SUMBARNET - Warga Gunung Tuleh, Pasaman Barat, memprotes keras petugas SPBU Muaro Kiawai (No. 13.265.525) yang menolak melayani penjualan pertalite pada Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 17.00 WIB meski tangki terlihat masih berisi.


 Video dan pengaduan warga menyebut ada antrian panjang, indikasi penimbunan, dan kemungkinan praktik penjualan “gelap” kepada pihak tertentu.


Warga yang mengantri di Jorong Kampung Alang kecewa karena service station setempat menghentikan penjualan pertalite dengan alasan “kuota sudah terpenuhi”, padahal kapasitas tangki terlihat masih menyisakan bahan bakar.


 Junir Sutan Rajo Ameh, salah seorang pengendara yang merekam kejadian dan mengunggahnya ke Facebook, menyatakan “Kami membeli minyak, bukan minta gratis. Kapasitas SPBU 8.000 liter, kemungkinan masih ada separuh lagi, tapi petugas tidak melayani.”


Video yang beredar menunjukkan antrean panjang kendaraan dan tangki pengisian yang masih menunjukkan ketersediaan bahan bakar. 


Sejumlah warga curiga terjadi praktik langsiran, yakni penyaluran BBM subsidi ke pihak tertentu di luar antrian umum. 


Seorang sumber (inisial K) menyebut modus yang sama beberapa kali terjadi: layanan ditutup untuk publik sore hari dan kembali dibuka tengah malam untuk pembelian tertentu.


Sering terdengar suara musik juga tengah malam hingga dinihari, ditengah aktivitas pengisian langsiran. 


Kesaksian lain menyebut sempat ada tawaran pembelian non-resmi dengan nominal sekitar Rp250.000 per kali pengisian, namun kemudian praktik itu dihentikan tanpa penjelasan.


Warga menilai tindakan petugas dan pengelola menggambarkan potensi penyimpangan distribusi BBM subsidi yang merugikan masyarakat luas.


Camat Gunung Tuleh, Perdinan Ujang, mengecam perilaku petugas dan meminta pengelola SPBU memberi layanan adil. “Sudah dua minggu masyarakat antri panjang hingga dua ratus meter. Kita tidak menampik adanya aktivitas langsiran, tapi layani juga warga umum lainnya,” kata Ujang. 


Ia meminta penambahan pompa—misalnya dua untuk masyarakat umum dan satu untuk keperluan lain—agar tidak terjadi diskriminasi layanan.


Sampai saat ini, pengelola SPBU Muaro Kiawai belum memberikan klarifikasi resmi kepada media. 


Redaksi telah mengirim pesan WhatsApp untuk konfirmasi dan akan memuat jawaban apabila diterima. Ketiadaan respons menimbulkan pertanyaan soal transparansi dan akuntabilitas pengelola SPBU terhadap dugaan penyimpangan distribusi BBM subsidi.


Legal dan administratif:

Jika terbukti, praktik langsiran dan penimbunan BBM subsidi melanggar peraturan penyaluran bahan bakar bersubsidi dan merugikan kepentingan publik. Aparat terkait—


Dinas ESDM Provinsi Sumatera Barat, Pertamina Regional, dan aparat penegak hukum setempat—diminta turun tangan untuk penyelidikan dan penegakan aturan. (Dolop)



SUMBARNET - Di tengah gegap gempita Piala Dunia 2026, perhatian dunia mendadak tertuju pada sebuah negara kepulauan kecil di Samudra Atlantik. Bukan karena konflik politik atau krisis ekonomi, melainkan karena kejutan yang mereka ciptakan di lapangan hijau.


Cape Verde, negara yang baru menjalani debut di putaran final Piala Dunia, sukses menahan imbang salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia, Spanyol, dengan skor 0-0 pada laga Grup H di Atlanta Stadium, Senin (15/6/2026).


Bagi banyak negara, hasil imbang mungkin terasa biasa. Namun, bagi Cape Verde, hasil tersebut layaknya sebuah kemenangan. Menahan tim peringkat atas dunia tanpa kebobolan menjadi pencapaian bersejarah yang langsung memicu euforia di tanah air mereka.


Sesaat setelah peluit panjang dibunyikan, sebagaimana dilansir dari detikTravel, jalan-jalan di ibu kota Praia berubah menjadi lautan manusia. Klakson kendaraan terdengar bersahutan, bendera nasional berkibar di berbagai sudut kota, sementara ribuan warga turun ke jalan merayakan hasil yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Suasana haru dan bangga menyelimuti kawasan fan zone di pusat kota. Salah seorang pendukung, Isa Conceicao, mengaku sulit menggambarkan perasaannya setelah menyaksikan tim nasional negaranya menahan imbang Spanyol.


"Ini momen yang sangat emosional. Sebagai negara kecil, bisa meraih hasil seperti ini melawan Spanyol adalah perasaan yang luar biasa dan tak tergantikan. Ini perasaan terbaik yang pernah ada," ujarnya.


