Tampilkan postingan dengan label Mutilasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutilasi. Tampilkan semua postingan


SUMBARNET - Lima hari pasca terbongkarnya kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh tersangka Satria Juanda (25) alias Wanda, warga sekitar rumah pelaku masih diliputi rasa trauma dan ketakutan.


Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu warga yang tinggal berdekatan dengan rumah tersangka di Korong Lakuak, Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.


Seorang warga berinisial U mengaku tidak keluar rumah selama tiga hari setelah kasus tersebut terungkap oleh pihak kepolisian.


“Saya sangat trauma, takut, dan tidak percaya dengan kejadian ini. Saking traumanya, saya tidak keluar rumah selama tiga hari. Ini pun keluar masih sering teringat kejadian ini,” ujar U saat ditemui TribunPadang.com, Senin (23/6/2025).


Menurut U, selama ini tersangka Wanda dikenal sebagai pribadi yang biasa saja dan tidak pernah menunjukkan perilaku mencurigakan.


“Kelihatannya seperti orang normal. Tidak ada yang aneh. Selama ini dikenal baik, bahkan sebelum berangkat kerja, dia sering menyapa. Tapi memang dia tipikal orang yang pendiam,” ungkapnya.


U juga mengaku sempat tidak percaya bahwa Wanda terlibat dalam kasus pembunuhan berantai tersebut.


“Awalnya tidak percaya. Saya baru tahu kasus ini setelah pagi-pagi warga ramai di sekitar rumahnya. Selama ini tidak pernah ada aktivitas mencurigakan dari rumah itu,” tambahnya.


Sementara itu, warga lainnya yang juga tinggal di sekitar rumah pelaku, berinisial O, mengatakan sejak kasus ini terbongkar, rumah Wanda tampak sepi tanpa aktivitas.


“Tidak ada satu pun keluarganya yang datang ke rumah sejak kejadian. Terakhir yang terlihat hanya polisi yang berjaga di sekitar rumah selama tiga hari setelah kasus terungkap. Sejak itu, rumahnya kosong,” jelas O.


Pantauan TribunPadang.com di lokasi, suasana di sekitar rumah tersangka tampak lengang.


Area halaman rumah juga masih dipasangi garis polisi.


Meski demikian, aktivitas masyarakat di sekitar lokasi perlahan mulai kembali normal.


Beberapa pengendara yang melintas terlihat sesekali menoleh ke arah rumah tersangka yang sepi itu.


Sumber : TribunPadang.com 



SUMBARNET - Kasus pembunuhan berantai yang menggemparkan Padang Pariaman memasuki babak baru. 


Polisi menetapkan Satria Juhanda alias Koyek sebagai tersangka pembunuhan berantai di Padang Pariaman.


Penetapan ini dilakukan setelah penyidik menggelar gelar perkara dan mengantongi alat bukti yang cukup.


Pria berprofesi sekuriti ini terancam hukuman maksimal, termasuk hukuman mati, atas perbuatannya yang di luar nalar.


Kasat Reskrim Polres Padang Pariaman, Iptu AA Reggy, Minggu (22/6/2025) menegaskan penetapan tersangka ini dilakukan setelah penyidik menggelar perkara dan mengantongi alat bukti yang cukup. 


"Sudah tersangka," tegas Iptu Reggy di Mapolres Padang Pariaman. 


Koyek sapaan kecilnya dijerat Pasal 340 juncto 65 KUHP tentang pembunuhan berencana dan perbarengan beberapa tindak pidana.


Kronologi Tragis: Dari Utang Piutang Berujung Mutilasi


Pembunuhan keji ini bermula dari rasa sakit hati. Wanda, pelaku yang kini telah diamankan, mengaku menghabisi nyawa korban berinisial SA, seorang wanita berusia 25 tahun, pada Minggu (15/6/2025). 


Yang lebih mencengangkan, usai membunuh, Wanda memutilasi jasad korban menjadi sepuluh bagian dan membuangnya ke aliran Sungai Batang Anai di dua titik berbeda.


Kasus ini mulai terungkap setelah potongan tubuh korban ditemukan pada Selasa (17/6/2025). 


"Kejadian pembunuhannya pada hari Minggu. Kasus ini mulai terungkap setelah pihak kepolisian menemukan potongan tubuh pada hari Selasa," ungkap Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir, setelah mengamankan pelaku.


Pengembangan kasus dan penemuan jasad lainnya, ditambah keterangan saksi-saksi, mengarahkan polisi pada keberadaan pelaku.


Wanda akhirnya diringkus pada Kamis (19/6/2025) dini hari. Dalam interogasi awal, Wanda mengakui perbuatannya. 


Motif di balik kekejian ini sungguh mengejutkan, rasa sakit hati perihal keterlambatan pembayaran utang piutang sebesar Rp 3,5 juta. 


Korban, yang merupakan teman pelaku, dinilai mengingkari janjinya untuk membayar utang.


"Pelaku merasa sakit hati karena korban mengingkari membayar utangnya. Pelaku akhirnya menghabisi dan memutilasi korban saat berada di rumahnya," terang Kapolres. 


Meski keduanya berteman, tidak ada hubungan spesial antara pelaku dan korban.


"Status hubungan pelaku dan korban tidak ada yang spesial, hanya hubungan pertemanan biasa," tambah Kapolres.


Kini, Satria Juhanda alias Wanda harus mempertanggungjawabkan perbuatan kejinya. Ia ditahan di Polres Padang Pariaman guna keperluan penyidikan lebih lanjut.


