Tampilkan postingan dengan label LKAAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LKAAM. Tampilkan semua postingan


Oleh: Duski Samad

Warga Kota Padang


Kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari gedung tinggi, jalan yang lebar, pusat perdagangan yang ramai, layanan digital, atau pertumbuhan ekonomi. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang mampu meningkatkan kualitas hidup warganya tanpa kehilangan identitas, nilai, dan akar kebudayaannya.


Dalam konteks Kota Padang, prinsip ini menjadi semakin penting. Padang sedang tumbuh sebagai kota pendidikan, perdagangan, jasa, pariwisata, dan pusat pemerintahan Sumatera Barat. Modernisasi tidak mungkin dihentikan dan memang tidak perlu dihentikan. Tantangannya adalah bagaimana kemajuan tersebut tetap mempunyai jiwa Minangkabau.


Karena itu, munculnya Hendri Yazid dalam pencalonan kepemimpinan LKAAM Kota Padang patut dibaca lebih luas daripada sekadar pergantian kepengurusan organisasi adat. Pencalonan tersebut membawa pesan bahwa pelestarian adat harus dilakukan bersama-sama, marwah adat harus ditegakkan, dan kemajuan Kota Padang harus tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Minangkabau.


Pesan ini penting karena kota yang kehilangan akar kebudayaannya mungkin terlihat maju secara fisik, tetapi dapat mengalami kekosongan sosial.


Belajar dari Negara Maju


Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa modernitas tidak harus dibayar dengan kehilangan tradisi. Jepang merupakan contoh bagaimana kemajuan teknologi dapat berjalan bersama penghormatan kepada tradisi, disiplin sosial, etika kerja, kebersihan, dan penghargaan terhadap komunitas.


Korea Selatan juga memperlihatkan bagaimana identitas kebudayaan justru dapat menjadi kekuatan memasuki kompetisi global. Tradisi, kuliner, bahasa, seni, dan nilai sosial tidak dibuang ketika modernisasi berlangsung. Sebaliknya, kebudayaan diolah menjadi kekuatan pendidikan, ekonomi kreatif, diplomasi, dan identitas nasional.


Pelajarannya bagi Padang jelas: menjadi modern tidak berarti menjadi orang lain.


Kota Padang tidak perlu kehilangan karakter Minangkabau untuk menjadi kota maju. Justru kemajuan akan lebih kokoh apabila dibangun di atas masyarakat yang mempunyai identitas, etika, solidaritas, dan rasa memiliki terhadap kotanya.


Inggok Basitumpu, Tabang Basitumpu


Falsafah Minangkabau menyediakan modal sosial yang besar. Salah satunya semangat inggok basitumpu, tabang basitumpu: setiap orang mempunyai tempat berpijak, mempunyai lingkungan sosial, serta terhubung dengan kaum, kampung, nagari, dan masyarakatnya.


Nilai seperti ini sangat relevan menghadapi kehidupan perkotaan yang semakin individualistik.


Penduduk Kota Padang hari ini semakin heterogen. Mobilitas tinggi, permukiman berkembang, pendatang bertambah, dan hubungan sosial berubah. Dalam keadaan demikian, masyarakat membutuhkan mekanisme kebudayaan yang mampu menciptakan keserasian sosial.


Prinsip inggok basitumpu dapat diterjemahkan menjadi program penguatan komunitas berbasis kelurahan, masjid, suku, kaum, organisasi sosial, pemuda, bundo kanduang, niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai.


Orang yang datang dan hidup di Padang harus merasa mempunyai tempat untuk berinteraksi dan berkontribusi. Sebaliknya, masyarakat adat harus mampu menjadi tuan rumah yang terbuka, bermartabat, dan mampu merawat keharmonisan.


Adat Harus Masuk Ruang Pendidikan


Pelestarian adat tidak cukup melalui pidato dan seremoni. Adat harus masuk ke ruang pendidikan dan pengalaman hidup generasi muda.


Salah satu yang perlu diperkuat adalah pembelajaran sumbang duo baleh bagi anak-anak sejak sekolah dasar. Nilai sumbang duo baleh sesungguhnya bukan sekadar kumpulan larangan adat. Di dalamnya terdapat pendidikan etika, kesopanan, cara berbicara, cara bergaul, penghormatan kepada orang lain, pengendalian diri, dan kepantasan dalam kehidupan sosial.


Tentu penyampaiannya harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan prinsip pendidikan anak. Bukan menakut-nakuti atau membatasi kreativitas, tetapi membantu anak memahami batas kepantasan, penghormatan, tanggung jawab, dan martabat diri.


Di tengah derasnya media sosial, pendidikan karakter berbasis kearifan lokal justru semakin dibutuhkan.


Anak-anak kita tidak cukup hanya menjadi smart secara digital, tetapi juga harus cerdas secara sosial, matang secara emosional, dan berakar secara kultural.


Smart Surau dan Adat Harus Bertemu


Karena itu program unggulan Wali Kota Padang, terutama Smart Surau, layak memperoleh dukungan kuat dari lembaga adat dan tokoh masyarakat.


Surau dalam sejarah Minangkabau bukan hanya tempat shalat. Surau adalah ruang pendidikan, pembentukan karakter, belajar agama, adat, silek, kepemimpinan, solidaritas, dan tempat generasi muda mengenal masyarakatnya.


Konsep Smart Surau akan semakin kuat apabila teknologi dipertemukan dengan adat dan pendidikan karakter.


Di sinilah kepemimpinan LKAAM Kota Padang ke depan mempunyai posisi strategis. Ketua LKAAM, termasuk figur Datuk Guci dalam kepemimpinan adat kota, harus mampu membangun sinergi antara pemerintah kota, niniak mamak, alim ulama, perguruan tinggi, sekolah, masjid, pemuda, bundo kanduang, dan komunitas anak nagari.


LKAAM tidak cukup hanya hadir ketika terjadi sengketa adat. LKAAM harus tampil sebagai pusat gagasan kebudayaan kota.


Dari Jaringan Menjadi Gerakan


Kota Padang mempunyai modal sosial yang luar biasa. Ada jaringan ulama, tokoh adat, birokrat, akademisi, pengusaha, perantau, pemuda, dan anak nagari. Persoalannya adalah bagaimana jaringan besar itu diubah menjadi gerakan bersama.


Kepemimpinan adat masa depan harus mampu menghubungkan semua kekuatan tersebut.


Tokoh adat menjaga akar budaya. Ulama memperkuat nilai syarak. Pemerintah menyediakan kebijakan dan fasilitas. Perguruan tinggi memberikan kajian dan inovasi. Sekolah melakukan pewarisan. Perantau memperluas jaringan. Generasi muda menghadirkan kreativitas dan teknologi.


Inilah makna sesungguhnya dari adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dalam pembangunan kota: bukan hanya slogan, tetapi menjadi cara bekerja bersama.


Kearifan adalah Jalan Kemajuan


Maka jangan tempatkan adat berhadapan dengan modernitas. Yang dibutuhkan bukan memilih antara menjadi kota adat atau kota modern. Padang harus menjadi kota modern yang berakar pada kearifan Minangkabau.


Gedung boleh semakin tinggi, tetapi marwah jangan semakin rendah. Teknologi boleh semakin canggih, tetapi hubungan sosial jangan semakin renggang. Ekonomi boleh semakin tumbuh, tetapi kepedulian jangan semakin hilang.


Modernisasi memberikan Kota Padang kecepatan. Teknologi memberikan kecerdasan. Pembangunan memberikan fasilitas. Tetapi kearifan memberikan arah.


Karena itu, kemajuan Kota Padang harus dibangun melalui perjumpaan tiga kekuatan: adat yang menjaga identitas, agama yang memberikan nilai, dan modernitas yang menghadirkan inovasi.


Jika ketiganya dapat dipertemukan, Padang tidak hanya menjadi kota yang maju secara fisik, tetapi kota yang berbudaya, berkarakter, harmonis, dan bermartabat.


Itulah kemajuan kota dalam kearifan.

 

Peluang, Tantangan, dan Tawaran Kepemimpinan Adat Transformatif


Oleh: Duski Samad


Kemunculan Dr. H. Hendri Yazid, Dt. Rajo Diguci dalam bursa Ketua LKAAM Kota Padang menarik dibaca bukan semata-mata sebagai munculnya seorang calon, tetapi sebagai bagian dari kebutuhan regenerasi dan transformasi kepemimpinan adat di tengah perubahan masyarakat perkotaan.


Pertanyaan utamanya bukan hanya siapa yang akan menjadi Ketua LKAAM Kota Padang, tetapi kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan untuk membawa adat Minangkabau menghadapi masyarakat kota yang semakin heterogen, profesional, digital, dan terhubung secara nasional bahkan global.


Dalam perspektif tersebut, Hendri Yazid memiliki beberapa modal yang menarik: pengalaman birokrasi, kekuatan adat dan syarak, kemampuan berkomunikasi dengan generasi muda, pendidikan, pengalaman organisasi, serta jaringan yang melampaui batas Kota Padang.


Reputasi Birokrasi dan Kemampuan Manajerial


Pengalaman Hendri Yazid sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Payakumbuh merupakan modal kepemimpinan yang penting. Memimpin institusi pemerintah membutuhkan kemampuan mengelola organisasi, sumber daya manusia, regulasi, program, anggaran, pelayanan publik dan koordinasi lintas lembaga.


Rekam kerjanya di Kementerian Agama memperlihatkan perhatian terhadap inovasi pelayanan dan pembinaan masyarakat. Pengalaman seperti ini relevan bagi LKAAM Kota Padang yang ke depan perlu bergerak dari organisasi yang dominan simbolik-seremonial menuju organisasi adat yang profesional, mempunyai data, program, jaringan kerja dan indikator keberhasilan.


LKAAM tentu bukan birokrasi. Karena itu pengalaman birokrasi tidak boleh dibawa menjadi pola komando. Dalam adat, kepemimpinan harus tetap berakar pada musyawarah, penghormatan kepada yang tua, penerimaan kaum dan kemampuan merangkul berbagai kepentingan.


Kekuatan Adat dan Syarak


Modal penting berikutnya adalah pertemuan antara adat dan syarak dalam perjalanan Hendri Yazid.