Di tengah kerumunan, pria, wanita, hingga anak-anak menari bersama mengikuti lantunan lagu dan yel-yel khas Cape Verde. Mereka kompak meneriakkan kalimat nos ora dja txiga, ungkapan dalam bahasa Kreol Cape Verde yang berarti waktu kita telah tiba.


Ungkapan tersebut terasa sangat relevan dengan momen bersejarah yang sedang mereka rayakan.


Bukan hanya warga lokal yang terkesan. Pauline, wisatawan asal Prancis yang sedang berlibur di Cape Verde, menilai keberhasilan tim nasional negara itu tidak lepas dari semangat juang yang mereka tunjukkan sepanjang pertandingan.


"Itu saja yang penting," katanya.


"Saya kira Spanyol akan menang, tapi energi dan kecepatan Cape Verde luar biasa," timpal seorang wisatawan asal Kongo yang untuk pertama kalinya mengunjungi negara tersebut.


Pesona Cape Verde, Lebih dari Sekadar Sepak Bola

Meski sepak bola menjadi olahraga paling populer di Cape Verde, negara ini sebenarnya menyimpan pesona lain yang belum banyak dikenal wisatawan dunia.


Terletak di lepas pantai Afrika Barat, Cape Verde merupakan negara kepulauan yang terdiri atas sejumlah pulau vulkanik dengan karakter alam yang beragam. Pantai berpasir putih, laut berwarna biru jernih, pegunungan, hingga lanskap vulkanik menjadi daya tarik utama negara ini.


Di Pulau Santiago, wisatawan dapat mengunjungi Praia yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus kota terbesar di negara tersebut. Tak jauh dari sana terdapat Cidade Velha, kota kolonial bersejarah yang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO dan dianggap sebagai salah satu permukiman kolonial tertua di Afrika Barat.


Sementara itu, Pulau Sal dikenal sebagai destinasi wisata paling populer. Kawasan Santa Maria Beach menawarkan hamparan pasir putih dan laut berwarna biru toska yang menjadi magnet bagi wisatawan internasional.


Bagi pencinta ketenangan, Pulau Boa Vista menawarkan suasana yang jauh lebih sepi. Pulau ini terkenal dengan pantai-pantai panjang, bukit pasir, dan panorama alam yang masih alami.


Di Pulau Fogo, wisatawan dapat menjelajahi Gunung Pico do Fogo, gunung berapi aktif yang menjadi ikon negara tersebut. Lanskap lava hitam yang kontras dengan desa-desa kecil di sekitarnya menciptakan pemandangan yang dramatis dan unik.


Sementara itu, Pulau São Vicente menjadi pusat seni dan budaya Cape Verde. Kota Mindelo dikenal sebagai rumah bagi musik tradisional morna, kehidupan malam yang semarak, serta berbagai festival budaya yang berlangsung sepanjang tahun.


Bagi pencinta petualangan alam, Serra Malagueta National Park menawarkan jalur trekking dengan panorama lembah, pegunungan, dan vegetasi hijau yang berbeda dari citra Cape Verde sebagai negara kepulauan yang kering.


Perjalanan Panjang dari Indonesia

Bagi wisatawan Indonesia, Cape Verde memang bukan destinasi yang mudah dijangkau. Hingga saat ini belum tersedia penerbangan langsung menuju negara tersebut.


Umumnya, perjalanan dilakukan melalui transit di kota-kota besar seperti Doha, Dubai, Lisbon, atau Amsterdam sebelum melanjutkan penerbangan menuju Cape Verde.


Pintu masuk utama wisatawan internasional biasanya melalui Bandara Internasional Amílcar Cabral yang berada di Pulau Sal. Total waktu perjalanan dari Indonesia dapat mencapai 20 hingga 30 jam, tergantung rute dan durasi transit.


Untuk urusan dokumen perjalanan, wisatawan Indonesia umumnya memerlukan registrasi perjalanan atau visa elektronik sebelum kedatangan. Karena kebijakan keimigrasian dapat berubah sewaktu-waktu, calon pelancong disarankan untuk selalu memeriksa informasi terbaru melalui sumber resmi sebelum melakukan perjalanan.


Kini, berkat kejutan yang mereka ciptakan di Piala Dunia 2026, Cape Verde tidak hanya dikenal sebagai negara kepulauan eksotis di Atlantik. Untuk sesaat, negara kecil berpenduduk kurang dari satu juta jiwa itu berhasil mencuri perhatian dunia dan membuktikan bahwa dalam sepak bola, ukuran negara bukanlah segalanya.


Sc : detik



SUMBARNET - Tanjung Verde mendadak jadi buah bibir setelah sukses menahan Spanyol dalam laga semalam fase Grup H. Ternyata, selain tangguh di lapangan hijau, negara kepulauan di lepas pantai Afrika itu memiliki pesona wisata yang luar biasa.