Sumber : TribunPadang.com



SUMBARNET - Kasus penemuan jasad Siska Oktavia  dan Adek Gustiana di dalam sumur di Padang Pariaman mengungkap sejumlah fakta-fakta keji. 


Kuasa hukum keluarga korban, Alfi Syukri dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang, mengungkapkan bahwa Siska Oktavia tidak hanya dibunuh, tetapi juga di ruda paksa.


Selain itu, sebelum jasadnya dimasukkan ke dalam sumur, ditutup kain, dan dicor dengan tiga sak semen.


Dugaan itu muncul setelah Alfi melihat kondisi kerangka kedua korban yang ditemukan dalam keadaan terpisah-pisah.


"Secara pasti kami belum bisa memastikan, namun dari yang kami lihat setelah sumur itu dibongkar, kerangka jasad kedua korban dalam kondisi terpisah-pisah. Kuat dugaan, korban juga dimutilasi," kata Alfi Syukri kepada TribunPadang.com, Sabtu (21/6/2025).


Sebelum dibunuh dan diduga dimutilasi, Siska Oktavia juga disebut sempat ruda paksa oleh pelaku.


"Iya, kami mendapatkan informasi bahwa Siska sempat ruda paksa pelaku. Informasi itu kami terima setelah pelaku ditangkap pada Kamis kemarin," ujarnya.


Informasi tersebut, lanjut Alfi, diperkuat dari keterangan pelaku saat melakukan reka adegan bersama pihak kepolisian.


"Pelaku sempat diminta melakukan reka adegan, dan di situ dia menyampaikan bahwa ia ruda paksa korban terlebih dahulu sebelum membunuhnya," jelas Alfi.


Setelah membunuh Siska, pelaku kemudian menjemput korban kedua, Adek Gustiana, dan melakukan hal serupa.


"Usai melakukan itu kepada Siska, pelaku menjemput Adek dan menghabisi nyawanya juga," tambahnya.


Menurut Alfi, setelah membunuh kedua korban, pelaku menyembunyikan jasad mereka di dalam sumur di rumahnya.


"Pelaku memasukkan kedua korban ke dalam sumur, lalu menimbunnya dengan pakaian," katanya.


Tak berhenti di situ, sumur tersebut kemudian dicor menggunakan semen untuk menghilangkan jejak.


"Setelah korban dimasukkan dan ditimbun dengan pakaian, pelaku mencor sumur itu dengan tiga sak semen," ungkapnya.


Atas tindakan keji tersebut, LBH Padang meminta agar pelaku dijatuhi hukuman seberat-beratnya.


"Kami dari LBH Padang terus mendorong agar kasus ini diungkap secara tuntas dan pelaku dihukum seberat-beratnya," tegas Alfi Syukri.


Sumber : TribunPadang.com



SUMBARNET - Penangkapan Wanda atas dugaan pembunuhan berantai, termasuk Septia Adinda, membawa sedikit kelegaan bagi keluarga Dasrizal dan Weni.


Namun, pengakuan Wanda soal utang Rp3,5 juta sebagai motif utama, tak sepenuhnya diterima keluarga.


Bagi mereka, cerita ini terasa ganjil, menyisakan pertanyaan yang menggantung di udara.


Ayah Dinda, Dasrizal menuturkan putrinya tak punya riwayat utang besar.


"Dia itu bahkan cuti kuliah karena kesulitan ekonomi," ujarnya pilu, seolah ingin meluruskan narasi.


Dinda, katanya, hanya pernah minta uang Rp800 ribu karena ditipu kerja.


Donal, paman Dinda, melihat Wanda bukan sekadar pembunuh.


"Melihat Wanda ini juga diduga membunuh dua orang lainnya, Cika dan Adek, kami jadi berpikir apakah Adinda ini tahu sesuatu? Apakah Adinda ini jadi korban karena dia tahu kejahatan Wanda yang lain,” tanyanya, merangkai kemungkinan Adinda dibungkam karena mengetahui rahasia kelam pelaku.


Warga sekitar pun turut berspekulasi, menyoroti hubungan Wanda dengan Cika, teman dekat Dinda.


"Wanda itu pacar Cika, teman dekatnya Dinda. Apakah ada masalah cinta segitiga? Atau cemburu,”ujar seorang warga, mengisyaratkan dimensi lain di balik tragedi ini.


Meski Wanda sudah di tangan Polisi, keluarga dan masyarakat menuntut penyelidikan yang lebih mendalam.


Mereka berharap motif sebenarnya, yang mungkin lebih gelap dari sekadar utang, dapat terungkap.


"Kami ingin keadilan seadil-adilnya. Jangan hanya berhenti di utang, tolong usut tuntas semua kemungkinan," pinta Dasrizal, mewakili suara duka dan harap akan kebenaran yang sesungguhnya.


Sumber : TribunPadang.com



SUMBARNET - Keluarga korban Siska Oktavia mengungkap bahwa sejak awal mereka lebih mencurigai pacar Adek Gustiana yang berinisial R dibandingkan SJ, yang belakangan diketahui sebagai pelaku pembunuhan berantai.


Siska Oktavia dan Adek Gustiana diketahui menjadi korban pembunuhan keji yang dilakukan oleh SJ, di kawasan Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.


Hal itu disampaikan oleh sepupu korban, Randa Yulianda (29), saat ditemui TribunPadang.com di rumah duka pada Kamis (19/6/2025) sore.


Menurut Randa, sejak awal hilangnya Siska, keluarga diarahkan untuk mencurigai R pacar dari Adek Gustiana berkat skenario yang dirancang oleh SJ.


