SUMBARNET - Pemerintah memastikan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah melalui koordinasi intensif antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna menjaga stabilitas perekonomian nasional.


Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah bersama otoritas terkait terus melakukan pengawasan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam merespons dinamika pergerakan nilai tukar rupiah.


"Pemerintah terus melakukan koordinasi dan pemantauan secara intensif bersama Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan OJK untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga," kata Prasetyo Hadi dalam keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/6/2026).


Meski nilai tukar rupiah mengalami dinamika seiring perkembangan ekonomi global, Prasetyo meminta masyarakat tetap optimistis terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Menurutnya, sejumlah indikator utama menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi kuat.


Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih mencatatkan kinerja positif. Selain itu, tingkat inflasi juga tetap terkendali sehingga menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.


"Kekuatan fundamental ekonomi kita masih sangat baik. Pertumbuhan ekonomi tetap positif dan inflasi terkendali. Ini menjadi landasan kuat bagi Indonesia untuk menghadapi berbagai dinamika ekonomi global," ujarnya.


Prasetyo menambahkan, pemerintah akan terus menjaga sinergi dan koordinasi dengan seluruh otoritas ekonomi agar stabilitas ekonomi nasional tetap terpelihara. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha dan masyarakat.


Dengan dukungan fundamental ekonomi yang kuat serta koordinasi yang solid antarotoritas ekonomi, pemerintah meyakini stabilitas perekonomian nasional akan tetap terjaga di tengah tantangan global dan fluktuasi nilai tukar yang terjadi saat ini. (***)



SUMBARNET - Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Relawan Prabowo Subianto Indonesia Kuat (REPRO) Sumatera Barat, Roni, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Proyek Preservasi Jalan Sei Dareh Junction (Koto Baru) yang dinilai mengedepankan kepatuhan hukum, transparansi, dan penggunaan material yang berasal dari sumber resmi serta memiliki perizinan lengkap.di bawah pengawasan pejabat Pembuat komitmen (PPK) 2.2


Proyek strategis yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025 tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp168.523.868.000 dengan masa pelaksanaan selama 725 hari kalender. Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Paesa Pasindo Engineering – PT Basuki Rahmanta Putra KSO, dengan pengawasan konsultan PT Arkado Gahana Konsultan KSO.


Menurut Roni, komitmen Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) dalam memastikan seluruh material yang digunakan berasal dari sumber yang memiliki legalitas resmi patut menjadi contoh dalam pelaksanaan proyek infrastruktur nasional.


“Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga kualitas pembangunan sekaligus memastikan seluruh aktivitas pendukung proyek berjalan sesuai ketentuan hukum. Kami mengapresiasi BPJN yang konsisten menggunakan material dari sumber yang memiliki izin resmi dan legalitas yang jelas,” ujar Roni.


Ia menegaskan bahwa seluruh entitas yang terlibat dalam rantai pasok proyek telah memenuhi persyaratan regulasi, mulai dari perizinan pertambangan, kesesuaian pemanfaatan ruang, hingga dokumen lingkungan hidup yang diwajibkan pemerintah.


Berdasarkan data yang diperoleh, CV Dharma Mandiri Sukses telah memiliki Surat Izin Penambangan Batuan dengan Nomor Register 91200027628310009 yang berlaku hingga 25 Maret 2028. Perusahaan tersebut juga telah mengantongi persetujuan Kelayakan Lingkungan Hidup untuk kegiatan pertambangan penggalian kerikil dan sirtu.


Selain itu, aspek lingkungan hidup kegiatan pertambangan turut diperkuat dengan dokumen kelayakan lingkungan atas nama CV Mutiara Chaniago yang berlaku hingga tahun 2030.


Tidak hanya sektor penyediaan material, fasilitas operasional penunjang proyek juga telah dilengkapi dokumen legal yang dipersyaratkan. Penyedia jasa tercatat memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) yang sah, Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR), serta dokumen lingkungan untuk fasilitas produksi.


