SUMBARNET - Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Polda Sumbar) menerima bantuan dua unit Jembatan Bailey dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo guna mendukung percepatan pemulihan akses masyarakat terdampak bencana banjir di wilayah Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.


Dua unit Jembatan Bailey tersebut tiba di Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang, pada Selasa (3/2/2026) siang, dan selanjutnya segera diberangkatkan menuju Kabupaten Agam menggunakan beberapa unit truk dalam bentuk kontainer. Bantuan ini akan dirakit dan dipasang di wilayah Palembayan pada lokasi yang telah ditentukan untuk menggantikan jembatan yang rusak akibat terjangan banjir.


Pengiriman dua unit Jembatan Bailey ini merupakan bentuk perhatian dan respons cepat Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo terhadap dampak bencana banjir yang menyebabkan terputusnya akses transportasi dan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.


Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya mengatakan bahwa bantuan tersebut sangat penting dalam mendukung pemulihan infrastruktur dan mobilitas warga.


“Jembatan Bailey ini merupakan bantuan langsung dari Bapak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo untuk masyarakat Kabupaten Agam. Setibanya di Pelabuhan Teluk Bayur, dua unit jembatan langsung diberangkatkan ke lokasi agar proses pemasangan dapat segera dilakukan,” ujar Kombes Pol Susmelawati Rosya.


Ia menambahkan, Polda Sumbar akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi teknis terkait agar proses perakitan dan pemasangan jembatan dapat berjalan lancar dan aman.


“Kami berkomitmen untuk terus bersinergi dengan seluruh pihak agar pemulihan akses transportasi di wilayah terdampak bencana dapat segera terwujud dan aktivitas masyarakat kembali normal,” tambahnya.


Dengan adanya bantuan dua unit Jembatan Bailey dari Kapolri tersebut, diharapkan konektivitas antarwilayah di Kabupaten Agam, khususnya di wilayah Palembayan, yang sempat terputus akibat bencana banjir dapat segera pulih, sekaligus menjadi bukti nyata kehadiran Polri dan negara di tengah masyarakat yang membutuhkan. (**)

 


SUMBARNET - Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Polda Sumbar) melalui jajaran Satbrimob terus memacu pembangunan dua unit Jembatan Bailey bantuan Kapolri di wilayah Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Langkah ini diambil sebagai respons cepat untuk memulihkan konektivitas warga yang terhambat akibat kendala infrastruktur.


Adapun dua lokasi pembangunan jembatan tersebut berada di Sawah Laweh, Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, serta di Subarang Aia, Nagari Salareh Aie Timur. Pembangunan di kedua titik strategis ini bertujuan untuk menghidupkan kembali mobilitas logistik dan ekonomi masyarakat setempat.


Proyek kemanusiaan ini mengerahkan sedikitnya 113 personel gabungan. Tim teknis terdiri dari 6 pakar teknisi Korps Brimob Polri di bawah pimpinan Iptu Budi Santoso, S.H., dan 7 teknisi spesialis fondasi. Kekuatan personel diperkuat oleh 100 anggota Satbrimobda Sumbar yang dikoordinir langsung oleh Kompol Dasrinal, S.H., M.H.


Sejak dimulainya pekerjaan pada 29 Januari 2026, tim di lapangan fokus pada tahap pembangunan awal, yakni pemasangan kerangka pondasi sebagai struktur penopang utama. Memasuki hari kelima pengerjaan, progres menunjukkan tren positif dengan target rampung secara keseluruhan dalam waktu 15 hari.


Dansatbrimob Polda Sumbar, Kombes Pol Lukman Syafri Dandel Malik, menegaskan bahwa aspek keamanan menjadi prioritas utama dalam pembangunan jembatan rangka baja ini.


"Kami mengerahkan personel terbaik, termasuk bantuan teknis dari Korps Brimob pusat, untuk memastikan pengerjaan Jembatan Bailey ini berjalan presisi. Fokus kami saat ini adalah memperkokoh struktur pondasi agar jembatan mampu menahan beban kendaraan dengan aman. Ini adalah bakti Polri untuk masyarakat Agam," ujar Kombes Pol Lukman Syafri.