“Yang kami curigai dari awal itu R, pacarnya Adek. Karena SJ sempat mengalihkan dugaan ke R, membuat kami percaya bahwa R lah yang membawa kabur Siska,” ungkap Randa kepada TribunPadang.com.


Keluarga pun sempat menyimpan kecurigaan mendalam terhadap R selama lebih dari setahun.


Namun kini semua terbongkar, bahwa justru SJ lah dalang di balik hilangnya dua nyawa itu.


“Selama satu tahun lebih kami menuduh R. Tapi kenyataannya bukan dia. Justru SJ yang selama ini kami anggap polos, ternyata pelakunya,” ucap Randa.


SJ, lanjut Randa, dikenal keluarga sebagai sosok yang pendiam dan tampak tak mencurigakan. Bahkan ia kerap datang ke rumah Siska saat korban dinyatakan hilang.


“SJ sering datang ke rumah, menemui ibu Siska, pura-pura ikut mencari. Dia tunjukkan wajah seolah-olah peduli, padahal dia pelakunya. Itu yang paling menyakitkan. Dia mengelabui kami lebih dari satu tahun,” katanya dengan nada kecewa.


Randa pun meminta aparat penegak hukum memberikan hukuman setimpal atas apa yang dilakukan SJ terhadap Siska dan Adek.


“Kami berharap SJ dihukum seberat-beratnya, setimpal dengan apa yang telah dia lakukan pada adik kami. Keadilan harus ditegakkan,” tutupnya.


Sumber : TribunPadang.com 



SUMBARNET - Keluarga Septia Adinda, korban mutilasi di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat bantah Keterangan tersangka pembunuhan berantai terkait adanya masalah utang piutang antara keduanya, Jumat (20/6/2025).


Ayah korban bernama Dasrizal, saat ditemui di rumah duka menerangkan bahwa masalah utang piutang antara kedua pihak itu tidak mungkin.


Hal itu ia sampaikan, meski kondisi ekonomi pihak keluarga sedang tidak stabil dalam beberapa waktu belakang.


Kondisi ekonomi itu pula yang membuat Septia Adinda mengambil cuti kuliah di STIE AKBP Kota Padang, beberapa waktu lalu.

“Tapi kalau anak saya berutang pada pelaku, saya tidak yakin. Saya pastikan itu tidak benar,” ujarnya.


Hal ini mengacu pada kebutuhan Dinda (sapaan akrabnya), yang masih bisa dicukupi oleh pihak keluarga sampai saat ini.


Selain itu, Dinda selama berhenti kuliah diketahui juga bekerja di jasa pengiriman barang untuk memenuhi kebutuhannya, supaya tidak merepotkan keluarga.


Dasrizal menyebut, ada hal lain yang menjadi penyebab pelaku berinisial SJ ini melakukan pembunuhan.


“Tentu kami harap pihak kepolisian bisa membuka motifnya, yang pasti saya yakin ini bukan masalah utang piutang seperti yang telah beredar,” ujarnya.


Bahkan, Dasrizal mengaku bisa membayarkan uang sebanyak itu, jika memang anaknya berutang pada pelaku.


“Kalau memang ada utang, saya akan carikan pembayarannya, meski harus buka tutup lubang. Tapi itu tidak mungkin,” tuturnya.


Sumber : TribunPadang.com 



SUMBARNET - Kamis (19/6/2025) pagi di Lakuak, Sungai Buluah, Batang Anai, Padang Pariaman, masyarakat dikejutkan dengan sejumlah petugas kepolisian yang mengerubungi sebuah rumah.


Rumah itu milik Satria Juanda, seorang pemuda 25 tahun yang lebih akrab disapa Koyek.


Penangkapan Koyek atas dugaan pembunuhan berantai sontak menghempas ketenangan warga, memantik tanya yang membuncah di benak mereka.


Sebuah kisah tentang sosok yang nyaris tak terjamah, yang kini tersingkap dalam balutan kejut dan ketidakpercayaan.


Puluhan meter dari kediaman Koyek, Delvi Elfira, seorang warga yang terbiasa dengan rutinitas pagi, mendapati dirinya tersentak.


“Dari polisi yang ada di lokasi, saya dengar bahwa Wanda (sapaannya) telah melakukan mutilasi dan penguburan jasad di sumur dalam rumahnya,” tuturnya.


Bagi Delvi, Koyek adalah sosok yang tumbuh besar di lingkungan ini, seorang anak kedua dari tiga bersaudara.


Kakaknya bekerja sebagai HRD di sebuah pabrik bata, sementara adiknya merantau di Pekanbaru.


Koyek kecil, menurut Delvi, tak ubahnya anak-anak sebayanya: aktif bermain dan bersekolah.


“Ayahnya sudah meninggal sejak ia kecil, tapi saya tidak tahu pastinya, mungkin sewaktu masih duduk di bangku SD,” kenangnya.


Dewasa, Koyek memang lebih irit bicara, namun tetap mudah bergaul.


Ia pernah menempuh pendidikan hingga bangku SMA, bahkan sempat mencoba peruntungan dengan tes polisi meski tak lolos.


Sekitar dua tahun terakhir, ia bekerja sebagai Satpam di tempat kakaknya, sebuah pekerjaan tetap yang baru ia dapat.


“Makanya saya tidak menyangka kalau ia melakukan hal tersebut, kesehariannya tidak ada tanda-tanda pelaku pembunuhan,” ujar Delvi, menggelengkan kepala.


Seorang pemuda sebaya Koyek, Ferdiansyah, mencoba merunut asal muasal nama panggilan Koyek yang melekat padanya itu.


“Panggilan itu muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas,” katanya.