Fasilitas Stone Crusher dan Asphalt Mixing Plant (AMP) yang digunakan dalam mendukung pekerjaan proyek juga telah memiliki Nomor Kegiatan Usaha dan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (SPPL) yang diterbitkan oleh instansi berwenang.


Roni menilai langkah tersebut mencerminkan tata kelola proyek yang baik, akuntabel, dan sejalan dengan semangat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong pembangunan infrastruktur yang berkualitas, transparan, dan berkelanjutan.


“Dengan adanya kepastian legalitas seluruh sumber material dan fasilitas pendukung, masyarakat dapat melihat bahwa pembangunan jalan nasional ini tidak hanya mengejar target fisik, tetapi juga memperhatikan aspek hukum, lingkungan, dan tata kelola yang baik. Ini patut diapresiasi,” tegasnya.


REPRO Sumatera Barat berharap pola pengawasan dan kepatuhan terhadap regulasi seperti ini dapat terus dipertahankan dalam setiap proyek strategis nasional sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat secara optimal dengan tetap menjunjung prinsip keberlanjutan dan kepastian hukum. (**)

 


SUMBARNET - Semen Padang FC memasuki babak baru dalam struktur kepengurusan. Hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Kabau Sirah Semen Padang telah merampungkan susunan direksi dan jajaran manajemen klub, dengan menempatkan Andre Rosiade sebagai Presiden Klub.

‎Kabar ini disampaikan langsung melalui unggahan resmi di akun Instagram Andre Rosiade pada Jumat (5/6/2026). Perombakan ini mencakup struktur korporasi hingga manajemen operasional tim Kabau Sirah.

‎Di level perusahaan, PT Kabau Sirah Semen Padang selaka entitas yang menaungi klub menempatkan Ilham Aldelano Azre sebagai Komisaris Utama. Ia didampingi dua komisaris lain, yakni Win Bernadino dan Erick Reza Alandri.

‎Untuk jajaran direksi, posisi Direktur Utama (Dirut) dipegang oleh Muhammad Ammar Tsaqif Rosiade. Sementara posisi Direktur Operasional ditempati Braditi Moulevey dan Direktur Keuangan dipegang Freddo Syukri.

‎Pada struktur manajemen operasional klub, posisi puncak tertinggi diberikan kepada Andre Rosiade sebagai Presiden Klub. Selain itu, terdapat jajaran penasehat klub yang terdiri dari H. Suhatman Iman dan Verry Mulyadi.

‎Untuk urusan operasional harian tim, posisi Chief Executive Officer (CEO) dipegang oleh Muhammad Ammar Tsaqif Rosiade (merangkap jabatan). Adapun Chief of Operational Officer (COO) yang sekaligus bertindak sebagai Manajer Tim adalah Braditi Moulevey.

‎Posisi General Manager atau Asisten Manajer Tim diisi oleh Denny Shulton, didampingi asisten manajer tim lainnya, Wahyu Hidayat.

‎Dalam unggahan yang sama, warganet memberikan sejumlah respons. Banyak pihak berharap manajemen baru yang dipimpin Andre Rosiade mampu membawa Semen Padang FC kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

‎"Semoga bisa dimatangkan program short-term and long-term-nya," tulis salah satu akun dalam kolom komentar. Doa dan dukungan juga mengalir agar Kabau Sirah bisa segera bangkit dan berbenah, termasuk mencari pemain-pemang tangguh.

‎Manajemen baru ini diharapkan segera bekerja maksimal menyambut kompetisi mendatang. (**)

 


‎Jakarta,- Digitalisasi sistem pembayaran tol otomatis di Indonesia terus digenjot. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, memimpin percepatan integrasi antara superapp Livin' by Mandiri dan Travoy Go milik Jasa Marga.

‎Hal ini diungkap melalui unggahan akun resmi BUMN pada Jumat 5 Juni 2026 pertemuan yang juga dihadiri Deputi Bidang Peningkatan Nilai BUMN Endra Gunawan serta para direksi Jasa Marga dan Bank Mandiri, pembahasan difokuskan pada pembentukan ekosistem digital yang memudahkan sistem pembayaran perjalanan, terutama pembayaran tol otomatis.

