SUMBARNET – Dalam upaya memperkuat sinergitas antara kepolisian dan masyarakat guna mewujudkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) yang aman, damai, dan kondusif, Polres Pesisir Selatan terus mengoptimalkan pendekatan keagamaan, adat, serta kearifan lokal melalui Program Kapolri, Jumat Keliling.
Salah satu bentuk pelaksanaan program tersebut diwujudkan melalui kegiatan Safari Jumat yang menghadirkan Wakil Kepala Kepolisian Resor (Waka Polres) Pesisir Selatan, Kompol H. Syafrizen, S.H., Datuk Rang Batuah, sebagai khatib Jumat di Masjid Darul Muthmainnah, Perumnas Painan Timur, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Dalam khutbahnya, Kompol H. Syafrizen mengangkat tema “Berdayakan Tungku Tigo Sajarangan, Kamtibmas Tanggung Jawab Bersama.”
Tema tersebut menegaskan pentingnya menghidupkan kembali peran dan kekuatan tiga unsur utama dalam tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau, yakni niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai, sebagai mitra strategis kepolisian dalam menjaga keamanan, ketertiban, persatuan, serta keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
Di hadapan jamaah Jumat, Waka Polres Pesisir Selatan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menciptakan lingkungan yang aman dan tenteram merupakan tanggung jawab bersama.
Menurutnya, keamanan tidak boleh hanya dipandang sebagai tugas dan kewenangan institusi kepolisian. Lebih dari itu, keamanan merupakan kebutuhan bersama yang harus diwujudkan melalui kepedulian, kebersamaan, komunikasi, dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Maidah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan."
Kompol Syafrizen menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung pesan penting tentang perlunya membangun kerja sama dalam kebaikan, termasuk dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, tertib, harmonis, dan jauh dari berbagai bentuk gangguan keamanan.
Menurutnya, lingkungan yang aman bukan sekadar kondisi tanpa tindak kejahatan, tetapi juga situasi ketika masyarakat merasa terlindungi, hidup rukun, saling menghormati, serta dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dan beribadah dengan tenang.
Menghidupkan Kembali Falsafah Tungku Tigo Sajarangan
Dalam khutbahnya, Kompol H. Syafrizen yang juga dikenal dengan gelar adat Datuk Rang Batuah secara khusus mengajak masyarakat Minangkabau untuk kembali memperkuat falsafah kehidupan yang telah diwariskan oleh para leluhur, yakni Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin.
Ia menyampaikan bahwa niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai merupakan tiga unsur penting yang memiliki kedudukan serta tanggung jawab strategis dalam membangun kehidupan masyarakat yang beradat, beragama, berpendidikan, dan taat hukum.
Pertama, niniak mamak, yang memiliki peran sebagai pemimpin adat, pemegang amanah kaum, serta panutan bagi anak kemenakan.
Niniak mamak diharapkan mampu menjadi pengayom, memberikan nasihat, menyelesaikan persoalan keluarga dan kaum melalui musyawarah, serta membimbing generasi muda agar tidak terjerumus dalam berbagai perilaku negatif.
Termasuk mencegah keterlibatan anak kemenakan dalam penyalahgunaan narkoba, perjudian, pergaulan bebas, tawuran, maupun tindakan lain yang bertentangan dengan norma adat, agama, dan hukum.
Kedua, alim ulama, yang memiliki tanggung jawab membimbing umat dalam kehidupan beragama dan membangun akhlak masyarakat.
Masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat melaksanakan ibadah salat, tetapi juga menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan moral, penguatan ukhuwah Islamiyah, serta tempat menumbuhkan kepedulian sosial.
Ketiga, cadiak pandai, yang berperan memberikan pemikiran, gagasan, dan solusi untuk kemajuan masyarakat.
Melalui kemampuan intelektual, pengalaman, serta wawasan yang dimiliki, cadiak pandai diharapkan mampu berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan sosial, memberikan edukasi kepada masyarakat, dan mendukung terciptanya lingkungan yang aman, tertib, serta sejahtera.
Menurut Kompol Syafrizen, apabila ketiga unsur tersebut mampu menjalankan perannya secara optimal, saling menghormati, dan bekerja sama, maka masyarakat akan memiliki kekuatan sosial yang besar dalam menghadapi berbagai persoalan.
Falsafah Tungku Tigo Sajarangan, Tali Tigo Sapilin, bukan sekadar warisan budaya, melainkan modal sosial yang sangat berharga untuk membangun ketahanan masyarakat, termasuk dalam menjaga Kamtibmas.