Menurut Ferdi, nama itu tak muncul dari sifat atau ciri fisik yang menonjol, sebab Koyek memang tak memiliki keduanya.


Dalam pergaulan sehari-hari, Ferdi mengenal Koyek sebagai sosok yang santun dan tak pernah mencampuri urusan orang lain.


“Jika duduk di lapau, biasanya hanya pesan minum, main HP lalu pergi. Tidak banyak bicara, hanya sekadar senyum,” gambarnya.


Lebih dari itu, Koyek juga cukup aktif dalam kepemudaan dan kepengurusan masjid di daerah tersebut.


Serangkaian latar belakang inilah yang membuat Ferdi sangat terkejut dengan kedatangan polisi terkait dugaan pembunuhan berantai yang dilakukan Koyek.


Bagi masyarakat setempat, penangkapan Koyek adalah sebuah kejutan yang mengguncang.


Bagaimana mungkin seorang yang pendiam, tak suka ikut campur, dan pandai bergaul, ternyata adalah seorang pembunuh berdarah dingin.


Dua tahun terakhir, tak ada satupun warga yang melihat tanda-tanda perubahan pada Koyek, bahkan setelah ia diduga melakukan pembunuhan terhadap pacar dan teman pacarnya setahun lalu.


Koyek tetap menjalankan rutinitas hariannya, pergi kerja setiap malam, sesekali mampir ke lapau untuk secangkir teh atau kopi.


Kesehariannya yang tampak biasa itu kini berbalik menjadi narasi yang menyeramkan.


Ironisnya, nama Koyek bahkan kini telah menjadi pameo di kalangan anak-anak kecil, seolah menjadi penanda bagi teman yang berulah, sebuah cerminan dari peristiwa tak terduga yang menimpa kampung mereka.


Kisah Koyek, sang pemuda senyap yang menyimpan rahasia kelam, kini menjadi perbincangan, sebuah potret kompleksitas manusia yang kerap menyembunyikan sisi gelap di balik topeng keseharian.


Sumber : TribunPadang.com



SUMBARNET - Keterangan sementara pelaku pembunuhan berantai SJ alias Koyek, yang menggunakan parang untuk mutilasi dibantah keluarga Septia Adinda, Jumat (20/6/2025).


Paman Dinda, Donal, mengatakan keyakinan itu berdasarkan hasil identifikasi yang dilihat pihak keluarga di RS Bhayangkara.


Sampai saat ini potongan tubuh yang sudah ditemukan sebanyak 6 bagian dari 10 bagian.


Enam bagian yang sudah ditemukan itu diantaranya, kepala, tangan kiri, kaki kanan, badan dan sepasang paha, sejak hari Selasa (17/6/2025).


“Melihat potongan tubuh yang sudah ditemukan itu, tidak mungkin pelaku memotongnya dengan parang,” ujarnya.


Donal meyakini pemotongan dilakukan oleh koyek menggunakan alat yang khusus, kemungkinan mesin.


Hal itu mengacu melihat pada kondisi potongan yang rapi, tidak ada kerusakan pada tulang.


Menurutnya, parang tidak mungkin bisa memutus tulang serapi dan sebaik itu.


“Melihat latar belakang pelaku ini, saya curiga pemotongan dilakukan di pabrik tempanya bekerja,” ujarnya.


Pernyataan Donal ini ia sampaikan mengingat di pabrik tersebut ada alat pemotong bata yang kuat dan bisa digunakan dengan mudah dan cepat.


Terlebih pelaku merupakan satpam dari pabrik tersebut, sehingga memiliki akses keluar masuk. 


Sumber : TribunPadang.com 



SUMBARNET - Sosiolog dari Universitas Negeri Padang (UNP) Sumatera Barat, Erianjoni, menilai bahwa tindakan menghabisi nyawa seseorang dengan cara dimutilasi dipicu oleh kebencian yang mendalam dari diri pelaku.


Menurut Erianjoni, hal ini juga terjadi pada SJ, pelaku pembunuhan berantai di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, yang membunuh tiga korbannya secara keji.


"Kejahatan seperti ini dipicu oleh kebencian yang mendalam. Kebencian tersebut bisa muncul dari dendam akibat kekecewaan yang dialami oleh pelaku," kata Erianjoni kepada TribunPadang.com, Jumat (20/6/2025).


Lebih lanjut, Erianjoni menjelaskan bahwa puncak dendam dalam diri seseorang diperparah oleh pengalaman emosional yang belum terselesaikan.


"Dendam itu muncul karena kekecewaan mendalam, yang kemudian berubah menjadi kebencian. Inilah yang mendorong pelaku melakukan pembalasan dengan cara yang sangat keji," katanya.


Ia juga menilai bahwa pengalaman masa lalu, khususnya asmara turut membentuk karakter pelaku.


"Pengalaman selama menjalani asmara bisa memunculkan dendam dan rasa kecewa. Hal inilah yang membuat pelaku nekat melakukan pembunuhan dengan cara tidak biasa, seperti mutilasi ini," ungkapnya.


Selain itu, Erianjoni menyebut, ide untuk melakukan mutilasi kemungkinan juga berasal dari tayangan di media sosial yang mudah diakses saat ini.


"Saat ini, akses ke konten kekerasan sangat terbuka. Tayangan-tayangan semacam itu bisa menjadi sumber ide dan inspirasi bagi seseorang untuk meniru tindakan kekerasan, termasuk mutilasi," jelasnya.


Ia menambahkan, kebiasaan menonton konten kekerasan tersebut bisa membentuk seseorang menjadi pembunuh berdarah dingin.


"Konten seperti itu bisa membentuk karakter pelaku sebagai pembunuh berdarah dingin, yang dalam istilah psikologi bisa disebut psikopat," tegasnya.