Tanjung Verde atau yang secara resmi dikenal sebagai Cabo Verde atau Cape Verde adalah negara kepulauan yang terletak di Samudra Atlantik Tengah. Negara itu memiliki total populasi sekitar 600 ribu penduduk.


Memiliki perpaduan budaya Afrika dan Portugal, negara ini juga memiliki pemandangan alam yang indah, mulai dari gunung berapi yang megah hingga pantai berpasir putih yang tenang.


Dirangkum detikTravel dari berbagai sumber, Selasa (16/6/2026), berikut tujuh fakta menarik tentang Tanjung Verde.


7 Fakta Cape Verde:

1. Negara Kepulauan Punya 10 Pulau, Luasnya Lebih Kecil dari Bali

Tanjung Verde terdiri dari 10 pulau utama dan beberapa pulau kecil yang terbentuk dari aktivitas vulkanik. Pulau-pulau tersebut terbagi menjadi dua kelompok yakni Barlavento (pulau angin utara) dan Sotavento (pulau angin selatan).


Secara keseluruhan, negara itu lebih kecil ketimbang Provinsi Bali. Pulau Dewata memiliki total luas wilayah sekitar 5.780 km², sedangkan Cape Verde memiliki luas sekitar 4.033 km². Artinya, wilayah Bali sekitar 1,4 kali lipat lebih luas dibandingkan dengan total daratan Cape Verde.


Di Indonesia, kawasan dengan luas 4.000-an km² itu setara dengan kebanyakan kabupaten. Contoh yang paling mendekati di Pulau Jawa adalah Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat yang memiliki luas sekitar 4.146 km².


2. Bekas Koloni Portugis

Sebelum memperoleh kemerdekaan pada 1975, Tanjung Verde merupakan wilayah koloni Portugal selama ratusan tahun. Karena latar belakang itu, bahasa Portugis menjadi bahasa resmi negara tersebut, meskipun bahasa Kreol Cabo Verde tetap digunakan luas oleh penduduk.


3. Rumah bagi Gunung Berapi Aktif


Salah satu ikon wisata Tanjung Verde adalah Pico do Fogo di Pulau Fogo. Ini merupakan gunung berapi aktif sekaligus titik tertinggi di negara tersebut, dengan ketinggian hingga 2.829 meter di atas permukaan laut.


4. Desa Unik di Tengah Kaldera

Di dalam kaldera Gunung Pico do Fogo itu terdapat desa kecil bernama Cha das Caldeiras. Di sana, kurang lebih dihuni sekitar 700 penduduk dengan mayoritas penduduknya bertani anggur.


5. Danau Garam Pedra de Lume


Berada di Pulau Sal, tambang garam yang bernama Pedra de Lume ini merupakan kawah vulkanik, air laut menguap menjadi garam. Menjadikan area ini salah satu daya tarik wisata yang ada di Tanjung Verde.


6. Wilayah Penting untuk Konservasi Penyu

Tanjung Verde adalah lokasi bersarang terpenting ketiga di dunia bagi penyu tempayan (Loggerhead turtles), tepatnya di Pulau Boavista dan Sal. Sekitar 90% penyu tempayan bertelur di Tanjung Verde bertelur di Pulau Boa Vista.


7. Kota Tua Penyandang Predikat Warisan Dunia UNESCO

Kota Cidade Velha merupakan kota yang berada di Pulau Santiago dan telah ditetapkan sebagai warisan dunia UNESCO pada 2009. Kota ini menjadi saksi sejarah perkembangan Tanjung Verde, dengan salah satu peninggalannya adalah Fortaleza Real de Sao Filipe (Benteng Kerajaan Sao Filipe).


Sc : detik



SUMBARNET - Perjalanan Cape Verde di ajang Piala Dunia menyita perhatian banyak orang setelah memberikan perlawanan sengit saat melawan Argentina di babak 32 besar. Di balik penampilan impresif tersebut, negara kepulauan di lepas pantai Afrika barat itu menyimpan beragam cerita menarik lainnya.


Cape Verde atau Cabo Verde, yang secara resmi Republik Cabo Verde, adalah negara kepulauan di Samudra Atlantik tengah. Beribu kota Praia, negara ini merupakan bagian dari ekoregion Macaronesia, bersama dengan Azores, Kepulauan Canary, Madeira, dan Kepulauan Savage.


Dikutip dari situs Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Kepulauan Tanjung Verde terletak di tengah Samudra Atlantik, sekitar 450 kilometer (sekitar 300 mil) dari pantai barat Afrika. Kepulauan ini terdiri atas 10 pulau dan 5 pulau kecil, yang terbagi menjadi kelompok sisi angin (Barlavento) dan sisi terlindung angin (Sotavento).