Sementara itu, Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, menyampaikan bahwa kehadiran jembatan ini merupakan bentuk perhatian langsung dari pimpinan Polri terhadap kesulitan yang dialami warga di Sumatera Barat.


"Bapak Kapolri memberikan perhatian khusus terhadap pemulihan akses di Palembayan ini. Kami menargetkan dalam 15 hari pengerjaan sudah rampung. Kehadiran personel di lapangan bukan hanya untuk membangun fisik jembatan, tapi juga memastikan roda ekonomi masyarakat kembali berputar dengan normal," jelas Kombes Pol Susmelawati.


Diharapkan dengan selesainya pembangunan di Sawah Laweh dan Subarang Aia, aktivitas sosial-ekonomi masyarakat di Kecamatan Palembayan dapat kembali berjalan tanpa hambatan. (Redaksi)

 


SEKAYU - Sumbarnet, Pemerintah Kabupaten Kabupaten Musi Banyuasin menerima kunjungan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Muba, Rabu (4/2/2026), di Ruang Rapat Sekretaris Daerah.


Pertemuan tersebut membahas silaturahmi sekaligus penyampaian rencana PWI Muba mengikuti kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026.


Ketua PWI Muba Intan Heldiana mengatakan, sebanyak 30 anggota dijadwalkan berangkat ke Banten pada Jumat (6/2/2026).


“Kami ingin menyampaikan bahwa PWI Muba akan menghadiri Hari Pers Nasional di Banten. Semoga kami dapat membawa nama baik Kabupaten Muba,” ujar Intan.


Penjabat Sekretaris Daerah Muba Syafaruddin mengapresiasi peran PWI dalam mendukung penyebaran informasi pembangunan daerah.


“Kami sangat mengapresiasi peran aktif PWI Muba dalam menyebarkan informasi dan mempromosikan Muba. Kami berharap PWI Muba terus bersinergi dengan pemerintah daerah,” ujarnya.


Kepala Bagian Kerja Sama Setda Muba Irfan menambahkan, PWI merupakan mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.


“Kolaborasi antara pemerintah daerah dan PWI perlu terus dijaga agar informasi yang disampaikan tetap akurat dan edukatif,” katanya.


Kunjungan ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah dan insan pers di Kabupaten Musi Banyuasin. (**)

 


SEKAYU, Sumbarnet - Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Banyuasin melakukan kunjungan kerja ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Musi Banyuasin, Rabu (4/2/2026), untuk mempelajari program vokasi serta penerapan regulasi penyerapan tenaga kerja lokal.


Kunjungan tersebut bertujuan bertukar informasi terkait pelaksanaan Perda Musi Banyuasin Nomor 2 Tahun 2020 tentang pemberdayaan dan penempatan tenaga kerja lokal.


Pertemuan membahas sejumlah program, antara lain pelatihan vokasi migas, program magang ke Jepang, Unit Layanan Disabilitas, serta pengelolaan data tenaga kerja asing dan pekerja migran.


Kepala Disnakertrans Musi Banyuasin Herryandi Sinulingga mengatakan pihaknya terbuka berbagi pengalaman dengan daerah lain.


“Kami sangat terbuka untuk berbagi pengalaman dan sharing program untuk kemajuan bersama sama,” ujar Sinulingga.


Dia mengatakan, pelatihan vokasi difokuskan pada kebutuhan industri agar tenaga kerja lokal memiliki kompetensi berkelanjutan.


Sementara itu, Kepala Distransnaker Banyuasin Epriliansyah mengatakan hasil kunjungan akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerahnya.


“Informasi yang kami dapatkan hari ini akan menjadi bahan evaluasi penting untuk memperkuat kebijakan ketenagakerjaan di Banyuasin agar lebih solid dan tepat sasaran,” katanya.


Kedua pihak sepakat menjaga komunikasi dan kerja sama untuk mendukung peningkatan kualitas tenaga kerja di wilayah Sumatera Selatan. (**)

 


Padang - Gedung SMP di Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat dinilai perlu ditambah untuk menampung siswa lulusan SD di kelurahan tersebut. 