Ajak Masyarakat Bersama-sama Cegah Narkoba dan Penyakit Masyarakat
Selain memperkuat peran tokoh adat, agama, dan intelektual, Waka Polres Pesisir Selatan juga mengingatkan jamaah tentang berbagai persoalan sosial yang membutuhkan perhatian serius.
Beberapa di antaranya adalah penyalahgunaan narkotika, perjudian, minuman keras, prostitusi, kenakalan remaja, serta berbagai bentuk penyakit masyarakat lainnya.
Ia mengajak seluruh orang tua, niniak mamak, alim ulama, tokoh masyarakat, dan unsur pemuda agar tidak tinggal diam ketika melihat adanya potensi penyimpangan perilaku di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, pencegahan harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengawasi, mendidik, dan memberikan perhatian kepada anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak, dan memiliki masa depan yang baik.
Di samping itu, masyarakat juga diingatkan agar semakin bijak dalam menggunakan media sosial.
Jangan mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, menyebarkan berita bohong, fitnah, maupun ujaran kebencian yang dapat memicu perselisihan dan konflik sosial.
Kepedulian terhadap keamanan lingkungan juga perlu ditingkatkan melalui kegiatan ronda malam, komunikasi antarwarga, serta mengaktifkan kembali semangat gotong royong.
Kompol Syafrizen turut mengingatkan agar setiap persoalan di tengah masyarakat diselesaikan melalui musyawarah dan mekanisme hukum yang berlaku, bukan dengan tindakan main hakim sendiri.
Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: "Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa setiap umat Islam hendaknya mampu menghadirkan rasa aman dan kedamaian bagi orang lain, baik melalui perkataan maupun perbuatan.
Jumat Keliling Menjadi Sarana Mempererat Hubungan Polisi dengan Masyarakat
Lebih lanjut, Kompol H. Syafrizen menyampaikan bahwa Program Kapolri, Jumat Keliling, merupakan salah satu sarana strategis untuk mendekatkan institusi kepolisian dengan masyarakat.
Melalui kegiatan yang dilaksanakan di masjid-masjid tersebut, jajaran kepolisian tidak hanya hadir untuk menjalankan tugas pemeliharaan keamanan dan ketertiban, tetapi juga membangun silaturahmi, memperkuat komunikasi, menyerap aspirasi, serta menyampaikan pesan-pesan Kamtibmas secara langsung kepada masyarakat.
Pendekatan melalui kegiatan keagamaan dinilai penting karena masjid merupakan salah satu pusat kehidupan sosial masyarakat yang memiliki peran besar dalam membangun persatuan, kepedulian, dan kesadaran bersama.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, hingga perangkat nagari untuk menjadi mitra kepolisian dalam menjaga keamanan di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan.
Masyarakat juga diminta segera menyampaikan informasi apabila mengetahui adanya potensi gangguan keamanan maupun permasalahan sosial di lingkungan masing-masing.
Komunikasi dapat dilakukan melalui Bhabinkamtibmas, Babinsa, perangkat nagari, maupun kantor kepolisian terdekat.
Ia menegaskan bahwa penanganan suatu persoalan akan lebih efektif apabila dilakukan sejak dini sebelum berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih besar.
Kompol Syafrizen: Polisi Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Dalam pesan yang disampaikan kepada jamaah, Waka Polres Pesisir Selatan menekankan bahwa keberhasilan menjaga keamanan dan ketertiban sangat ditentukan oleh kuatnya hubungan antara kepolisian dan masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa kepolisian membutuhkan dukungan, partisipasi, serta kepercayaan masyarakat dalam menjalankan tugas pengabdian.
"Kami menyadari bahwa polisi tidak akan mampu bekerja sendiri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Dibutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, melalui Program Kapolri, Jumat Keliling ini, kami ingin membangun komunikasi yang lebih dekat, memperkuat silaturahmi, sekaligus mengajak masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga Kamtibmas," demikian pesan Kompol H. Syafrizen.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan polisi di tengah masyarakat bukan semata-mata untuk melakukan penegakan hukum, tetapi juga mengedepankan langkah pencegahan, edukasi, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
"Kami ingin menumbuhkan kesadaran bersama bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab kepolisian. Niniak mamak memiliki tanggung jawab menjaga dan membimbing anak kemenakan, alim ulama membina umat melalui nilai-nilai agama, cadiak pandai memberikan pemikiran dan solusi, sementara kepolisian bersama seluruh masyarakat bersinergi menjaga keamanan dan ketertiban," ungkapnya.