Pulau-pulau utama di kelompok Barlavento adalah Santo Antóo, São Vicente, Santa Luzia, São Nicolau, Sal, dan Boa Vista. Sedangkan pulau-pulau di kelompok Sotavento meliputi Maio, Santiago, Fogo, dan Brava. Semua pulau yang lebih besar kecuali Santa Luzia dihuni.


Tiga pulau, Sal, Boa Vista, dan Maio, umumnya datar dan sangat kering. Pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.280 meter (4.200 kaki) ditemukan di Santiago, Fogo, Santo Antóo, dan São Nicolau.


Curah hujan tidak teratur, kepulauan ini mengalami kekeringan berkala dan akibatnya kekurangan pangan. Curah hujan rata-rata per tahun di Praia adalah 24 sentimeter (9,5 inci). Selama musim dingin, badai yang bertiup dari Sahara terkadang membuat langit berawan, tetapi hari-hari cerah adalah hal yang biasa sepanjang tahun.


Penduduk Cape Verde


Kepulauan Tanjung Verde tidak berpenghuni hingga bangsa Portugis menemukan pulau-pulau tersebut pada tahun 1456. Orang Afrika dibawa ke pulau-pulau tersebut untuk bekerja di perkebunan Portugis. Akibatnya, penduduk Tanjung Verde memiliki campuran keturunan Afrika dan Eropa.


Pengaruh budaya Afrika paling terasa di pulau Santiago, tempat separuh penduduk tinggal. Curah hujan yang jarang dan sedikitnya sumber daya alam secara historis telah mendorong penduduk Tanjung Verde untuk beremigrasi.


Diperkirakan bahwa dari lebih dari 1 juta individu keturunan Tanjung Verde, kurang dari setengahnya benar-benar tinggal di pulau-pulau tersebut. Komunitas diaspora Tanjung Verde tersebar di Amerika Serikat, Portugal, Belanda, Italia, Prancis, dan Senegal.


Bahasa resmi adalah Portugis, tetapi sebagian besar penduduk Tanjung Verde juga berbicara dialek Kreol, Krioulo, yang berbasis pada bahasa Portugis kuno tetapi dipengaruhi oleh bahasa-bahasa Afrika dan Eropa. Tanjung Verde memiliki tradisi sastra dan musik Kreol yang kaya.


Sejarah Cape Verde
Pada tahun 1462, para pemukim Portugis tiba di Santiago dan mendirikan Ribeira Grande (sekarang Cidade Velha), kota pemukiman permanen Eropa pertama di daerah tropis. Pada abad ke-16, kepulauan ini makmur berkat perdagangan budak transatlantik.


Setelah serangan Prancis pada tahun 1712, kota ini mengalami penurunan pentingnya dibandingkan dengan Praia, yang menjadi ibu kota pada tahun 1770.


Dengan menurunnya perdagangan budak, kemakmuran awal Tanjung Verde perlahan lenyap. Namun, posisi kepulauan tersebut di jalur pelayaran Atlantik tengah menjadikan Tanjung Verde lokasi yang ideal untuk memasok kembali kapal-kapal. Karena pelabuhannya yang sangat baik, Mindelo (di pulau São Vicente) menjadi pusat perdagangan penting selama abad ke-19.


Portugal mengubah status Tanjung Verde dari koloni menjadi provinsi seberang laut pada tahun 1951 dalam upaya untuk meredam nasionalisme yang berkembang. Meskipun demikian, pada tahun 1956, Amilcar Cabral, seorang warga Tanjung Verde, dan sekelompok warga Tanjung Verde dan Guinea-Bissau mendirikan (di Guinea-Bissau) Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea-Bissau dan Tanjung Verde atau the African Party for the Independence of Guinea-Bissau and Cape Verde (PAIGC) secara diam-diam, yang menuntut perbaikan kondisi ekonomi, sosial, dan politik di Tanjung Verde dan Guinea Portugis dan menjadi dasar gerakan kemerdekaan kedua negara tersebut.


Pada tahun 1972, PAIGC menguasai sebagian besar Guinea Portugis meskipun ada kehadiran pasukan Portugis. Organisasi ini tidak berupaya mengganggu kendali Portugis di Tanjung Verde. Namun, setelah revolusi April 1974 di Portugal, PAIGC menjadi gerakan politik yang aktif di Tanjung Verde.


Pada Desember 1974, PAIGC dan Portugal menandatangani perjanjian yang mengatur pemerintahan transisi yang terdiri dari warga Portugal dan warga Tanjung Verde. Pada 30 Juni 1975, warga Tanjung Verde memilih Majelis Nasional, yang menerima instrumen kemerdekaan dari Portugal pada 5 Juli 1975.


Segera setelah kudeta November 1980 di Guinea-Bissau (Guinea Portugis mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1973 dan diberikan kemerdekaan de jure pada tahun 1974), hubungan antara kedua negara menjadi tegang. Tanjung Verde meninggalkan harapannya untuk bersatu dengan Guinea-Bissau dan membentuk Partai Afrika untuk Kemerdekaan Tanjung Verde atau the African Party for the Independence of Cape Verde (PAICV).