Kebutuhan tersebut dinilai perlu, selain menampung siswa lulusan SD juga dalam rangka meningkatkan sumbar daya manusia generasi muda dan mencerdaskan bangsa. 


"Masyarakat Balai Gadang berharap ada penambahan sekolah, karena penduduknya sudah mulai ramai. Siswa lulusan SD disini banyak dan sudah selayaknya SMP ditambah untuk agar dapat menampung lulusan siswa SD di daerah ini," kata Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Muhammad Iqra Chissa saat melaksanakan reses di Kantor Lurah setempat, Rabu (4/2). 


Iqra Chissa mengatakan, meningkatkan sumber daya manusia generasi muda dan mencerdaskan bangsa melalui pendidikan, sejalan dengan Asta Cita Presiden RI


Iqra Chissa berupaya secara maksimal memperjuangkan aspirasi yang disampaikan masyarakat sesuai regulasi dan kewenangan yang dimiliki di DPRD Provinsi Sumbar. 


Kegiatan reses Iqra Chissa tersebut dihadiri Kepala sekolah SD, SMP dan SMA, Ketua RT, RW Lurah, tokoh masyarakat, pengurus mesjid dan pemuda. 


Pembangunan gedung SMP, satu dari sejumlah aspirasi yang ditampung Wakil Ketua DPRD Provinsi Sumbar, Iqra Chissa. Aspirasi lain, terkait pembangunan infrastruktur jalan seperti pengaspalan, pembangunan gedung serbaguna hingga penunjang peralatan bagi PSM agar pekerjaan dalam menginput data masyarakat lebih optimal. (MR)

 


Jakarta, – Anggota Komisi V DPR RI, Zigo Rolanda, menyoroti lambannya penyerahan aset pasar yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) kepada pemerintah daerah di Sumatera Barat. Hal itu disampaikan Zigo saat rapat kerja Komisi V DPR RI bersama Menteri Pekerjaan Umum RI, Rabu (4/2/2026).


Dalam rapat tersebut, Zigo menyampaikan sejumlah catatan atas pemaparan program Kementerian PU tahun 2025. Salah satu yang paling ditekankan adalah soal pasar modern hasil pembangunan pemerintah pusat yang hingga kini belum diserahterimakan ke daerah.


Zigo menyebut, persoalan ini terjadi di sejumlah daerah di Sumbar, termasuk Kota Padang dan Kabupaten Dharmasraya. Menurutnya, proses pemindahan aktivitas dari pasar tradisional menuju pasar modern tidak mudah, sehingga perlu didukung dengan kepastian status aset.


“Namun sampai hari ini, asetnya belum diserahkan dari Kementerian PUPR ke pemerintah daerah. Akibatnya, daerah tidak bisa memungut retribusi sebagai pendapatan daerah,” kata Zigo.


Ia menilai kondisi tersebut membuat pemerintah daerah kesulitan mengoptimalkan fungsi pasar, karena belum memiliki kewenangan penuh dalam pengelolaan.


Zigo juga menyinggung kondisi di Kota Padang yang dinilai masih mengalami kendala besar dalam penertiban pasar. Ia mengungkapkan, Wali Kota Padang juga menyampaikan keluhan serupa terkait belum adanya penyerahan aset.


Zigo pun meminta agar proses serah terima aset pasar dipercepat, sehingga pemerintah daerah bisa memanfaatkan fasilitas pasar yang telah dibangun Kementerian PU secara maksimal.


Selain itu, Zigo menyoroti banyaknya usulan pembangunan pasar baru untuk tahun 2026 melalui Ditjen Prasarana Strategis. Ia mengingatkan agar pembangunan pasar tidak hanya mengejar fisik, tetapi juga memperhatikan persoalan turunan, khususnya sampah.


Ia mengusulkan agar setiap pembangunan pasar baru wajib dibarengi fasilitas pengelolaan sampah, seperti TPS 3R dalam satu paket pembangunan.


Menurutnya, pasar merupakan salah satu sumber sampah terbesar, sehingga perlu penanganan sejak awal.


