SUMBARNET - Nama Dr. H. Hendri Yazid, S.Pd.I., M.Pd., MM., Dt. Rajo Diguci, mencuat dalam bursa pencalonan Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kota Padang periode 2026-2031.
Dengan latar belakang pendidikan akademik yang kuat serta pengalaman panjang di lingkungan birokrasi Kementerian Agama, Hendri Yazid membawa gagasan kepemimpinan yang memadukan penguatan adat, nilai-nilai keagamaan, pelayanan masyarakat, inovasi, serta regenerasi generasi muda.
Hendri Yazid secara resmi mendaftarkan diri sebagai calon Ketua LKAAM Kota Padang pada Senin, 7 September 2026 bertempat di Komplek Masjid Raya Sumatera Barat dan mendapat nomor urut 1.
Dalam proses pendaftaran tersebut, Hendri Yazid membawa dukungan dari 14 Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan LKAAM.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari langkahnya untuk ikut mengambil peran dalam memperkuat kelembagaan adat di Kota Padang untuk periode lima tahun mendatang.
Dalam pencalonannya, Hendri Yazid mengusung slogan "Bersama, Lestarikan Adat, Tegakkan Marwah, Majukan Padang."
Slogan tersebut menggambarkan arah kepemimpinan yang ingin dibangun dengan menempatkan adat dan budaya Minangkabau sebagai salah satu fondasi penting dalam kehidupan masyarakat, sekaligus mendorong agar kelembagaan adat mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Berbekal Pengalaman Birokrasi dan Pendidikan
Dr. H. Hendri Yazid memiliki latar belakang pendidikan S.Pd.I., M.Pd., MM., hingga jenjang doktoral. Perjalanan akademik tersebut menjadi salah satu modal dalam membangun perspektif kepemimpinan yang menggabungkan aspek pendidikan, manajemen, pelayanan publik, serta pembinaan masyarakat.
Di bidang birokrasi, Hendri Yazid pernah dipercaya sebagai Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kementerian Agama Kota Padang.
Selanjutnya, ia juga pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Payakumbuh.
Pengalaman tersebut membuat Hendri Yazid memiliki rekam aktivitas yang bersentuhan langsung dengan berbagai sektor pelayanan dan pembinaan masyarakat.
Selama berada di lingkungan Kementerian Agama, rekam kerjanya disebut berfokus pada sejumlah bidang, mulai dari inovasi pelayanan, pembinaan masyarakat, pendidikan madrasah, masjid, penyelenggaraan haji dan umrah, zakat, wakaf, hingga upaya menjaga kerukunan umat.
Pengalaman di birokrasi tersebut kini menjadi salah satu bagian dari modal yang dibawanya ke ranah kelembagaan adat.
Bagi Hendri Yazid, pengalaman mengelola organisasi dan memberikan pelayanan kepada masyarakat dapat menjadi bekal untuk mendorong LKAAM agar semakin responsif terhadap berbagai dinamika yang berkembang di tengah masyarakat.
Menguatkan Adat dan Syarak
Dalam pencalonannya sebagai Ketua LKAAM Kota Padang periode 2026-2031, Hendri Yazid menempatkan penguatan adat dan budaya Minangkabau sebagai bagian utama dari visi yang ditawarkan.
Visi tersebut berpijak pada prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Selain ABS-SBK, konsep kepemimpinan yang dibawa juga menekankan pentingnya musyawarah mufakat serta prinsip bajanjang naik batanggo turun dalam kehidupan adat Minangkabau.
Prinsip tersebut menjadi landasan penting dalam membangun komunikasi dan pengambilan keputusan di tengah masyarakat adat.
Hendri Yazid memandang penguatan adat tidak semata-mata berkaitan dengan pelestarian tradisi, tetapi juga bagaimana nilai-nilai adat tetap relevan dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan dinamika generasi muda.
Melalui pencalonan tersebut, arah yang ditawarkan adalah bagaimana kelembagaan adat dapat terus hadir di tengah masyarakat dan menjadi ruang bersama untuk menjaga identitas budaya Minangkabau.
Menjembatani Adat dengan Generasi Muda
Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam gagasan kepemimpinan Hendri Yazid adalah hubungan antara kelembagaan adat dengan generasi muda.
Perubahan zaman membuat generasi muda memiliki pola komunikasi dan cara berinteraksi yang berbeda. Karena itu, keberlangsungan nilai-nilai adat membutuhkan pendekatan yang mampu menjangkau generasi baru.
Dalam analisis GardaPublik yang disampaikan mengenai pencalonannya, Hendri Yazid disebut memiliki salah satu modal berupa kemampuan menjembatani komunikasi dengan Gen Z.
Hal tersebut menjadi relevan dalam konteks regenerasi adat. Sebab, keberadaan generasi muda tidak hanya diperlukan sebagai penerima warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari proses pengembangan dan keberlanjutan adat Minangkabau.
Dengan pendekatan komunikasi yang lebih terbuka, kelembagaan adat diharapkan dapat semakin dekat dengan generasi muda tanpa kehilangan nilai-nilai dasar yang menjadi identitas Minangkabau.
