Ketua Nelayan Tuapeijat Bantah Isu Penimbunan BBM Solar: Pakai Kupon Rekomendasi Bupati, 2 Ton Masih Kurang

 


Sumbarnet.id, Mentawai — Ketua Nelayan Tuapeijat, Arifin, membantah adanya dugaan praktik penimbunan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang disebut-sebut terjadi di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tuapeijat, Kabupaten Kepulauan Mentawai.


Menurut Arifin, informasi mengenai dugaan penimbunan BBM tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Ia menegaskan bahwa BBM solar yang diterima kelompok nelayan selama ini disalurkan menggunakan mekanisme kupon dan berdasarkan rekomendasi dari Bupati Kepulauan Mentawai.


Penjelasan tersebut disampaikan Arifin saat ditemui wartawan Sumbarnet.id di kawasan Pasar Ikan TPI Tuapeijat, Rabu (23/9/2026).


"Untuk persoalan penimbunan BBM di sini tidak ada, Pak. Karena yang kita lakukan di sini melalui rekomendasi Bupati dan kita memiliki kuota," tegas Arifin.


Ia menjelaskan, penyaluran BBM solar kepada nelayan tidak dilakukan secara bebas, melainkan menggunakan kupon dengan jumlah tertentu. Setiap kupon memiliki jatah 100 liter solar.


Dengan sistem tersebut, menurut Arifin, jumlah BBM yang diterima nelayan justru masih belum mencukupi kebutuhan untuk melakukan aktivitas melaut.


"Yang dapat kami ambil minyak solar hanya sebanyak 2 ton. Satu kupon itu jumlahnya 100 liter. Itu belum cukup bagi nelayan. Mereka butuh sekitar 300 liter baru bisa melaut untuk satu trip," jelasnya.


Arifin menyebut kebutuhan BBM masing-masing kapal bergantung pada aktivitas dan jarak melaut. Namun, untuk nelayan yang membutuhkan sekitar 300 liter dalam satu kali perjalanan, jatah 100 liter melalui satu kupon belum memungkinkan kapal untuk langsung berangkat.


"Kalau mereka baru mendapatkan 100 liter, mereka harus menunggu sampai terkumpul 300 liter baru bisa berangkat melaut," katanya.


BBM Langsung Disalurkan kepada Nelayan


Arifin juga membantah anggapan bahwa BBM yang diterima dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) kemudian disimpan dalam jumlah besar untuk kepentingan tertentu.


Ia menegaskan, setiap pasokan solar yang diterima langsung disalurkan kepada nelayan yang membutuhkan, khususnya kapal-kapal yang telah siap untuk melakukan aktivitas penangkapan ikan.


"Di sini tidak ada penimbunan SPBU. Begitu minyak ada, langsung kita salurkan kepada nelayan. Nelayan itu kalau minyaknya belum cukup 300 liter, dia belum bisa melaut. Jadi tidak ada penimbunan atau penyimpanan BBM untuk ditimbun," tegas Arifin.


Menurutnya, kondisi yang terlihat seperti adanya penumpukan atau antrean BBM bukan berarti terjadi praktik penimbunan. Hal tersebut lebih disebabkan keterbatasan kuota dibandingkan dengan kebutuhan nelayan yang cukup banyak.


Arifin mengatakan, dalam setiap kedatangan BBM, pihaknya hanya dapat menyalurkan kepada sekitar 20 pemegang kupon. Sementara jumlah kapal nelayan yang membutuhkan BBM di kawasan TPI Tuapeijat cukup banyak.


"Kami salurkan kepada nelayan sebanyak 20 kupon. Banyak kapal yang ada di TPI ini. Jadi 2 ton itu tidak cukup," ujarnya.


Kebutuhan Nelayan Lebih Besar dari Kuota


Arifin menuturkan, persoalan utama yang dihadapi nelayan bukanlah adanya penimbunan BBM, melainkan keterbatasan pasokan dibandingkan kebutuhan operasional kapal.


Kondisi tersebut membuat nelayan harus menunggu hingga mendapatkan jumlah BBM yang mencukupi sebelum dapat berangkat melaut.


Menurutnya, apabila pasokan solar tersedia dalam jumlah yang lebih besar, nelayan tentu akan lebih mudah mengatur jadwal keberangkatan dan kegiatan penangkapan ikan.


"Kalau bisa, kami berharap adanya penambahan kuota untuk nelayan kita. Selama ini sulit mendapatkan BBM bukan karena ditimbun, tetapi karena kuotanya memang kurang," ungkap Arifin.


Ia berharap pemerintah daerah dapat mempertimbangkan kondisi riil yang dihadapi nelayan di Tuapeijat. Penambahan kuota, menurutnya, akan membantu nelayan memenuhi kebutuhan BBM sekaligus menjaga kelancaran aktivitas perikanan.


"Harapan kami, kebutuhan BBM nelayan dapat disesuaikan dengan jumlah kapal dan kebutuhan untuk melaut. Jangan sampai nelayan kesulitan mendapatkan BBM sehingga aktivitas mencari ikan ikut terganggu," harapnya.


Klaim Penyaluran Menggunakan Rekomendasi Bupati


Lebih lanjut, Arifin kembali menegaskan bahwa mekanisme pengambilan BBM yang dilakukan kelompok nelayan menggunakan kupon dan rekomendasi dari pemerintah daerah.


Ia menyebut mekanisme tersebut menjadi dasar dalam pengambilan BBM bagi nelayan yang berada di kawasan TPI Tuapeijat.


"Kami mengambil dengan kupon, pakai rekomendasi dari Bupati. Jelas tidak ada penimbunan yang dilakukan oleh ketua nelayan di sini," pungkas Arifin.


Ia juga menyatakan pihaknya terbuka apabila mekanisme penyaluran BBM tersebut perlu diperiksa atau diawasi oleh pihak terkait. Menurutnya, pengawasan diperlukan agar distribusi BBM kepada nelayan berjalan sesuai ketentuan dan tepat sasaran.


Arifin berharap persoalan keterbatasan BBM dapat dilihat secara utuh sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.


Ia menekankan bahwa nelayan membutuhkan kepastian pasokan BBM karena solar merupakan salah satu kebutuhan utama untuk mengoperasikan kapal dan menjalankan aktivitas penangkapan ikan.


Nofrijhon: Informasi Penimbunan Tidak Benar


Sementara itu, Nofrijhon yang berada di lokasi saat penjelasan tersebut disampaikan turut membantah informasi mengenai dugaan penimbunan BBM oleh nelayan di TPI Tuapeijat.


Ia menyebut kondisi di lapangan menunjukkan bahwa BBM yang tersedia justru terbatas dan harus dibagikan kepada nelayan sesuai kuota serta mekanisme yang berlaku.


"Berarti informasi yang beredar itu tidak benar. Tidak ada penimbunan," kata Nofrijhon.


Ia berharap persoalan distribusi BBM bagi nelayan dapat menjadi perhatian bersama, terutama karena ketersediaan solar berkaitan langsung dengan keberlangsungan aktivitas nelayan.


Dengan adanya penjelasan dari pihak nelayan tersebut, mereka meminta agar informasi mengenai dugaan penimbunan BBM dapat dilihat berdasarkan kondisi dan mekanisme penyaluran yang sebenarnya di lapangan.


Di sisi lain, kebutuhan penambahan kuota BBM menjadi harapan utama para nelayan Tuapeijat agar mereka dapat menjalankan aktivitas melaut secara lebih lancar tanpa harus menunggu terlalu lama hingga BBM yang dibutuhkan mencukupi. (Robi)

0 Post a Comment:

Posting Komentar