Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iran. Tampilkan semua postingan


SUMBARNET - Pada tiket dan jadwal resmi Piala Dunia 2026, pertandingan yang berlangsung di Stadion Los Angeles adalah laga antara Iran melawan Selandia Baru. Namun, di tribun penonton dan di luar stadion, lawan paling vokal bagi Iran bukanlah timnas Selandia Baru—melainkan warga mereka sendiri.


Berulang kali, para pejabat tim Iran menyatakan bahwa mereka ingin sepak bola menjadi pemersatu bangsa. Namun, atmosfer yang terasa dalam laga fase grup Piala Dunia ini sama sekali jauh dari kata bersatu.


Di luar Stadion Los Angeles, ketegangan politik begitu terasa. Ratusan bendera Iran berkibar, dan yang paling mencolok adalah bendera era pra-Revolusi 1979 yang menampilkan lambang Singa dan Matahari.


Bagi banyak warga Iran-Amerika, bendera tersebut telah menjadi simbol perlawanan terhadap rezim di Teheran.


Namun, para pemain menolak anggapan tersebut.


Sebelum pertandingan, striker Mehdi Taremi menyatakan bahwa timnya bermain untuk seluruh rakyat Iran, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri, dan mereka tidak ikut campur dalam urusan politik.


Beberapa suporter yang berjalan masuk ke stadion pun sepakat dengan pernyataannya.


Meski ada ketegangan antara negara asal dan negara barunya, Mostafa, seorang warga Iran-Amerika, percaya bahwa sepak bola seharusnya menyatukan orang-orang.


"Sepak bola adalah tentang persahabatan, hubungan budaya, dan tentang bagaimana kita mengesampingkan politik," tambahnya sembari melangkah masuk ke dalam stadion.


Sc : BBC Indonesia

 


SUMBARNET - Otoritas Iran resmi mengeksekusi mati Mohammad Amin Mahdavi-Shayesteh, warga Iran yang dituduh sebagai kepala jaringan siber yang bekerja untuk dinas intelijen Israel, Mossad. Eksekusi dilakukan setelah Mahdavi menjalani proses hukum lengkap, termasuk pengesahan putusan oleh Mahkamah Agung Iran, dan digantung pada pagi hari ini.


Menurut pernyataan resmi dari lembaga keamanan Iran, Mahdavi-Shayesteh diketahui sebagai koordinator utama jaringan siber anti-Iran yang beroperasi melalui platform digital, media sosial, dan aplikasi perpesanan asing. Ia disebut memiliki koneksi langsung dengan dua perwira Mossad dan sempat melakukan pelatihan di negara tetangga Iran di bawah kedok bekerja untuk perusahaan migrasi.


Laporan menyebutkan, ia bertugas mengatur operasi informasi dan psikologis terhadap Iran, khususnya menyerang citra dan reputasi personel militer Iran melalui kampanye media digital. Jaringan tersebut juga ditugaskan untuk mendirikan situs web dan memproduksi konten yang merugikan keamanan nasional Iran, atas instruksi langsung dari Mossad.


Eksekusi ini menjadi bagian dari penindakan Iran terhadap aktivitas intelijen asing dan operasi dunia maya yang dianggap mengancam stabilitas dalam negeri. Media pemerintah menegaskan, "pengkhianatan terhadap bangsa akan dibalas dengan hukuman paling tegas."


SUmber : nournewsir



SUMBARNET - Presiden AS Donald Trump kabarnya tidak ingin melanjutkan serangan terhadap Iran dan berniat mengupayakan kesepakatan damai dengan Teheran setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.


Mengutip seorang pejabat AS, Axios, Senin (23/6/2025), melaporkan bahwa Trump telah menghubungi kepala Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sesaat setelah serangan, memberitahukan hasilnya, dan menyatakan bahwa tujuan berikutnya adalah mengejar kesepakatan damai dengan Iran.


"Presiden (Trump) tidak ingin melanjutkan serangan. Ia siap jika Iran melakukan serangan balasan, tetapi ia sudah menyampaikan kepada Netanyahu bahwa ia menginginkan perdamaian," kata pejabat itu.