Masalah-masalah tersebut sejak itu telah diselesaikan, dan hubungan antara kedua negara membaik. PAICV dan pendahulunya mendirikan sistem satu partai dan memerintah Tanjung Verde sejak kemerdekaan hingga tahun 1990.


Pemerintahan Cape Verde
Konstitusi Tanjung Verde yang diadopsi pada tahun 1980 dan mengalami beberapa kali amandemen menjadi dasar pemerintahan. Perdana Menteri adalah kepala pemerintahan dan dengan demikian mengusulkan menteri dan sekretaris negara lainnya.


Anggota Majelis Nasional dipilih melalui pemilihan umum untuk masa jabatan 5 tahun. Perdana Menteri dinominasikan oleh Majelis Nasional dan diangkat oleh Presiden. Presiden adalah kepala negara dan dipilih melalui pemilihan umum untuk masa jabatan 5 tahun.


Sistem peradilan terdiri dari Mahkamah Agung, yang anggotanya diangkat oleh Presiden, Majelis Nasional, dan Dewan Kehakiman, serta pengadilan daerah. Pengadilan-pengadilan terpisah menangani kasus perdata, konstitusional, dan pidana. Banding diajukan ke Mahkamah Agung.

Sc : detik



SUMBARNET - Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Padang, Malvi Hendry, menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur di Kota Padang harus diwujudkan melalui perencanaan yang matang serta pelaksanaan yang berkualitas.


Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya memiliki konsep yang baik, tetapi juga harus dieksekusi secara tepat sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


Penegasan tersebut disampaikan Malvi Hendry saat melakukan peninjauan ke kawasan Batang Arau dan saluran Kalimati pada Jumat (3/7/2026).


Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V serta Camat Padang Barat sebagai bentuk sinergi lintas instansi dalam menangani persoalan infrastruktur dan pengelolaan sumber daya air.


Dalam peninjauan tersebut, rombongan melihat langsung kondisi kawasan Batang Arau dan saluran Kalimati, termasuk sejumlah titik yang memerlukan penanganan agar fungsi drainase, pengendalian banjir, serta penataan kawasan dapat berjalan lebih optimal.


Malvi Hendry mengatakan, koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat menjadi faktor penting dalam mempercepat penyelesaian berbagai persoalan infrastruktur yang selama ini menjadi perhatian masyarakat.


"Setiap pembangunan harus memberikan manfaat yang nyata. Kita tidak ingin hanya memiliki perencanaan yang bagus di atas kertas, tetapi pelaksanaannya tidak sesuai harapan. Karena itu, kami turun langsung ke lapangan untuk memastikan setiap program dapat dilaksanakan dengan baik, tepat sasaran, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat," ujar Malvi Hendry.


Ia menambahkan, kunjungan lapangan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menyamakan persepsi dan langkah antarinstansi sehingga setiap pekerjaan dapat dilakukan secara terintegrasi tanpa tumpang tindih kewenangan.


Menurutnya, sinergi antara Pemerintah Kota Padang, BWS Sumatera V, serta seluruh pemangku kepentingan merupakan modal penting dalam mewujudkan pembangunan yang efektif dan berkelanjutan.


"Sinergi adalah kunci keberhasilan pembangunan. Dengan koordinasi yang baik, setiap rupiah anggaran yang digunakan benar-benar menghasilkan solusi atas persoalan yang ada, bukan justru menimbulkan masalah baru. Kami ingin seluruh program berjalan efektif, efisien, dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat," katanya.


Malvi Hendry juga berharap kolaborasi yang telah terjalin dapat terus diperkuat sehingga berbagai pekerjaan infrastruktur, khususnya yang berkaitan dengan pengendalian banjir, normalisasi saluran, serta penataan kawasan Batang Arau dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai prioritas.


"Kami berharap seluruh pihak terus menjaga komitmen untuk bekerja bersama. Dengan kebersamaan dan koordinasi yang kuat, berbagai tantangan pembangunan dapat diselesaikan lebih cepat sehingga masyarakat dapat merasakan hasil pembangunan yang aman, nyaman, dan berkelanjutan," tuturnya.


Peninjauan lapangan tersebut menjadi bukti komitmen Pemerintah Kota Padang untuk terus memastikan pembangunan infrastruktur dilaksanakan secara profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.


Melalui kolaborasi lintas instansi, diharapkan setiap program pembangunan mampu meningkatkan kualitas lingkungan, memperkuat ketahanan kawasan terhadap banjir, serta mendukung pertumbuhan Kota Padang yang lebih tertata dan berdaya saing. (**)

 


SUMBARNET - Sinergi antara Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, TNI, dan Polri kembali diperkuat melalui kegiatan "Subuh Mubarak dan Gerakan Subuh Berjamaah" yang dipusatkan di Mesjid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Padang, Minggu (5/7/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan 20 Muharam 1448 H ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga momentum strategis untuk membangun karakter generasi penerus yang religius dan berintegritas.