‎"Langkah ini diarahkan untuk mempercepat digitalisasi layanan transportasi dan meningkatkan kenyamanan perjalanan masyarakat di jalan tol," ujar Dony Oskaria 

‎Beberapa poin utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut meliputi progres pengembangan fitur pembayaran digital melalui integrasi Travoy Go dan Livin' by Mandiri, kesiapan implementasi sistem Cashless Free Flow Payment (CF2P), pengembangan metode pembayaran yang lebih beragam, serta penguatan infrastruktur digital untuk mendukung transaksi tol yang lebih seamless, aman, dan efisien.

‎Dengan integrasi ini, pengguna jalan tol nantinya tidak perlu lagi mengunduh banyak aplikasi. Cukup menggunakan Livin' Mandiri, masyarakat bisa mengakses layanan Travoy untuk pembayaran tol otomatis, parkir, hingga top-up saldo elektronik.

‎"Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antar-BUMN dalam menghadirkan layanan publik yang modern dan berorientasi pada kebutuhan pengguna," ujar Dony

‎Masyarakat kini menunggu jadwal uji coba dan peluncuran resmi sistem pembayaran terintegrasi tersebut.

‎"Bahwa percepatan ini merupakan prioritas untuk mewujudkan sistem tol nirsentuh dan nontunai di Indonesia," pungkasnya (***)

 


Bukittinggi, SUMBARNET.ID – Semangat pelestarian lingkungan mewarnai rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang. Pemerintah Kota Bukittinggi bersama Polda Sumatera Barat dan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 melaksanakan aksi penanaman 1.000 pohon di kawasan Tabiang Barasok, Kamis (4/6/2026).


Kegiatan ini menjadi simbol kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga kelestarian alam sekaligus memperkuat komitmen menjadikan Bukittinggi sebagai kota yang hijau, sehat, dan berkelanjutan.


Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, menegaskan bahwa penanaman pohon merupakan bagian penting dari rangkaian peringatan satu abad Jam Gadang, ikon kebanggaan masyarakat Bukittinggi dan Sumatera Barat.

“Penanaman 1.000 pohon yang diinisiasi Kapolda Sumatera Barat bersama IMLF 2026 ini menjadi simbol kepedulian kita terhadap lingkungan sekaligus bagian dari peringatan 100 Tahun Jam Gadang. Pohon yang ditanam hari ini merupakan investasi bagi generasi mendatang agar tetap menikmati udara yang bersih, lingkungan yang asri, dan sumber daya alam yang terjaga,” ujarnya.


Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan program Bukittinggi Go Green yang terus digencarkan Pemerintah Kota melalui revitalisasi taman kota, pengembangan geopark, pembangunan berkonsep green building, serta peningkatan ruang terbuka hijau.


Ibnu Asis juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut menjaga dan merawat lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.

“Kami berharap seluruh masyarakat ikut berpartisipasi dalam merawat lingkungan demi terwujudnya Bukittinggi yang semakin hijau, lestari, dan gemilang,” tambahnya.


Sementara itu, Kepala Biro SDM Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Anissullah M. Ridha, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan IMLF 2026 yang tidak hanya mengangkat literasi dan kebudayaan Minangkabau, tetapi juga menghadirkan aksi nyata bagi lingkungan.


Ia menjelaskan, melalui program Culture Policing, Polda Sumbar terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam, salah satunya melalui gerakan penanaman pohon.

“Kami sangat berbahagia dapat berpartisipasi dalam rangkaian IMLF 2026 yang turut memeriahkan peringatan 100 Tahun Jam Gadang. Melalui program Culture Policing, Polda Sumbar terus mendorong kepedulian terhadap lingkungan, termasuk melalui penanaman pohon dan dukungan penyediaan 1.000 bibit pohon untuk kegiatan ini,” ungkapnya.