“Kalau sejak awal sudah disiapkan TPS 3R atau fasilitas lain sesuai kajian Kementerian PU, maka sampah dari awal bisa kita kurangi,” ujarnya.


Tak hanya pasar, Zigo juga menyoroti persoalan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang dibangun namun belum bisa difungsikan akibat belum adanya serah terima aset. Ia mencontohkan pembangunan TPA di Kabupaten Solok Selatan sejak 2019 yang hingga kini belum selesai proses penyerahannya.


Zigo menilai banyak aset Cipta Karya yang mengalami masalah serupa. Ia pun meminta Kementerian PU lebih serius dalam penertiban aset agar pembangunan yang sudah dilakukan tidak terbengkalai.


“Jangan bangun terus, tapi kita tidak punya data penertiban aset yang jelas,” tegasnya.


Di akhir penyampaiannya, Zigo juga menyoroti program pengendalian banjir di Sumatera Barat. Ia mengapresiasi penanganan bencana yang selama ini dilakukan pemerintah pusat dan Kementerian PU, namun menilai ada catatan penting terkait pengurangan anggaran pada sejumlah titik pengendalian banjir.


Zigo menyebut, dalam dokumen Satuan 3 yang diserahkan Kementerian PU pada November, terdapat sejumlah program pengendalian banjir. Namun saat DIPA keluar, nilainya disebut jauh berkurang.


Beberapa titik yang disorot antara lain pengendalian banjir Batang Anai, pembangunan sabodam di Agam, serta pengendalian banjir Batang Suliti. Ia menyatakan akan menyerahkan data lengkap kepada Menteri PU.


Zigo meminta agar program pengendalian banjir tersebut dipulihkan kembali dan dimunculkan pada perbaikan DIPA. Menurutnya, pemerintah harus memastikan penanganan banjir dilakukan tepat sasaran, agar tidak menimbulkan dampak baru di wilayah lain.


“Kami mohon ini dipulihkan kembali agar dimunculkan pada perbaikan DIPA, karena pada Satuan 3 bulan November yang diserahkan kepada DPR angkanya berbeda,” tutup Zigo. (***)

 


Padang - Musyawarah Daerah XI (Musda XI) DPP Partai Golkar Kota Padang, diprediksi bakal berlangsung singkat. Pasalnya, hingga Rabu (4/2/2026) siang ini, hanya M. Iqra Chissa, satu-satunya bakal calon (Balon) ketua yang mendaftar. Saat mendaftar, Iqra didampingi semua Ketua kecamatan (11 DPC) dari 16 pemilik suara sah di musda ini. 


"Musda udah selesai. Sudah jelas Iqra Chissa aklamasi, karena semua dukungan mengarah pada satu nama saja, Iqra Chissa yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua periode 2020-2025. Dan hasil kerjanya juga bagus bagi perkembangan Partai Golkar," ungkap seorang kader Golkar yang juga pengurus Kecamatan Padang Barat. 


Selain didampingi 11 DPC, Iqra Chissa yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sumbar, juga dipastikan mendapat dukungan kuat dari DPD Partai Golkar Sumbar dan Sayap partai lainnya, termasuk Dewan Pertimbangan. 


"Untuk Musda XI ini, hanya Iqra Chissa satu-satunya yang menguat. Karena itu, aklamasi merupakan langkah terbaik untuk kekompakan dan perkembangan partai ke depan," ujarnya.


Iqra Chissa mendaftar sebagai Ketua di sekretariat DPD Partai Golkar Kota Padang, tepat pukul 11.25 WIB. Pendaftaran diterima oleh Ketua SC, Neiko Rasaki didampingi Ketua OC Deni Pratama dan Ketua Penyelenggara Musda, Erizal, serta serta semua ketua Kecamatan Partai Golkar di Kota Padang. (ms/*/ald)

 


SUMBARNET - PT Semen Padang, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pembangunan nasional melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor konstruksi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Akademi Jago Bangunan, berupa pelatihan dan sertifikasi tukang bangunan yang diikuti puluhan anggota Komunitas Jago Bangunan SIG di Bengkulu, Minggu (1/2/2026).