Kapolda Sumatera Barat, Komjen Pol. Dr. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa akar permasalahan sosial seperti dekadensi moral, kekerasan terhadap anak, hingga penyalahgunaan narkoba dapat diminimalisir melalui penguatan pendidikan karakter sejak dini.


"Keluarga adalah madrasah pertama dalam menanamkan nilai keimanan dan akhlak. Kita padukan dengan nilai-nilai culture policing—seperti disiplin, integritas, tanggung jawab, dan keteladanan—sebagai pelengkap untuk membentuk karakter anak secara utuh," ujar Komjen Pol. Gatot Tri Suryanta.


Dalam kesempatan tersebut, Polda Sumbar juga meluncurkan buku berjudul "Pendidikan Agama dan Culture Policing" yang diharapkan menjadi panduan dalam pembangunan karakter, baik bagi keluarga besar Polri maupun masyarakat luas.


Senada dengan Kapolda, Kabiro SDM Polda Sumbar, Kombes Pol. Anissullah M. Ridha, turut menggarisbawahi pentingnya peran keluarga. Menurutnya, pembangunan karakter anak harus dimulai dari lingkungan rumah tangga yang harmonis untuk mencetak generasi penerus yang memiliki kekuatan moral dan intelektual.


"Keluarga merupakan pondasi utama. Jika pendidikan agama dan budaya kepolisian yang disiplin dapat diterapkan di rumah, maka anak-anak akan tumbuh menjadi individu yang memiliki kekuatan spiritual sekaligus karakter yang kuat di masyarakat," ungkap Kombes Pol. Anissullah M. Ridha.


Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol. Susmelawati Rosya, menambahkan bahwa kegiatan kolaboratif ini telah mendapatkan dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat, termasuk pelajar yang kini mulai membiasakan diri mengikuti Subuh Berjamaah.


"Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Ini membuktikan bahwa program Subuh Berjamaah telah menjadi kebutuhan kolektif. Sinergi ini akan terus kita dorong untuk memastikan Sumatera Barat tetap menjadi wilayah yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh lapisan masyarakat," tutur Kombes Pol. Susmelawati Rosya.


Kegiatan ini turut dihadiri oleh Gubernur Sumatera Barat H. Mahyeldi, unsur Forkopimda, serta sejumlah pejabat utama Polda Sumbar, tokoh masyarakat, dan unsur TNI, yang semakin mempererat kebersamaan dalam membangun nilai-nilai kebaikan di Sumatera Barat. (**)

 


SUMBARNET - KPK masih mentapkan dua orang sebagai tersangka dalam kasus fee proyek di Kabupaten Langkat. Dua yang ditetapkan sebagai tersangka yakni Bupati Syah Afandin alias Ondim dan seorang pihak swasta bernama Yaqub Abdhal Al Mu'arif. 


Yaqub dikenal sebagai tim sukses Ondim saat menjalani Pilkada Langkat waktu lalu. Dia juga kerap menjadi kepercayaan dari Ondim. 


Hal ini diungkap KPK dalam konferensi pers di jakarta, Jumat (3/7/2026) malam. 


"Berdasarkan kecukupan bukti permulaan dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi terkait suap proyek di lingkungan Pemkab Langkat, KPK kemudian menaikkan perkara ini ke tahap penyidikan, dan menetapkan dua orang sebagai tersangka," ujar Plt Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein dalam konferensi pers, Jumat (3/7/2026).


Selain suap proyek, KPK juga menemukan dugaan penerimaan lainnya oleh Ondim senilai Rp 3,5 miliar. Penerimaan itu terkait mutasi hingga pengadaan seragam sekolah.


"Selain dugaan tindak pidana korupsi suap proyek di lingkungan Pemkab Langkat, KPK juga menemukan adanya dugaan penerimaan lainnya atau gratifikasi oleh SAF dengan total sekurang-kurangnya Rp3,5 miliar," ucapnya.


Keduanya ditahan KPK selama 20 hari ke depan. Syah ditahan di rutan KPK, sedangakan Yaqub dititipkan sementara di Rutan Polresta Medan.


"KPK selanjutnya melakukan penahanan terhadap para tersangka untuk 20 hari pertama sejak tanggal 3 Juli sampai dengan 22 Juli 2026," ucapnya.


Terhadap Syah disangkakan Pasal 12 huruf a atau huruf b dan/atau Pasal 12 B UU Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor. 


Sementara terhadap Yaqub disangkakan Pasal 605 atau Pasal 606 ayat (1) UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP jo. UU No. 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana jo Pasal 20 huruf c UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP.


Juru Bicara KPK Budi Prasetyo membenarkan kedatangan politikus tersebut dan menyatakan penyidik akan langsung menggali keterangan lebih lanjut.