Kegiatan ini menjadi bukti bahwa peringatan 100 Tahun Jam Gadang tidak hanya berfokus pada aspek sejarah dan budaya, tetapi juga menghadirkan warisan hijau bagi masa depan. Ribuan pohon yang ditanam di Tabiang Barasok diharapkan mampu memberikan manfaat ekologis jangka panjang sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam.


Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian lingkungan, peringatan satu abad Jam Gadang menjadi momentum untuk mewariskan Bukittinggi yang lebih hijau, lestari, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (**)

 


SUMBARNET - Pemerintah terus menggenjot transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar lebih kompetitif di era global. Fokus utama kini tertuju pada penguatan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan adaptif.

‎Kepala Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, memimpin langsung rapat koordinasi strategis bersama jajaran pimpinan.

‎"Kita bahas kebijakan komprehensif untuk membangun ekosistem SDM profesional di lingkungan BUMN" ujar Dony melalui unggahan akun resmi BUMN, Jumat 5 Juni 2026.

‎Wakil Kepala BP BUMN Tedi Bharata, Sekretaris Utama Wahyu Kuncoro, serta para deputi Rini Widyastuti, Hambra, dan Wahyu Setyawan turut hadir dalam pertemuan tersebut. 

‎Dony menjelaskan hasil rumusan yakni meliputi penyusunan sistem manajemen talenta yang lebih adaptif, penyiapan pemimpin masa depan, serta penguatan kompetensi talenta nasional.

‎Wakil Kepala BP BUMN Tedi Bharata, Sekretaris Utama Wahyu Kuncoro, serta para deputi Rini Widyastuti, Hambra, dan Wahyu Setyawan turut hadir dalam pertemuan tersebut. 

‎"Langkah ini merupakan komitmen nyata BP BUMN untuk mendukung tata kelola perusahaan yang lebih baik (good corporate governance) dan pada akhirnya meningkatkan daya saing Indonesia di kancah internasional" pungkas Dony. (***)

 


Bukittinggi, SUMBARNET.ID -Dalam rangka memperingati 100 Tahun Jam Gadang, Pemerintah Kota Bukittinggi bekerja sama dengan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) 2026 gelar Seminar Utama Jam Gadang dalam Berbagai Perspektif. Kegiatan tersebut berlangsung di Balairuang Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis, 4 Juni 2026


Seminar ini menghadirkan Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi, sebagai pembicara kunci. Selain itu, sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri turut berbagi pandangan, yakni Prof. Gusti Asnan (Indonesia), Arnaud Kokosky (Belanda), Berthold Damshäuser (Jerman), Nanang Asfrianal (Indonesia) dan Dr. Les Wicks (Australia).


Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Syaiful Efendi,  menjelaskan, peringatan 100 Tahun Jam Gadang menjadi momentum untuk merefleksikan perjalanan sejarah sekaligus peran strategis Jam Gadang sebagai ikon Kota Bukittinggi sejak didirikan pada tahun 1926. Keberadaan Jam Gadang telah memberikan dampak yang luas terhadap perkembangan Kota Bukittinggi, baik dari sisi perekonomian, sosial, infrastruktur maupun hubungan antardaerah. Seminar ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai peran Jam Gadang sebagai magnet yang mendorong kemajuan kota.


"Perjalanan sejarah Bukittinggi tidak dapat dipisahkan dari fungsi perdagangan yang berkembang sejak abad ke-18, kemudian diperkuat pada masa pemerintahan kolonial Belanda sebagai pusat pemerintahan dan militer di wilayah Sumatera Barat. Dalam perkembangan tersebut, Jam Gadang dibangun sebagai salah satu penanda penting kota yang hingga kini menjadi simbol Bukittinggi," jelasnya.


