Yogyakarta.SNet- Jokowi menghadiri perayaan milad satu abad Madrasah Mu'allimin dan Mu'allimat Yogyakarta, Kamis (6/12/2018). Kehadiran Jokowi di madrasah itu sebagai wujud apresiasi kepala negara kepada dua madrasah di bawah naungan Muhammadiyah, yang telah berhasil melewati rentang masa satu abadnya dan masih tetap eksis berkiprah dalam mengemban misi pendidikan dan kemanusiaan.
Madrasah Mu'allimin dan Mu'allimat didirikan pada 1918 oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan. Setiap tahun, madrasah yang berjenjang dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas ini menerima murid dari berbagai provinsi.
Berdirinya Madrasah Mu'allimin dan Mu'allimat tidak bisa dilepaskan dari tujuan didirikannya Muhammadiyah, yaitu menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam, sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Didirikannya Madrasah Mu'allimin dan Mu'allimat juga sebagai langkah Muhammadiyah untuk melakukan pembaruan di bidang pendidikan, dengan memadukan pelajaran agama dan pengetahuan umum di bawah satu atap.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Muhammadiyah memerlukan kader-kader ulama yang memiliki kualifikasi menyeluruh, yaitu sebagai faqih (ahli agama), muballigh (penceramah), mujahid (pejuang), dan mujtahid (pemikir dan inovator) yang memiliki komitmen tinggi, berwawasan luas, dan profesional dalam mengemban misi Muhammadiyah.
Inilah sebabnya, pada tahun 1918, KH Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Al-Qismul Al-Arqa di Yogyakarta, yang kemudian diubah menjadi Pondok Moehammadiyah pada tahun 1921.
Seperti dilansir laman Madrasah Mu'allimaat, nama Pondok Moehammadiyah diubah menjadi Kweekschool Moehammadiyah pada tahun 1923. Nama Kweekschool muncul dalam pikiran KH Ahmad Dahlan setelah kunjungannya ke Kweekschool Katholik di Muntilan.
Kemudian, pada tahun 1924, siswa putra dan putri Kweekschool Moehammadiyah dipisah. Kweekschool Moehammadiyah ditujukan untuk siswa putra dan Kweekschool Istri ditujukan untuk siswa putri.
Baru pada tahun 1932, nama Kweekschool Moehammadiyah diubah menjadi Madrasah Mu‘allimin dan Kweekschool Istri diubah menjadi Mu‘allimat. Setahun kemudian, lokasi kedua madrasah tersebut dipisah. Madrasah Mu‘allimin berlokasi di Ketanggungan dan Madrasah Mu‘allimaat bertempat di Kampung Notoprajan.
Perubahan nama itu bermula dari kritik warga Muhammadiyah, mengapa harus memakai nama sekolah Belanda, yaitu Kweekschool, padahal ijazahnya serta kurikulumnya berbeda dengan sekolah-sekolah yang didirikan Belanda.
Setelah berusia satu abad, Madrasah Muallimin dan Muallimat akan mendirikan kampus baru yang terpadu, di Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lahan yang disiapkan untuk gedung baru itu mencapai luas tujuh hektar.
Banyaknya tokoh besar yang lahir dari Muhammadiyah membuat Jokowi menaruh perhatian kepada sarana pendidikan yang dimiliki Muhammadiyah. Jokowi memerintahkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno untuk segera memulai pembangunan kampus terpadu tersebut.
“Sudah saya perintahkan kepada Menteri BUMN agar secepatnya dimulai. Cepet… cepet… cepet… gitu,” kata Jokowi di dalam pidatonya di perayaan milad satu abad Madrasah Mu'allimin dan Mu'allimat Yogyakarta.
# SNet - Red/Jokowi App

0 Post a Comment:
Posting Komentar