 

"Bupati Langkat, salah satu yang diamankan dalam peristiwa tertangkap tangan ini, sudah tiba di gedung KPK Merah Putih, sekitar pukul 14.30 WIB. Yang bersangkutan selanjutnya akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut," ujar Budi kepada awak media.


Sementara itu, tim KPK belum memberangkatkan enam orang lainnya yang ikut terjaring operasi menuju ibu kota.    

 

Penyidik masih membutuhkan waktu guna memeriksa satu Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Langkat dan lima pihak swasta tersebut.  "Menjalani pemeriksaan di Polrestabes Medan," ucap Budi. (**)

  


SUMBARNET - Bupati Langkat Syah Afandin alias Ondim ternyata bukan ditangkap saat menghadiri acara APKASI di Lubukpakam. 


KPK menggelar operasi penangkapan Ondim di rumah pribadinya di Jalan Setia Jadi, Kecamatan Medan Timur, Kamis (2/7/2026). 


Penangkapan Ondim merupakan pengembangan dari OTT di Binjai terkait kasus dugaan suap.


KPK mengatakan bahwa ada 7 orang yang terjaring operasi penangkapan di Sumut; Binjai, Medan, Deliserdang.


Beberapa pekan sebelum OTT tersebut, nama Ondim sempat menjadi bahan guyonan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution ketika dia menghadiri pelantikan pengurus DPW dan DPD PAN se-Sumatera Utara periode 2024-2029.


Momen itu terjadi dalam acara pelantikan yang digelar di IKM Hall Deli Husada, Deliserdang, Minggu (14/6) atau setidaknya dua pekan sebelum OTT KPK. Acara tersebut turut dihadiri Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan.


Pada kesempatan itu, Syah Afandin dilantik sebagai Ketua DPW PAN Sumatera Utara, didampingi Dedy Irawan sebagai Sekretaris dan Mora Harahap sebagai Bendahara. Sejumlah pengurus DPD PAN kabupaten/kota se-Sumatera Utara juga dilantik bersamaan.


Saat memberikan sambutan, Bobby sempat melempar candaan kepada para kader PAN yang hadir dengan menanyakan kepanjangan nama panggilan Ondim.


"Udah tahu ya? Tahu? Bagi yang belum tahu, On-Dim itu singkatan dari 'Ongkos Di Muka'," kata Bobby disambut gelak tawa kader PAN kader PAN kala itu dikutip dari rekaman video acara tersebut pada unggahan Instagram.


Saat itu, Bobby melanjutkan candaannya dengan menyebut para pengurus PAN kabupaten/kota yang baru dilantik perlu ditanya apakah istilah tersebut juga berlaku saat proses pemilihan ketua di daerah masing-masing.


"Jadi, tadi yang maju-maju di depan ini tadi tum (Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan), yang dilantik sekaligus sama Bang On-Dim tadi perlu kita tanya juga tadi satu-satu ini. Berlaku enggak nama On-Dim tadi pas mau mendapatkan ketua Kabupaten/Kota tadi," ungkap Bobby yang juga politikus Gerindra tersebut. (**)



SUMBARNET - Video dua pria dihukum dilakban seluruh tubuh menyerupai salah satu karakter fiksi anak Teletubbies, Tinky Winky, karena kepergok mencuri viral di media sosial (medsos). Ternyata, faktanya bukan demikian.


Video tersebut ramai diunggah sejumlah akun media sosial (medsos). Dalam video yang beredar, kedua pria yang disebut maling itu dihukum warga dengan dibungkus seluruh tubuhnya menggunakan lakban.


Bagian kepala mereka dibentuk menyerupai karakter tertentu, salah satunya Tinky Winky, atau ada juga yang menyebutnya Upin Ipin versi lokal. Kedua pria itu tampak tak berdaya karena hanya tersisa mata, hidung, dan mulut yang tak ditutup lakban.


Namun faktanya tidak demikian. Kedua pria tersebut bukan maling yang kemudian dihukum warga setelah ditangkap dengan dilakban seluruh tubuhnya hingga menyerupai karakter tertentu.


Mereka ternyata kelompok kreator konten asal Malang, Jawa Timur (Jatim), yang kerap bikin video humor. Hal itu disampaikan salah satu dari mereka, Syahroni Muhammad.


"Ini aku sama temenku, namanya Feri Wedon, aku sama Feri Wedon ini content creator," kata Syahroni saat dihubungi detikcom, Kamis (2/7/2026).


Dia mengaku sering membuat konten di berbagai platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Lalu, mereka mendapatkan tantangan (challenge) dari salah satu penonton saat live.


"Lagi menjalankan live TikTok, terus di-challenge orang, dikasih gift suruh lakban (badan) full. Selesai dilakban, makan terasi, jadi seperti orang kesakitan," jelasnya.


