Moda Kereta Api jadi Life Style Gen Z Broo..



SUMBARNET - Bang bait lagu Bang Iwan Fals tentang duduk aku menunggu tanya loket dan penjaga, kereta tiba pukul berapa? biasa ya kereta terlambat dua jam, itu biasa.


Kini, ke depan gak ada istilah itu lagi,  lagu itu tercipta di masanya saat jadul (jaman dulu) ya. Saat potret stasiun, lumrah melihat sumpek dan semrautnya, pedagang asongan berebut dengan pedagang kaki lima, buruh stasiun saling tarik menarik barang penumpang.


Di Stasiun Gambir kini, perdaban berstasiun dan berkereta api dimulai.


Moda Kereta Api tidak pernah karatan, dia mengikuti derap langkah kemajuan zaman dan meninggikan peradaban, bersih, tertib  dan nyaman, terpenting on time setiap keberangkatan dan kedatangan. Tak salah kalau Moda darat satu ini jadi life style Gen Z.


"Dari data kekinian seiring tata kelola staiaun dam kereta api yang modern, Gen Z sangat memggandrungi bepergian dengan kereta api. Bahjan idul fitri 2026, diperkirakan kereta api menjadi pilihan gavorite pemudik dari Jakarta ke darah lain di Pulau Jawa,"ujar Direkrue Pengembangan Bisnis PT KAI Rafli Yandra mewakili Dirut PT KAI Bobby Rasyidin, Senin sore di Gambir.


Dan dari stasiun Gambir ini lah tim konten jelang mudik lebaran terdiri dari kreator dan editor junior memulai 'ekapedisi punggung jawa, Senin 2-6 Maret 2026 


Fungsi Stasiun Gambir di Peta Lintasan Kereta Api Jawa


Dari banyak literiasi ternyata kata Kepala Tim Ekapedisi Punggung Jawa, KaJe, Stasiun Gambir memiliki peran sangat penting dalam sistem perkeretaapian di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. 


"Gambir ini dari zaman Batavia, proklamasi smpai era reformasi, punya fungsi utama yakni, Stasiun Sentral Kereta Api Jarak Jauh. Gambir menjadi titik keberangkatan dan kedatangan utama kereta api kelas eksekutif dan sebagian bisnis dari Jakarta menuju berbagai kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Malang, hingga Solo,"ujar KaJe dalam diary perjalanannya bersama Maskot, Toaik dan Aci.


Gerbang 


Gambir juga menasbihkan bahwa  transportasi nasional dari ibu kota, karena lokasinya di pusat Jakarta (dekat Monas dan kawasan pemerintahan), Gambir berfungsi sebagai pintu mobilitas nasional, terutama bagi pejabat, pelaku bisnis, dan masyarakat yang bepergian antarkota.


"Dari Gambir kita bisa tatap tinggi mahligai Monas, dan Gambir kini sangat legend tapi dikelola modren, ada scand wajah, e tiket dan cetak e tiket, fasilitas pendukung Stasiun Gambir itu ramah kaum milenial dan Gen Z,"ujar Toaik


*Origin Station*


Gambir itu titik awal (origin station), titik akhir perjalanan, serta stasiun pengaturan jadwal dan perputaran rangkaian kereta.


Stasiun Gambir jadi simpul integrasi transportasi kota, Stasiun Gambir terhubung dengan berbagai moda transportasi lain seperti TransJakarta, taksi dan transportasi online, bus antarkota, sehingga memudahkan perpindahan penumpang.


*Stasiun Gambir sejak Era Kolonial*


Stasiun Gambir bia amaauk lategori Heritage Stasiun karena punya fungsi Historis dan Simbolik, malah sudah ada sejak era kolonial, Stasiun Gambir di era penjajahan disebut Stasiun Weltevreden.


"Gambir tidak sekedar pemberhentian saja, dia sejak era penjajah menjadi pusat transportasi penting Batavia dan menjadi saksi bisu perkembangan jaringan rel kereta di Jawa,"ujar Maskot.


Artinya Gambir adalah stasiun utama Jakarta untuk perjalanan kereta api jarak jauh, sekaligus simpul strategis dalam jaringan rel nasional.


"Dari Gambir bisa ke stasiun mana aja di Pulau Jawa,"ujar KaJe. 


Stasiun Gambir, kala Jakarta tempo dulu, saat senja jatuh perlahan di halaman stasiun, Jakarta waktu itu masih dipanggil Batavia oleh sebagian orang tua. 


Deru lokomotif diesel terdengar berat, bercampur suara peluit panjang yang menjadi tanda perpisahan. 


Lampu-lampu kuning temaram menyala satu per satu, memantul di lantai stasiun yang basah oleh gerimis sore.


Di luar pagar stasiun, delman masih hilir mudik membawa penumpang. Pedagang koran menjajakan berita sore, sementara aroma kacang rebus dan kopi tubruk menguar dari warung kecil di sudut peron. 


Itulah suasama Gambir waktu itu, kini sangat mudah memperoleh, terutama dari bernagai literasi kisah tengang Gambir Tempo Dulu.


Stasiun Gambir  tidak sekadar tempat naik kereta, tapi gerbang harapan bagi mereka yang hendak mengadu nasib ke kota lain.


Orang-orang datang dengan koper kaleng dan tas anyaman. Ada ibu yang menangis melepas anaknya merantau, ada tentara muda berpamitan sebelum bertugas, ada pula pegawai negeri yang pulang kampung setahun sekali saat Lebaran. Tangis dan tawa bercampur tanpa perlu banyak kata.


Dari peron Gambir, Jakarta tempo dulu terlihat lebih pelan, tak ada gedung tinggi. Moda pesaing kereta api tqk semeluber kini.  


Jakarta pun belum ada gedung menjulang tinggi, hanya siluet Monas yang berdiri anggun dah sahdu di kejauhan, dikelilingi pepohonan rindang dan jalanan yang belum sesak kendaraan.


Kereta berangkat perlahan, roda besinya beradu dengan rel seperti mengulang pesan lama, yaitu di setiap perjalanan selalu meninggalkan cerita, dan Gambir adalah kenangan yang gak pernah benar-benar pergi. (tim)

0 Post a Comment:

Posting Komentar