Sebagai Dt. Rajo Diguci, ia mempunyai identitas dalam struktur sosial adat. Sementara perjalanan kariernya di Kementerian Agama membuatnya berada dalam lingkungan pelayanan kehidupan keagamaan: pendidikan, madrasah, masjid, haji, zakat, wakaf, keluarga dan kerukunan umat.


Kombinasi tersebut mempunyai relevansi khusus dengan filosofi Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.


Tantangannya adalah bagaimana ABS-SBK tidak berhenti sebagai ungkapan normatif dalam pidato adat. Kepemimpinan LKAAM harus mampu menerjemahkannya menjadi program pendidikan keluarga, pembinaan generasi muda, penguatan surau, perlindungan kaum, penyelesaian konflik, etika sosial dan pembentukan karakter masyarakat perkotaan.


Generasi Muda dan Jembatan Menuju Gen Z


Keuntungan lain Hendri Yazid adalah peluang membangun komunikasi dengan generasi yang relatif lebih muda. Ini penting karena salah satu persoalan besar adat hari ini adalah semakin lebarnya jarak antara pemangku adat dengan Gen Z.


Generasi muda hidup dalam dunia yang berbeda. Identitas mereka tidak hanya dibentuk oleh keluarga, mamak, kaum dan surau, tetapi juga sekolah, kampus, komunitas, media sosial, influencer dan algoritma digital.


Karena itu, kepemimpinan adat tidak dapat hanya meminta generasi muda datang kepada adat. Adat juga harus datang ke ruang kehidupan generasi muda.


Kato nan ampek harus mampu diterjemahkan menjadi etika komunikasi digital. Raso jo pareso perlu menjadi dasar bermedia sosial. Hubungan mamak-kamanakan harus dikembangkan menjadi mentoring generasi muda. Surau perlu kembali menjadi ruang pembentukan karakter, kreativitas dan kepemimpinan.


Kedekatan dengan Gen Z dengan demikian bukan persoalan usia semata. Ukurannya adalah kemampuan mendengar bahasa mereka, memahami dunianya, dan menerjemahkan nilai adat menjadi jawaban terhadap persoalan mereka.


Jaringan Nasional: NU, Kementerian Agama, dan Perantau Padang


Salah satu modal yang perlu diperhitungkan dalam membaca peluang Hendri Yazid adalah jaringan yang tidak berhenti pada lingkungan adat Kota Padang.


Pertama adalah jaringan Nahdlatul Ulama. Keterhubungan dengan jaringan NU membuka ruang komunikasi dengan tokoh agama, pesantren, akademisi, organisasi masyarakat dan jaringan sosial-keagamaan yang tersebar secara nasional. Modal ini penting apabila diarahkan untuk memperkuat kapasitas pemangku adat, pendidikan generasi muda dan kolaborasi adat-syarak.


Kedua adalah jaringan Kementerian Agama. Pengalaman panjang dalam birokrasi Kementerian Agama memberi akses relasional dengan aparatur dan kelembagaan keagamaan dari tingkat daerah sampai pusat. Jaringan ini mempunyai nilai strategis karena agenda adat bersinggungan langsung dengan pendidikan agama, masjid dan surau, keluarga, kerukunan, zakat, wakaf serta pembinaan masyarakat.


Ketiga yang tidak kalah penting adalah jaringan perantau Padang. Masyarakat Minangkabau mempunyai kekuatan besar pada hubungan ranah dan rantau. Banyak anak nagari Kota Padang hidup dan berhasil di Jakarta, Batam, Pekanbaru, Medan dan berbagai daerah lain, bahkan di luar negeri.


LKAAM Kota Padang ke depan perlu melihat perantau bukan hanya sebagai sumber bantuan ketika ada kegiatan. Perantau adalah modal intelektual, profesional, ekonomi dan jejaring sosial.


Jika ketiga jaringan ini dapat dikonsolidasikan—NU, Kementerian Agama dan perantau Padang—Hendri Yazid mempunyai peluang membangun model kepemimpinan:


kuat di kaum, kokoh di ranah, dan luas di rantau.


Namun jaringan baru mempunyai arti jika menghasilkan manfaat. Ukurannya bukan berapa banyak tokoh nasional yang dikenal, tetapi berapa banyak jaringan yang dapat dikonversi menjadi program untuk kaum dan masyarakat adat Kota Padang.


Tantangan Terbesar: Legitimasi dari Akar Adat


Di balik berbagai modal tersebut terdapat tantangan yang tidak ringan.


Kekuatan birokrasi, pendidikan, organisasi dan jaringan nasional tidak otomatis menjadi legitimasi adat. Adat mempunyai mekanisme penerimaan sendiri. Ada penghulu, ninik mamak senior, kaum, suku, KAN dan berbagai keseimbangan sosial yang harus dihormati.


Karena itu, Hendri Yazid harus mampu menunjukkan bahwa jaringan keluar yang luas diimbangi dengan akar ke dalam yang kuat.


Regenerasi juga tidak boleh dibangun dengan narasi menggantikan kaum tuo. Justru formula yang diperlukan adalah:


kearifan kaum tuo + energi kaum muda + ilmu cadiak pandai + kekuatan alim ulama + kreativitas Gen Z + jaringan rantau.


Di sinilah kemampuan merangkul menjadi ujian kepemimpinan yang sesungguhnya.


Tawaran Kepemimpinan: Dari Network Menjadi Benefit


Jika maju dalam bursa Ketua LKAAM Kota Padang, diferensiasi Hendri Yazid sebaiknya bukan sekadar sebagai calon yang relatif muda, birokrat atau mempunyai jaringan luas. Tawaran yang lebih substantif adalah kepemimpinan adat transformatif.


LKAAM dapat diarahkan kepada beberapa agenda besar: Satu Kaum Satu Data, Mamak Asuh Kamanakan, Sakolah Adat Kota, Pemangku Adat Digital, Klinik Adat dan Keluarga, Ninik Mamak Masuk Sekolah dan Kampus, kaderisasi penghulu muda, serta Ranah-Rantau Peduli Kaum.


Jaringan NU dapat memperkuat dimensi sosial-keagamaan. Jaringan Kementerian Agama dapat memperluas kolaborasi pendidikan, surau, keluarga dan pemberdayaan umat. Jaringan perantau dapat dihimpun menjadi sumber mentoring, beasiswa, investasi sosial, pemberdayaan ekonomi dan pengembangan generasi muda.


Inilah transformasi yang diperlukan:


NETWORK → TRUST → COLLABORATION → PROGRAM → BENEFIT UNTUK KAUM.


Bukan Sekadar Menjadi Ketua


Secara analitis, Hendri Yazid memiliki kombinasi modal yang cukup lengkap: adat, syarak, birokrasi, pendidikan, generasi muda dan jaringan ranah-rantau serta nasional.


Tetapi semua itu tetap merupakan modal awal, bukan tiket otomatis untuk menjadi pemimpin adat.


Ujian sesungguhnya adalah apakah ia mampu mengubah modal personal menjadi kekuatan kolektif; mengubah jaringan menjadi manfaat; menghubungkan kaum tuo dengan Gen Z; menyatukan adat dan syarak dalam program; serta menjadikan LKAAM rumah besar yang dapat diterima semua unsur adat Kota Padang.


Karena itu, tawaran kepemimpinan Hendri Yazid dapat dirumuskan dalam enam kata kerja:


BERAKAR – MERANGKUL – MENGHUBUNGKAN – MELAYANI – BERINOVASI – MEREGENERASI.


Jika keenamnya dapat diwujudkan, pencalonannya tidak hanya menawarkan pergantian Ketua LKAAM, tetapi menawarkan kemungkinan lahirnya model baru kepemimpinan adat perkotaan: berakar kuat pada adat dan syarak, dekat dengan generasi muda, profesional dalam organisasi, luas dalam jaringan nasional, serta mampu menghubungkan kekuatan ranah dengan rantau.


Pada akhirnya, pemimpin adat tidak dinilai dari seberapa luas jaringan yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar jaringan itu menghadirkan manfaat bagi kaum, kamanakan dan masyarakat.


Kuat di adat, kokoh di syarak, dekat dengan generasi, luas di jaringan, dan nyata manfaatnya bagi kaum.10092026. 


PADANG — Wali Kota Padang, Fadly Amran, mendorong Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Padang mengedepankan prinsip musyawarah dan mufakat dalam pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) IX LKAAM Kota Padang.


Musda IX LKAAM Kota Padang yang dijadwalkan berlangsung pada 22 September 2026 tersebut menjadi momentum penting untuk menentukan kepengurusan LKAAM Kota Padang periode 2026-2031, sekaligus memperkuat eksistensi dan peran lembaga adat dalam mendukung pembangunan serta menyelesaikan berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.


Hal itu disampaikan Fadly Amran saat menerima audiensi Ketua LKAAM Kota Padang, Syafril Ulbi Datuak Bagindo Rajo, bersama jajaran pengurus di Kediaman Resmi Wali Kota Padang, Rabu (9/9/2026).


Audiensi tersebut turut dihadiri pengurus LKAAM tingkat kecamatan dan perwakilan Kerapatan Adat Nagari (KAN) se-Kota Padang. Dari unsur Pemerintah Kota Padang, hadir Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Padang, Tarmizi Ismail, serta Kepala Badan Kesbangpol Kota Padang, Syahendri Barkah.


Dalam pertemuan tersebut, pembahasan tidak hanya berfokus pada persiapan Musda IX, tetapi juga menyentuh berbagai hal strategis terkait penguatan peran lembaga adat dalam kehidupan sosial masyarakat Kota Padang.


Fadly Amran menilai keberadaan LKAAM, KAN, niniak mamak, dan unsur tokoh adat memiliki posisi penting dalam membantu pemerintah menghadapi berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.


Menurutnya, persoalan seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, penyakit masyarakat, hingga pembinaan generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk lembaga adat.


Karena itu, diperlukan penyamaan persepsi antara pemerintah, lembaga adat, dan instansi terkait agar penanganan berbagai persoalan tersebut dapat dilakukan secara lebih terarah dan efektif.


“Kita berharap Musda IX LKAAM Kota Padang mengedepankan musyawarah mufakat. Semangat ini juga sejalan dengan program Sinergi Nagari dan visi pembangunan yang berlandaskan agama dan budaya, yang dapat diwujudkan melalui program-program LKAAM,” ujar Fadly Amran.