Kegiatan ini bertujuan mencetak tukang bangunan yang profesional, kompeten, dan tersertifikasi, sehingga mampu menghasilkan bangunan yang aman, kuat, dan berkualitas. Pelatihan dibuka oleh Kepala Unit Penjualan Sumatera Bagian Tengah PT Semen Padang, Nanda Kurniawan, dengan menghadirkan narasumber dosen Universitas Mpu Tantular Jakarta, Dr. Ir. Edison Hatoguan Manurung, ST, MT, MM, MH.


Dalam sambutannya, Nanda menegaskan bahwa Akademi Jago Bangunan merupakan bagian dari strategi PT Semen Padang untuk meningkatkan kualitas konstruksi nasional, yang dimulai dari peningkatan kompetensi tukang sebagai pelaku utama di lapangan.


“Melalui pelatihan dan sertifikasi ini, kami ingin menghasilkan tukang yang berkualitas. Jika tukangnya berkualitas, maka bangunan yang dihasilkan juga akan berkualitas,” ujar Nanda.


Ia menjelaskan, kegiatan tersebut sejalan dengan jargon PT Semen Padang, Tukang Bangga Bangun Indonesia, yang tidak hanya menjadi pesan komunikasi, tetapi diwujudkan melalui program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi para tukang bangunan.


“Kami tidak berhenti pada jargon. Program ini merupakan kontribusi nyata perusahaan dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan perumahan yang berkualitas,” katanya.


Selain peningkatan kompetensi, Nanda menyebut Akademi Jago Bangunan juga menjadi sarana mempererat hubungan antara PT Semen Padang dan para tukang bangunan sebagai mitra strategis perusahaan.


“Para tukang merupakan garda terdepan dalam penggunaan produk semen dan material konstruksi di lapangan. Melalui kegiatan ini, kami ingin meningkatkan pemahaman sekaligus loyalitas terhadap produk PT Semen Padang,” ujarnya.


Pelatihan berlangsung dengan antusiasme tinggi. Selain pembekalan teori dan praktik teknis, PT Semen Padang bersama SIG juga mensosialisasikan berbagai produk unggulan, antara lain semen jenis Portland Composite Cement (PCC) serta produk nonsemen seperti Sepablock, mortar siap pakai, semen curah, beton, dan produk pendukung konstruksi lainnya.


Sementara itu, Edison Hatoguan Manurung yang juga Asesor LSP/BNSP bidang Teknik dan Manajemen serta Trainer of Trainer (ToT) Level 4 BNSP, menyampaikan materi Skema Sertifikasi Okupasi Tukang Pasang Bata dan Plesteran. Materi meliputi standar kompetensi kerja, teknik pelaksanaan yang benar, serta pemahaman penggunaan material bangunan secara tepat.


Ia menekankan pentingnya ketepatan perbandingan material dalam pembuatan mortar. Menurut Edison, kesalahan komposisi sering menjadi penyebab rendahnya kualitas pasangan bata dan plesteran.


“Untuk pekerjaan pasangan bata pada dinding biasa di atas permukaan tanah, perbandingan yang umum digunakan adalah satu zak semen dengan lima gerobak pasir,” jelasnya.


Namun, untuk area yang membutuhkan kekuatan ekstra atau berada pada kondisi lembap dan basah, seperti bagian dalam tanah atau bak air, diperlukan komposisi yang lebih kuat. “Perbandingan yang disarankan adalah satu zak semen dengan empat gerobak pasir agar hasil pekerjaan lebih kuat dan tahan lama,” ujarnya.


Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan sesi tanya jawab. Salah seorang peserta, Roni Paslah, mengaku bangga mengikuti Akademi Jago Bangunan karena mendapatkan tambahan ilmu yang dapat langsung diterapkan di lapangan.


“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami mendapatkan banyak pengetahuan baru yang selama ini mungkin hanya berdasarkan pengalaman,” katanya.


Hal senada disampaikan peserta lainnya, Romi Efendi, yang menilai kegiatan tersebut juga memperluas jaringan antartukang bangunan di Bengkulu.