Tak hanya dipengaruhi tontonan dan dendam, menurut Erianjoni, pelaku juga kemungkinan besar tidak memiliki figur pengarah atau pembimbing yang membentuk kepribadiannya sejak kecil.


"Selain dari pengaruh media sosial, sikap psikopat juga bisa dipicu oleh tidak adanya sosok yang membimbing atau mengarahkan pelaku ke jalan yang benar sejak kecil. Akibatnya, pelaku tumbuh tanpa kendali dan akhirnya tega menghabisi nyawa orang lain dengan cara yang kejam," tutupnya. 


Sumber : TribunPadang.com/Muhamad Afdal Afrianto



SUMBARNET - Misteri hilangnya Siska Oktavia Rusdi (23) sejak 12 Januari 2024 mulai menemui titik terang. Keluarga korban ternyata sudah mencurigai SJ, yang belakangan diketahui sebagai pelaku pembunuhan, hanya lima hari setelah Siska dinyatakan hilang.


Kecurigaan itu muncul usai keluarga berkonsultasi dengan orang pintar yang menyebutkan bahwa korban disembunyikan di rumah kekasihnya. 


Bermodalkan informasi tersebut, keluarga bersama sejumlah tokoh masyarakat melakukan penggeledahan di rumah SJ pada tengah malam.


"Orang pintar bilang, ‘Temui pacarnya, Siska, di rumahnya.’ Kami langsung ke sana dan menggeledah rumah SJ, tapi saat itu tidak menemukan Siska," ungkap Randa Yulianda (29), kakak sepupu korban, saat ditemui di rumah duka, Kamis (19/6/2025) sore.


Randa menuturkan, SJ bahkan ikut berpura-pura membantu pencarian. Ia dengan sigap mengarahkan keluarga ke rumahnya, seolah ingin menunjukkan itikad baik. “Dia malah semangat, bilang ‘cepatlah bang, pergi sama saya, biar saya tunjukkan rumah saya itu’,” kata Randa menirukan pelaku.


Saat penggeledahan, SJ sempat menunjukkan bagian rumah seperti dapur dan sumur tua—yang belakangan diketahui menjadi lokasi jasad korban dikuburkan. Namun karena suasana haru dan keberatan dari ibu pelaku yang terus menangis, keluarga tidak melanjutkan pemeriksaan lebih dalam.


“Dia sempat tunjukkan dapur dan sumur tua. Tapi kami urung memeriksanya karena ibunya menangis terus dan kami khawatir menimbulkan kegaduhan di tengah malam,” ujar Randa.


Randa menyebut, kecurigaan keluarga sempat mereda karena SJ mampu bersandiwara dengan sangat meyakinkan. “Wajahnya bisa berubah, seolah bukan dia pelakunya,” tutupnya.


Sumber: Ig infominang


SUMBARNET - Tangis Muhamad Tri Ibnu Rusdi (16) pecah saat menyaksikan sang ibu, Nila Yunista (50), mengembuskan napas terakhir.


Nila meninggal dunia setelah mendapat kabar tragis bahwa anak keduanya, Siska Oktavia, ditemukan tewas diduga menjadi korban pembunuhan sadis oleh SJ seorang pria yang dikenal dekat dengan keluarga mereka.


Peristiwa memilukan ini terjadi di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.


Selama lebih dari satu tahun, Nila tak pernah lelah mencari Siska yang dilaporkan hilang sejak 12 Januari 2024 lalu. 


Harapan demi harapan ia gantungkan agar putrinya kembali pulang dengan selamat. Siska diketahui masih berstatus mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kota Padang.


Namun, semua harapan itu sirna dalam sekejap.


Begitu menerima kabar bahwa Siska ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, Nila dilaporkan syok berat. Ia jatuh pingsan di dekat lokasi penemuan jasad, dan tak lama kemudian dinyatakan meninggal dunia.


Di rumah duka yang sederhana itu, duka mendalam menyelimuti. Tangis Ibnu pecah di tengah pelayat yang terus berdatangan. 


Sesekali ia mengusap air mata, menyambut pelukan dan ucapan belasungkawa dari para tetangga dan kerabat.


Ketika Tribun Padang menyambangi rumah duka, Kamis (19/6/2025), Ibnu tampak duduk di sudut ruangan, tak jauh dari jasad sang ibu yang terbujur kaku. 


Meski berusaha tegar, matanya masih sembab dan merah karena terus menangis.


“Saya nggak nyangka, Ibu bisa meninggal seperti ini. Tadi pagi masih sehat, masih bisa jawab-jawab orang yang datang. Tapi terus-terusan nangis sejak tahu kabar kakak,” ujar Ibnu, berusaha menenangkan diri sambil menarik napas dalam.


Ibnu menceritakan, ibunya mengetahui informasi soal Siska dari seseorang melalui pesan WhatsApp, sekitar pukul 06.00 WIB pagi.


Setelah itu, Nila langsung mengajaknya ke lokasi yang diduga menjadi tempat Siska dikubur oleh SJ.


Namun sebelum sampai ke lokasi, di simpang jalan dekat rumah SJ yang saat itu sudah dipadati warga, Nila tiba-tiba jatuh pingsan sambil bersandar di bahu Ibnu.


“Ibu pingsan di bahu saya. Kaget karena lihat orang sudah ramai di rumah SJ,” kenangnya.


Yang membuat hati Ibnu makin hancur, SJ adalah orang yang selama ini begitu dekat dengan keluarganya. 


Bahkan, SJ telah dianggap seperti anak sendiri oleh Nila.