Ia menegaskan, semangat musyawarah dan mufakat merupakan bagian penting dalam menjaga persatuan serta kebersamaan masyarakat Minangkabau. Menurutnya, perbedaan pandangan yang muncul dalam sebuah organisasi merupakan hal yang wajar, namun harus diselesaikan melalui mekanisme yang mengedepankan kebersamaan dan kepentingan bersama.


Fadly juga menekankan pentingnya memperkuat komunikasi antara LKAAM, KAN, Pemerintah Kota Padang, serta instansi terkait lainnya.


“Penyamaan persepsi antara LKAAM, KAN, pemerintah, dan instansi terkait sangat penting untuk menangani persoalan narkoba, LGBT, tawuran, dan lainnya secara efektif dengan tetap menghormati fungsi masing-masing lembaga. Saya rasa ini menjadi salah satu tugas pokok LKAAM ke depan untuk bersama-sama membahasnya dalam forum-forum yang independen,” katanya.


LKAAM Diharapkan Semakin Berperan


Lebih lanjut, Fadly Amran menyampaikan bahwa Pemko Padang pada prinsipnya siap mendukung dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan LKAAM yang memiliki keterkaitan serta keselarasan dengan agenda pembangunan daerah.


Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan lembaga adat harus memiliki ruang yang jelas sehingga masing-masing pihak dapat menjalankan fungsi secara optimal.


Lembaga adat, kata Fadly, tidak hanya memiliki fungsi dalam menjaga nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau, tetapi juga dapat menjadi salah satu kekuatan sosial dalam membina masyarakat.


Terlebih di tengah perkembangan zaman dan berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, keberadaan niniak mamak dan tokoh adat dinilai semakin penting dalam memberikan pembinaan kepada anak kemenakan.


“Harapan kami, LKAAM ke depan semakin kuat dan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga nilai-nilai adat, agama dan budaya, sekaligus ikut memberikan solusi terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat,” ujar Fadly.


Ia berharap Musda IX tidak hanya menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan gagasan dan program kerja yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.


Kepengurusan periode 2026-2031 diharapkan dapat memperkuat koordinasi dengan LKAAM kecamatan dan KAN se-Kota Padang, serta meningkatkan keterlibatan niniak mamak dalam berbagai program pembangunan.


“Yang terpenting adalah bagaimana setelah Musda nanti seluruh unsur dapat kembali bersatu, menyatukan langkah, dan bersama-sama memberikan kontribusi terbaik bagi Kota Padang. Pemerintah tentu terbuka untuk membangun kolaborasi dengan lembaga adat,” tuturnya.


Panitia Matangkan Persiapan Musda


Sementara itu, Ketua LKAAM Kota Padang, Syafril Ulbi Datuak Bagindo Rajo, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan Pemerintah Kota Padang terhadap keberadaan lembaga adat.


Ia menyebutkan, sinergi antara pemerintah daerah dengan niniak mamak dan lembaga adat selama ini telah berjalan dan diharapkan dapat terus ditingkatkan.


“Alhamdulillah, kami bersyukur sekali Pak Wali Kota dan jajaran sudah melaksanakan pembangunan secara bersama dengan kami, dan para niniak mamak se-Kota Padang. Insya Allah, segala program yang bisa dikerjasamakan dapat berjalan sebaik mungkin,” kata Syafril.


Menurut Syafril, dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu modal penting bagi LKAAM untuk terus menjalankan fungsi dan perannya di tengah masyarakat.


Ia berharap hubungan yang telah terbangun antara Pemko Padang dengan lembaga adat dapat semakin erat, khususnya dalam menjalankan program-program yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat.


Terkait pelaksanaan Musda IX LKAAM Kota Padang, Syafril menjelaskan bahwa panitia telah melakukan berbagai persiapan secara matang. Masukan dari KAN dan jajaran LKAAM juga telah dihimpun sebagai bagian dari proses persiapan menuju pelaksanaan Musda.


Musda tersebut diharapkan menjadi forum bersama untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah LKAAM Kota Padang untuk lima tahun mendatang.


“Kami berharap Musda ini menghasilkan kepengurusan periode lima tahun ke depan yang mampu memperkuat persatuan lembaga adat, menjalankan fungsi pembinaan anak kemenakan, serta meningkatkan keterlibatan niniak mamak dalam pembangunan Kota Padang,” ujar Syafril.


Perkuat Pembinaan Generasi Muda


Salah satu perhatian yang mengemuka dalam audiensi tersebut adalah pentingnya peran lembaga adat dalam pembinaan generasi muda.


Perkembangan lingkungan sosial dan teknologi menghadirkan berbagai tantangan yang membutuhkan perhatian bersama. Persoalan narkoba, tawuran, penyakit masyarakat, serta berbagai persoalan sosial lainnya tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah atau aparat penegak hukum.


Dalam konteks tersebut, LKAAM bersama KAN dan niniak mamak diharapkan dapat mengambil peran melalui pendekatan adat, kekeluargaan, dan pembinaan terhadap anak kemenakan.


Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan sosial yang lebih kondusif sekaligus memperkuat kembali nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau di tengah masyarakat.


Bagi Pemko Padang, penguatan lembaga adat juga dinilai sejalan dengan arah pembangunan daerah yang menempatkan nilai agama dan budaya sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat.


Karena itu, Musda IX LKAAM Kota Padang diharapkan tidak berhenti pada proses pemilihan kepengurusan semata, tetapi menjadi titik awal untuk memperkuat organisasi dan meningkatkan kontribusinya bagi pembangunan daerah.


Dengan mengedepankan musyawarah, mufakat, persatuan, serta kolaborasi lintas lembaga, kepengurusan LKAAM Kota Padang periode 2026-2031 diharapkan mampu menjalankan amanah organisasi dan menjawab berbagai tantangan masyarakat.


Pada akhirnya, sinergi antara Pemko Padang, LKAAM, KAN, niniak mamak, serta seluruh unsur masyarakat diharapkan dapat memperkuat pembangunan Kota Padang sekaligus menjaga nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang. (AdF)

 


SUMBARNET - Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Dr. Fauzi Bahar Dt. Sati, melayat ke rumah duka almarhum Karim Sukma Satria (32) guna menyampaikan rasa belasungkawa mendalam kepada pihak keluarga, [7 April 2026].


Kehadiran tokoh adat nomor satu di Ranah Minang ini disambut langsung oleh ayah almarhum, Rafles, dan keluarga besar di kediaman mereka. Kunjungan ini merupakan bentuk empati LKAAM terhadap warga Minangkabau yang sedang memperjuangkan keadilan atas kematian yang dinilai tidak wajar.

Dalam kunjungannya, Fauzi Bahar menegaskan bahwa LKAAM akan terus memantau perkembangan kasus ini. Ia meminta pihak kepolisian dan pemerintah kota untuk bersikap transparan dalam mengungkap penyebab kematian Karim yang sebelumnya sempat diamankan oleh petugas.


"Kami hadir untuk memberikan dukungan moral kepada keluarga. Sebagai pemimpin adat, kami ingin memastikan bahwa hak-hak anak kemenakan kami terlindungi. Kematian yang penuh kejanggalan ini harus diusut tuntas secara jujur demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap hukum," ujar Fauzi Bahar.


Almarhum Karim Sukma Satria menjadi perhatian publik setelah ditemukan meninggal dunia dengan sejumlah luka lebam pada tubuhnya tak lama setelah diamankan di kawasan Pasar Raya Padang. Kasus ini kini tengah dalam pengawalan ketat oleh berbagai lembaga bantuan hukum dan tokoh masyarakat di Sumatera Barat. 


Fauzi Bahar juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan proses hukum kepada pihak berwenang, sembari tetap mengawal agar prinsip keadilan tetap ditegakkan di atas falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. (Ade)

 


SUMBARNET - Nenek Saudah (68), warga Nagari Padang Mantinggi, Kecamatan Rao, Kabupaten Pasaman, menjadi korban penganiayaan berat pada 1 Januari 2026 setelah berusaha menghentikan aktivitas tambang emas ilegal di lahan miliknya. 


Hingga Januari 2026, berikut adalah rilis kondisi terkini Nenek Saudah:


Nenek Saudah sempat dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka parah, wajah lebam, kedua mata membiru, dan nyeri di sekujur tubuh akibat dipukul serta dilempari batu. Saat ini, ia sedang dalam masa pemulihan namun dilaporkan masih mengalami trauma berat.


Polres Pasaman telah menangkap pelaku penganiayaan yang berinisial RF. Meski ada perbedaan keterangan (polisi menyebut motif konflik internal keluarga sementara korban menyebut dikeroyok banyak orang), penyelidikan terus dilakukan secara intensif.


Kasus ini menarik perhatian Fauzi Bahar Datuak Sati Ketua LKAAM Sumbar, dan mendatangi langsung Nenek Saudah ke Pasaman. Dalam penyampaiannya, Fauzi mengutuk keras tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap beliau, karena diduga berkaitan erat dengan jaringan pembeking tambang emas ilegal di wilayah tersebut.


"Saya selaku Ketua LKAAM Sumatera Barat, mengutuk keras terhadap apa yang dilakukan terhadap Nenek Saudah ini. Karena beliau walaupun seorang perempuan dan berusia lanjut masih bisa berusaha menghentikan aktivitas tambang emas ilegal di lahan miliknya" tutup Fauzi.


Dalam kesempatan tersebut, Nenek Saudah mengucapkan terimakasih atas kehadiran serta bentuk perhatian Fauzi Bahar kepada dirinya dan mendoakan yang terbaik untuk Ketua LKAAM Sumbar ini. (Ade)



SUMBARNET - Kenagarian Painan, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan tetap mempertahankan tradisi menyambut bulan suci Ramadhan 1446 H, dengan menggelar acara "Balimau Paga" di Lubuk Mancik, Timbulun, Kamis (27/2/2025) petang. 