“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan. Semakin banyak berbagi ilmu, semakin besar peluang kita bersama-sama membangun Indonesia,” ujarnya.


Melalui Akademi Jago Bangunan di Bengkulu, PT Semen Padang dan SIG berharap para tukang bangunan semakin terampil, profesional, serta berperan sebagai agen perubahan dalam mewujudkan pembangunan yang berkualitas dan berkelanjutan. (*)



Oleh: SISCA OKTRI SANTI, S.S., M.Li


Wisuda selalu dibayangkan sebagai momen puncak pencapaian akademik. Toga dikenakan, nama dipanggil, tepuk tangan menggema. Namun di balik seremoni yang tampak khidmat itu, ada sebagian mahasiswa yang berdiri dengan tubuh bergetar, menahan sesuatu yang tidak terlihat oleh kamera, tidak terdengar oleh mikrofon, tetapi sangat nyata di dalam diri mereka.


Ada seorang anak perempuan yang saat namanya dipanggil, justru gemetar hebat. Bukan karena haru. Melainkan karena setelah namanya, digaungkan nama bapaknya — sosok yang dalam ingatannya bukan figur pelindung, melainkan sumber trauma. Masa lalu yang kelam. Pahit. Dipenuhi pencabulan yang tak pernah sembuh sepenuhnya. Pada detik itu, wisuda tidak lagi menjadi perayaan. Ia berubah menjadi panggung tempat luka lama dipanggil ulang secara paksa.


Pengalaman ini bukan cerita tunggal. Beberapa waktu lalu, sebuah unggahan di Instagram dari akun *Iiiffyaa._ m* menyuarakan hal yang sama dengan cara yang sangat jujur. Dalam video wisudanya, ia menuliskan kalimat sederhana namun menyayat: “_Kalian ga akan tau rasanya wisuda dengan keluarga berantakan itu lebih sakit, apalagi yg dipanggil pas wisuda nama ayah sedangkan yg berjuang hanya ibu_ 🙂.” Kalimat ini merepresentasikan ribuan suara lain yang selama ini terdiam.


Kampus sering menganggap penyebutan “_anak dari Bapak_…” sebagai formalitas. Tradisi. Tata protokol yang dianggap netral dan wajar. Namun anggapan ini keliru. Dalam kajian linguistik, bahasa tidak pernah netral. Bahasa selalu membawa beban makna, ideologi, dan pengalaman. Ia tidak hanya menyebut, tetapi juga membentuk realitas sosial dan psikis.


Secara linguistik, penyebutan nama orang tua dalam prosesi wisuda adalah tindak tutur institusional. Ia bukan sekadar rangkaian kata, melainkan tindakan simbolik yang memberi legitimasi: siapa yang diakui, siapa yang dihapus, siapa yang dipusatkan, dan siapa yang disisihkan.


Ketika kampus secara otomatis menyebut nama ayah, kampus sedang mereproduksi satu asumsi besar: bahwa ayah selalu hadir, layak, dan menjadi pusat identitas anak. Padahal realitas hidup mahasiswa sangat beragam. Tidak semua ayah hadir sebagai figur aman. Tidak semua ayah hadir sama sekali.


Ada mahasiswa yang tidak pernah bertemu bapaknya. Ada yang ditinggalkan sejak lahir. Ada yang tumbuh besar hanya bersama ibu yang berjuang sendirian. Ada pula yang hidup dengan luka batin mendalam akibat kekerasan fisik, psikologis, bahkan seksual yang dilakukan oleh figur ayah. Namun sistem pendidikan kita berjalan seolah semua keluarga adalah keluarga utuh yang harmonis.


Ada pula kasus anak lelaki yang dengan tegas menolak namanya dipanggil bersama nama bapaknya saat wisuda. Bukan karena benci tanpa sebab, tetapi karena bapaknya tidak pernah bertanggung jawab — tidak hadir secara emosional, tidak hadir secara ekonomi, dan tidak hadir dalam perjalanan hidupnya. Baginya, penyebutan nama bapak bukan bentuk penghormatan, melainkan pengingkaran atas perjuangan ibunya dan dirinya sendiri.