Maksud, Tujuan, dan Harapan: Membangun Ketahanan Sosial dari Nagari
Lebih jauh, kegiatan Jumat Keliling ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau sekadar agenda rutin kepolisian.
Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran kolektif dan memperkuat kembali hubungan sosial antara kepolisian dengan masyarakat.
Ada beberapa tujuan penting yang ingin diwujudkan melalui kegiatan tersebut.
Pertama, meningkatkan kedekatan dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri melalui komunikasi langsung, silaturahmi, serta pendekatan keagamaan.
Kedua, menghidupkan kembali peran strategis Tungku Tigo Sajarangan sebagai kekuatan sosial dan budaya masyarakat Minangkabau dalam mencegah berbagai bentuk gangguan Kamtibmas.
Ketiga, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendeteksi, mencegah, dan melaporkan potensi gangguan keamanan sejak dini.
Keempat, memperkuat pembinaan generasi muda agar terhindar dari narkoba, perjudian, kenakalan remaja, tawuran, dan berbagai perilaku yang dapat merusak masa depan.
Kelima, membangun kesadaran hukum dan budaya musyawarah sehingga setiap persoalan dapat diselesaikan secara bijaksana, damai, dan sesuai ketentuan hukum.
Terkait hal tersebut, Kompol Syafrizen berharap seluruh unsur masyarakat dapat mengambil peran sesuai dengan kedudukan dan tanggung jawab masing-masing.
"Harapan kami, melalui kegiatan Jumat Keliling ini, terbangun sinergi yang semakin kuat antara Polri, pemerintah daerah, TNI, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat. Jangan menunggu munculnya persoalan baru kita bergerak. Mari bersama-sama melakukan pencegahan sejak dini," pesannya.
Ia juga berharap nilai-nilai adat dan agama terus menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat, sebagaimana falsafah Minangkabau:
Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Falsafah tersebut mengandung makna bahwa adat dan agama harus berjalan beriringan dalam membentuk masyarakat yang beriman, berakhlak, menjunjung tinggi nilai adat, serta menghormati hukum yang berlaku.
Wujudkan Pesisir Selatan yang Aman, Damai, dan Sejahtera
Menutup khutbahnya, Kompol H. Syafrizen mengajak seluruh jamaah untuk memulai upaya menjaga keamanan dari lingkungan terkecil, yakni diri sendiri, keluarga, rumah tangga, lingkungan tempat tinggal, hingga kehidupan bermasyarakat di tingkat nagari.
Masjid hendaknya menjadi pusat persatuan dan pembinaan umat. Niniak mamak menjadi pengayom anak kemenakan, alim ulama menjadi pembimbing masyarakat, sedangkan cadiak pandai berperan sebagai pemberi pemikiran dan solusi bagi kemajuan nagari.
Ia berharap apabila seluruh unsur tersebut dapat berjalan bersama dan diperkuat dengan kehadiran kepolisian, maka Kabupaten Pesisir Selatan akan semakin kokoh dalam menjaga persatuan dan menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif.
Pesan tersebut dipertegas melalui pantun yang disampaikan sebagai penutup:
Ke Painan membeli kelapa,
Singgah sebentar di Batang Kapas.
Niniak mamak, ulama dan cadiak pandai bersatu bersama,
Kamtibmas terjaga, nagari aman dan masyarakat pun puas.
Sebagai penegasan dari seluruh rangkaian pesan khutbah, Kompol Syafrizen kembali mengingatkan:
"Jangan serahkan seluruh tanggung jawab keamanan kepada polisi. Mari kita berdayakan Tungku Tigo Sajarangan. Niniak mamak menjaga anak kemenakan, alim ulama membimbing umat, cadiak pandai memberikan pemikiran, dan polisi bersama masyarakat menjaga Kamtibmas. Karena keamanan bukan hanya tugas kepolisian, tetapi tanggung jawab kita bersama."
Melalui Program Kapolri, Jumat Keliling, Polres Pesisir Selatan berharap terbangun hubungan yang semakin harmonis antara Polri dan masyarakat, sekaligus memperkuat nilai-nilai adat, agama, dan budaya gotong royong sebagai fondasi dalam mewujudkan daerah yang aman, damai, tertib, religius, dan sejahtera.
Salam Polisi, Polisi Bersama Masyarakat. (**)