Acara "Balimau Paga" ini bukan mandi-mandi, tetapi dilaksanakan dengan membarutkan air limau dan aneka bunga rampai ke kepala, dimaknai sebagai prosesi mensucikan diri menjelang masuknya bulan suci Ramadhan 1446 H. Membarutkan air limau ini diawali oleh Ketua KAN Painan Drs. Syafrizal Ucok, MM Dt. Nan Batuah, baru diikuti oleh pejabat, penghulu dan masyarakat yang hadir.


Air parutan limau/jeruk nipis dan dicampur dengan bunga rampai yang harum ini, diletakkan di atas nampan dengan hiasan aksesori warna warni. Air limau ini berasal dari rumah gadang penghulu dari semua suku yang merupakan anggota KAN Painan. 


Acara Balimau Paga ini kemudian ditutup dengan puncaknya berupa tausiyah menyambut Ramadhan 1446 H yang disampaikan oleh Ustadz H. Zulyafli, S.PdI. Inti ceramahnya adalah  menyiapkan diri menghadapi puasa Ramadhan.


"Ada empat isyarat yang disampaikan Nabi Muhammad SAW menjelang masuknya bulan suci Ramadhan, yaitu laksanakan semua hutang puasa wajib, sucikan hati bersihkan jiwa, perbaiki silaturrahmi sesama dan meminta maaf kepada orang tua, suami istri dan tetangga," kata Ustad Zulyafli, S.PdI.


Acara "Balimau Paga" yang meriah ini dihadiri Bupati Pesisir Selatan yang diwakili Staf Ahli Ekobang Reva Mansarin, SE.,M.Si Dt. Tigo Lareh, Ketua LKAAM Pesisir Selatan yang juga Ketua KAN Painan Drs. Syafrizal Ucok, MM Dt. Nan Batuah, Forkopimda, Camat IV Jurai Ferro Yuandha Putri, SSTP., Ketua Bundo Kanduang Hj. Moesni Udin, S.Pd., Ketua Panitia Balimau Paga Afrizal Dt. Rangkayo Basa, Forkopimca, Wali Nagari, tokoh-tokoh adat dan pemuda.


"Makna dari acara Balimau Paga ini adalah silaturahmi, saling bermaafan antar semua elemen masyarakat di nagari, termasuk perantau yang pulang kampung. Sehingga kita memasuki bulan suci Ramadhan dengan hati yang suci dan jiwa yang bersih," kata Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Pesisir Selatan Drs. Syafrizal Ucok Dt. Nan Batuah.


Menurutnya, kegiatan Balimau Paga selalu dilaksanakan setiap tahun untuk mempertahankan tradisi baik ini, yaitu mempererat silaturrahmi dan saling bermaafan. Bahkan ada suatu kali hari hujan pun, acara Balimau Paga tetap dilaksanakan, termasuk waktu pandemi Covid-19 dengan protokol kesehatan.


Pelaksanaan Balimau Paga dilakukan secara mandiri, bergilir dari tiga nagari yang ada. Tahun 2025 ini dilaksanakan oleh Nagari Painan Timur dengan Ketua Panitia Afrizal Dt. Rangkayo Basa. 


Bupati Pesisir Selatan yang diwakili Staf Ahli Ekobang Reva Mansarin Dt. Tigo Lareh memberikan apresiasi yang tinggi terhadap acara Balimau Paga di Kenagarian Painan ini, yang rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang masuknya bulan suci Ramadhan. 


Karena banyak nilai positif dan khas daerah, maka Balimau Paga ini justru bisa menjadi salah satu daya tarik kunjungan orang ke Pesisir Selatan. Kalau dulu dilaksanakan dengan menyembelih sapi dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Sehingga Balimau Paga tidak hanya simbol mensucikan diri dan silaturrahmi tetapi juga ada nilai-nilai sosialnya. 


"Kedepan kita harapkan ada peran dan kontribusi Pemda kepada KAN dan tradisi positif seperti Balimau Paga ini. Bupati kita yang baru, Pak Hendrajoni sangat peduli dan memberikan perhatian yang tinggi kepada budaya, mudah-mudahan Balimau Paga juga mendapatkan support nantinya," kata Reva Mansarin Dt. Tigo Lareh. (*)



SUMBARNET - Anggota DPR-RI Dapil Sumbar 2, H. Arisal Aziz bertekad memperjuangkan keinginan masyarakat Sumatera Barat di tingkat nasional, apakah itu dalam bentuk pembangunan daerah maupun status Daerah Istimewa Minangkabau.


"Ambo tidak akan duduk-duduk manis saja di gedung DPR RI Senayan selama lima tahun ke depan. Apa yang menjadi keinginan masyarakat Sumbar mari kita perjuangkan bersama sama. Ambo tidak sendiri, ambo akan ajak wakil rakyat Sumbar lain yang ada di Senayan. Bersama-sama tentu pasti hasilnya lebih baik," kata Anggota Komisi XIII DPR-RI Arisal Aziz, ketika berdialog dengan Pengurus LKAAM Sumbar dan LKAAM Kabupaten/Kota se-Sumbar, Minggu 2 Februari 2025.


Dialog dengan Arisal Aziz ini dikemas dalam acara Silaturrahmi Ninik Mamak di Hotel Mercure, Padang, dipimpin oleh Ketum LKAAM Sumbar Prof. Dr. Fauzi Bahar, M.Si Dt Nan Sati dengan moderator Sekum LKAAM Drs. Jasman Rizal Dt. Bandaro Bendang. 


Menurut Arisal Aziz, sesuai dengan UU No.17 Tahun 2022 tentang Provinsi Sumatera Barat disebutkan bahwa provinsi ini berlandaskan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Ini merupakan hal yang khas dan harus diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat dan tata pemerintahan. Karena ada kekhasan, keistimewaan, maka kita dorong perwujudan Daerah Istimewa Minangkabau (DIM).


"Tolong LKAAM bersama seluruh Niniak Mamak merumuskan apa saja bentuk keistimewaan yang dimiliki Provinsi Sumatera Barat dengan ABS-SBK tersebut. Mari kita sepakati dan saya bersama dengan Anggota DPR-RI asal Sumbar yang lainnya akan berjuang bersama-sama di Senayan. Juga banyak Anggota DPR-RI Dapil provinsi lain tetapi berasal dari Minangkabau kita ajak bersama-sama," kata Arisal Aziz, pemilik perusahaan logistik Indah Cargo. 


Sebagai Anggota DPR-RI, Arisal Aziz juga telah mengusulkan kepada Menteri Imigrasi dan Kemasyarakatan untuk memindahkan LP Muara Padang di kawasan Pantai Padang ke daerah yang aman dari ancaman tsunami. Tanahnya sedang disurvey untuk dipindahkan ke kawasan yang relatif lebih aman tsunami yaitu di Lubuk Buaya atau kawasan Jalan By Pass.


"Saya sudah minta pihak Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk percepatan menentukan alternatif tanah untuk pemindahan LP Muara ini dan tentu saja dilanjutkan pembangunan LP tersebut," kata Arisal Aziz, yang merupakan anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.


Selain itu, saat ini Arisal Aziz melalui Indah Cargo Logistik juga telah menyiapkan program sosial yaitu membagikam mobil ambulan gratis ke kabupaten/kota. Gunanya untuk membantu masyarakat dalam pelayanan penanganan kesehatan dan pengantaran jenazah masyarakat yang meninggal dunia. 


Di Kota Pariaman saat ini sedang dibangun pesantren di atas tanah seluas 10 hektar, yang dipadukan dengan lapangan sepakbola bertaraf nasional. Di pesantren ini dibangun pula Akademi Sepakbola, yang diharapkan dapat melahirkan santri yang jago sepakbola, atau pemain sepakbola profesional yang berlatar belakang santri.


Sebelumnya Ketua Umum LKAAM Prof Dr. Fauzi Bahar, M.Si Dt Nan Sati menyampaikan terima kasih kepada Arisal Aziz yang telah menyediakan waktu untuk silaturrahmi dan berdialog dengan jajaran LKAAM Sumbar. Ini ibarat pucuk dicinta ulam tiba. "Ini sejarah dan perdana anggota DPR RI asal Sumbar mau berdialog dengan Ninik Mamak yang tergabung dalam LKAAM," sebut Fauzi Bahar yang merupakan Wali Kota Padang periode 2004-2014.


Menurut Fauzi Bahar, sinergi dengan wakil rakyat DPR-RI sangat bermanfaat dalam membincangkan kondisi Sumatera Barat hari ini. Sumbar kini termasuk tinggi dalam peredaran narkoba, LGBT dan penyakit masyarakat lainnya. Ini yang perlu mendapat perhatian utama, bersama-sama untuk pencegahan dan pemberantasannya.


"Narkoba itu seperti serigala yang siap menyerang anak kemenakan kita. Ini yang harus menjadi perhatian semua pihak, termasuk Ninik Mamak. Tetapi Ninik Mamak dan LKAAM sejauh ini tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Karena itulah adanya perhatian kepada LKAAM dari Anggota DPR-RI Pak Arisal Aziz merupakan kegembiraan dan angin segar kedepannya," ujar Fauzi Bahar Dt. Nan Sati. 


Direncanakan pada pertengahan April 2025 mendatang akan dilaksanakan Pertemuan Gadang Ninik Mamak dengan Anggota DPR-RI Asal Sumbar dan Anggota DPR-RI Dapil provinsi lain tetapi punya darah Sumatera Barat. Mungkin jumlah Anggota DPR-RI nya sekitar 45 orang dari berbagai partai politik. Dalam forum itu nanti usulan pembangunan daerah dan gagasan Daerah Istimewa Minangkabau yang akan diperjuangkan di tingkat DPR-RI akan disampaikan, dengan harapan dapat diwujudkan hendaknya.


Anggota DPR-RI Arisal Aziz kini duduk di Komisi XIII dengan mitra kerja Kementerian Hukum, 

Kementerian HAM, Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Komnas HAM 

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Sekretariat Jenderal DPD RI,

Sekretariat Jenderal MPR RI dan Kantor Staf Presiden (KSP).