Sering kali, penolakan seperti ini dibenturkan dengan kalimat klise: “Tanpa bapak, anak tidak akan ada.” Pernyataan ini terdengar biologis, tetapi egois secara moral. Anak tidak pernah meminta dilahirkan ke dunia dalam keadaan diabaikan. Anak tidak memilih ayah yang tidak bertanggung jawab. Maka menjadikan fakta biologis sebagai alat legitimasi simbolik adalah bentuk kekerasan wacana yang lain.


Di sinilah bahasa institusi berubah menjadi kekerasan simbolik. Tanpa menyentuh tubuh, tanpa suara kasar, bahasa mampu melukai psikis. Ketika nama yang menyimpan trauma dipanggil di ruang publik, mahasiswa dipaksa menelan ulang kepahitan yang seharusnya tidak lagi menjadi bagian dari pencapaian akademiknya.


Ironisnya, dalam banyak kasus, justru ibu yang memikul seluruh beban kehidupan. Ibu yang menghitung biaya pampers. Ibu yang mencari uang untuk susu. Ibu yang begadang saat anak sakit. Ibu yang membayar biaya sekolah, biaya kuliah, dan segala biaya tak terduga yang datang tanpa aba-aba. Ibu yang bertahan ketika tidak ada siapa-siapa.


Namun pada hari wisuda, hari yang seharusnya menjadi pengakuan atas perjuangan itu, nama ibu sering kali tidak disebut. Ia absen dari panggung simbolik. Yang hadir justru nama ayah — bahkan ketika ayah itu tidak pernah hadir dalam kehidupan anaknya, atau justru menjadi sumber luka.


Inilah wajah patriarki simbolik yang masih dipertahankan dalam ritual akademik. Bukan patriarki yang kasar dan terang-terangan, melainkan patriarki yang bekerja halus melalui bahasa dan tradisi. Ia dinormalisasi, diwariskan, dan jarang dipertanyakan.


Padahal dunia pendidikan hari ini kerap menggaungkan nilai inklusivitas, kesetaraan gender, dan kepedulian terhadap kesehatan mental. Kampus berbicara tentang mahasiswa sebagai subjek yang utuh. Namun pada momen wisuda, kampus justru menghapus keutuhan itu dengan satu asumsi tunggal tentang keluarga.


Wisuda seharusnya menjadi ruang penghargaan atas kerja intelektual, ketekunan, dan daya tahan mahasiswa. Bukan arena pemaksaan narasi keluarga yang seragam. Ketika bahasa yang digunakan kampus justru memicu kecemasan, trauma, bahkan C-PTSD, maka ada yang salah dalam cara kita memaknai tradisi.


Pertanyaannya sederhana: mengapa kampus tidak bertanya? Mengapa tidak memberi pilihan kepada mahasiswa, ingin disebut anak dari ayah, ibu, atau cukup namanya sendiri? Pilihan ini tidak mengurangi kehormatan wisuda. Tidak merusak tata protokol. Justru menunjukkan kedewasaan institusi dalam menghargai keberagaman jalan hidup.


Pilihan penamaan adalah bentuk pengakuan identitas. Memberi pilihan berarti mengakui bahwa mahasiswa adalah subjek dengan pengalaman hidup yang sah, bukan objek tradisi yang harus patuh tanpa suara.


Bagi sebagian mahasiswa, wisuda hari ini meninggalkan kenangan yang terasa ternoda. Bukan karena mereka gagal, tetapi karena sistem tidak memberi ruang bagi kenyataan hidup mereka. Pencapaian akademik yang seharusnya membanggakan justru diselimuti rasa perih yang sulit dijelaskan.


Tulisan ini bukan serangan terhadap ayah sebagai figur. Banyak ayah yang hadir, berjuang, dan layak dihormati. Namun sistem pendidikan tidak boleh memaksakan satu narasi untuk semua. Menghormati ayah tidak harus dilakukan dengan menghapus ibu, atau menutup mata terhadap luka anak.


