikan masyarakat.


Apresiasi terhadap penampilan dari berbagai kecamatan juga menjadi sinyal positif bahwa ruang-ruang ekspresi seni perlu terus dibuka dan dikembangkan.


Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, festival budaya seperti Telong-Telong memiliki peran penting untuk menjaga hubungan generasi muda dengan seni dan budaya daerah.


Karena itu, harapan masyarakat agar Festival Telong-Telong terus digelar setiap tahun menjadi pesan penting agar kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi salah satu ikon budaya Kota Padang.


Dengan kreativitas, partisipasi masyarakat dan konsistensi penyelenggaraan, Festival Telong-Telong diharapkan semakin meriah dari tahun ke tahun, sekaligus menjadi ruang bersama untuk merayakan identitas, budaya dan kebanggaan sebagai warga Kota Padang. (**)

 


SUMBARNET - Perselisihan yang sempat terjadi di Jalan Bandara, Kota Padang, berakhir dengan saling memaafkan. Kombes Pol. Teddy Fanani dan Bill Irzano alias Bili sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara damai dan kekeluargaan.


Kesepakatan itu tercapai setelah kedua belah pihak dipertemukan dalam suasana penuh kekeluargaan di salah satu tempat di Kota Padang, Minggu malam (9/8/2026). Dalam pertemuan tersebut, Bili hadir bersama Ibunya untuk membicarakan persoalan yang sebelumnya terjadi.


Melalui komunikasi secara baik-baik, suasana yang sempat diwarnai kesalahpahaman pun mencair. Kedua belah pihak sepakat untuk tidak memperpanjang persoalan dan memilih saling memaafkan.


Momen perdamaian itu ditandai dengan jabat tangan dan pelukan antara Kombes Pol. Teddy Fanani dan Bill Irzano alias Bili. Keduanya saling berpelukan sebagai tanda persoalan telah diselesaikan melalui jalan kekeluargaan.


Kabid Humas Polda Sumatera Barat Kombes Pol. Susmelawati Rosya mengatakan, Alhamdulillah, kedua belah pihak telah dipertemukan dalam suasana yang baik dan penuh kekeluargaan. Dengan adanya niat baik dan ketulusan, persoalan yang terjadi akhirnya dapat diselesaikan secara damai,” ujar Kombes Pol. Susmelawati Rosya.


Menurutnya, penyelesaian tersebut dilakukan atas kesepakatan kedua belah pihak tanpa adanya paksaan dari siapa pun. Kesepakatan damai itu juga telah dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani bersama.


“Yang terpenting, kedua belah pihak telah saling memaafkan dan sepakat menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan. Kesepakatan damai tersebut juga telah dituangkan dalam surat pernyataan,” jelasnya.


Dalam pertemuan tersebut turut hadir Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Barat, Widya Navies, yang turut mendampingi proses komunikasi hingga tercapainya perdamaian.


Kombes Pol. Susmelawati Rosya berharap peristiwa tersebut dapat menjadi pembelajaran bersama sekaligus menjadi jalan untuk mempererat silaturahmi dan hubungan kekeluargaan. (**)



Parit-Koto Balingka_Sumbarnet - Pangudutan menyatakan diri maju sebagai Calon Wali Nagari Parit, Kecamatan Koto Balingka, Kabupaten Pasaman Barat, dengan membawa semangat kebersamaan, pelayanan masyarakat, serta pembangunan nagari yang berorientasi pada kebutuhan warga, pada Minggu 09 Agustus 2026.


Salah satu program yang menjadi perhatian utama dalam pencalonannya adalah penyediaan satu unit ambulans untuk masyarakat Nagari Parit. Program tersebut diproyeksikan sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan pelayanan sosial dan membantu warga yang membutuhkan akses transportasi menuju fasilitas kesehatan.


Bagi Pangudutan, keberadaan ambulans nagari bukan sekadar fasilitas, tetapi merupakan bentuk kepedulian pemerintah nagari terhadap masyarakat, khususnya ketika warga menghadapi kondisi darurat atau membutuhkan kendaraan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.


Ambulans nantinya dapat mendukung kebutuhan masyarakat dalam berbagai kondisi, seperti mengantar warga yang sakit menuju fasilitas kesehatan, membantu proses rujukan pasien, maupun kebutuhan sosial kemasyarakatan lainnya.


Pangudutan menilai fasilitas transportasi kesehatan menjadi salah satu kebutuhan penting yang perlu mendapat perhatian dalam pemerintahan nagari. Dengan adanya ambulans yang dapat diakses masyarakat, diharapkan warga tidak lagi terlalu kesulitan ketika membutuhkan kendaraan dalam situasi mendesak.