Syaiful efendy juga menguraikan perubahan bentuk atap Jam Gadang yang mengikuti dinamika sejarah, mulai dari arsitektur bergaya Eropa pada masa Belanda, berubah menjadi pagoda pada masa pendudukan Jepang, hingga akhirnya menggunakan atap gonjong khas Minangkabau yang menjadi identitasnya saat ini. (**)

 


SUMBARNET - Menyambut peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Direktorat Intelijen dan Keamanan (Intelkam) Polda Sumatera Selatan melaksanakan kegiatan bakti sosial di Panti Asuhan AR ROHIIM, yang beralamat di Jl. Irigasi, Lorong Sehat, Kelurahan Siring Agung, Kecamatan Alang-Alang Lebar, Palembang, ' Kegiatan berlangsung pada Jumat (5/6/2026), pukul 13.30 WIB.

 

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Panit 2 Subdit 2 Dit Intelkam Polda Sumsel, Iptu Hadi Prayitno, S.H., bersama para personel Subdit 2. 


Dalam kesempatan tersebut, tim menyalurkan bantuan sosial yang berisi sembako dan kebutuhan pokok, antara lain beras, mi instan, telur, minyak goreng, tepung terigu, susu UHT, serta uang santunan. 


Bantuan diserahkan secara langsung kepada pengurus panti, Ibu Arillah, sebagai wujud kepedulian dan perhatian tulus dari keluarga besar Polri.

 

Iptu Hadi Prayitno menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ini merupakan bagian dari pengabdian Polri kepada masyarakat.


“Kehadiran kami tidak hanya untuk menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga hadir berbagi kebahagiaan dan kepedulian, khususnya kepada adik-adik di panti asuhan ini,” ujarnya.

 

Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur. 


Doa juga dipanjatkan agar seluruh personel Polda Sumsel, khususnya jajaran Direktorat Intelkam, senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta kemudahan dalam menjalankan tugas melayani dan melindungi masyarakat.

 

Sebagai bentuk rasa terima kasih dan apresiasi mendalam, pengurus bersama 21 anak asuh Panti Asuhan AR ROHIIM merencanakan menggelar kegiatan yasinan dan doa bersama pada malam harinya. 


Kegiatan ini diharapkan menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, sekaligus memohon keberkahan serta perlindungan Allah SWT bagi seluruh anggota Polri yang sedang berjuang mengabdi kepada bangsa dan negara. (**)



SUMBARNET - Geliat rencana rekonstruksi total kawasan Gelanggang Olahraga (GOR) H. Agus Salim Padang kini menghadapi jalan terjal. 


Proyek strategis nasional yang didanai oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dengan anggaran fantastis mencapai Rp340 miliar ini bertujuan mengubah kompleks olahraga kebanggaan ranah Minang menjadi stadion modern berstandar internasional.


Namun, di balik kemegahan angka tersebut, proyek ini justru menyisakan riak sosial mendalam di tingkat akar rumput akibat kebijakan relokasi pedagang yang dinilai setengah hati.


*​Ironi Rp340 Miliar: Terjepit Utang atau Kembali ke Jalanan*


​Kebijakan Pemerintah Provinsi Sumatra Barat melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar yang hanya menyediakan lahan kosong di depan Kolam Renang Teratai memicu persoalan finansial yang serius bagi pedagang lokal. 


Untuk mendirikan satu unit kios sementara yang layak, setiap pedagang diprediksi harus merogoh kocek mandiri berkisar antara Rp10 juta hingga Rp15 juta.


​Timbul sebuah kontras yang mencolok di saat pemerintah pusat mengucurkan dana hingga Rp340 miliar untuk merubuhkan dan membangun ulang stadion dari nol, namun para pedagang kecil justru dibiarkan terseok-seok mencari modal jutaan rupiah demi mempertahankan piring nasi mereka.


Kondisi ini akhirnya menciptakan polarisasi paksa.


*Kembali Menjadi PKL*: Mayoritas pedagang yang sama sekali tidak memiliki akses modal memilih membiarkan lahan relokasi tetap kosong dan terpaksa kembali turun ke jalan sebagai Pedagang Kaki Lima (PKL) informal.


*​Terjebak Jeratan Utang*: Sebagian pedagang yang memilih bertahan terpaksa mengambil langkah berisiko dengan berutang demi memenuhi biaya pembangunan kios mandiri tersebut.