Sudah saatnya kampus, sekolah, Dinas Pendidikan, dan Dikti memerhatikan praktik simbolik yang selama ini dianggap sepele, dalam beberapa pemanggilan nama saat wisuda atau juga penulisan nama di ijazah sekolah. Bahasa yang digunakan institusi pendidikan harus berpihak pada kemanusiaan, bukan sekadar melestarikan tradisi.


Pejuang-pejuang psikis ada di ruang kelas kita. Mereka lulus bukan karena hidup ramah, tetapi karena mereka bertahan. Mereka layak mendapatkan wisuda yang menyembuhkan, bukan yang melukai.


Wisuda seharusnya meninggalkan rasa dihargai sepenuhnya: lahir dan batin wisudawan. Karena bahasa tidak pernah netral. Setiap penyebutan “anak dari Bapak X” atau “anak dari Ibu Y” selalu membawa pengalaman hidup di belakangnya: ada yang merasa bangga, ada yang justru terluka. Itulah sebabnya tindak tutur kampus semestinya tidak seragam, melainkan memberi pilihan kepada wisudawan — ingin menyebut ayah, ibu, keduanya, atau cukup namanya sendiri. Bahkan di sejumlah kampus di Malaysia, nama orang tua tidak disebut sama sekali; mahasiswa cukup dipanggil namanya. Sederhana, tetapi adil.


Jika pendidikan sungguh ingin memanusiakan manusia, sudah saatnya kampus meninggalkan sistem patriarki yang usang dan berhenti memaksakan satu narasi keluarga. Wisuda harus menjadi ruang kebanggaan yang utuh, bukan seremoni yang tanpa sadar mengulang luka. (*_Penulis adalah linguis dan jurnalis_)



SUMBARNET - Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Tanah Karo berhasil mengungkap kasus pembunuhan berencana yang diduga dilatarbelakangi motif klaim asuransi. 


Dalam kasus tersebut, korban meninggal dunia di tangan kakak kandungnya sendiri dengan melibatkan seorang eksekutor.


Korban diketahui bernama Iwan Sudarto Simanjuntak (33), warga Desa Lawe Loning Sepakat, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara.


Kasus ini terungkap setelah polisi menerima laporan masyarakat terkait penemuan sesosok mayat di pinggir Jalan Lintas Desa Kineppen, Kecamatan Munthe, Kabupaten Karo, Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 03.45 WIB.


Kapolres Tanah Karo AKBP Pebriandi Haloho, S.H, S.I.K, M. Si, melalui Kasat Reskrim AKP Eriks R, S.T. menjelaskan, saat petugas tiba di lokasi, korban ditemukan dalam kondisi tergeletak di pinggir jalan dengan luka parah di bagian kepala dan wajah berlumuran darah.


"Korban sudah dalam keadaan meninggal dunia saat ditemukan. Selanjutnya jenazah dievakuasi ke RSU Kabanjahe untuk dilakukan visum et repertum," ujar AKP Eriks, Senin(02/2/2026).


Dari hasil penyelidikan, polisi mengidentifikasi tersangka LN (57), seorang petani asal Desa Sihulambu, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara, yang diketahui sebagai orang terakhir bersama korban.


Setelah diketahui keberadaannya di wilayah Kabupaten Labuhan Batu, tim Sat Reskrim Polres Tanah Karo berkoordinasi dengan Polres Labuhan Batu dan berhasil mengamankan LN pada Kamis(22/1/2026) sekitar pukul 02.00 WIB di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Cikampak, Kabupaten Labuhan Batu Selatan.


"Dari hasil pemeriksaan, LN mengakui perbuatannya sebagai eksekutor. Ia juga menyebut keterlibatan TS, kakak kandung korban, sebagai pihak yang merencanakan pembunuhan," kata AKP Eriks.


Berdasarkan keterangan tersebut, polisi kemudian melakukan rangkaian penyelidikan untuk menangkap TS (42), wiraswasta, warga Kecamatan Medan Johor, Kota Medan.


Yang mengejutkan, TS justru diamankan di Mapolres Tanah Karo, pada Rabu (28/1), saat mendatangi kantor polisi untuk mengurus surat keterangan kematian adiknya.


Sumber : Posmetro Medan