Arisal Aziz mengatakan sangat berterima kasih atas segala masukan dan saran yang disampaikan Ninik Mamak dalam Silaturahmi dan Dialog LKAAM Se-Sumbar, terutama menyangkut masalah sosial kemasyarakatan, LGBT, narkoba dan tawuran yang kian marak di Sumatera Barat. Solusinya adalah bersama-sama melakukan pencegahan, yang dimulai dari rumah tangga dan anak kemenakan dari Ninik Mamak demi generasi muda yang diharapkan menjadi Generasi Emas tahun 2045 mendatang. (*)



SUMBARNET - Bundo Kanduang Nagari Salido Kecamatan IV Jurai "all out" memberikan dukungan dan membulatkan suara kepada "sumando" mereka yaitu Caleg DPRD Sumbar Partai Golkar nomor urut 2 : Drs Syafrizal Ucok, MM Datuak Nan Batuah.


Pernyataan dukungan dan membulatkan suara untuk Syafrizal Ucok dalam Pemilu 2024 itu disampaikan Bundo Kanduang Salido ketika Pertemuan Silaturrahmi yang dihadiri 200-an orang di Rumah Gadang Pasa Lamo, Jum'at (20/10/2023) malam.


"Kami sudah sepakat, akan menyampaikan dari rumah ke rumah, dari satu keluarga ke keluarga yang lain di Salido untuk mengantarkan sumando Salido ke DPRD Provinsi Sumbar yaitu Pak Syafrizal Ucok," kata Bundo Musdayeni dari Kampung Luar Salido dengan penuh bersemangat sembari mengacungkan dua jari sebagai simbol nomor urut 2.


Menurut Bundo Kanduang Salido ini, mereka akan menjadi ujung tombak untuk menghadang praktek politik uang dari para Caleg untuk memecah belah suara di Salido. Biasanya itu terjadi pada masa tenang atau jelang hari Pemilu 


"Kami nyatakan perang politik uang dari Bundo Kanduang Salido untuk menciptakan Pemilu yang bersih, dan pilihan kami sudah ada untuk DPRD Sumbar yaitu Pak Syafrizal Ucok," kata Bundo Kanduang Musdayeni yang didampingi Bundo Kanduang Irma Imam dan Bundo Enita Trisna.


Tekad Bundo Kanduang Salido yang luar biasa ini membuat Ketua Tim Sukses Syafrizal Ucok untuk Nagari Salido, Syaiful, makin optimis memenangkan Caleg Syafrizal Ucok untuk menjadi Anggota DPRD Sumbar pada Pemilu 2024.


Syaiful sangat berharap perjuangan dari Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah nantinya jika diamanahkan menjadi Anggota DPRD Sumbar, yaitu membangun embung di Salido sehingga nagari ini terhindar dari banjir. Selain itu diharapkan adanya perjuangan untuk pembangunan jalan lingkar di Salido, sehingga memudahkan akses masyarakat terutama dalam mengangkut hasil-hasil pertanian.


Caleg DPRD Sumbar Partai Golkar Syafrizal Ucok Datuak Nan merasa terharu atas tekad Bundo Kanduang Salido yang diungkapkan dengan terus terang dan secara terbuka. "Saya akan membalas perjuangan Bundo Kanduang ini dengan cara berlaku amanah dan menepati seluruh janji yang pernah diucapkan untuk pembangunan Nagari Salido," kata Syafrizal Ucok, mantan Wabup Pesisir Selatan periode 2005-2010 ini.


Tekad Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah maju menjadi Caleg DPRD Sumbar adalah untuk pengabdian kepada Pesisir Selatan dan Kabupaten Kepulauan Mentawai, yang secara fisik masih sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, bendungan, normalisasi sungai dan irigasi untuk pertanian.


"Untuk pembangunan infrastruktur memang kita harus berjuang dari APBD Provinsi dan APBN, sebab kita mengetahui bahwa APBD Kabupaten Pesisir Selatan dan APBD Kabupaten Kepulauan Mentawai sangat terbatas. Untuk mendapatkan dana provinsi dibutuhkan wakil rakyat yang siap untuk berjuang," kata Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah, yang pernah diamanahkan menjadi Pj Bupati Kepulauan Mentawai tahun 2016-2017 lalu. (*)



SUMBARNET - Tradisi "badikia" dan "lamang gadang" menjadi prosesi wajib dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 H di Mushalla Nurul Huda Kaum Datuak Sampono Batuah di Lagan Gadang Mudiak,  Nagari Lagan Mudik Punggasan, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Pesisir Selatan, Minggu (8/10/2023).


"Badikia" adalah bersalawat kepada Rasulullah SAW, menyampaikan kisah Nabi Muhammad SAW dan seluruh sifat-sifat mulianya, yang dilantunkan secara berirama. "Badikia" dilakukan bergantian oleh tiga orang dari Sabtu malam hingga hari Minggu sorenya tanpa henti.


Masyarakat yang ingin mengetahui kisah-kisah Nabi Muhammad SAW bisa mengikuti acara "Badikia" ini. Karena faktanya banyak dari masyarakat, terutama yang berusia tua, yang tertarik mendengarkan acara "Badikia" ini, bahkan sampai terkantuk-kantuk.


Puncaknya adalah memanjatkan doa keselamatan dan kesehatan, makan bersama dengan duduak baselo dan kemudian membagikan "Lamang Gadang" kepada "Tukang Dikia" dan seluruh Ninik Mamak dan Urang Ampek Jinih yang hadir di Mushalla Nurul Huda. 


"Lamang Gadang" ini berupa bambu sepanjang dua meter yang dihias dengan kertas warna-warni sekeliling dan bagian atasnya. Kemudian pada "Lamang Gadang" ini diikatkan sebatang lamang sesungguhnya, juga sebungkus gulai dan sebuah kain sarung.


Tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan "Badikia" ini selalu dilaksanakan Kaum Datuak Sampono Batuah Suku Kampai di Lagan Gadang Mudiak setiap tahun, dihadiri oleh Kaum Kampai dari berbagai kampung di Nagari Lagan Mudik Punggasan. Selain ibadah, juga sekaligus ajang silaturrahmi anak kemenakan.


Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini dihadiri Ketua LKAAM Pesisir Selatan yang juga Caleg DPRD Sumbar Partai Golkar Drs. H. Syafrizal Ucok, MM Datuak Nan Batuah, Anggota DPRD Pesisir Selatan Novermal, SH.MH., Caleg DPRD Pesisir Selatan Partai Golkar Syafrisal Dt. Tan Mangusi dan Pucuak Suku Kampai Karani Datuak Mangkuto.


Menurut Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah, peringatan Maulid Nabi Muhammad adalah momentum untuk meneladani nilai-nilai dan ajaran Rasulullah SAW baik dalam menjalani ibadah maupun dalam bermuamalah.


Kemudian bersyukur atas Maulid Nabi Muhammad SAW dengan banyak bershalawat dan berzikir serta meningkatkan nilai-nilai sosial berupa silaturrahmi dan memberikan jamuan kepada masyarakat dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. (*)



SUMBARNET - Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, yang dipimpin Hen Arif Boy, SH.MH Dt. Rajo Alam Nan Putiah  dikukuhkan di Aula Kantor Camat, di Kawasan Sago Painan, Selasa (26/9/2023).


Hadir dalam pengukuhan ini Wakil Bupati Pesisir Selatan Apt Rudi Hariyansyah, A.Md.,S.Si., Ketum LKAAM Pesisir Selatan Drs. H. Syafrizal Ucok, MM Datuak Nan Batuah, Camat IV Jurai Ferro Yuandha Putri, S.STP., Forkopimca, KUA IV Jurai, Ketua LKAAM Kecamatan se-Pesisir Selatan, Ketua KAN se-Kecamatan IV Jurai dan Bundo Kanduang Nagari.


Wabup Rudi Hariyansyah mengucapkan selamat dan menyambut baik pengukuhan LKAAM Kecamatan IV Jurai ini, sehingga kedepannya akan sangat membantu pemerintahan kecamatan dalam urusan di bidang adat.


"Saya minta Camat dapat memfasilitasi LKAAM Kecamatan ini sehingga dapat menjadi mitra kerja yang strategis, tidak saja bagi pemerintahan kecamatan tetapi juga oleh jajaran Polsek dan Koramil," kata Wabup Rudi Hariyansyah.


Sementara itu Ketua LKAAM Pesisir Selatan Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah mengatakan, LKAAM adalah organisasi Ninik Mamak dan Pemangku Adat yang dimaksudkan sebagai wadah komunikasi Ninik Mamak dalam upaya melestarikan adat Minangkabau. Pelestarian ini adalah menjaga terlaksananya Adat Basandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah dalam  masyarakat nagari.


"LKAAM tidak akan mencampuri atau melakukan intervensi terhadap Kerapatan Adat Nagari (KAN). Tetapi LKAAM akan hadir membantu KAN sebagai fasilitator untuk memediasi jika terjadi masalah adat atau sengketa sako jo pusako di nagari. Jadi antara LKAAM dan KAN akan saling menguatkan, bukan saling adu kuat," kata Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah, mantan Wabup Pesisir Selatan periode 2005-2010.


Karena para Pengurus LKAAM ini seluruhnya adalah Ninik Mamak dan Urang Ampek Jinih, maka Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah mengharapkan sikap, cara bicara dan cara bertindak para Pengurus LKAAM harus mencerminkan sikap-sikap Ninik Mamak itu, yaitu sebagai penyejuk dan pendamai.


"Kalau karuah maka pengurus LKAAM nan akan mampajaniah, kusuik nan kamanyalasai serta LKAAM merupakan pilar perdamaian di kecamatan dan nagari," ujar Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah yang didampingi Sekretaris Ir. Syafri Herfindo Dt. Gamuak.


Selengkapnya Pengurus LKAAM Kecamatan IV Jurai periode 2023-2028 adalah sebagai berikut, Ketua Umum: Hen Arif Boy, SH.MH Dt. Rajo Alam Nan Putiah, Wakil Ketua: Ali Suhur Boy, SH Dt. Bandaro Jambak, Sekretaris Umum: Zendrizal Dt. Putiah, Wakil Sekretaris; Drs. H. Zainal Dt. Rajo Mato dan Bendahara; Harlindo Azhar Dt. Rajo Alam. 


Seksi Organisasi, Kewarisan, Keanggotaan; H. Muchtar Dt. Rangkayo Sati, Iswandi Panungkek Dt. Rajo Batuah dan Masrijon Koto, S.Ag Panungkek Dt. Bandaro Mudo.