“SJ itu sering datang ke rumah. Setiap Lebaran dia bawa THR, nanya kabar kak Siska. Ibu percaya banget sama dia. Nggak pernah nyangka dia pelakunya,” ucap Ibnu dengan nada getir.


Menurutnya, selama pencarian Siska berlangsung, SJ justru kerap menemani sang ibu mencari keberadaan kakaknya. Ia bahkan masih sempat berkomunikasi dengan Nila lewat WhatsApp belum lama ini.


“Sampai beberapa hari lalu, ibu masih chat sama dia. Tanya kabar, nanya soal Siska juga,” katanya.


Tak hanya mengenal SJ, Ibnu juga mengaku mengenal dua korban lainnya yang diduga dibunuh oleh pelaku yang sama. 


Kedua korban itu disebut sering menginap di rumah karena merupakan teman dekat Siska.


“Saya tahu mereka juga. Sering nginap di rumah, temannya kakak,” ujarnya.


Kini, Ibnu harus menanggung duka berlipat. Selain kehilangan sang ibu, ia juga baru saja kehilangan ayahnya yang meninggal dunia pada akhir tahun lalu.


“Baru enam bulan Ayah meninggal, sekarang Ibu juga pergi. Semuanya karena SJ,” ungkapnya dengan suara bergetar.


“Sampai kapan pun, saya nggak akan bisa memaafkan SJ. Dia bunuh tiga orang. Termasuk kakak saya,” tutupnya.


Sumber: TribunPadang.com

 


SUMBARNET - Sungai Batang Anai yang selama ini menjadi denyut kehidupan masyarakat Nagari Ketaping, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat mendadak berubah menjadi tempat teror yang membekas dalam ingatan.


Sejak Selasa, 17 Juni 2025, aliran airnya menjadi saksi bisu sebuah tragedi yang mengoyak ketenangan warga, penemuan potongan tubuh manusia mengapung, busuk.


Peristiwa ini bukan sekadar berita kriminal biasa tetapi merupakan pembunuhan berantai.


Berikut deretan fakta kasus mutilasi dan pembunuhan di Batang Anai:


1.Penemuan Potongan Tubuh di Sungai Batang Anai

Pada Selasa, 17 Juni 2025, warga dikejutkan dengan penemuan potongan tubuh manusia tanpa kepala, tangan, dan kaki yang mengapung di aliran Sungai Batang Anai, Nagari Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.


2.Identitas Korban Terungkap

Potongan tubuh yang ditemukan diidentifikasi sebagai milik seorang perempuan berinisial SA (25).

Korban diketahui warga setempat yang dikenal biasa saja dan tidak memiliki masalah menonjol.


3.Bagian Tubuh Ditemukan Terpisah

Potongan kepala ditemukan di TPI Padang Sarai, Kota Padang, sekitar enam kilometer dari lokasi awal, sementara bagian kaki ditemukan di Korong Talao Mundam, Nagari Ketaping.


4.Pelaku Mutilasi Berhasil Ditangkap

Polisi menetapkan seorang pria berinisial SJ alias Wanda sebagai pelaku utama.

Ia ditangkap oleh tim Polres Padang Pariaman yang bergerak cepat di bawah pimpinan Kapolres AKBP Ahmad Faisol Amir.


5.Motif Pembunuhan: Utang Rp3,5 Juta

Berdasarkan pengakuan pelaku, pembunuhan dilakukan karena korban tidak mampu membayar utang sebesar Rp3,5 juta. Masalah utang piutang ini memicu tindakan keji berupa penyekapan, pembunuhan, dan mutilasi.


6.Tubuh Korban Dipotong Menjadi 10 Bagian

SJ mengaku menyekap SA di sebuah kebun, lalu memotong tubuhnya menjadi sepuluh bagian.

Potongan-potongan tubuh tersebut kemudian disebar di berbagai titik sepanjang aliran sungai untuk menghilangkan jejak.


7.Ada 2 Korban Lain

Dalam pemeriksaan, SJ mengaku telah membunuh dua perempuan lain sekitar setahun lalu.

Kedua korban tersebut sebelumnya dilaporkan hilang dan kini diduga dikuburkan di dalam sumur di kawasan Pasar Usang, Batang Anai.


8.Polisi Lakukan Pengembangan di Lokasi Sumur

Petugas melakukan penggalian di lokasi sumur yang disebut pelaku sebagai tempat penguburan korban lain. Ini membuka kemungkinan SJ merupakan pembunuh berantai.


9.Pelaku Dikenal Ramah dan Tak Mencurigakan

Sejumlah rekan kerja pelaku mengaku terkejut, karena SJ dikenal sebagai pribadi ramah dan supel di lingkungan tempat kerjanya, tanpa menunjukkan tanda-tanda mencurigakan.


10.Warga Trauma dan Ketakutan

Kasus mutilasi yang menggegerkan ini meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat Batang Anai. Sungai yang dulunya menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi saksi bisu tragedi berdarah.


Sumber : tribunnews.com



SUMBARNET - Proses pemeriksaan dan pembongkaran lokasi tempat dugaan pembuangan jenazah dua orang wanita yang diduga dibunuh oleh pelaku mutilasi berinisial SJ alias W telah selesai dilaksanakan, Kamis (19/6/2025).


Pembongkaran dilakukan di bagian belakang rumah pelaku di Pasar Usang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.


Dimana dilakukan oleh tim gabungan dari kepolisian, TNI, BPBD, dan stakeholder lainnya.


Proses evakuasi dua jenazah korban pembunuhan ini dikeluarkan dari dalam sumur yang cukup dalam oleh petugas gabungan.