Mengutip Anadolu Agency, Senin, seorang pejabat Israel juga mengonfirmasi sikap Trump.


"AS sudah menyampaikan dengan jelas bahwa mereka ingin mengakhiri putaran ini. Mereka tidak keberatan jika kami melanjutkan serangan, tapi untuk mereka, sudah cukup," ujarnya.


Israel dilaporkan telah menghancurkan beberapa sistem pertahanan udara Iran dalam waktu 48 jam sebelum serangan AS, atas permintaan Washington, menurut pejabat Israel dan AS.


Dalam laporan itu, disebutkan bahwa AS memberikan daftar sistem pertahanan Iran yang harus dilumpuhkan sebelum menyerang fasilitas nuklir Fordow.


AS menyerang fasilitas nuklir Iran menggunakan enam bom penembus bunker (bunker-buster) yang dijatuhkan ke fasilitas Fordow dengan pesawat siluman B-2, serta meluncurkan puluhan rudal jelajah dari kapal selam ke fasilitas di Natanz dan Isfahan.


Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Angkatan Udara Dan Caine mengatakan lebih dari 125 pesawat AS terlibat dalam misi tersebut, termasuk pesawat pengebom siluman, jet tempur, pesawat pengisian bahan bakar, kapal selam peluncur rudal, dan pesawat pengintai.


Trump menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran itu 'sangat sukses'.


Ketegangan antara Teheran dan Tel Aviv pecah sejak 13 Juni 2025, ketika Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran, menargetkan fasilitas militer dan nuklir. Iran merespons dengan serangan balasan.


Pihak berwenang Israel melaporkan sedikitnya 25 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan rudal Iran. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran menyebutkan 430 orang meninggal dunia dan lebih dari 3.500 orang terluka akibat serangan Israel.


Sumber : inilah.com



SUMBARNET - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mempertimbangkan kemungkinan penggulingan rezim pemerintah Iran pada hari Minggu, hanya beberapa jam setelah ia mengizinkan serangkaian serangan terhadap tiga situs nuklir Iran yang meningkatkan ketegangan kawasan saat ini.


"Tidaklah tepat secara politis untuk menggunakan istilah, "Pergantian Rezim," tetapi jika Rezim Iran saat ini tidak dapat MEMBUAT IRAN HEBAT LAGI, mengapa tidak ada pergantian Rezim??? MIGA!!!" katanya di media sosial.


MIGA merujuk ada Make Iran Great Again, atau Membuat Iran Hebat Kembali — jargon serupa dengan Make America Great Again atau MAGA.


Trump mengizinkan serangan AS pada hari Minggu dini hari terhadap tiga situs nuklir Iran menggunakan bom bunker buster yang dijatuhkan pesawat siluman B-2 di fasilitas Fordow, ditambah dengan puluhan rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal selam yang menargetkan situs Natanz dan Isfahan.


Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Angkatan Udara Dan Caine mengatakan lebih dari 125 pesawat Amerika berpartisipasi dalam misi tersebut, termasuk pesawat pengebom siluman, jet tempur, tanker pengisian bahan bakar, dan pesawat pengintai serta kapal selam berpeluru kendali.


Konflik pecah pada 13 Juni ketika Israel melancarkan serangan udara di beberapa lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir, yang mendorong Teheran untuk melancarkan serangan balasan.


Pihak berwenang Israel mengatakan sedikitnya 25 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka sejak saat itu akibat serangan rudal Iran.


Sementara itu, di Iran, sedikitnya 430 orang tewas dan lebih dari 3.500 mengalami luka-luka akibat serangan Israel, menurut Kementerian Kesehatan Iran.


Sumber : metrotvnews.com



SUMBARNET - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta pemerintah China untuk membujuk Iran agar tidak menutup perairan di Selat Hormuz. Permintaan ini disampaikan setelah tiga fasilitas nuklir Iran dibombardir oleh pesawat pengebom AS.


Mengutip Al Arabiya, Senin (23/6/2025), pernyataan Rubio itu disampaikan setelah media Press TV melaporkan parlemen Iran menyetujui langkah untuk menutup Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen permintaan minyak dan gas global.