Seksi Penyelesaian Sako jo Pusako; Amril Syam Dt. Rangkayo Basa, Alwirdanto Panungkek Dt. Rajo Alam Nan Putiah dan Sawirman, S.Pd. Manti Dt. Kayo.


Seksi Pemberdayaan Tanah Ulayat: Vivri Andri Dt. Putiah, Aurizal Manti Dt. Rajo Alam Nan Putiah, Sabarudin Panungkek Dt. Sari Marajo dan Suib Tanjung, SH Imam Mangkudun.


Seksi Kepemudaan, Seni dan Permainan Anak Nagari; Riwayanto, ST Dt. Rajo Nan Sati, Afrizal Manti Dt. Bandaro Jambak, Afrizal Panungkek Dt. Nan Batuah dan Rahmadona Imam Peto Kayo. (*)



SUMBARNET - Pengurus LKAAM Sumbar dan Ketua LKAAM Kabupaten/Kota dengan fasilitasi Dinas Kebudayaan Sumbar mengadakan studi tiru ke Desa Adat di Provinsi Bali, 9-12 Juli 2023. Studi tiru ini merupakan kelanjutan dari Bimtek yang dilaksanakan di Bukittinggi akhir Juni lalu.


Tim studi tiru yang dipimpin oleh Ketum LKAAM Sumbar Dr Fauzi Bahar, M.Si Datuak Nan Sati ini diterima oleh Sekretaris Dinas Pemajuan Masyarakat Adat (PMA) Provinsi Bali di Kantor Majelis Desa Adat (MDA) Jalan Cok Agung Tresna, Denpasar, Senin (10/7/2023).


Ikut mendampingi Ketum LKAAM Fauzi Bahar Dt Nan Sati adalah Sekretaris Dinas Kebudayaan Sumbar Yayat Wahyudi A, S.T., M.Si., Ketua Harian LKAAM Sumbar Dr Amril Amir Dt. Lelo Basa, Anggota DPRD Sumbar Daswippetra Dt. Manjinjiang Alam dan Sub Kordinator Adat Dinas Kebudayaan Ridho Arifandi, S.STP.


Dalam rombongan studi tiru LKAAM Sumbar yang  berjumlah 70 orang ini adalah para Wakil Ketua Umum LKAAM Sumbar yaitu Syafrizal Ucok, MM Datuak Nan Batuah, Epi Radisman, SH Dt Paduko Alam dan Reflidon Datuak Kayo, Sekretaris Umum LKAAM Sumbar Jasman Rizal Dt. Bandaro Bendang, para Ketua, Wakil Sekretaris dan Ketua Bidang. Dari LKAAM Kabupaten/Kota yang ikut dalam studi tiru ini adalah Ketua dan Sekretaris.


Menurut Sekretaris PMA Provinsi Bali IG.AA. Ekaputri Kusumayoni, SH., M.Si., bahwa Pemprov Bali memberikan kewenangan dan perhatian yang tinggi terhadap Desa Adat yang jumlahnya 1.493 desa. Ini kemudian diatur dalam Perda No.4/2019 tentang Desa Adat Bali.


"Selain memberikan kewenangan dan kekhususan kepada Desa Adat, Pemprov Bali memberikan bantuan Rp300 juta setiap tahun kepada masing-masing Desa Adat. Pemda Kabupaten/Kota di daerah masing-masing juga membantu Desa Adat sesuai kemampuan daerah," kata Sekdis Ekaputri Kusumayoni. 


Desa Adat di Bali adalah kesatuan masyarakat hukum adat yang memiliki wilayah, hak-hak tradisional, kekayaan, tradisi  dan tata krama.  Desa Adat di Bali memiliki kekhususan, tugas dan wewenang serta hak mengurus rumah tangganya sendiri dengan perangkat Desa Adat yang disebut Bendesa. 


"Hak asal usul berupa Awit Awit (kearifan lokal) yang kemudian diimplementasikan kedalam Perda. Inilah dasar dari kewenangan, pungutan atau retribusi dari tempat wisata yang menjadi pemasukan dan kekayaan Desa Adat," ujar Ekaputri Kusumayoni menambahkan.


Selain Desa Adat, di Bali ada Desa Dinas sebanyak 636 dan Kelurahan 80. Desa Dinas dan Kelurahan inilah yang mengurus administrasi masyarakat dan pemerintahan. "Jadi Desa Adat dan Desa Dinas adalah dua hal yang berbeda peran dan fungsinya," jelas Ekaputri Kusumayoni yang akrab disapa Buk Gung.


Ketum LKAAM Sumbar Dr Fauzi Bahar Dt Nan Sati dalam sambutannya mengatakan bahwa kekayaan adat Minangkabau luar biasa hebat dan tidak kalah hebatnya dengan adat yang ada di Bali. Begitu juga SDM dari adat Minangkabau sangat komplit yang tidak lain adalah Ninik Mamak dengan segala perangkat penghulu seperti Manti, Imam, Khatib, Dubalang, Bundo Kanduang dan Parik Paga.


Namun adat Minangkabau, kata Dr Fauzi Bahar, sejauh ini baru diterapkan dalam acara tertentu dan prosesi adat ditampilkan dalam seremonial. Adat Minangkabau yang sarat dengan pernak-perniknya belum lagi memberikan manfaat nyata kepada masyarakat secara ekonomi, dan belum terlihat dalam sistem pemerintahan serta belum berdampak kepada pengelolaan tanah ulayat nagari dan pemasukan nagari.


Oleh karena itulah, ujar Fauzi Bahar Dt Nan Sati, studi tiru ke Provinsi Bali ini sebagai bagian dari upaya belajar bagaimana adat dan budaya dapat memberikan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi, ikut dalam mengatur sistem pemerintahan dan memberikan kemajuan dari desa atau nagari.


Studi tiru LKAAM Sumbar ini dilanjutkan dengan kunjungan lapangan kedua tempat yaitu ke Desa Adat Sanur Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar dan Desa Adat Penglipuran, Kec. Bangli, Kabupaten Bangli. Dikedua desa ini rombongan studi tiru banyak bertanya dan mendapatkan informasi tentang Desa Adat. Rombongan studi tiru juga dijamu makan siang oleh Kapolda Bali melalui Kabid Humas Kombes Pol Satake Bayu Setianto. (*)



SUMBARNET - Wakapolda Bali Brigjen. Pol. Drs. I Ketut Suardana, M.Si. menerima kunjungan dari LKAAM (Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau)  di gedung Rupatama Polda Bali, Selasa (11/07/2023).


Kunjungan dari LKAAM Sumbar ini, disambut baik oleh Wakapolda Bali, yang didampingi oleh Kombes Pol. Stefanus Satake Bayu Setianto, SIK, M.Si. selaku Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Bali.


Wakapolda Bali dalam sambutannya mengatakan sangat senang bisa berbagi sedikit pengalaman terkait apa saja yang telah di lakukan Polda Bali selama ini termasuk berbagi pengalaman tentang bagaimana  menjalani event Lokal, Nasional maupun Internasioal.


Wakapolda Bali dalam paparannya juga menjelaskan ada beberapa system yang dijalankan oleh Polda Bali seperti Sistem Pengamanan Terpadu Berbasis Desa Adat (Sipandu Beradat) yang merupakan inovasi Kapolda Bali Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra lahir dari proses Polri Belajar Polda Bali yang dilaksanakan secara berkesinambungan dan inklusif serta adaptif dengan perkembangan masyarakat Bali.


Ketua LKAAM Sumbar dalam hal ini yang diwakilkan oleh Drs. Jasman Rizal, MM. Dt Bandaro Bandang selaku Sekjen LKAAM mengucapkan terimakasi karna sudah menerima kami dengan baik dan mengucapkan terimakasi karena sudah berbagi pengalaman yang sudah dijalani oleh Polda Bali. (**)



SUMBARNET - Ketua LKAAM Pesisir Selatan Drs. H. Syafrizal Ucok, MM Datuak Nan Batuah memberikan apresiasi yang tinggi atas pola pembauran masyarakat di Sungai Kuyuang, Nagari Indrapura Selatan, Kecamatan Pancung Soal. Meski mereka berasal dari Tapanuli Selatan dan Pasaman, tetapi mereka "malakok" atau "maambiak mamak" bergabung dengan suku-suku masyarakat yang ada di Nagari Indrapura. 


"Luar biasa kehidupan masyarakat di Sungai Kuyuang ini. Dunsanak kita dari Tapanuli Selatan dan Pasaman tidak lagi menonjolkan suku lama mereka seperti Nasution, Harahap atau Siregar, tetapi 'malakok' kepada suku Panai, Melayu, Chaniago atau suku Sikumbang. Dengan demikian mereka otomatis menjadi anak kemenakan dari mamak suku-suku tersebut," kata Syafrizal Ucok, yang menggelar silaturrahmi di Rumah Gadang Rangkaya Malius, Sabtu (1/7/2023) malam.


Dengan "malakok" atau "maambiak mamak" ini maka banyak manfaat yang diperoleh oleh dunsanak kita yang berasal dari Tapanuli Selatan dan Pasaman ini, terutama dalam penyelenggaraan alek baik dan alek buruak. Artinya, dalam kegiatan pesta perkawinan alek baralek atau ada musibah anggota keluarga yang meninggal dunia maka ada Mamak Suku yang akan mengkordinir dan memimpin kegiatan. 


"Mamak Suku tentu akan menjadi pimpinan anak kemenakannya dalam alek baiak dan alek buruak. Masyarakat nagari akan berkoordinasi dengan Mamak Suku, sehingga kepentingan sosial kemasyarakatan dari dunsanak kita ini seluruhnya terlindungi," kata Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah, yang dalam Pemilu 2024 menjadi Caleg DPRD Sumbar dari Partai Golkar. 


Dalam kaitan program LKAAM Sumbar dengan Polda Sumbar tentang pemasyarakatan penyelesaian hukum Restorative Justice, maka pola "malakok" atau "maambiak mamak" ini sangat sejalan. Pola penyelesaian perkara hukum diluar pengadilan ini tentunya melibatkan  Ninik Mamak untuk perdamaian, penggantian kerugian dan permohonan maaf serta memulihkan keadaan seperti semula sebelum perkara hukum. 