Pantauan TribunPadang.com di lapangan, tampak satu unit minibus dan satu unit ambulans menunggu di lokasi evakuasi jenazah korban dari sekitar pukul 11.30 WIB.


Tampak juga ratusan masyarakat melihat proses pemeriksaan dan pembongkaran jenazah korban yang berada di dalam sumur tersebut.


Pelaku juga dihadirkan dalam proses pembongkaran dan evakuasi jasad kedua korbannya.


Sekitar pukul 12.00 WIB, petugas kepolisian membawa keluar pelaku dan memasukannya langsung ke dalam minibus.


Saat itu, masyarakat yang hadir langsung menyoraki pelaku yang dibawa oleh petugas kepolisian.


Setelah itu, petugas pun pergi membawa pelaku.


Pada pukul 13.00 WIB, petugas tampak mengeluarkan dua kantong jenazah dari dalam rumah dan langsung memasukkannya ke dalam ambulans.


Namun hingga pukul 14.20 WIB masih banyak masyarakat yang berada di TKP.


Salah seorang anggota Humas Polres Padang Pariaman, Fadhly, mengatakan bahwa pelaku selanjutnya akan dibawa ke sejumlah TKP.


Sementara itu, untuk kedua kantong jenazah tersebut dibawa ke RS Bhayangkara Padang.


"Kalau pelaku dibawa ke TKP, kalau kantong-kantong tadi dibawa ke RS Bhayangkara," pungkasnya.


Pelaku Orang yang Laporkan Kehilangan Korban ke Polisi


Suji Selsya Utami (28), sepupu dari almarhumah Siska Oktavia, mengaku tak menyangka bahwa SJ adalah pelaku pembunuhan keji terhadap Siska Oktavia, Kamis (19/6/2025).


Inisial SJ sendiri diduga merupakan pelaku pembunuh berantai di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar).


Menurut Suji, selama proses pencarian korban, SJ justru terlihat aktif membantu pihak keluarga dalam mencari keberadaan Siska Oktavia. 


Bahkan, SJ disebut sebagai orang pertama yang melaporkan hilangnya Siska ke Polsek Batang Anai.


"Tak pernah terbayang pelakunya adalah SJ. Soalnya, dia juga ikut mencari korban sampai motor Siska ditemukan di daerah Tabing. Kami benar-benar tidak menyangka," ungkap Suji saat ditemui TribunPadang.com, Kamis (19/6/2025).


Lebih lanjut, Suji menyebutkan bahwa sebelum dinyatakan hilang, Siska sempat menyampaikan niatnya kepada keluarga untuk bertemu SJ guna mengambil uang.


"Siska sempat bilang, dia mau ambil uang ke SJ," jelas Suji.


SJ kepada keluarga mengaku meninggalkan Siska di sebuah minimarket di Kecamatan Batang Anai sebelum korban dilaporkan hilang.


"Pengakuannya, dia pergi menjemput teman Siska yang bernama Adek ke rumahnya," ujarnya.


Siska saat itu menunggu di minimarket. Setelah menjemput, SJ mengantarkan Adek ke tempat Siska.


"Dari situlah Siska disebut menghilang," ujar Suji.


Ia menegaskan kembali bahwa SJ adalah orang pertama yang melaporkan hilangnya Siska kepada Polisi, sehingga keluarga tak menaruh curiga sedikit pun.


"Dia yang pertama kali datang ke Polsek Batang Anai buat lapor bahwa Siska hilang. Itu yang bikin kami gak curiga," ucapnya.


Diketahui, SJ sehari-hari bekerja sebagai satpam di salah satu pabrik di Padang Pariaman.


"Dia kerja sebagai satpam di sekitar sini," tambah Suji.


Tak hanya itu, Suji juga menyebut SJ dikenal sangat dekat dengan keluarga korban. Ia merupakan kekasih Siska dan dikenal sebagai pribadi yang baik.


"Selama ini dia dikenal baik. Saat Lebaran kemarin, bahkan setelah Siska dinyatakan hilang, dia masih sempat datang ke rumah dan memberikan THR ke adik-adik Siska," katanya.


Menurut Suji, hubungan asmara antara SJ dan Siska sudah berlangsung cukup lama.


"Mereka pacaran sejak tahun 2019, jadi sudah hampir enam tahun," ujarnya.


Sejumlah petugas kepolisian saat mengevakuasi dua kantong jenazah di Pasar Usang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Kamis (19/6/2025). Dua kantong jenazah tersebut akan dibawa ke RS Bhayangkara Padang. 


"Dia yang pertama kali datang ke Polsek Batang Anai buat lapor bahwa Siska hilang. Itu yang bikin kami gak curiga," ucapnya.


Diketahui, SJ sehari-hari bekerja sebagai satpam di salah satu pabrik di Padang Pariaman.


"Dia kerja sebagai satpam di sekitar sini," tambah Suji.


Tak hanya itu, Suji juga menyebut SJ dikenal sangat dekat dengan keluarga korban. Ia merupakan kekasih Siska dan dikenal sebagai pribadi yang baik.


"Selama ini dia dikenal baik. Saat Lebaran kemarin, bahkan setelah Siska dinyatakan hilang, dia masih sempat datang ke rumah dan memberikan THR ke adik-adik Siska," katanya.


Menurut Suji, hubungan asmara antara SJ dan Siska sudah berlangsung cukup lama.


"Mereka pacaran sejak tahun 2019, jadi sudah hampir enam tahun," ujarnya.


Ia menambahkan, lokasi ditemukannya jenazah Siska diduga kuat berada di rumah milik SJ sendiri.