Persoalan kian pelik karena area relokasi baru ini sama sekali belum dilengkapi fasilitas sanitasi dasar seperti WC umum, padahal para pedagang adalah wajib retribusi resmi yang taat menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui Dispora Sumbar. 


Selain itu, perlakuan ini dinilai timpang jika dibandingkan dengan relokasi Fase VII Pasar Raya Padang beberapa waktu lalu, di mana pemko Padang telah mempersiapkan fasilitas kios yang dibangun utuh oleh pemerintah dan pedagang tinggal masuk tanpa dipungut biaya.


*​Mengapa Publik Menuntut Akuntabilitas Andre Rosiade?*


​Dalam pusaran konflik sosial ini, nama Anggota DPR RI asal Sumatra Barat yang juga Wakil Ketua Komisi VI, Andre Rosiade, ikut terseret ke dalam ruang kritik publik. 


Sebagai politisi yang secara intensif mengembara-gemborkan proyek rekonstruksi total senilai Rp340 miliar ini sebagai bentuk komitmen pusat di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Andre kini dituntut tidak sekadar menjadi fasilitator publikasi keberhasilan.


​Dalam persepsi publik, ketika seorang tokoh politik secara masif mengasosiasikan dirinya sebagai "aktor utama" di balik turunnya anggaran ratusan miliar ke daerah, secara otomatis ia mengemban beban moral-politik atas dampak sosial yang ditimbulkan oleh proyek tersebut.


​Masyarakat menilai, narasi manis tentang stadion berstandar AFC dengan kapasitas 15.000 single seat, fasilitas royal box, hingga lift modern, menjadi terasa hambar ketika di saat yang sama, masyarakat kecil di sekelilingnya harus terancam gulung tikar hanya karena perkara kios Rp10 juta dan ketiadaan WC umum. 


Publik menuntut agar daya tawar (bargaining power) politik yang dimiliki Andre di tingkat pusat dan daerah digunakan untuk menekan pihak eksekutif agar tidak lepas tangan terhadap nasib warga lokal.


​Jika dibedah secara matang, sengkarut GOR H. Agus Salim ini merupakan potret lemahnya mitigasi dampak sosial (Social Impact Assessment) dalam perencanaan mega proyek infrastruktur. 


Kawasan GOR merupakan aset di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi (Dispora Sumbar), namun dinamika sosial pedagang dan tata ruangnya bersentuhan langsung dengan wilayah administratif Pemerintah Kota Padang.


​Untuk menyelesaikan polemik ini secara profesional dan humanis, ada beberapa langkah taktis yang harus segera ditempuh:


​Diantaranya, Andre Rosiade selaku wakil rakyat harus menggunakan fungsi pengawasannya untuk menjembatani koordinasi antara Pemprov Sumbar dan Pemko Padang.


Dan, Anggaran Rp340 miliar dari APBN harusnya memicu pemerintah daerah untuk mengalokasikan APBD pendamping yang ramah terhadap pemulihan ekonomi masyarakat sekitar.


Serta, ​Pemprov dan Pemko harus segera merumuskan stimulus anggaran, baik melalui skema bansos kedaruratan atau kemitraan CSR BUMN/BUMD, untuk mensubsidi biaya pembangunan kios pedagang agar tidak memicu inflasi utang di tingkat mikro.


​Penyediaan Sanitasi Segera: Dinas terkait wajib segera menyediakan fasilitas MCK portabel di area relokasi demi menjaga higienitas dan kenyamanan publik sebelum penutupan total kawasan GOR dilakukan.


​Pembangunan infrastruktur fisik bernilai ratusan miliar sudah semestinya berjalan selaras dengan pemuliaan ekonomi manusianya. Menolak memfasilitasi pedagang lokal atas nama modernisasi hanya akan menegaskan bahwa pembangunan tersebut bersifat eksklusi, bukan inklusif bagi kesejahteraan masyarakat Sumatra Barat. (**)



SUMBARNET - Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Barat menggelar Coffee Morning bersama lembaga penyiaran lokal di Aula Kantor KPID Sumbar, Jumat (5/6/2026). Pertemuan tersebut dihadiri sekitar 25 pemilik radio dan perwakilan stasiun televisi yang ada di Kota Padang.