“Program ambulans ini kami dorong sebagai bentuk pelayanan nyata kepada masyarakat. Harapannya, ketika ada warga yang membutuhkan pertolongan dan akses ke fasilitas kesehatan, pemerintah nagari dapat hadir dan memberikan kemudahan,” demikian semangat yang dibawa Pangudutan dalam program pencalonannya.


Pangudutan juga dikenal dekat dengan berbagai unsur masyarakat, mulai dari ninik mamak, tokoh masyarakat, tokoh agama hingga pemuda.


Kedekatan dengan masyarakat tersebut menjadi modal sosial dalam membangun komunikasi dan menyerap aspirasi warga apabila nantinya diberikan kepercayaan untuk memimpin Nagari Parit.


Pengalaman sebagai Ketua Pemuda Jorong Parit juga menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya di tengah masyarakat. Pengalaman tersebut membuat Pangudutan menilai bahwa peran generasi muda sangat penting dalam pembangunan nagari.


Menurutnya, pembangunan Nagari Parit tidak dapat dilakukan oleh pemerintah nagari semata, tetapi membutuhkan keterlibatan ninik mamak, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, perempuan dan seluruh lapisan masyarakat.


Dalam pencalonannya, Pangudutan membawa visi:


“Terwujudnya Nagari Parit yang Maju, Aman, Sejahtera, Berkeadilan, serta Berlandaskan Nilai-nilai Agama dan Budaya dalam Pelayanan kepada Masyarakat.”


Visi tersebut diarahkan untuk mendorong pemerintahan nagari yang jujur, transparan dan adil, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik serta pemerataan pembangunan.


Selain program ambulans, Pangudutan juga membawa sejumlah agenda pembangunan lainnya, antara lain pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha kecil, pertanian, peternakan, perikanan dan sektor produktif lainnya.


Di bidang kepemudaan, olahraga, seni dan budaya, Pangudutan juga ingin mendorong kegiatan positif yang dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi dan kreativitas.


Penguatan kegiatan keagamaan, pembangunan infrastruktur, kebersihan serta kenyamanan lingkungan juga menjadi bagian dari perhatian dalam program yang ditawarkan.


Pangudutan menegaskan bahwa program yang dibawanya akan membutuhkan dukungan dan keterlibatan masyarakat. Karena itu, komunikasi dan silaturahmi dengan seluruh unsur masyarakat menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan Nagari Parit.


Dengan semangat kebersamaan dan kedekatan dengan masyarakat, Pangudutan menyatakan siap berkontribusi dalam mendorong Nagari Parit menjadi nagari yang lebih maju, aman, sejahtera dan memiliki pelayanan yang semakin baik bagi seluruh masyarakat. (Eka Saputra)



PESISIR SELATAN — Kepengurusan Cabang Olahraga (Cabor) Soft Tenis Kabupaten Pesisir Selatan memasuki babak baru. Kepengurusan cabor tersebut kini dipercayakan kepada Baslianti Ilyas, SE, setelah sebelumnya dipimpin oleh Dison Kurnia Illahi, SH.


Informasi tersebut diperoleh setelah dilakukan konfirmasi kepada Dison Kurnia Illahi melalui WhatsApp. Ia menjelaskan, pergantian kepengurusan Soft Tenis dilakukan seiring dengan amanah baru yang dipercayakan kepadanya sebagai Bendahara KONI Kabupaten Pesisir Selatan periode 2025–2029.


Menurut Dison, penyesuaian kepengurusan ini dilakukan agar pembinaan dan aktivitas organisasi Soft Tenis di Kabupaten Pesisir Selatan tetap berjalan secara optimal. Estafet kepengurusan selanjutnya dipercayakan kepada Baslianti Ilyas, SE, yang juga merupakan Anggota DPRD Kabupaten Pesisir Selatan dari Fraksi PAN.


Dison menegaskan, peralihan kepengurusan tersebut bukan berarti dirinya meninggalkan dunia olahraga. Justru, amanah sebagai Bendahara KONI menjadi bagian lain dari upaya untuk terus berkontribusi terhadap kemajuan olahraga di Kabupaten Pesisir Selatan.


“Pergantian ini bukan berarti saya berhenti dari dunia olahraga. Saat ini saya mendapat amanah sebagai Bendahara KONI Kabupaten Pesisir Selatan periode 2025–2029. Saya berharap kepengurusan Soft Tenis yang baru dapat melanjutkan pembinaan dengan baik dan terus membawa prestasi bagi Pesisir Selatan,” ujar Dison saat dikonfirmasi melalui WhatsApp.