"Pengurus LKAAM Sumbar bersama dengan LKAAM Kabupaten/Kota sekarang aktif melakukan sosialisasi Restorative Justice, sebagai upaya menciptakan kedamaian di nagari, menyelesaikan perkara hukum dengan tidak melanggar hukum. Restorative Justice adalah program Kapolri dan Jaksa Agung yang disupport oleh Ninik Mamak di Sumatera Barat," kata Syafrizal Ucok, MM Datuak Nan Batuah yang sehari-hari adalah Ketua KAN Painan Kecamatan IVJurai.


Di Sungai Kuyuang memang terdapat sekitar 130 Kepala Keluarga masyarakat yang asal usulnya dari Pasaman dan Tapanuli Selatan. Mereka datang meneruka daerah Sungai Kuyuang pada tahun 1970-an dengan berladang karet, sawit dan kulit manis. Meski memiliki marga, seluruh masyarakat itu kini sudah "malakok" kedalam suku Panai, Melayu, Chaniago dan Sikumbang. 


Atas nama masyarakat Sungai Kuyuang dan Sungai Gemuruh yang hadir dalam silaturrahmi ini tampil memberikan sambutan Martius Datuak Bandaro Bendang, yang mengucapkan terima kasih atas pembinaan LKAAM Pesisir Selatan selama ini.


"Kami mendapat pencerahan dari Pak Syafrizal Ucok tentang adat dan Restorative Justice yang akan terus dipedomani oleh dunsanak di Sungai Kuyuang ini. Kami harapkan ada pelatihan adat Minangkabau untuk tokoh-tokoh masyarakat dimasa datang," kata Martius Datuak Bandaro Bendang, yang pernah menjadi Pj Wali Nagari Indrapura Selatan. 


Dalam silaturahmi di Sungai Kuyuang yang dihadiri hampir 80 orang ini, juga hadir tokoh-tokoh masyarakat dari Sungai Gemuruh. Mereka sepakat untuk mendukung dan mengantarkan Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah menjadi Anggota DPRD Sumbar pada Pemilu tahun 2024 mendatang. (*)



SUMBARNET - Tidak lengkap berkunjung ke Sijunjung (Sumbar) jika tidak mencicipi Durian Gambok dengan Sikucuik. Paduan durian dan ketan ini luar biasa enak dan rasanya tidak akan mudah dilupakan lidah. 


Itulah yang dirasakan Ketua LKAAM Pesisir Selatan Drs Syafrizal Ucok, MM Datuak Nan Batuah ketika kunjungan silaturrahmi dan menikmati Durian Gambok di rumah Ketua LKAAM Sijunjung Epi Radisman, SH Dt. Paduko Alam, di Muaro Gambok, Selasa (27/6/2023) siang.


Durian Gambok yang disiapkan Datuak Paduko Alam berjumlah 10 buah yang berukuran besar. Semuanya enak, isinya berdaging tebal dengan warna kekuningan. Dipadukan dengan Sikucuik yaitu pulut ketan yang dimasak dengan santan kelapa. Di beberapa daerah Sikucuik ini juga disebut dengan Atun.


"Dalam jamuan adat zaman dahulu, sering dihidangkan Durian Gambok ini bersama dengan Sikucuik yang merupakan jamuan khas dalam acara kaum atau raja, sehingga jarang-jarang tersedia Sikucuik atau Atun pada hari biasa ini," kata Epi Radisman, SH Dt. Paduko Alam, mantan Anggota DPRD Sijunjung 2004-2009 ini.


Silaturrahmi sambil makan Durian Gambok ini selain diikuti Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah dan Epi Radisman Paduko Alam, juga dihadiri Sekretaris LKAAM Sijunjung Dasril Dt. Tan Marajo, Ketua LKAAM Sumpur Kudus Afrizal Dt. Bagindo Tan Ameh, Ketua KAN Lubuk Tarok Adripen Dt. Panduko Rajo, Bendahara LKAAM Sijunjung Dalius Dt. Simalano, Humas LKAAM Sumbar Sidi Gusfen Khairul dan pemerhati durian Nofri Yuldi33.


Menurut Epi Radisman Datuak Paduko Alam, potensi buah durian di Kabupaten Sijunjung memang cukup besar, terutama di Nagari Gambok yang dikenal dengan sebutan Durian Gambok. Masyarakat juga mengenal durian ini dengan sebutan Durian Padang Laweh.


Bulan Juni ini sudah hampir berakhir musim Durian Gambok, istilahnya buahnya sudah pirang. Artinya sudah jarang tinggal buahnya. Lagi pula Durian Gambok musim ini kurang maksimal, karena seringnya gempa bumi terjadi beberapa bulan lalu. "Kalau gempa bumi maka bunga durian banyak yang gugur dan kadang berpengaruh pada rasa buah yaitu hambar dan sering ada ulatnya," kata Ketua LKAAM Sijunjung Epi Radisman Dt. Paduko Alam. 


Rasa Durian Gambok ini dagingnya tebal, dan nyaris setiap ruangnya berisi durian. Rasanya manis manyalinok dan ada pahitnya. Itulah ciri khas rasa durian berkualitas dan bikin nagih (candu) untuk menikmatinya kembali.


Kalau lagi musim Durian Gambok, setiap hari bertruk-truk buah durian dibawa dari Sijunjung menuju Pekanbaru, Jakarta dan Kota Padang. Kalau dijual di pinggir jalan disekitar Sijunjung harga Durian Gambok ini berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per butir.


Ketua LKAAM Pesisir Selatan Drs. Syafrizal Ucok, MM Datuak Nan Batuah mengaku terkesan dengan  jamuan Durian Gambok dan Sikucuik ini. Ia berharap hidangan ini dapat disediakan di beberapa warung kuliner yang ada di Sijunjung, sehingga jika masyarakat atau wisatawan berkunjung ke Sijunjung dapat dengan mudah menikmati. 


Sebagai mantan orang yang mengabdi di perkebunan, Syafrizal Ucok menyarankan agar Durian Gambok dimurnikan bibitnya, dan dibagikan kepada masyarakat untuk ditanam. Sehingga kedepannya Durian Gambok tetap eksis dan menjadi ciri khas dari Kabupaten Sijunjung. (*)



SUMBARNET - Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) harus terdepan dalam upaya peduli dalam pelestarian adat dan budaya. Juga memberikan pemahaman tentang nilai dan dari budaya itu sendiri kepada generasi muda.


Hal itu diungkapkan Gubernur Sumbar Buya Mahyeldi dalam pembukaan Bimtek Peningkatan Kapasitas Lembaga Adat tahun 2023 yang diikuti Pengurus LKAAM se-Sumbar di Hotel Grand Royal Denai Bukittinggi, Jum'at (23/6/2023).


Menurut Gubernur Buya Mahyeldi, karakteristik dari budaya Minangkabau adalah demokrasi, dimana semua elemen memiliki hak yang sama dalam berpendapat. Puncaknya, meski ada perbedaan-perbedaan tetapi kemudian disatukan kesepakatan melalui musyawarah sebagai keputusan tertinggi. 


Nilai-nilai demokrasi yang luhur di masyarakat Minangkabau ini jauh sebelum ada pelajaran demokrasi pada masa sekarang. Karena itu, jadilah Sumbar sebagai percontohan demokrasi yang jauh dari hal-hal yang merusak, jauh dari fitnah, kebohongan dan adu domba.


Kemudian tentang nagari di Minangkabau adalah satu kesatuan hukum adat secara historis, mengatur adat, budaya, hak asal usul, menjunjung tinggi adat basandi syarak, syarak bersendikan Kitabullah dalam geografis salingka nagari.


Sumbar memiliki  544 Kerapatan Adat Nagari (KAN) yang berada di nagari yang setiap KAN memiliki kekhasannyq sendiri. Jumlah 544 itu tidak akan bertambah meskipun jumlah nagari bertambah karena pemekaran. 


"Karena itu jangan sampai ada pula KAN yang ganda atau dualisme di nagari. Tidak boleh itu, karena tidak ada kubu-kubuan dalam KAN karena KAN itu adalah kumpulan Ninik Mamak yang memiliki sako di nagari. Maka menjadi tugas LKAAM adalah menjaga keutuhan KAN dan memfasilitasi jika terjadi dualisme atau perpecahan KAN," kata Gubernur Sumbar Mahyeldi.


Pemprov Sumbar juga sedang giat-giatnya melakukan kegiatan pelestarian adat Minangkabau ini, salah satunya dengan muatan lokal di sekolah-sekolah. Juga dengan Belajar Merdeka Merdeka Belajar.


Dengan adanya LKAAM maka pelestarian nilai-nilai adat Minangkabau ini harus terus berjalan di Sumbar dan jangan lupa juga melakukan pewarisan kepada yang lebih muda. 


Ketua LKAAM Sumbar yang diwakili Sekum Drs. Jasman Rizal Dt Bandaro Bendang menyampaikan terima kasih kepada Pemprov atas penyelenggaraan Bimtek Peningkatan Kapasitas ini, karena sudah lama LKAAM Sumbar tidak menerima bantuan APBD Provinsi.


"LKAAM memiliki banyak program dalam tugasnya sebagai pelestarian adat dan budaya Minangkabau. Namun program itu belum bisa terlaksana karena tidak adanya dukungan pembiayaan. Insya Allah kedepan LKAAM Sumbar mendapatkan bantuan APBD lagi sehingga banyak program bisa berjalan," kata Jasman Rizal Dt Bandaro Bendang. 


Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Syaifullah, SE.MM mengatakan bahwa Bimtek Peningkatan Kapasitas ini diikuti 70 orang peserta, yang terdiri dari Pengurus LKAAM Sumbar dan Pengurus LKAAM Kabupaten/Kota  ditambah staf Dinas Kebudayaan Sumbar.


Nara sumber dalam Bimtek Peningkatan Kapasitas LKAAM ini adalah Gubernur Sumbar Mahyeldi, Ketum LKAAM Sumbar Dr Fauzi Bahar Dt Nan Sati, Prof Kurnia Warman, Buya Masoed Abidin dan pakar hukum Charles Simabura.