Kegiatan itu membahas tantangan industri penyiaran konvensional di tengah pesatnya perkembangan media sosial dan kecerdasan buatan (AI). 


Ketua KPID Sumbar Yusrin Trinanda mengungkapkan bahwa Revisi Undang-Undang Penyiaran telah masuk dalam prioritas pembahasan Badan Legislasi (Baleg) DPR RI tahun 2026. KPID Sumbar akan merangkum hasil diskusi ini untuk disampaikan ke pusat sebagai bahan masukan.


“Dengan RUU Penyiaran, kita berharap adanya keseimbangan antara media konvensional, media sosial, dan media digital. Fokus KPID sekarang adalah bagaimana lembaga penyiaran TV maupun radio sehat secara bisnis agar produksi konten tidak terganggu,”  kata Yusrin yang didampingi oleh seluruh komisioner KPID Sumbar.


Selain mendorong regulasi yang lebih adil, KPID Sumbar juga akan mempersiapkan sejumlah program dan kegiatan yang bertujuan untuk memberikan insentif program dan anggaran bagi lembaga penyiaran.


"KPID akan memperjuangkan lembaga penyiaran di Sumbar agar secara bisnis bisa tumbuh, tujuannya untuk peningkatan kualitas di segala lini," kata Nofal Wiska, Komisioner KPID Sumbar.


Dalam sesi diskusi, Direktur Operasional Padang FM,  Jadwal Jalal, menyampaikan keluhan keras soal minimnya perhatian negara terhadap radio lokal.


“Apakah radio bukan anak negara? Fungsi radio menyampaikan kepentingan publik—menginformasikan, mengontrol, dan memotivasi,” ujar Jalal.


Ia berharap KPID dapat menfasilitasi lembaga penyiaran dengan  pemerintah daerah agar mendukung keberlangsungan radio di tingkat kabupaten/kota.


Sementara itu, Yulian S Saba, Kepala RRI Padang mengakui kesulitan merekrut penyiar profesional di era digital. Selain itu dia berharap ada kolaborasi antar radio se Sumbar.


"RRI bukan kompetitor radio swasta, ke depan banyak hal yang bisa dikolaborasikan," kata Yulian.


Manajer Produksi Stasiun TVRI Sumbar Hendra, berharap RUU Penyiaran juga memikirkan aspek bisnis sehingga tidak hanya bicara sanksi semata.


Sementara itu, perwakilan Star Radio menyoroti kondisi di lapangan di mana satu orang sering merangkap banyak tugas akibat keterbatasan SDM dan anggaran.


Maryam dari SIIP FM menambahkan bahwa media penyiaran semakin tertinggal dari media sosial. Ia mengusulkan agar KPID memfasilitasi alokasi iklan dari BUMD dan OPD ke radio lokal.


Dari kalangan televisi, Hendri dari Padang TV menyoroti ketimpangan kemitraan, sementara Revi dari Trans TV mengkritik ketidakjelasan regulasi pemerintah.

“Ketidakjelasan regulasi membuat media konvensional mati secara perlahan, sedangkan media sosial berkembang tanpa terkendali karena batasan regulasi tersebut,” ungkap Revi.


Coffee Morning ini menghasilkan 11 poin kesimpulan utama, di antaranya percepatan pembahasan RUU Penyiaran, penguatan kelembagaan, peningkatan kesejahteraan pelaku penyiaran, pemanfaatan AI untuk pengawasan, penguatan konten lokal, kemudahan perizinan, serta literasi masyarakat pasca-Analog Switch Off (ASO).


Dalam pertemuan tersebut hadir pemilik radio dan perwakilan stasiun televisi yang ada di Kota Padang.


KPID Sumbar berharap berbagai masukan ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menciptakan ekosistem penyiaran yang lebih sehat dan berkeadilan di Sumatera Barat. (**)