Lima Tahun ke Depan dan Tantangan Kelembagaan Adat
Pencalonan Ketua LKAAM Kota Padang periode 2026-2031 berlangsung di tengah tantangan yang semakin kompleks.
Kelembagaan adat tidak hanya dituntut untuk mempertahankan nilai dan tradisi, tetapi juga perlu menjawab persoalan sosial yang muncul akibat perubahan zaman.
Karena itu, gagasan kepemimpinan Hendri Yazid diarahkan pada upaya membangun kelembagaan adat yang tetap berakar pada nilai tradisi, namun terbuka terhadap inovasi.
Dalam konsep yang ditawarkan, terdapat sejumlah kata kunci yang menjadi gambaran arah kepemimpinannya, yakni BERAKAR, MERANGKUL, MENGHUBUNGKAN, MELAYANI, BERINOVASI, dan MEREGENERASI.
"Berakar" menggambarkan komitmen untuk tetap berpijak pada adat dan budaya Minangkabau.
"Merangkul" menekankan pentingnya membangun kebersamaan dengan berbagai unsur masyarakat.
"Menghubungkan" menggambarkan upaya memperkuat komunikasi antara pemangku adat, masyarakat, generasi muda, pemerintah, serta para perantau.
Sementara "melayani" menempatkan kepentingan masyarakat sebagai bagian penting dari keberadaan kelembagaan adat.
Kemudian "berinovasi" diarahkan agar adat mampu mengikuti perkembangan zaman, sedangkan "meregenerasi" menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi penerus yang memahami sekaligus mampu mengembangkan nilai-nilai adat.
Memiliki Jaringan Organisasi dan Perantau
Selain pengalaman birokrasi dan aktivitas adat, modal lain yang disebut dalam analisis GardaPublik adalah jaringan organisasi dan komunikasi yang dimiliki Hendri Yazid.
Jaringan tersebut antara lain berkaitan dengan lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), Kementerian Agama, serta jaringan perantau Padang.
Jaringan yang luas tersebut dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam upaya membangun komunikasi mengenai adat dan kebudayaan Minangkabau.
Apalagi, hubungan antara masyarakat di kampung halaman dengan perantau merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Minangkabau.
Dengan komunikasi yang kuat antara ranah dan rantau, berbagai potensi dapat dihubungkan untuk mendukung pelestarian adat, budaya, pendidikan, serta penguatan kehidupan sosial masyarakat.
Mengusung Semangat Kebersamaan
Slogan "Bersama, Lestarikan Adat, Tegakkan Marwah, Majukan Padang" menjadi pesan utama yang dibawa Hendri Yazid dalam pencalonannya.
Kata "bersama" menegaskan bahwa pelestarian adat tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan keterlibatan ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, generasi muda, pemerintah, tokoh masyarakat, serta berbagai unsur lainnya.
Sementara itu, pelestarian adat juga diposisikan sebagai bagian dari upaya menjaga marwah masyarakat Minangkabau.
Adat yang hidup di tengah masyarakat diharapkan bukan hanya menjadi simbol atau warisan masa lalu, tetapi tetap menjadi sumber nilai dalam kehidupan sosial.
Dalam konteks Kota Padang sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat Sumatera Barat, keberadaan kelembagaan adat juga menghadapi perkembangan perkotaan yang sangat dinamis.
Karena itu, penguatan adat membutuhkan strategi yang mampu mempertahankan nilai dasar sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat modern.
Harapan untuk LKAAM Kota Padang
Melalui pencalonannya, Hendri Yazid membawa harapan agar LKAAM Kota Padang dapat semakin kuat sebagai wadah kelembagaan adat dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Penguatan kelembagaan, peningkatan komunikasi antarpemangku adat, pelibatan generasi muda, serta pemanfaatan inovasi menjadi bagian dari arah yang ditawarkan.
Dengan pengalaman di bidang birokrasi, pendidikan, keagamaan, serta aktivitas adat, Hendri Yazid berupaya menawarkan pola kepemimpinan yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan kebutuhan masa kini dan tantangan masa depan.
Bagi dirinya, adat harus tetap memiliki akar yang kuat. Namun, akar tersebut diharapkan mampu menopang pertumbuhan dan perkembangan masyarakat di tengah perubahan zaman.
Pencalonan sebagai Ketua LKAAM Kota Padang periode 2026-2031 dengan demikian bukan hanya menjadi kontestasi kepemimpinan kelembagaan adat, tetapi juga menjadi ruang untuk memperbincangkan arah masa depan adat dan budaya Minangkabau di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.
Dengan dukungan yang dibawa dari 14 KAN dan LKAAM serta pengalaman panjang di lingkungan birokrasi Kementerian Agama, Hendri Yazid kini menawarkan gagasan kepemimpinan yang menitikberatkan pada penguatan akar adat, kebersamaan, pelayanan, inovasi, komunikasi lintas generasi, dan regenerasi.
Semangat tersebut dirangkum dalam visi pencalonannya: "Bersama, Lestarikan Adat, Tegakkan Marwah, Majukan Padang."
Ke depan, gagasan dan komitmen tersebut akan menjadi bagian dari proses demokrasi adat dalam menentukan kepemimpinan LKAAM Kota Padang untuk periode 2026-2031. (AdF)

0 Post a Comment:
Posting Komentar