"Saya mendorong pemerintah China di Beijing untuk menghubungi mereka (Iran) tentang hal itu, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka," ucap Rubio dalam wawancara dengan program 'Sunday Morning Futures with Maria Bartiromo' di Fox News.


"Jika mereka melakukan itu, hal itu akan menjadi kesalahan terbesar lainnya. Itu akan menjadi bunuh diri ekonomi bagi mereka jika mereka melakukannya. Dan kami memiliki opsi untuk mengatasinya, tetapi negara-negara lainnya juga harus mempertimbangkannya," lanjutnya.


Rubio mengatakan langkah untuk menutup Selat Hormuz akan menjadi eskalasi besar-besaran yang akan membutuhkan tanggapan dari AS dan negara-negara lainnya.


Sejauh ini, belum ada tanggapan langsung dari Kedutaan Besar China di AS atas pernyataan Rubio tersebut.


Selat Hormuz yang terletak di antara Oman dan Iran, menghubungkan kawasan Teluk di Timur Tengah dengan Teluk Oman di sebelah selatan dan Laut Arab di seberangnya. Perairan ini memiliki lebar 33 kilometer pada titik tersempitnya, dengan jalur pelayaran hanya selebar tiga kilometer di kedua arahnya.


Sumber : inilah.com

 


SUMBARNET - Militer Israel pada Minggu (22/6/2025) mendeteksi dua gelombang rudal yang ditembakkan dari Iran, sesaat setelah kubu Teheran dihantam serangan udara Amerika Serikat (AS). 


Sirene udara langsung meraung-raung di Tel Aviv, dan ledakan mengguncang Yerusalem. 


"Beberapa saat yang lalu, sirene berbunyi di beberapa daerah di Israel setelah teridentifikasinya rudal yang diluncurkan dari Iran ke Negara Israel," kata militer, dikutip dari kantor berita AFP.


"Saat ini, (Angkatan Udara Israel) sedang beroperasi untuk mencegat dan menyerang jika diperlukan untuk menghilangkan ancaman," lanjutnya, 


Pernyataan serupa tentang gelombang rudal lainnya dikeluarkan 30 menit kemudian sebelum peringatan dicabut sekitar pukul 8.10 pagi waktu setempat.


Laporan AFP lebih lanjut menyebutkan, Iran menembakkan 30 rudal ke arah Israel.


Serangan AS ke Iran 


Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (21/6/2025) mengumumkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran di Natanz, Isfahan, dan Fordo, lalu mengeklaim situs nuklir rahasia di Fordo hancur. 


"Sejumlah muatan penuh bom dijatuhkan di Fordo. Fordo sudah lenyap," tulis Trump di media sosial Truth Social miliknya, dikutip dari Reuters. 


"Iran sekarang harus setuju untuk mengakhiri perang ini," tambahnya dengan huruf kapital. 


Kepada Fox News, ia menyebutkan bahwa enam bom penghancur bunker dijatuhkan di Fordo, sedangkan 30 rudal Tomahawk ditembakkan ke dua lokasi lainnya.


Seorang pejabat pertahanan AS mengatakan kepada Reuters, pesawat bomber siluman B-2 dikerahkan dalam serangan ini. Pejabat tersebut berbicara secara anonim karena belum berwenang memberikan pernyataan resmi. 


Sementara itu, pejabat Iran yang dikutip kantor berita Tasnim mengonfirmasi bahwa sebagian fasilitas Fordo memang terkena serangan udara. 


Fordo adalah situs nuklir rahasia Iran yang terletak jauh di bawah tanah, diyakini sedalam ratusan meter.


Hanya Amerika yang memiliki bom untuk menghancurkan Fordo, yaitu GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP). 


Namun, belum ada keterangan apakah militer AS menggunakan senjata itu untuk menggempur Fordo.


Sumber : kompas.com



SUMBARNET - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengadakan konferensi pers terkait serangan Washington ke pusat nuklir Iran, Sabtu (21/6/2025) malam waktu AS. Dalam kesempatan itu, Trump menyampaikan beberapa hal terkait serangan tersebut.


