HENDRI YAZID DAN KEPEMIMPINAN ADAT KOTA PADANG

 

Peluang, Tantangan, dan Tawaran Kepemimpinan Adat Transformatif


Oleh: Duski Samad


Kemunculan Dr. H. Hendri Yazid, Dt. Rajo Diguci dalam bursa Ketua LKAAM Kota Padang menarik dibaca bukan semata-mata sebagai munculnya seorang calon, tetapi sebagai bagian dari kebutuhan regenerasi dan transformasi kepemimpinan adat di tengah perubahan masyarakat perkotaan.


Pertanyaan utamanya bukan hanya siapa yang akan menjadi Ketua LKAAM Kota Padang, tetapi kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan untuk membawa adat Minangkabau menghadapi masyarakat kota yang semakin heterogen, profesional, digital, dan terhubung secara nasional bahkan global.


Dalam perspektif tersebut, Hendri Yazid memiliki beberapa modal yang menarik: pengalaman birokrasi, kekuatan adat dan syarak, kemampuan berkomunikasi dengan generasi muda, pendidikan, pengalaman organisasi, serta jaringan yang melampaui batas Kota Padang.


Reputasi Birokrasi dan Kemampuan Manajerial


Pengalaman Hendri Yazid sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Payakumbuh merupakan modal kepemimpinan yang penting. Memimpin institusi pemerintah membutuhkan kemampuan mengelola organisasi, sumber daya manusia, regulasi, program, anggaran, pelayanan publik dan koordinasi lintas lembaga.


Rekam kerjanya di Kementerian Agama memperlihatkan perhatian terhadap inovasi pelayanan dan pembinaan masyarakat. Pengalaman seperti ini relevan bagi LKAAM Kota Padang yang ke depan perlu bergerak dari organisasi yang dominan simbolik-seremonial menuju organisasi adat yang profesional, mempunyai data, program, jaringan kerja dan indikator keberhasilan.


LKAAM tentu bukan birokrasi. Karena itu pengalaman birokrasi tidak boleh dibawa menjadi pola komando. Dalam adat, kepemimpinan harus tetap berakar pada musyawarah, penghormatan kepada yang tua, penerimaan kaum dan kemampuan merangkul berbagai kepentingan.


Kekuatan Adat dan Syarak


Modal penting berikutnya adalah pertemuan antara adat dan syarak dalam perjalanan Hendri Yazid.


Sebagai Dt. Rajo Diguci, ia mempunyai identitas dalam struktur sosial adat. Sementara perjalanan kariernya di Kementerian Agama membuatnya berada dalam lingkungan pelayanan kehidupan keagamaan: pendidikan, madrasah, masjid, haji, zakat, wakaf, keluarga dan kerukunan umat.


Kombinasi tersebut mempunyai relevansi khusus dengan filosofi Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.


Tantangannya adalah bagaimana ABS-SBK tidak berhenti sebagai ungkapan normatif dalam pidato adat. Kepemimpinan LKAAM harus mampu menerjemahkannya menjadi program pendidikan keluarga, pembinaan generasi muda, penguatan surau, perlindungan kaum, penyelesaian konflik, etika sosial dan pembentukan karakter masyarakat perkotaan.


Generasi Muda dan Jembatan Menuju Gen Z


Keuntungan lain Hendri Yazid adalah peluang membangun komunikasi dengan generasi yang relatif lebih muda. Ini penting karena salah satu persoalan besar adat hari ini adalah semakin lebarnya jarak antara pemangku adat dengan Gen Z.


Generasi muda hidup dalam dunia yang berbeda. Identitas mereka tidak hanya dibentuk oleh keluarga, mamak, kaum dan surau, tetapi juga sekolah, kampus, komunitas, media sosial, influencer dan algoritma digital.


Karena itu, kepemimpinan adat tidak dapat hanya meminta generasi muda datang kepada adat. Adat juga harus datang ke ruang kehidupan generasi muda.


Kato nan ampek harus mampu diterjemahkan menjadi etika komunikasi digital. Raso jo pareso perlu menjadi dasar bermedia sosial. Hubungan mamak-kamanakan harus dikembangkan menjadi mentoring generasi muda. Surau perlu kembali menjadi ruang pembentukan karakter, kreativitas dan kepemimpinan.


Kedekatan dengan Gen Z dengan demikian bukan persoalan usia semata. Ukurannya adalah kemampuan mendengar bahasa mereka, memahami dunianya, dan menerjemahkan nilai adat menjadi jawaban terhadap persoalan mereka.


Jaringan Nasional: NU, Kementerian Agama, dan Perantau Padang


Salah satu modal yang perlu diperhitungkan dalam membaca peluang Hendri Yazid adalah jaringan yang tidak berhenti pada lingkungan adat Kota Padang.


Pertama adalah jaringan Nahdlatul Ulama. Keterhubungan dengan jaringan NU membuka ruang komunikasi dengan tokoh agama, pesantren, akademisi, organisasi masyarakat dan jaringan sosial-keagamaan yang tersebar secara nasional. Modal ini penting apabila diarahkan untuk memperkuat kapasitas pemangku adat, pendidikan generasi muda dan kolaborasi adat-syarak.