Setelah Bimtek Lembaga Adat ini selama tiga hari, 23-25 Juni, akan dilanjutkan dengan program studi tiru ke Provinsi Bali pada awal Juli 2023 mendatang. (*)



SUMBARNET - Ninik Mamak, Imam dan Khatib adalah personal yang memiliki peran sosial tinggi dan kesibukan yang tidak terduga di tengah masyarakat. Karena itu sangatlah tepat jika Ninik Mamak, Imam dan Khatib dilindungi dengan BPJS, karena sewaktu waktu bisa saja terjadi kecelakaan, sakit dan musibah meninggal dunia. 


Ketua Umum LKAAM Pesisir Selatan Drs. H. Syafrizal Ucok, MM Datuak Nan Batuah menyampaikan hal itu dalam Sosialisasi BPJS terhadap Ninik Mamak, Imam dan Khatib di Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lakitan, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Jum'at (12/5/2023).


Sosialisasi yang diikuti hampir 50 orang Ninik Mamak, Imam dan Khatib ini tampil sebagai nara sumber adalah Kepala BPJS Ketenagakerjaan Pessel Muhammad Afdal. Tampak hadir Sekretaris LKAAM Pessel Ir. Syafri Herfindo Dt. Gamuak, Ketua LKAAM Kecamatan Lengayang Yusmajoyo Dt Rajo Idin, Ketua KAN Lakitan Suardi Sutan Sang Sulaiman, Pj Wali Nagari Lakitan Datuak Putiah, Wali Nagari Lakitan Utara, Lakitan Selatan, Lakitan Timur dan Lakitan Tengah, utusan Dinas Tenaga Kerja Pessel.


"Dengan adanya perlindungan dari BPJS, maka biaya pengobatan dan perawatan akan ditanggung oleh BPJS. Begitu juga jika terjadi meninggal dunia maka ahli waris mendapatkan santunan yang dapat digunakan untuk modal usaha. Untuk biaya preminya bisa dibantu bersama-sama oleh pemerintahan nagari, KAN, Tokoh Masyarakat dan para perantau. Sehingga seluruh Ninik Mamak, Imam dan Khatib di nagari dapat dilindungi oleh BPJS secara gratis," kata Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah.


Pada sosialisasi ini secara spontan dikumpulkan bantuan iuran BPJS. Terkumpul bantuan premi dari pemerintahan Nagari Lakitan untuk dua bulan, dari KAN satu bulan dan dari Ketua LKAAM Pessel Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah satu bulan. Artinya, untuk empat bulan kedepan seluruh Ninik Mamak, Imam dan Khatib di KAN Lakitan telah terlindungi oleh BPJS. Untuk 8 bulan kedepan akan digalang dukungan donatur, tokoh masyarakat dan para perantau. 


Terobosan yang dilakukan KAN Lakitan ini, kata Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah, adalah sesuatu gerakan hebat unjuk kesejahteraan dan perlindungan Ninik Mamak. LKAAM Pesisir Selatan menghimbau seluruh KAN di kabupaten ini meniru langkah yang dilakukan KAN Lakitan. "Kapan perlu KAN dari kabupaten/kota lain di Sumbar dapat belajar ke KAN Lakitan dalam program kerjasama perlindungan BPJS ini," kata Syafrizal Ucok yang diusung Partai Golkar sebagai Caleg DPRD Sumbar dari Dapil Pessel dan Mentawai. 


Sementara itu Kepala BPJS Ketenagakerjaan Pessel Muhammad Afdal merasa surprise atas sambutan dan apresiasi Ketua LKAAM Pesisir Selatan Syafrizal Ucok Datuak Nan Batuah yang peduli dengan perlindungan Ninik Mamak, Imam dan Khatib nagari. "Saya sebagai orang BPJS Ketenagakerjaan dan sebagai putra daerah Pessel tentu sangat senang atas sambutan LKAAM atas program perlindungan terhadap Ninik Mamak ini," kata Muhammad Afdal lagi.


Program BPJS Ketenagakerjaan untuk Ninik Mamak, Imam dan Khatib di KAN Lakitan ini iuran premi minimal Rp16.800 per orang setiap bulan. Santunan untuk yang meninggal karena kecelakaan kerja hingga Rp70 juta ditambah beasiswa untuk dua orang anak. Bagi yang meninggal dunia diluar hubungan kerja mendapat santunan Rp42 juta. (*)

 



SUMBARNET.COM - H.Hendri Yazid Datuk Rajo Diguci, S.Pdi.M.Pd beserta pengurus LKAAM Kecamatan Kuranji KSR ke Mushalla Baitul Amin Bukit Napa Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji. Jumat (7/5).


Dalam kesempatan ini Hendri dalam sambutannya menyampaikan program-program LKAAM Kecamatan Kuranji kepada jama'ah Mushalla Baitul Amin.


Yang pertama program penasehatan Adat Alam Minangkabau kepada setiap calon pengantin di kanagarian Pauh IX.dengan membuat MOUdengan Kepala KUA Kecamatan Kuranji.


Program kedua Tabang Manumpu, Hinggok Mancakam" Artinya bagi warga masyarakat di komplek komplek perumahan di Kecamatan Kuranji, mereka akan di undang dan dikumpulkan serta ditemui secara keseluruhan, dan para ninik mamak mengajak mereka utk dpt mencari atau mendapatkan suku atau ninik mamak atau penghulu di kanagarian Pauh IX," katanya.


"Mereka di ajak dan dirangkul untuk dapat berbaur dan dekat serta punya sanak saudara di kanagarian Pauh IX , sehingga bisa menyatu dan bersama membangun untuk kemajuan Kecamatan Kuranji," ungkapnya.


Selanjutnya Ketua LKAAM Kecamatan Kuranji,  mengajak warga masyarakat, pengusaha pelaminan, Pemerintah Kecamatan,  Ninik Mamak Bajinih Adat, Kapolsek, Koramil. Untuk dapat meletakan dan melestarikan Adat Alam Minangkabau, teruma pada pesta perkawinan dengan tetap mempertahankan pelaminan di dalam rumah, serta melestarikan penggunaan sirih dg peragatnya untuk mengundang sanak saudara, kerabat dekat dan jauh untuk mengahadiri pesta perkawinan.


Program ketahanan ekonomi warga masyarakat  terutama di pasar belimbing, Ketua LKAAM Kecamatan Kuranji akan bekerja sama dengan Ketua DPRD Kota Padang untuk membuat program bantuan dana usaha kepada UMKM yg lemah untuk mendapatkan modal usaha.


"Mereka diupayakan tidak ketergantungan dengan dana rentenir," ungkapnya.


Serta untuk mendukung kegiatan ini Ketua LKAAM menyampaikan bahwasanya LKAAM Kecamatan Kuranji telah berkoordinasi dengan Ketua DPRD Kota Padang.


"Alhamdulillah program kita ini disambut baik oleh Ketua DPRD Kota Padang Syafrial Kani. Untuk itu Ketua DPRD Kota Padang memberikan bantuan sebanyak 300 juta untuk menjalankan program ini,"  ungkapnya. 


Terakhir, Ketua LKAAM Kecamatan Kuranji menyerahkan bantuan Al-Qur'an kepada pengurus Mushalla Baitul Amin.


"Semoga bantuan yang diberikan ini bisa bermanfaat dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya," harapannya.(dori)



SUMBARNET.COM - Hadir di Padang Aro Solok Selatan dan bermalam pula, membuat masyarakat bersama tokoh adat yakin kalau Kapolda Sumbar Irjen Fakhrizal inilah pemimpin Sumbar yang diharapkan jadi Gubenur pada Pilgub 2020.

Pada tanya jawab dengan tokoh adat di nagari sarantau sasurambi, para pemangku adat mempertanyakan soal Kapolda apakah jadi maju di pemilihan Gubernur Sumbar 2020.

Bahkan tokoh adat di LKAAM Solok Selatan Noviar Dt. Rajo Endah meminta Kapolda Sumbar Fakhrizal bersedia maju sebagai calon Gubernur Sumatera Barat.

"Kami bersama niniak mamak di sini meminta Bapak Fakhrizal agar bersedia maju sebagai calon gubernur untuk membawa Sumbar ke depan, sosok Fakhrizal yang tegas berwibawa serta dikenal sebagai Kapolda Ninik Mamak, kami yakini inilah pemimpin Sumbar yang diharapkan semua masyarakat ,"ujar Nofiar.

Apalagi kata Noviar pemimpin Sumbar harus punya hubungan baik ke pusat pemerintahan, soalnya memajukan suatu daerah erat kaitannya dengan politik.

"Kalau gubenurnya dekat dengan presiden, Insya Allah Sumbar pasti maju dan sejahtera. Artinya kedekatan dengan pemerintah pusat menjadi salah satu alasan kami meminta bapak Kapolda maju jadi calon gubernur,"ujarnya.

Kapolda dengan senang hati menjawab permintaan para perwakilan anak kemanakan (niniak mamak) tersebut, Kapolda Sumbar Fakhrizal mengatakan lihat dulu perkembangan ke depan, masih banyak tugas polisi yang belum selesai, terimakasih atas kepercayaan masyarakat dalam hal ini.

"Saya lihat bagaimana kedepannya, dan harpaan ninik mamak di Solok Selatan tentu menjadi semangat saya dalam bekerja untuk tugas di kepolisan, dan soal maju Cagub, Insya Allah, masih ada waktu bagi saya mempertimbangkannya ,"ujar Fakhrizal kini 'bagala Kapolda Ninik Mamak".

Pada sesi lain Kapolda Sumbar diharapkan sebagian tokoh masyarakat dan tokoh adat mengajak Kapolda agar selalu memperhatikan daerah yang banyak potensi alam, termasuk menambah personil dan kantor Mapolsek.

Hamdani Dt Gindo Putiah, seorang ninik mamak Kecamatan Pauh Duo mengatakan, Kecamatan Pauh Duo sudah berdiri sejak 17 tahun yang lalu jumlah penduduk yang lumayan bertambah setiap tahun. Perkembangan masyarakat termasuk keamanan sudah tidak terkafer lagi oleh satu Kapolsek dua kecamatan.

Oleh karena itu dia mewakili masyarakat Pauh Duo berharap kepada Kapolda agar bisa membangun sebuah Mapolres di Pakan Selasa. Semua prosedur akan dilalui, terkait masalah tanah tidak akan bermasalah, masyarakat siap menghibahkan.

#AdF | Nov