Namun kemudian video tersebut diambil akun medsos di Instagram dan diberi narasi yang tak sesuai. Dia menegaskan video maling motor dihukum menjadi Tinky Winky Teletubbies tak sesuai dengan fakta.


"Akhirnya diambil akun IG, namanya 'Harian Kampung'. Di situ dikasih narasi yang gak bermutu dan gak sesuai, akhirnya viral, rame semua media sosial," kata Syahroni.


"Untuk yang sebenarnya itu, kita ini content creator Batre TV YouTube, bukan maling," tambah dia.


Namun berkat berita viral tersebut, akun mereka makin ramai dikunjungi warganet. (**)



Padang – Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sumatera Barat terus menghadirkan inovasi pelayanan publik yang humanis dan responsif melalui program "Polantas Menyapa".


Program ini menjadi salah satu bentuk komitmen Ditlantas Polda Sumbar dalam memberikan kemudahan kepada masyarakat, khususnya bagi warga yang sedang mengurus administrasi kendaraan bermotor, termasuk pembayaran pajak kendaraan.


Melalui program tersebut, personel Ditlantas Polda Sumbar hadir secara langsung memberikan pendampingan, informasi, serta pelayanan kepada masyarakat yang datang mengurus administrasi kendaraan.


Tidak hanya memastikan proses pelayanan berjalan lancar, petugas juga memberikan edukasi mengenai pentingnya kepatuhan administrasi kendaraan sebagai bagian dari upaya mewujudkan tertib berlalu lintas.


Suasana pelayanan yang ramah, cepat, dan profesional menjadi wajah pelayanan yang terus dibangun Ditlantas Polda Sumbar.


Dalam pelaksanaannya, petugas menyambut masyarakat dengan pendekatan humanis sehingga setiap pemohon merasa nyaman selama proses pengurusan dokumen kendaraan berlangsung.


Direktur Lalu Lintas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol. Reza Chairul Akbar Sidiq, S.I.K., mengatakan bahwa program Polantas Menyapa merupakan implementasi nyata transformasi pelayanan publik Polri yang berorientasi pada kepuasan masyarakat.


"Program Polantas Menyapa kami hadirkan sebagai bentuk komitmen Ditlantas Polda Sumbar untuk semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Kami ingin memastikan setiap warga yang datang mengurus administrasi kendaraan mendapatkan pelayanan yang cepat, mudah, ramah, transparan, dan profesional. Kehadiran personel di tengah masyarakat juga menjadi sarana membangun komunikasi yang baik sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya tertib administrasi kendaraan," ujar Kombes Pol. Reza Chairul Akbar Sidiq, S.I.K.


Menurutnya, pelayanan publik tidak hanya diukur dari cepatnya proses administrasi, tetapi juga dari kualitas interaksi antara petugas dengan masyarakat. Oleh karena itu, Ditlantas Polda Sumbar terus mendorong seluruh personel agar mengedepankan sikap humanis, komunikatif, serta memberikan solusi terhadap setiap kebutuhan masyarakat.


Selain memberikan pelayanan administrasi, petugas juga menyampaikan berbagai informasi terkait kewajiban pembayaran pajak kendaraan bermotor, kelengkapan dokumen kendaraan, serta pentingnya memiliki surat-surat kendaraan yang sah sebagai bentuk kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.


Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk selalu memenuhi kewajiban administrasi kendaraan secara tepat waktu. Dengan administrasi kendaraan yang lengkap dan pajak yang dibayarkan sesuai ketentuan, masyarakat turut berkontribusi dalam mendukung keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di wilayah Sumatera Barat.


Kombes Pol. Reza Chairul Akbar Sidiq menegaskan bahwa Ditlantas Polda Sumbar akan terus melakukan berbagai inovasi pelayanan agar masyarakat semakin mudah memperoleh layanan kepolisian, khususnya di bidang lalu lintas.


"Harapan kami, masyarakat semakin percaya terhadap pelayanan Polri dan semakin sadar akan pentingnya melengkapi administrasi kendaraan. Kepatuhan membayar pajak kendaraan dan melengkapi dokumen bukan hanya memenuhi kewajiban hukum, tetapi juga menjadi bentuk tanggung jawab bersama dalam mendukung pembangunan daerah dan menciptakan budaya tertib berlalu lintas. Kami akan terus berupaya menghadirkan pelayanan yang semakin berkualitas, mudah diakses, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat," tambahnya.


Melalui Polantas Menyapa, Ditlantas Polda Sumbar berharap hubungan antara Polri dan masyarakat semakin erat. Program ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan publik melalui pelayanan yang cepat, akuntabel, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.


Dengan semangat "Melayani Dengan Hati untuk Masyarakat Sumbar", Ditlantas Polda Sumbar berkomitmen terus menghadirkan pelayanan prima yang tidak hanya memberikan kemudahan dalam pengurusan administrasi kendaraan, tetapi juga mendorong terwujudnya budaya tertib berlalu lintas demi keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di Sumatera Barat. (**)