Dengan hadirnya kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Baslianti Ilyas, diharapkan pembinaan Cabor Soft Tenis Pesisir Selatan semakin terarah, solid dan profesional, serta mampu mencetak atlet-atlet yang dapat mengharumkan nama daerah.


Pergantian ini sekaligus menjadi bagian dari estafet pengabdian dalam memajukan olahraga di Pesisir Selatan. Dengan kepengurusan baru tersebut, PESTI Pessel menyatakan kesiapan untuk menghadapi PORPROV 2026 dan terus meningkatkan pembinaan atlet guna meraih prestasi terbaik bagi Kabupaten Pesisir Selatan. (**)

 


PASAMAN BARAT — Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Ali Muda, SH, melaksanakan Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumatera Barat Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Nagari.


Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Pertemuan Kuamang Alai Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman Barat, Minggu (9/8/2026).


Sosialisasi Perda ini menjadi bagian dari upaya DPRD Sumatera Barat untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap regulasi yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat serta penyelenggaraan pemerintahan nagari.


Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kabid KMA Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat, Pratama Winia Nazwir, SSTP, M.Si., serta Sekretaris Nagari Kuamang Alai.


Ali Muda menyampaikan, keberadaan Perda Nomor 8 Tahun 2021 memiliki peran penting dalam memperkuat kapasitas masyarakat dan pemerintahan nagari. 


Nagari sebagai pemerintahan terdepan di tengah masyarakat memiliki posisi strategis dalam mendorong pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Menurutnya, pemberdayaan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh unsur masyarakat. Karena itu, pemahaman terhadap aturan yang mengatur pemerintahan dan pemberdayaan nagari perlu terus ditingkatkan.


"Melalui sosialisasi ini, kami ingin masyarakat mengetahui dan memahami hak, peran, serta tanggung jawabnya dalam pembangunan nagari. Begitu juga dengan pemerintahan nagari, agar dapat menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku," ujar Ali Muda.


Ia berharap sosialisasi tersebut dapat membuka ruang dialog antara masyarakat, pemerintah nagari, dan pemerintah daerah. Berbagai aspirasi maupun persoalan yang dihadapi masyarakat di tingkat nagari diharapkan dapat disampaikan secara langsung untuk menjadi bahan evaluasi dan perhatian pemerintah. (**)

 


Padang Pariaman — Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Sumatera Barat, Sitti Izzati Aziz, melaksanakan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumatera Barat Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penanggulangan Bencana kepada masyarakat Nagari Ketaping, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Minggu pagi (9/8/2026).


Kegiatan yang digelar di Pondok Lesehan Eby "Piak Nona", Jalan Akses Bandara Padang Pariaman, tersebut dihadiri masyarakat Nagari Ketaping. Turut hadir Wali Nagari Ketaping terpilih, Dasman, serta Kepala BPBD Sumatera Barat yang diwakili Analis Kebencanaan Ahli Muda, Acil Erbara.


Dalam sosialisasi tersebut, Sitti Izzati Aziz menekankan pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai upaya penanggulangan bencana. 


Menurutnya, Sumatera Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi bencana cukup tinggi, sehingga kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko dan dampak bencana.


"Penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Karena itu, pemahaman mengenai aturan dan langkah-langkah menghadapi bencana perlu terus ditingkatkan," ujar Sitti.


Ia menjelaskan, Perda Nomor 4 Tahun 2023 menjadi salah satu landasan bagi pemerintah daerah bersama masyarakat dalam melakukan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh.


Sitti juga mendorong masyarakat Ketaping untuk memahami potensi bencana yang dapat terjadi di lingkungan masing-masing serta mengetahui langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.


"Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat memiliki kesiapsiagaan. Dengan pengetahuan yang cukup, kita bisa meminimalkan risiko dan menyelamatkan lebih banyak jiwa ketika bencana terjadi," katanya.


Sementara itu, Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Sumatera Barat, Acil Erbara, turut memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait kebencanaan dan pentingnya membangun kesiapsiagaan di tingkat nagari.


Menurutnya, masyarakat merupakan garda terdepan dalam menghadapi bencana karena berada langsung di wilayah yang berpotensi terdampak. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas masyarakat harus menjadi perhatian bersama.


Kegiatan sosialisasi tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara DPRD, pemerintah daerah, BPBD, pemerintah nagari, dan masyarakat dalam membangun budaya sadar bencana.


Wali Nagari Ketaping terpilih, Dasman, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap sosialisasi Perda Penanggulangan Bencana dapat memberikan pengetahuan praktis bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kesiapan Nagari Ketaping dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana.


Dengan adanya sosialisasi ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami regulasi penanggulangan bencana, tetapi juga mampu mengambil langkah cepat dan tepat ketika menghadapi situasi darurat. (**)