"Tempat Siska dikubur itu rumah SJ sendiri. Kami benar-benar tidak percaya kejadian seperti ini bisa terjadi," ucapnya.


Suji juga menyebut bahwa Siska mengenal korban mutilasi lain yang juga diduga dibunuh oleh SJ.


"Korban mutilasi itu temannya Siska. Bahkan sering menginap di rumah kami," tegasnya.


Duka mendalam kembali menyelimuti keluarga Siska Oktavia, salah satu korban pembunuhan keji di Batang Anai.


Ibunda Siska dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (19/6/2025) pagi, setelah mengalami serangan jantung usai mendengar kabar bahwa putrinya menjadi korban mutilasi.


"Iya, ibu Siska meninggal dunia. Beliau kena serangan jantung setelah tahu Siska jadi korban mutilasi," kata Suji.


Menurut Suji, ibunda Siska sempat pingsan di dekat lokasi penggalian jenazah, yang diduga tempat dikuburkannya Siska.


"Beliau pingsan sekitar pukul 07.00 WIB di dekat lokasi penggalian. Diduga karena syok berat. Sempat dibawa ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong," terangnya.


Suji juga mengungkapkan bahwa enam bulan sebelumnya, ayah Siska telah lebih dulu meninggal dunia akibat stres karena memikirkan keberadaan anaknya yang tak kunjung ditemukan.


"Enam bulan lalu, ayahnya juga meninggal karena terus memikirkan Siska yang hilang. Sekarang ibunya menyusul," ungkapnya.


Diketahui, Siska dilaporkan hilang sejak Januari 2024 dan baru ditemukan setelah lebih dari satu tahun menghilang.


"Dia hilang sejak Januari 2024. Jadi sudah lebih dari satu tahun," pungkas Suji.


Sumber : tribunnews.com



SUMBARNET - Duka mendalam kembali menyelimuti keluarga Siska Oktavia, korban pembunuhan sadis di kawasan Batang Anai, Sumatera Barat. 


Ibunda Siska dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (19/6/2025) pagi akibat serangan jantung, tak lama setelah mengetahui bahwa putrinya menjadi korban pembunuhan.


“Iya, ibu Siska meninggal dunia. Beliau kena serangan jantung setelah tahu Siska jadi korban pembunuhan,” ujar Suji, kerabat korban, saat dikonfirmasi awak media.


Menurut Suji, sang ibu sempat pingsan di sekitar lokasi penggalian jenazah yang diduga tempat jasad Siska dikuburkan. Insiden itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIB.


“Beliau pingsan karena syok berat. Sempat dibawa ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong,” ungkapnya.


Lebih lanjut, Suji juga mengungkap bahwa enam bulan sebelumnya, ayah Siska telah lebih dahulu meninggal dunia.


Sang ayah disebut wafat karena stres berat memikirkan anaknya yang hilang sejak awal tahun lalu.


“Enam bulan lalu, ayahnya juga meninggal karena terus memikirkan Siska yang hilang. Sekarang ibunya menyusul,” kata Suji.


Diketahui, Siska Oktavia dilaporkan hilang sejak Januari 2024. 


“Dia hilang sejak Januari 2024. Jadi sudah lebih dari satu tahun,” pungkas Suji.


Pelaku Ternyata Kekasih Sendiri


Suji Selsya Utami (28), sepupu dari almarhumah Siska Oktavia, mengaku tak menyangka bahwa SJ adalah pelaku pembunuhan keji terhadap Siska.


SJ sendiri diduga merupakan pelaku pembunuh berantai di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar).


Sumber : tribunnews.com



SUMBARNET - Suji Selsya Utami (28), sepupu dari almarhumah Siska Oktavia, tidak menyangka SJ adalah pelaku pembunuhan keji terhadap Siska.


SJ diduga adalah pelaku pembunuh berantai di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar).


Suji mengungkapkan, SJ justru aktif membantu keluarga mencari Siska selama proses pencarian.


Bahkan, SJ disebut sebagai orang pertama yang melaporkan hilangnya Siska ke Polsek Batang Anai.


"Tak pernah terbayang pelakunya adalah SJ. Soalnya, dia juga ikut mencari korban sampai motor Siska ditemukan di daerah Tabing. Kami benar-benar tidak menyangka," ungkap Suji saat ditemui TribunPadang.com, Kamis (19/6/2025).


Baca juga: Warga Kepung TKP Penguburan Korban Pembunuhan Padang Pariaman, 2 Jenazah Dievakuasi dari Dalam Rumah


Lebih lanjut, Suji menyebutkan bahwa sebelum dinyatakan hilang, Siska sempat menyampaikan niatnya kepada keluarga untuk bertemu SJ guna mengambil uang.


"Siska sempat bilang, dia mau ambil uang ke SJ," jelas Suji.


SJ kepada keluarga mengaku meninggalkan Siska di sebuah minimarket di Kecamatan Batang Anai sebelum korban dilaporkan hilang.


"Pengakuannya, dia pergi menjemput teman Siska yang bernama Adek ke rumahnya. Siska saat itu menunggu di minimarket. Setelah menjemput, SJ mengantarkan Adek ke tempat Siska. Dari situlah Siska disebut menghilang," ujar Suji.


Ia menegaskan kembali bahwa SJ adalah orang pertama yang melaporkan hilangnya Siska kepada polisi, sehingga keluarga tak menaruh curiga sedikit pun.


"Dia yang pertama kali datang ke Polsek Batang Anai buat lapor bahwa Siska hilang. Itu yang bikin kami gak curiga," ucapnya.


Sumber : tribunnews.com