Kedua adalah jaringan Kementerian Agama. Pengalaman panjang dalam birokrasi Kementerian Agama memberi akses relasional dengan aparatur dan kelembagaan keagamaan dari tingkat daerah sampai pusat. Jaringan ini mempunyai nilai strategis karena agenda adat bersinggungan langsung dengan pendidikan agama, masjid dan surau, keluarga, kerukunan, zakat, wakaf serta pembinaan masyarakat.


Ketiga yang tidak kalah penting adalah jaringan perantau Padang. Masyarakat Minangkabau mempunyai kekuatan besar pada hubungan ranah dan rantau. Banyak anak nagari Kota Padang hidup dan berhasil di Jakarta, Batam, Pekanbaru, Medan dan berbagai daerah lain, bahkan di luar negeri.


LKAAM Kota Padang ke depan perlu melihat perantau bukan hanya sebagai sumber bantuan ketika ada kegiatan. Perantau adalah modal intelektual, profesional, ekonomi dan jejaring sosial.


Jika ketiga jaringan ini dapat dikonsolidasikan—NU, Kementerian Agama dan perantau Padang—Hendri Yazid mempunyai peluang membangun model kepemimpinan:


kuat di kaum, kokoh di ranah, dan luas di rantau.


Namun jaringan baru mempunyai arti jika menghasilkan manfaat. Ukurannya bukan berapa banyak tokoh nasional yang dikenal, tetapi berapa banyak jaringan yang dapat dikonversi menjadi program untuk kaum dan masyarakat adat Kota Padang.


Tantangan Terbesar: Legitimasi dari Akar Adat


Di balik berbagai modal tersebut terdapat tantangan yang tidak ringan.


Kekuatan birokrasi, pendidikan, organisasi dan jaringan nasional tidak otomatis menjadi legitimasi adat. Adat mempunyai mekanisme penerimaan sendiri. Ada penghulu, ninik mamak senior, kaum, suku, KAN dan berbagai keseimbangan sosial yang harus dihormati.


Karena itu, Hendri Yazid harus mampu menunjukkan bahwa jaringan keluar yang luas diimbangi dengan akar ke dalam yang kuat.


Regenerasi juga tidak boleh dibangun dengan narasi menggantikan kaum tuo. Justru formula yang diperlukan adalah:


kearifan kaum tuo + energi kaum muda + ilmu cadiak pandai + kekuatan alim ulama + kreativitas Gen Z + jaringan rantau.


Di sinilah kemampuan merangkul menjadi ujian kepemimpinan yang sesungguhnya.


Tawaran Kepemimpinan: Dari Network Menjadi Benefit


Jika maju dalam bursa Ketua LKAAM Kota Padang, diferensiasi Hendri Yazid sebaiknya bukan sekadar sebagai calon yang relatif muda, birokrat atau mempunyai jaringan luas. Tawaran yang lebih substantif adalah kepemimpinan adat transformatif.


LKAAM dapat diarahkan kepada beberapa agenda besar: Satu Kaum Satu Data, Mamak Asuh Kamanakan, Sakolah Adat Kota, Pemangku Adat Digital, Klinik Adat dan Keluarga, Ninik Mamak Masuk Sekolah dan Kampus, kaderisasi penghulu muda, serta Ranah-Rantau Peduli Kaum.


Jaringan NU dapat memperkuat dimensi sosial-keagamaan. Jaringan Kementerian Agama dapat memperluas kolaborasi pendidikan, surau, keluarga dan pemberdayaan umat. Jaringan perantau dapat dihimpun menjadi sumber mentoring, beasiswa, investasi sosial, pemberdayaan ekonomi dan pengembangan generasi muda.


Inilah transformasi yang diperlukan:


NETWORK → TRUST → COLLABORATION → PROGRAM → BENEFIT UNTUK KAUM.


Bukan Sekadar Menjadi Ketua


Secara analitis, Hendri Yazid memiliki kombinasi modal yang cukup lengkap: adat, syarak, birokrasi, pendidikan, generasi muda dan jaringan ranah-rantau serta nasional.


Tetapi semua itu tetap merupakan modal awal, bukan tiket otomatis untuk menjadi pemimpin adat.


Ujian sesungguhnya adalah apakah ia mampu mengubah modal personal menjadi kekuatan kolektif; mengubah jaringan menjadi manfaat; menghubungkan kaum tuo dengan Gen Z; menyatukan adat dan syarak dalam program; serta menjadikan LKAAM rumah besar yang dapat diterima semua unsur adat Kota Padang.


Karena itu, tawaran kepemimpinan Hendri Yazid dapat dirumuskan dalam enam kata kerja:


BERAKAR – MERANGKUL – MENGHUBUNGKAN – MELAYANI – BERINOVASI – MEREGENERASI.


Jika keenamnya dapat diwujudkan, pencalonannya tidak hanya menawarkan pergantian Ketua LKAAM, tetapi menawarkan kemungkinan lahirnya model baru kepemimpinan adat perkotaan: berakar kuat pada adat dan syarak, dekat dengan generasi muda, profesional dalam organisasi, luas dalam jaringan nasional, serta mampu menghubungkan kekuatan ranah dengan rantau.


Pada akhirnya, pemimpin adat tidak dinilai dari seberapa luas jaringan yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar jaringan itu menghadirkan manfaat bagi kaum, kamanakan dan masyarakat.


Kuat di adat, kokoh di syarak, dekat dengan generasi, luas di jaringan, dan nyata manfaatnya bagi kaum.10092026. 

0 Post a Comment:

Posting Komentar