Trump awalnya berterima kasih kepada militer Israel atas pekerjaan luar biasa yang telah mereka lakukan. Walau begitu, Trump tidak merinci apa yang telah dilakukan oleh tentara Tel Aviv, yang sejatinya sedang dalam eskalasi saling serang dengan Iran.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada militer Israel atas pekerjaan luar biasa yang telah mereka lakukan," tuturnya dalam pidatonya pada Sabtu malam kepada rakyat.


Ia juga memuji prajurit Amerika atas operasi yang belum pernah dilihat dunia selama beberapa dekade. Secara khusus, ia mengucapkan selamat kepada Ketua Kepala Staf Gabungan Dan 'Razin' Caine, yang menurutnya merupakan jenderal yang luar biasa.


"Dan yang terpenting, saya ingin mengucapkan selamat kepada para patriot Amerika yang hebat yang menerbangkan mesin-mesin luar biasa itu malam ini dan seluruh militer AS atas operasi yang belum pernah dilihat dunia selama beberapa dekade," kata presiden Partai Republik itu.


Sebelumnya, Trump mengkonfirmasi bahwa bom AS menghantam tiga lokasi nuklir di Fordow, Natanz, dan Esfahan, namun kerusakan besar difokuskan pada fasilitas nuklir yang berada di Fordow. Trump kemudian meminta Iran untuk merundingkan perdamaian.


"Kami telah menyelesaikan serangan kami yang sangat sukses terhadap tiga lokasi Nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Esfahan," tulis Trump di media sosial dikutip CNBC International.


"Semua pesawat dalam perjalanan pulang dengan selamat. Selamat kepada Prajurit Amerika kita yang hebat. Tidak ada militer lain di Dunia yang dapat melakukan ini. 


SEKARANG WAKTUNYA UNTUK PERDAMAIAN!" tulis presiden.


Dua sumber yang mengetahui serangan itu menyebut Washington menggunakan bom Massive Ordnance Penetrator (MOP) GBU-57A/B, yang dikenal sebagai "penghancur bunker," dalam serangannya terhadap fasilitas nuklir Iran. Bom ini hanya bisa diangkut pesawat pengebom B-2 Spirit.


MOP diyakini sebagai satu-satunya persenjataan yang mampu mencapai fasilitas yang terkubur dalam. Meskipun begitu, ada keraguan bahwa satu amunisi tunggal akan mampu menembus cukup dalam untuk mencapainya.


Tidak jelas berapa banyak MOP yang dijatuhkan. Sabtu adalah contoh pertama yang diketahui dari bom yang digunakan secara operasional.


Tindakan hari Sabtu itu menempatkan Washington dalam konflik bersenjata langsung dengan Iran, sebuah eskalasi besar di saat Israel masih menyerang Negeri Persia untuk melumpuhkan program nuklir Teheran dan menggulingkan rezimnya. Keputusan itu juga sekali lagi melibatkan militer Amerika dalam peperangan aktif di Timur Tengah, sesuatu yang Trump janjikan untuk dihindari selama masa jabatan keduanya.


Di balik layar, pemerintahan Trump sebenarnya telah berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklirnya. Dalam beberapa bulan terakhir, Trump bahkan dilaporkan mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menunda serangan.


Trump dan presiden Amerika sebelumnya telah lama bersikeras bahwa Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir. Trump pada masa jabatan pertamanya menarik AS keluar dari perjanjian nuklir yang telah ditengahi oleh pemerintahan Obama dan negara-negara lain dengan Iran pada tahun 2015, dengan alasan perjanjian tersebut gagal melindungi Amerika atau menghalangi tujuan pengayaan Teheran.


Serupa, Israel telah lama mengklaim bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Netanyahu bahkan mengancam akan terus menyerang program nuklir Iran hingga negara itu tidak memiliki teknologi nuklir.


Walau begitu, di sisi lain, Iran tetap menolak tudingan tersebut. Berulang kali Tehran menegaskan kebutuhan nuklirnya hanya digunakan untuk keperluan sipil yakni pembangkit listrik.


Sumber : cnbcindonesia.com